Pendekar Elemen Air

Pendekar Elemen Air
Bab 25 [Hemipenthes Shunsk Selesai]


__ADS_3

"Hmmm … kenapa aku ngerasa alur pengungkapan kasus ini berputar-putar yah? Apa aku ketinggalan petunjuk yang di dialog Hemipenthes tadi?" kata Helmi termenung menatap layar komputernya memikirkan apa yang belum bisa diselesaikan dari misi yang di mainkan. 


"Ah sudahlah, balik lagi ke Hemipenthes, ngulang dialognya." Helmi mengetik keyboard laptop mengulang percakapan dialog Hito bersama Hemipenthes Shunsk sebelumnya. 


Helmi bermain terus untuk mengungkapkan misi ini selama dua jam memikirkan segala cara untuk misi ini, tinggal terakhir adalah menentukan pelakunya. Bukti yang terkumpulkan seraya menunggu petunjuk baru, Helmi sudah menemukan bukti cawan anggur, kertas lima lembar berserakan, pakaian, sepatu, dan secarik surat yang terbakar. 


Pakaian dan sepatu sudah ditentukan bahwa ada seorang pelaku adalah pria yang memasuki kamar korban, cawan anggur juga membuktikan bahwa ada malam yang hangat dilakukan oleh korban juga pelaku dalam melakukan hubungan seksual. Salah satu tanda tanya kenapa misi ini susah di ungkapin adalah sebuah kertas dan secarik surat stempel bangsawan. Stempel bangsawan tertempel di sebuah surat, tetapi di dalam isinya sudah terbakar setengah. 


Sedangkan di kertas hanya berisikan petunjuk korban menulis diarynya, seperti menunjukkan siasat akan akhir kematiannya dari diary sebelumnya. Cuma di akhiran korban itu menulis sebagian saja sebelum ia meninggal. Itulah kenapa penentuan pelaku pembunuhan Putri Kerajaan Cares melibatkan dua orang pria bangsawan terkenal yang menjadi tanda kecurigaannya. 


Helmi berusaha mengungkapkan misi ini agar membuka misi selanjutnya, oleh karena itu Helmi bersungguh-sungguh menyelesaikan. Tak terkira berapa banyak waktu Helmi mainkan hanya demi misi game saja. 


"Ini dialog Hemipenthes dan Hito berbicara, di gubuk sebelumnya. Kenapa aku susah memahami perkataan Hemipenthes di dialog?"


"Apa hubungan mawar layu menjadi hitam dan merpati di malam bisa terperangkap?" pikir Helmi merasa otaknya sudah menggebu-gebu kepanasan memikirkan banyak makna, kemudian Helmi menyandarkan tubuhnya sembari merilekskan tangannya. 


"Mawar layu menjadi hitam menandakan ada hal duka datang dari seorang yang akan membutuhkannya? Atau bisa juga perpisahan dari seorang?"


"Merpati di malam bisa terperangkap? Itu masih aku duga apa maknanya seorang terjebak tidak akan keluar dari sebuah perjanjian dan ikatan telah disetujui ….,"


Helmi memutar kursinya secara pelan agar otaknya dapat menemukan kunci dari jawaban tersebut. 


"Tunggu! Aku teringat sama sama satu orang saksi ini!" Helmi mulai teringat kuncinya sepertinya sesuai dengan kriteria saksi yang mirip sama kalimat ini serupa. 


Helmi mengetik keyboard komputernya, mengulang perkataan yang saksinya berkata. Helmi pun meneliti perkataan saksi yang dilontarkan kepadanya. Satu per satu saksi yang berkata, ada satu saksi yang persis mirip sama makna ia juga sudah Helmi tandai sebagai pelaku kedua, sementara pelaku pertama Helmi merasa ia bukanlah seorang terlibat ia lebih menemukan Putri Cares sudah terbunuh. 


"Ohhhh … ini yang dikatakan dialog Hemipenthes, Putri Cares memiliki kisah bersama seorang prianya suka memberikan mawar merah di setiap bulan saat pertemuannya. Dan juga status Putri Cares menjadi tunangan terikat oleh perjanjian," bungkam Helmi menyimpulkan semua maknanya. 


"Jadi prianya adalah tunangan Putri Cares sendiri yang membunuhnya, walau ia berasal dari bangsawan tersohor di Kerajaan Cares. Bagaimana bisa pria ini setenang air di sungai tanpa bergelombang,"

__ADS_1


"Dari perkataan dialog interogasi di bilang, bahwa di malam hari ia menulis surat untuk kekasihnya, tetapi ia belum menempelnya,"


"Jika dari logika, mana mungkin seorang pria saat pesta menulis surat kekasihnya, kekasihnya saja Putri Cares. Dan juga barang buktinya adalah surat yang aku simpan. Oh stempelnya pasti ini mirip,"


Pikiran Helmi sudah menerka-nerka siapa pelakunya dengan giginya sudah nampak akan lega menyelesaikan misi pengungkapan dan pengkhianatan Hemipenthes Shunsk terselesaikan. 


"Hoho … 3 jam waktuku habiskan tidak sia-sia demi penonton tersayang menikmati siaranku." hembus Helmi kepalanya membayangkan kesenangan akan menyelesaikan misinya. Entah itu selesai atau tidak Helmi tidak memperkirakan secara pasti. 


