
Sesampainya di dekat pintu penghubung antara lorong menuju kamar Hito dan menuju tempat lain di istana, Ruhee secara paksa berontak dari tarikan tangan Ruyi. Ruyi yang berlari tadi di dekat pintu lorong, kemudian kembali menuju Ruhee.
"Ruhee. Aku bilang iku–"
"Diam. Ruyi!! Tangan aku lagi sakit, kau setidaknya tahu bersabar dulu!! Bukannya panik!!" bentak Ruhee memegang tangannya yang memerah mengelupas akibat geseran tangan Ruyi menarik tangannya.
"Ruyi. Aku bisa je–"
"Diam!! Aku muak dengan penjelasan kau, kau tidak tahukan sakitnya kedua tanganku ini, hiks … hiks …," tangkis Ruhee berjalan maju menuju ke lorong kamar Hito.
Ruyi hanya terdiam merasakan kesalahannya, akibat Ruyi mendengarkan teriakan Ibu tiri yang melengking terdengarkan sampai semua istana. Sampai akhirnya pelayan dan pasukan lain menyusul mereka.
"Ruyi, kalian sudah duluan sampai sini yah. Begitu juga Ruhee," ucap pelayan lainnya.
"Syukurlah,"
Sekilas ada pelayan lain melihat engsel gerbang penutup lorong bergerak sendiri.
"Ruhee menghindarilah!!"
Ruhee lalu menoleh tiba-tiba pintu gerbang lorong tertutup sendiri dengan keras, tanpa satupun orang yang menutupnya.
Baamm!!
Ruhee yang ada di depan terkurung di dalam, sedangkan Ruyi, pelayan lain serta pasukan berjaga terjebak di luarnya menghindar dari pintu gerbang tersebut. Ruhee yang berada di dalam kemudian mendekatkan dirinya di gerbang untuk berbicara kepada Ruyi.
"Ruyi!! Ruyi!! Apa kau mendengarkan aku di dalam!!"
"...."
Pelayan Ruhee memukul pintu gerbang lorong itu dengan sekuat tenaganya agar terdengar di luar, akan tetapi. Tidak ada satupun suara yang menjawab perkataan Ruhee di dalam. Ruhee yang tidak pantang menyerah terus memukul pintu gerbang itu, sampai menarik pegangan gerbang dengan kuat agar terbuka. Namun, perjuangan kerja kerasnya tidak membuahkan hasil. Pintu gerbang tersebut tidak terbuka dan terkunci secara misterius.
Ruhee yang menangis ketakutan menghadapi tantangan yang ada di depan, ketika Ruhee menghadap ke depan, suasana gelap, tenang sampai menyeramkan menyelimuti perasaan Ruhee. Dicampur pula sama kolam air bercampur darah yang ada di kakinya Ruhee.
__ADS_1
Ruhee menelan air liurnya untuk berdiam dirinya saja di depan pintu gerbang sampai terduduk menunggu kepastian. Tak lama Ruhee merasakan di depannya terdengarkan suara jeritan kesakitan dan suara adu pedang yang keras berdengung di dalam lorong itu. Begitu juga kolam air ini bergelombang kecil yang menandakan ada seseorang di depannya, pelayan Ruhee semakin merasa penasaran sama kehadiran orang yang terjebak di depan. Tapi dalam hatinya takut, Ruhee tetap memaksa jiwanya untuk maju selangkah demi langkah.
Meskipun tangannya memerah dan mengelupas, pelayan Ruhee berjalan melewati kolam air tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini, kenapa lorong ini berisi kolam air bercampur darah?"
"Padahal lorong ini tidak pernah mengalami kebocoran air, biasa kalau ada air akan menga–"
Ketika Ruhee melihat sekeliling, tanpa sadar Ruhee terhenti di tengah jalan. Ruhee merasa ada yang terinjak oleh sepatu milik Ruhee, sehingga Ruhee mengeceknya.
"Aduh, apa yang ku inj–"
Ruhee lalu terdiam melihat barang yang ia injak adalah sebuah tangan pasukan penjaga yang terpotong di kolam air. Akibatnya Ruhee berlarian ke depan, melihat tangan terpotong adalah hal yang mengejutkan bagi Ruhee. Ruhee pun semakin ketakutan dengan teriak, sampai wajah pucat melihat tangan terpotong.
Ketika Ruhee berlari sampai setengah jalan, kaki Ruhee tiba-tiba ditarik oleh tangan yang timbul di kolam air. Ruhee yang terhentikan lalu terjatuh ke depan dan memberontak kakinya untuk lepas dari tangan air yang menjelma seperti tangan mayat. Ruhee yang trauma melihat tangan mayat sudah mengunci kakinya, tiba-tiba Ruhee tertegun menegakkan leher merasakan pedang di samping lehernya seperti mengarahkan pada lehernya untuk di gorok.
Ruhee lalu menoleh pada pedang yang tajam, ketika sudah menoleh. Ruhee melihat orang yang menodongkan pedang ke lehernya. Bayangan hitam seperti manusia yang tinggi dan hawa pembunuhan yang kuat Ruhee rasakan seperti musuh di luar Istana. Akan tetapi Ruhee salah menebak, orang yang menodongkan pedang ke lehernya ialah Hito yang asli.
