Pendekar Elemen Air

Pendekar Elemen Air
Bab 6 [Hal yang ingin dicapai!]


__ADS_3

Keesokan harinya di waktu pagi, Hito mulai menyelesaikan kultivasinya. Siapa sangka ketika mulai sadar Hito mengeluarkan darah hitam dari tubuhnya, yang selama ini terbenam dalam tubuhnya, "Uweeekkkkk, uhukk …," Hito mulai memuntahkan semua darah hitamnya, dan ditambah batuk yang merangsang tenggorokannya menjadi gatal. 


Hito mulai hilang kesadaran akibat ia muntah, tapi ia tahan dengan sekuat tenaga dengan kedua tangannya berada di bawa untuk menopang. Sampai akhirnya Seri datang membuka pintu kamar Hito dengan perasaan yang cemas, "Hito! Kamu ada apa?!" ucap Seri yang berinisiatif membantu Hito, tetapi Hito menolaknya dengan mengangkat tangan untuk menyuruh Seri tidak mendekatnya.


Seri yang tahu apa yang disuruh Hito dari tangannya segera mencari handuk dan juga air hangat sebagai memperlancar tenggorokan Hito, dari sini Seri pun keluar dengan cepat mencari barang yang seperlunya dibutuhkan. 


Hito pun menyelesaikan muntahan terakhir dengan begitu banyak, dan darahnya menggumpal seperti jelly yang terbentuk. Tanpa sadar Hito dengan napas terengah-engah mengetahui bahwa ia berhasil melewati cobaan kultivasi ini dengan lancar, tanpa terkendala sedikitpun, "Hah … hah … seumur hidup, aku baru merasakan sakitnya cobaan ini," keluh Hito menenangkan dirinya dengan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur. 


Hito beristirahat sejenak, dengan perasaan yang campur aduk. Namun Hito dapat mengendalikan kesadaran ia sendiri, tidak lama setelahnya. Seri datang dengan membawa air putih hangat dan juga handuk yang ada di bahunya Seri, Seri datang dengan cepat menghampiri Hito, "Hito. Ini handuk kuberikan untuk dirimu, laplah keringatmu agar tidak jadi gatal tubuhmu," ucap Seri menyodorkan handuk buat Hito, Hito pun senang tergambar di wajahnya. Karena kepedulian Seri membuat Hito menerima apa yang Seri lakukan. 

__ADS_1


Hito pun berdiri dengan tubuhnya yang basah dengan keringat dan mulai mengelapnya, namun siapa sangka Seri melihat tubuh Hito yang kekar sudah mulai terbentuk dengan alami. Membuat Seri yang melihatnya menjadi melamun untuk sementara waktu, sampai akhirnya Seri membuang muka karena ia tersipu melihat Hito yang bertelanjang dada. 


Hito melihat tingkah yang aneh pada Seri yang menghadapi mukanya ke belakang seperti ada sebuah kejanggalan dirinya. Lalu Hito memanggilnya, "Seri. Kenapa dengan telingamu memerah?" tanya Hito yang memandang Seri yang berperilaku aneh, padahal Hito tidak mengetahui bahwa Seri tengah melihat tubuh Hito yang kekar alami seperti atlet olahraga. 


Seri hanya terdiam saja, dalam benak Seri. ia tidak ingin memandang Hito untuk sementara waktu. Sampai Hito memasang bajunya sendiri, dan disini Seri mulai mengintip sedikit matanya ke arah Hito. Karena Hito sudah memakai baju, Seri merasa lega dan akhirnya Seri mengambil handuk yang dipakai Hito tadi untuk menyimpan kembali ke dapur. Tetapi Hito menolak Seri untuk mengambilnya, "Seri. Jangan diambil, biarkan handuk itu disini. Dan untuk darah ini, biarkan saja di lantai biar aku bersihkannya," jelas Hito menatap Seri yang ingin memegang handuknya Hito. 


"Seri bisa kembali ke lorong lagi untuk membersihkan istana, mungkin di sana pelayan lain mencari Seri tuh," sambung Hito kembali, kemudian Hito berjalan untuk mengambil handuk, "Aku cukup berterima kasih padamu, Seri. Sekarang biarkan saja ini urusan pribadiku sendiri," ucap Hito senyum kepada Seri. Seri tahu akan kode senyuman Hito yang diberikan padanya, kemudian Seri memberikan hormat dan segera pergi keluar dari kamarnya Hito. 


