
Keesokan malam jam 04.02, Hito sudah mempersiapkan segala barangnya yang sudah dikemasnya. Sisanya Hito tinggalkan di Istana, anggap saja ini barang kepemilikan dari Istana yang Hito gunakan. Tatkala Hito harus memilah beberapa barang yang dapat digunakan saat berkelana, karena perjalanan menuju Desa Shei sangatlah jauh dari yang diperkirakan.
Makanya tidak heran, Hito menyiapkan segala rencana dalam 2 hari. Sekarang Hito menunggu kedatangan Ruhee ke kamarnya, supaya bisa bersama-sama pergi tanpa meninggalkan satu sama lainnya. Sambil menunggu Ruhee, Hito memandang ke jendela dimana langit tengah mendung saat mau menjelang pagi.
Langit yang mendung akan hujan turun dengan lebat, Hito mengetahui bahwa dirinya tidak mendapatkannpamitannya dari Paman Erio. Hito menghela napas kasar, sama keadaannya yang begitu malang. Keinginan dan kebebasan yang Hito inginkan kenapa harus dihambat dan tidak dipedulikan. Entah itu masalah umur yang menjadi faktor masalahnya atau juga kekhawatiran yang dipikirkan Paman Erio.
Sehingga masalah masih muncul di benak Hito, sampai Hito melamun memandang langit yang mendung sambil memegang pedang yang diberikan Paman Erio secara erat di sarung pedangnya.
Tidak lama, Ruhee datang tanpa mengetuk pintu Kamar Hito. Hingga Ruhee nyelonong masuk tanpa bersalam kepada Hito. Ruhee tahu di jam segini bunyi suara ataupun bunyi ketukan akan terdengar nyaring di waktu sepi ini. Di saat Ruhee datang menatap Hito sedang melamun, secara tidak sadar Ruhee mendekati Hito dan memukul bahunya agar sadar bahwa Hito sedang melamun.
"Hito. Sadarlah, Hito!" Ruhee memukul belakang Hito secara pelan disertai suaranya juga pelan akan kondisi saat ini.
Hito secara tersadar merasa belakangnya seperti ditepuk menggunakan bulu, lalu Hito menoleh ke belakang.
"Ruhee!" sahut Hito suaranya sedikit melengking, untungnya Ruhee menutup mulut Hito.
"Shut … pelan-pelan! Lorong sini, kalau ngomong nyaring terdengar sampai di luar. Nanti curiga orang kalau kau memanggil namaku!" Ruhee nampak resah memberitahukan keluhannya kepada Hito, karena secara tidak langsung Ruhee, telinga Ruhee memerah akibat ia menyentuh mulut Hito. Sehingga Hito terdorong tubuhnya, karena dorongan Ruhee.
Hito tertawa kecil menatap tingkah Ruhee seperti panik dan begitu takutnya terkesan lucu di pandangan Hito, bagi Ruhee jika ia ketahuan pergi mungkin ia akan ditahan seperti binatang. Tetapi itu tidak akan terjadi jika masih ada pengawasan dari Hito, hingga Hito melepaskan tangannya.
"Hihi, iya Ruhee. Aku tahu, sekarang tidak berlama lagi kita akan pergi,"
"Barangmu sudah dikemaskan, Ruhee? Aku tidak mau mendengarkan kau ketinggalan barang lagi yah." lirih Hito, sedang memakai Hito dan jubahnya.
Setelah Hito berkata, Ruhee pun mengecek kembali barang yang ia bawa. Meskipun tas barang Ruhee nampak kecil dibawanya, tetapi muat akan pakaian hingga tenda yang dibawanya. Sampai Ruhee memberikannya tanggapan kepada Hito kalau barang yang Ruhee bawa sudah siap tanpa ketinggalan lagi.
Hito pun tersenyum, tidak lama Hito mulai mengangkat kakinya ke jendela. Begitu tangannya mengulurkan ke Ruhee untuk turun bersama melewati jendela Istana ini.
"Tunggu aku, Goa Herk. Aku datang untuk mengambil pedangmu!"
__ADS_1
...----------------...
Di Goa Herk yang berada di tempat hutan yang tersembunyi, serta di dalam Goa Herk terdapat mata air suci mengalir seisi tempat. Di sana juga ada seorang tetua yang bersemayam selama bertahun-tahun menunggu kehadiran pewarisnya datang di tempat ini, hingga akhirnya telinga tetua terasa berdengung dikarenakan ada seseorang yang mengetahui tentang Goa Herk.
"Hmmm …,"
Gelisah seorang tetua pun membuat ia terbangun dari tidur panjangnya, sebab selama bertahun-tahun bersemayam di tempat ini. Baru ada seseorang yang menyebutkan nama yang ditempati dia. Meskipun tempat ini sulit dijangkau dan tidak diketahui oleh banyak orang, cuma orang yang berhati kuat, dan tekad bulat saja mengetahui tempat ini.
Tetua pun merasakan aura kehadiran seseorang yang menyebutkan tempat dan pedang dimiliki ia, sehingga tetua beranjak berdiri berjalan pelan ke tempat air yang tertahan di atas langit. Tetua menengadah kepalanya sambil tersenyum kecil di wajahnya.