"Itu bukan urusanmu, kalau boleh. Aku ingin bertanya padamu sekejap saja."
"Apa kau pelayan setianya Ibu tiri sampai sekarang, dan kau masih bersekongkol dengan Ibu tiri atau tidak. Jawablah perkataanku."
"Kalau tidak lehermu akanku gorok dengan pedang ini." Tatapan maut Hito menatap Pelayan Ruhee yang terdiam saja.
"JAWAB!! AKU BUTUH KEJUJURANMU!!"
Pelayan Ruhee yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi di sekitarnya, akhirnya membuka mulutnya dari hati terdalamnya.
"Iya … hiks … hiks, aku tidak bersekongkol dengan Putri Rossa. Aku terpaksa dan rela menjadi pelayan setianya, karena keluargaku di Desa Shei diancam dan ditekan oleh Putri Rossa, hiks … hiks …,"
"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, hiks … hiks … Kalau aku melawan atau menentang Putri Rossa. Keluargaku akan dibunuh secara keji oleh orang suruhannya, maka dari itu aku harus kerja banting tulang untuk melunasi permasalahan ini," jelas pelayan Ruhee menangis-menangis mengatakan fakta yang ditimpa olehnya.
Hito yang berada di belakang menatapnya tanpa sedikit pun mengedipkan kelopak matanya, lalu Hito berjalan ke hadapan wajahnya pelayan Ruhee dan terduduk di hadapannya.
__ADS_1
"Lihat wajahku sekarang," suruh Hito kepada pelayan Ruhee melihat wajah Hito, Ruhee pun menurutinya dan melihat wajah dingin Hito.
"Sekarang, aku minta jelaskan asal usulmu dari Desa Shei, serta bagaimana kau bisa bermasalah sama Ibu tiri,"
"Aku ingin tahu sekarang keluargamu di sana sekarang, oleh karena itu jelaskan secara jujur dihadapanku!" erang Hito.
Pelayan Ruhee pun menganggukkan kepalanya dan menjelaskan semua permasalahan yang Ruhee hadapi mulai dari awal sampai akhir dari kehidupannya menjadi pelayan, kisah hidup Ruhee di bilang sangatlah derita dan memiliki tekanan yang begitu keras dari suruhan Ibu tiri sampai permintaan dari keluarganya.
Tak sekalipun, Ruhee menjelaskan bahwa selama ini Ruhee kadang di siksa sama Ibu tiri dengan amukan cambuk, cawan kaca dan makanan dilemparkan di hadapannya. Demi keluarganya selamat dari orang suruhan Ibu tiri, Ruhee harus bekerja keras menjadi pelayan di Istana Keluarga Alexander.
"Jadi, kau sudah menjadi tulang punggung Ibu tiri selama 5 tahunlah ini?" tanya Hito.
"Iya, pas itu. Tuan Hito masih berumur 2 tahun, dari sini Ruhee minta maaf sebesar-besarnya. Jika Ruhee tidak menolong Tuan Hito disiksa selama 5 tahun ini," permintaan maaf Ruhee menyembah Hito di kolam air tersebut.
"Sudah, sudah, janganlah menyembahku. Aku bukanlan Dewa ataupun orang kuat sekarang, yang aku mau adalah kejujuranmu selama aku menginterogasi."
"Sebagai gantinya, aku butuhkan bukti fakta penyiksaan dan pengekangan keluargamu. Dan yang pasti, aku akan keluar dari Istana Keluarga Alexander dalam 2 hari ini,"
"Oleh karena itu, aku mau kau. Ikuti aku ke Desa Shei. Agar aku bisa menolong keluargamu di sana," jelas Hito berdiri.
Pelayan Ruhee mendengarkan perkataan Hito, kemudian mengangkat kepalanya.
"Apa kau yakin Tuan Hito?"
"Ekhhmm … ikuti aku berjalan sekarang ke depan,"
"Baiklah, Tuan Hito,"
Pelayan Ruhee yang lega akan menerima bantuan dari Hito, ia segera bangkit dari duduknya mengekori Hito berjalan di belakang. Akhirnya selama ini, pelayan Ruhee menetes air matanya untuk keseratus kalinya, bahwa keluarganya dapat bisa diselamatkan oleh Hito. Walaupun harus menunggu 2 hari, hati Ruhee dapat lega dengan bersyukur pada doanya di malam hari. Ruhee percaya di waktu akan sayang pasti akan ada seseorang yang menolong, itu yang Ruhee pikirkan dahulunya.
Dan sekarang, Ruhee merasa berterima kasih banyak pada Hito yang telah mendengarkan cerita duka Ruhee yang selama ini ia rahasiakan sendiri. Tanpa satupun kawannya tahu, begitu juga Ruyi pun tidak mengetahuinya.
Hito sudah merencanakan sesuatu untuk di lancarkan masa mendatang, di sisi lain. Hito sudah mulai mencari jangkauan dan melanjutkan mengungkap misteri artefak di Desa Shei tempat Pelayan Ruhee dan Paman Erio berada.
__ADS_1