
"Paman tidak akan mengizinkan kau keluar Hito, sebagai orang tua keduamu. Paman berhak untuk mengawasimu!" tangkas Paman Erio membantahkan rencana Hito.
Keraguan Paman Erio katakan membuat Hito ingin menjelaskan semua rencana.
"Tapi, paman ini sudah Hito ren–"
Paman Erio memotong percakapan Hito.
"Tidak Hito, kau semakin hari, semakin berubah terus pola pikir dan perilakumu. Kau tidak tahu bagaimana semudah itu memikirkan, apa yang kau rencanakan itu bisa berbahaya di seumuran anak 8 tahun! Ini sangat rentan Hito! Kau itu masih dibimbing biar tahu akan segala rintangan di luar sana!" tutur Paman Erio panjang lebar mengkhawatirkan yang Hito rencanakan. Sampai berdiri tegak membelalakkan mata ke Hito secara tajam.
Paman Erio membentak Hito secara keras, sehingga Hito hanya menundukkan kepalanya tidak berkutik untuk berbicara lagi. Paman Erio merasa antara kasihan atau marah lagi ke Hito dikarenakan surat silsilah pengeluaran dari keluarganya yang disembunyikan tanpa beritahu kepada ia. Sampai rencana yang tidak masuk akal anak di umur 8 tahun ingin berkelana ke Desa Shei tanpa tujuan jelas.
Tujuan yang tersembunyikan oleh niat yang terselubungi terdalam di hati Hito, membuat Paman Erio memalingkan wajahnya ke samping merasa kecewa Hito bisa berbuat sedemikian rupa tidak di tahu kehendak Paman Erio.
Hingga suasana menjadi canggung tidak ada yang berbicara sekejap akibat perdebatan yang panjang tidak menentu arah, Paman Erio merasa kecewa lalu berbicara jujur mengenai perubahan sikap Hito yang diamati sebelumnya.
"Paman hanya heran, kenapa tujuanmu ingin sekali ke Desa Shei? Kau itu orang aneh Hito. Kau memiliki akal seumuran orang dewasa, tapi kau ini masih kecil. Apa kau mungkin Hito yang berbeda dari yang Hito lainnya?" Paman Erio bertanya kembali secara serius kepada Hito yang menundukkan kepalanya sedari tadi tampak menatapnya.
Perasaan yang membuat Hito seperti tersakiti ketika dituturkan oleh Paman Erio itu benar dan fakta. Hito tidak bisa mengelabui apa yang dikatakan Paman Erio, sehingga Hito menjelaskan semua asal usulnya. Walaupun Paman Erio percaya atau tidak itu pendapat atau pikirannya yang dapat memahaminya.
"Aku bukanlah Hito yang asli, dan bukan Hito yang Paman lihat dulu lagi," ungkap Hito berbicara secara kecil.
__ADS_1
Paman Erio yang awalnya serius berubah mukanya menjadi hampa seketika mendengarkan penjelasan Hito. Lalu Paman Erio menyandarkan badannya ke kursi menutup matanya.
"Huft…,"
Paman Erio merasakan amat sedih dan menambah perasaan campur aduk, ia menggaruk kepalanya. Tidak sangka bahwa Hito yang diajarkan dia bukanlah Hito yang asli melainkan orang yang berbeda di dalam tubuhnya.
Hito memang tahu jika penjelasan akan membuat orang lain seperti tidak percaya dan sedih jika mengetahuinya. Sebab, tidak ada lagi cara untuk merahasiakan lagi kepada Paman Erio.
"Paman, aku tahu Paman sedih, jika aku melanjutkan penjelasanku. Paman dengarlah ceritaku,"
"Walaupun ini penyakit ataupun tidak percaya, tapi aku mohon Paman dengarlah,"
Paman Erio tidak merespon apapun yang dikatakan oleh Hito, ia terdiam seribu bahasa tanpa menoleh ke hadapan Hito. Hito pun tahu Paman Erio akan bersikap seperti itu, kemudian Hito mengeratkan tangannya ke meja untuk memperjelas alasannya Hito bisa berganti roh dengan Helmi.
Paman Erio mendengarnya agak merasa tersentuh oleh perkataan Hito, ia tidak tahu selama ini hidup Hito sudah berubah cukup signifikan ini.
Sebagai penutup terakhirnya, Hito pun menyampaikan apa yang dirasakannya mengikuti Paman Erio selama ini.
"Ada satu lagi yang aku ingin sampaikan kepada Paman. Aku sekarang bukan Hito yang dulu Paman lihat, sekarang aku sudah bukan jiwa Hito asli. Aku adalah jiwa yang berbeda yang bersemayam di tubuh Hito. Aku berhak memutuskan atau pun langkahku kedepannya. Jiwa asli Hito sekarang sudah meninggal dan sebagai gantinya adalah aku." Tutur Hito menegaskan dirinya dengan prinsip sendiri. Sampai Hito pun memutuskan untuk tidak meminjamkan kuda yang ada tempat pelatihan pasukan Paman Erio. Sehingga Hito memutuskan cara lain untuk ke sana.