Perasaan senang Helmi nampilkan badannya bergoyang-goyang sambil menyanyikan lagu kemenangannya, tatkala hal segila itu Helmi lakukan untuk menenangkan hatinya yang kesepian. Terkadang bermain game adalah sebagai hiburan untuk Helmi mencari kesenangan, selesai bermain game Helmi akan tertidur selama pagi hari. 


[TING!]


Helmi lagi puas akan goyang tubuhnya lalu mendengarkan notifikasi dari game ia mainkan. Helmi pun menghentikan sebentar goyangan tubuhnya untuk memeriksa notifikasi yang datang. 


"Selamat kamu mendapatkan dialog masa lalu Hemipenthes Shunsk hidup mengajarkan anak malang yang tidak mengenal kulitnya! Hadiah dialog ini bisa kamu baca selama kamu berinteraksi dengan Hemipenthes Shunsk selamat membaca!" Helmi membaca pesan dari notifikasi dengan serius matanya menatap. 


"Hah? Maksudnya apaan dialog kisah hidupnya lalu? Bukankah Hemipenthes hidup sendirian hidup di gubuk? Kenapa ada seorang anak tersesat kenapa?" Helmi terperangah bertanya-tanya sama dialog kisah masa lalunya Hemipenthes. 


"Ah, sudahlah anggap saja ini hadiah spesial buatku,"


Helmi pun tidak beranggapan bahwa dialog kisah masa lalu Hemipenthes Shunsk penting atau tidak, bisa saja ada sebuah pesan dan penghayatan yang Helmi ambil dari kisahnya. 


Sekedar keingintahuan, Helmi pun menekan dialog kisah Hemipenthes membacanya secara khidmat. Kebiasaan Helmi terkadang suka membalikkan dialog yang sebelumnya jika ada yang janggal di dalam pikirannya. Entah itu sekedar hal konyol atau penting, Helmi tetap menganggapnya sebagai informasi untuk disimpan dalam file save data. 


Di saat membaca dialog kisah masa lalu Hemipenthes, ada sebuah kalimat yang menuntun Helmi menghentikan pembicaraan dialognya. 


"Eh, eh tunggu sebentar. Seperti ada yang lewat ketika aku mendengarkan nama anak muridnya," Helmi mengerutkan alisnya sudah merasakan hal janggal di pikirannya. 


Helmi membalikkan dialog sesudah ia baca tadi dengan penasarannya ia ingin membaca ulang. 

__ADS_1


"Dulu, aku memiliki sebuah murid entah namanya siapa. Aku berikan nama anak malang itu bernama Zhen, aku temukan dia tersesat di Hutan Seremian ketika itu aku tengah mencari makan." Kata Hemipenthes bercerita kepada Hito di dalam gamenya. 


"Ketika aku menemukannya, aku besarkan dia di dalam pengawasanku dan sampai memberikan jurus serangan dan pertahananku,"


"Mirisnya, aku bodoh menilai perilaku anak itu,"


ujar Hemipenthes membuang mukanya mengingat masa lalunya. 


"Apa yang terjadi kepada anak yang paman rawat?" Hito menanyakan tentang anak yang di rawat Hemipenthes cuma dalam hatinya ada perasaan tidak enak. 


"...."


Hemipenthes hanya terdiam sebentar, nampak wajahnya cemberut menahan emosi atau rasa kecewanya dalam hati. Hito yang merasa agak tidak nyaman untuk berkenaan lalu mencari topik lain. 


"Paman, apa aaku bisa meminta bukti identifikasi Shame Lucian. Man–"


"Anak itu melupakan diriku di gubuk, meninggalkan aku sendiri mengikuti seorang wanita bangsawan kaya akan hartanya,


"Hanya kekayaan dan kekuasaan, anak yang aku rawat bisanya tamak dan tidak berbalas budi atas jasaku!" Ketus Hemipenthes memukul dinding gubuknya teringat masa lalunya dengan perasaan kecewa beratnya. Di ambang putus asa masa lalu, Hemipenthes masih kuat menahan kekecewaan. 


Hito merasakan apa yang dirasakan derita Hemipenthes. Entah itu sebuah kecewa atau harapan besar Hemipenthes pada anak itu menyelamatkan ia, namun malah sebaliknya. 


Seperti kacang lupa akan kulitnya, itulah mengapa setiap orang melupakan akan jasa orang sudah berbuat baik kepadanya. 


Helmi seketika menganggukkan kepalanya setelah selesai membaca dialog tadi. 


"Zhen, nama karakter menyebalkan di serial misi Hito sebelumnya. Pantaslah ia punya jurus serangan dan pertahanan kuat,"


"Ia mencolong jurus dari orang, tanpa membalas budi. Memang cocok dikatakan Hemipenthes." Ejek Helmi tertawa sedikit menampakkan gigi ketika menyandarkan tubuhnya ke kursi. 

__ADS_1


"Bagusnya diapain, kalau sudah ketemu di misi selanjutnya," pikir Helmi mau merencanakan sesuatu di benak pikirannya. 


__ADS_2