"Apakah ini sebuah takdir yang mempertemukan kita kembali?"
"Aku akan menunggumu ahli waris." kata tetua dengan tegas yakin akan menunggu kedatangan ahli warisnya.
...----------------...
Sesampainya di dekat gerbang tenda pelatihan, tampak Paman Erio tidak ada satupun hawanya berada disana. Hito dan Ruhee pun berhenti sejenak di balik tembok batu memantau dari jauh di dekat gerbang pelatihan pasukan, tujuan mereka bersembunyi di balik tembok adalah menghindari kecurigaan mereka dari orang lain. Sehingga, ketika mereka pergi di waktu malam ini, tidak ada orang lain yang mengetahui mereka pergi kapan atau menunggu diperintah. Inisiatif ini muncul di dalam benak Hito, walaupun terbilang nekat,
Ruhee menatap Hito sedang di muncak kekhawatirannya, Ruhee yang tubuhnya di halangi oleh Hito tadi. Lalu Ruhee memegang tangannya Hito.
"Hito. Apa kau masih khawatir sama Paman Erio?" Ruhee bertanya sembari ia memegang tangan Hito untuk memberikan keyakinan kepada Hito.
Hito merasa Ruhee memegang tangan, Hito menoleh padanya dengan bibirnya tidak mau berkata. Meskipun sebelumnya Paman Erio menitikkan air matanya, Hito merasa bersalah ingin berkata pada Ruhee. Hingga Hito hanya memendamkan perasaan bersalah di hatinya ini.
Ruhee yang masih ingin menyakinkan Hito, terpaksa mengikuti Hito menarik tangannya dengan kuat.
"Hito! Tunggu apa yang kau lakukan!" keluh Ruhee berjalan secara cepat mengikuti langkah Hito, sehingga tangannya merasa sakit di pegang oleh Hito.
Hito tidak memikirkan keadaan Ruhee, yang mau Hito sekarang. Lebih baik ia pergi saja tanpa harus berpamitan dari Paman Erio, di lain waktu nanti Hito dapat memaafkan kesalahannya.
__ADS_1
Ruhee tertatih-tatih napasnya berlari mengikuti Hito, merasakan ia tergesa-gesa ingin sekali keluar. Namun, Ruhee tidak bisa berkata karena di bawa lari secara cepat tanpa berhenti sedikitpun sama Hito.
Ruhee ingin menghentikan kakinya ini, anehnya kenapa kakinya terus berlari tidak mau menuruti kemauannya membuat Ruhee harus pasrah dengan tubuhnya ini.
Ketika sampai di gerbang, Hito berhenti di dekat gerbang keluar dari Istana Alexander. Ruhee membungkukkan badannya, berusaha mengendalikan napasnya. Sesudah Ruhee merasa lega, Ruhee memperhatikan Hito terdiam saja di dekat dirinya.
"Hito. Ada apa kau berhenti?" Ruhee bertanya kembali pada Hito.
"...."
Hito menoleh ke Ruhee dengan perasaan senangnya menunjukkan tangannya ke arah Paman Erio di luar gerbang menyediakan kuda untuk mereka pergi.
"Syukurlah, Ruhee. Aku merasa bersalah sama Paman Erio walaupun aku ini dibilang fase berontak, tapi aku harus sadar diri mulai sekarang ini,"
Ruhee merasa tidak mungkin sikap Hito seperti ini sebelumnya, kemudian Ruhee menyemangati Hito dengan kedua tangannya memegang bahu Hito.
"Hito. Janganlah patah semangat dulu. Anggaplah masa lalu sebelumnya atau rasa bersalahmu, jadikan pembelajaran bukan untuk merasa dirimu merasa tidak enak."
"Hidup itu akan ada selalu rasa bersalahnya dalam bertindak, tapi tidak mungkin setiap orang menganggap langkahmu salah, tapi orang itu perhatian sama masa depan Hito." Ruhee menasehati Hito dikala dia masih memikirkan rasa bersalah.
Sampai akhirnya, Hito memejamkan matanya. Hito merasakan baru ini ada seseorang yang menasehati dirinya, sebelumnya ia selalu merasa menang sendiri dengan setiap tindakannya.
Sekarang Hito tahu, bagaimana hidup itu harus butuh interaksi dan hubungan kepada orang lain tanpa harus menyendiri terus di kehidupannya sebelumnya.
"Terima kasih Ruhee. Aku merasa lega di nasehatimu, karena baru inilah. Aku dapat mendengarkan orang yang sangat peduli padaku," Hito membalas omongan Ruhee tadi, kemudian Hito sudah menghilangkan rasa bersalahnya lalu memegang tangannya Ruhee untuk bersama-sama menghampiri Paman Erio.
Selagi Paman Erio melihat sekelilingnya sunyi akan malam hari ini, membuat Paman Erio melamun sejenak di luar gerbang. Tak lama kemudian Hito dan Ruhee secara bersamaan menghampiri dirinya.
"Paman!" Hito memanggil Paman Erio, secara langsung bergegas mendekati Paman Erio.
__ADS_1
Paman Erio mendengar namanya dipanggil oleh Hito, kemudian dia membuka tangannya agar dapat berpelukan lagi bersama Hito untuk kedua kalinya.