Dan sinilah, Hito mulai melakukan pemanasan tubuh sebelum berolahraga melakukan olah fisik. Hito mulai mengingat sedikit pembelajaran tentang olahraga membentukkan fisik yaitu dimana dimulai dari angkat lutut, loncat bintang, crunch perut, crunch 90/90, kaki masuk dan keluar, plank, puntir sering berbaring, papan menyamping kanan dan kiri, crunch sepeda, papan T kanan dan kiri, plank sisi kanan dan kiri kembali, dilanjutkan peregangan kobra, ditambahkan puntir tegang berbaring kanan dan kiri yang harus di lakukan oleh Hito. 

__ADS_1


Tanpa memikir panjang, Hito sudah mengingat pelatihan fisiknya selama di bumi. Hito tidak lupa bahwa setiap habis berolahraga harus ada yang namanya pendinginan tubuh, "Baiklah. Aku harus lakukan sedikit demi sedikit dulu, kita mulai sekarang." Tekad Hito yang teguh untuk melakukan olahraga fisik, di pagi hari yang panjang Hito lakukan dengan tekun serta konsisten agar langkah ia bisa tercapai. 


Namun, Hito melewati batas olahraga yang seharusnya melebihi waktu yang dianjurkan, Hito tidak menyadari bahwa ia berolahraga sangat banyak di waktu pagi sampai siang menjelang sore, "Sepertinya, aku terlalu lama berolahraga. Karena aku banyak menghabiskan waktu plank dan peregangan kobra membawa diriku termakan suasana," ingat Hito apa yang dilakukannya tadi, karena sudah terlanjur. Hito mulai lagi dengan lari pelan di sekeliling istana untuk meningkatkan kekuatan tubuhnya. 


Karena sudah ada di benak pikiran Hito, Hito memutuskan keluar dan berlari selama-lamanya atau seberapa mampunya ia berkeliling berputar di dalam lingkup istana ini. Hito berlari terus tanpa memikirkan beban ataupun pandangan yang ia dapat selama berlari, namun ia pikirkan adalah menaikkan tingkatan dan meningkatkan kekuatan fisiknya agar ia bisa belajar pedang dengan nyaman. 


Ketika sudah melebihi batas kemampuan Hito berlari, Hito dapat menghitung bahwa ia selama berlari selama 3 jam ia dapat perkiraan bahwa Hito sudah berlari selama 8 km/jam. Walaupun itu sudah pencapaian yang Hito dapatkan tapi Hito bersyukur bahwa mampu untuk melakukannya. Karena sesuai janji yang dipikirkan oleh Hito, Hito memutuskan untuk pergi ke tempat pelatihan pasukan dimana Paman Erio menjadi pimpinan di tempat tersebut.


Hito pun berlari lagi menuju kesana untuk melihat keadaan Paman Erio dan meminta untuk mengajar Hito cara berlatih pedang, karena bagi Hito sekarang pedang adalah senjata yang harus dipelajari Hito untuk bertarung jarak dekat dan sihir untuk bertarung dengan jarak jauh. 

__ADS_1


Tanpa berlama lagi Hito sudah datang ke tempat Paman Erio melatih pasukan, di sana Hito mulai datang untuk berkunjung Paman Erio sekian lamanya. Hito tidak melihat Paman yang memiliki kasih sayang yang lembut pada Hito, "Paman!" teriak Hito dari kejauhan memanggil Paman Erio yang sedang berlatih pasukan lainnya. 


Dari kejauhan Paman Erio mendengar panggilan yang tidak biasa, sampai Paman Erio menoleh ke belakang melihat dari jauh Hito yang datang lari menuju dirinya. Tidak lama setelahnya, Paman Erio menyambut Hito dengan pelukkan hangat seperti seorang Ayah yang sesungguhnya bagi Hito. Dikarenakan Paman Erio inilah yang merawat dan membela Hito dari ibu tirinya yang kejam hingga berperilaku kasar pada Hito, sehingga Paman Erio dan Ibu Tiri bertengkar akibat pertentangan hal ini. 


__ADS_2