Paman Erio termenung memikirkan Hito yang asli sangatlah tragis hidupnya, bagaimana orang lain yang bersemayam di tubuhnya membuat Paman Erio tidak menyadari keadaan Hito selama ini. Rasa bersalah terdalam membuat Paman Erio menitikkan air mata secara diam tanpa bersuara.
__ADS_1
Hito pun tahu, Paman Erio seperti itu mendengarkan ceritanya. Lebih baik Hito keluar saja, mungkin perdebatan dengan Paman Erio tidak bisa melancarkan rencananya lebih lanjut yang ada membawa arah perkelahian akibat berbeda pendapat serta argumen.
Tidak ada lagi yang Hito harapkan pada Paman Erio, namun. Hito menoleh ke belakang melihat tenda Paman, Hito berterima kasih pada Paman Erio yang sudah mengajaknya keluar dan mengajari ilmu pedang pada Hito.
Hito pun memejamkan mata, mungkin di waktu yang akan datang Hito bisa membalas jasanya. Meskipun saat ini Hito belum cukup memiliki kekuatan dan keuangan untuk menanggung semuanya.
Hito pun tidak lagi mengambil kesimpulan lama lalu memutuskan pergi menuju ke kamarnya, Hito beranggapan semoga besok bisa lebih baik daripada hari lainnya.
Keesokan harinya…
Hito menggemaskan barangnya, sesudah itu dilanjutkan dengan olahraga seperti biasanya. Untuk menghilangkan perasaan tidak mengenakkan Hito menghabiskan waktunya seharian di dalam kamar, tidak lupa Hito berlatih pedang di dalam rumahnya. Berbekal pedang yang dihadiahi oleh Paman Erio, Hito merasa sangat bersalah untuk menerimanya. Hari pun semakin menjelang sore, Hito pun menghentikan latihannya dan memutuskan istirahatnya sebentar.
Tidak lama setelahnya, Ruhee datang dengan pelayan Seri. Pelayan Hito yang dulu sangatlah terkenang di pikiran Hito akhirnya muncul setelah lama menghilang, pelayan Seri lalu menjelaskan kehilangan dia akibat dari terjadinya konflik di Desa Clen. Seri sengaja pulang ke sana demi keluarga yang lagi berselisih, sehingga Ibu tiri mengizinkan ia pulang sementara waktu. Ketika sudah selesai, Seri pulang lagi ke Istana Keluarga Alexander.
Pekerjaan Seri sebagai pelayan haruslah diutamakan untuk menafkahi keluarganya di Desa Clen, berbeda dengan Pelayan Ruhee. Kesenjangan ini membuat Hito memikirkan segala cara untuk mengatasinya, untuk itu Ruhee yang sudah membawa pelayan Seri memperkirakan Seri bisa membuat taktiknya Ruhee mengelabui Ibu tiri bisa tercapai. Oleh karena itu Hito dan juga mereka berunding di dalam kamar Hito memikirkan segala cara.
Pada malam harinya Hito pun dapat menyimpulkan hasil perundingan dengan Ruhee dan Seri. Hito menyimpulkan bahwa mereka akan bepergian di malam hari, tepatnya di saat Seri mengajukan dirinya menjadi pelayan sementara Ruhee yang sakit selama seminggu. Ruhee ini akan Hito buat dengan jelmaan sihir airnya agar dapat menyerupai ia, dengan akal jelmaan ini seperti orang yang terbunuh. Dan juga Seri sepakat bahwa ia dapat menggantikan Ruhee.
Dalam artiannya Seri juga menyatakan setelah Hito kembali ia juga ingin bebas setelah Ruhee, Hito pun menyepakatinya. Dengan ini hasil perundingan Hito beserta Ruhee dan Seri dapat tercapai dan menghasilkan kesepakatan yang akan di balas nantinya.
Ruhee lun merasa senang begitu juga Seri, tapi disisi lain Hito harus memikirkan dampaknya jika hasil kesepakatan ini tidak berhasil atau bisa dibilang tidak lancar. Oleh karena itu, Hito harus memperhitungkan langkahnya lagi.
__ADS_1
Setelah perundingan ini, Ruhee dan Seri pun keluar dari Kamar Hito dengan tenang, mereka berjalan seperti tidak ada masalah apapun.
Hito pun merasa mereka sangatlah orang baik yang harus Hito lindungi nantinya. Karena berkat mereka Hito harus ingat balas budinya.