Pendekar Elemen Air

Pendekar Elemen Air
Bab 4 [Sendirian]


__ADS_3

Helmi yang sudah tidak puas sama perlakuan orang tua Hito memutuskan keluar dari kamarnya tersebut, tidak lupa Helmi menyapa pelayan yang masih mau melayani Hito dengan memberikan kode mengelik sedikit mata pelayan itu langsung menunduk mengikuti Hito pergi. Namun bedanya pelayan yang tidak mau melayani Hito hanya tercengang dengan perilaku Hito dan pelayan tersebut.


Sehingga menjadi sebuah buah bibir di kalangan pelayan istana tempat tinggal Hito, di saat keluar Hito melihat ke sekeliling tempat ia berada dan mencoba untuk beradaptasi di dunia baru ini. Walaupun kaki Hito sebagian ada memar, tapi dipaksakan oleh Helmi agar mampu untuk berjalan dan tidak menutup kemungkinan petaka akan datang lain hari, "Oh yah, pelayan kalau bisa aku memanggilmu siapa yah?" Helmi berusaha mengenal pelayan yang berani untuk melayani ia, awalnya Helmi mengira sebuah candaan belaka doang.


Tapi pelayan tersebut terus mengikuti jalan Helmi pada tubuh Hito, "Panggil saja aku Seria, atau Tuan bisa panggil saya Seri," pelayan yang bernama Seria itu menundukkan kepalanya kepada Helmi dengan perasaan hormat. Helmi pun merasa canggung dengan perlakuan hormat tersebut, "Eh … Seri, jangan segitunya untuk menghormatiku. Ban–" tanpa sadar ketika Helmi membungkukkan badannya untuk memapah Seri bangun, tubuhnya merasa nyeri akibat memar tersebut.


"Arhhhhh," rintih Helmi di tubuh Hito kesakitan memegang bagian belakangnya, Seri yang tahu tubuh Hito mengalami memar yang terlihat membiru langsung membangunnya, "Tuan, maafkan Seri. Seri akan membangunkan Tuan tunggu sebentar," Seri dengan berusaha mengangkat tubuh Hito dan akhirnya Seri mampu membawa Hito dengan merangkul bahunya, "Terima kasih, Seri. Maafkan jika aku merepotkan dirmu untuk sementara waktu,"


"Tidak apa, ini memang sudah tugas dan kewajiban Seri dalam membantu Tuan,"


"Ekhmm, Seri …,"


"Iya?"


"Apa kau bisa memanggilku Hito saja daripada Tuan, sepertinya bagiku. Kalau kau memanggil diriku Tuan perasaanku seperti canggung untuk berkata," permintaan Helmi di tubuh Hito dengan mencoba mengenal lebih akrab pada Seri.

__ADS_1


"Oh bisa, selama ini permintaan Hito. Seri akan mengikuti," senyum Seri tergambar dalam wajahnya merangkul Hito yang kesakitan.


"Baiklah. Aku cukup senang dan duka di hari melelahkan ini, tolonglah bawa aku ke tempat pemandian yang terbengkalai di Istana,"


"Dan juga bawakan obat teh hitam dan rumput hati ajaib ke tempat pemandianku. Apa kau bisa?" suruh Helmi dengan menggeliat muka Seri yang serius membawanya berjalan menuju tempat pemandian, awalnya Seri masih belum sadar akan tempat yang mau Helmi tujukan padanya.


"Sebentar, tempat terbengkalai? Apa Hito mau kesana tanpa sekalipun memikirkan bahaya?" sekilas Seri langsung tahu akan permintaan sebelumnya tadi, dan ia langsung mengkhawatirkan keadaan Hito.


"Tidak perlu pikirkan apa-apa dan bawakan diriku ini sesuai dengan ucapan mulutku berkata," tegas Helmi.


Setelah perkenalkan panjang Helmi dengan pelayan barunya, akhirnya mereka sampai di tempat pemandian terbengkalai yang berisi lumutan air kotor dan dedaunan gugur. Seperti tempat yang tidak terawat lagi, Seri pun memapah Helmi untuk duduk di sekitar kolam tersebut. Tidak lama lagi Seri memutuskan pergi untuk mengambil obat-obatan teh hitam dan rumput hati ajaib pada Hito, "Seri pergi dulu yah Hito, Seri mau mengambil apa yang diminta Hito tadi." sambut Seri kemudian memejamkan matanya.


Helmi yang sudah mengetahui, lalu menggelengkan kepalanya. Akhirnya Seri pergi meninggalkan Helmi sendirian di pemandian terbengkalai tersebut, "Huft … biarkan aku konsentrasi untuk menggunakan sihir airku, yang selama ini sengaja kau sembunyikan ini, Hito." Angkat tangan Helmi di tubuh Hito mencoba sihir yang dirawat dan disembunyikan Hito sebelum, disinilah sihir airnya Hito bereaksi hingga keluar membersihkan area sekitar menjadi tempat bersih kembali.


Selang kemudian, Seri datang dengan membawa obat teh hitam dan rumput hati ajaib yang banyak untuk Hito. Ketika ia membuka pintu, Seri terkejut dan terheran tempat yang awalnya dimasukkin terbengkalai dan tidak terawat kini menjadi tempat yang bersih tanpa sedikit daun yang gugur di tempat kolam tersebut, "Oh Seri, rendamkan teh hitam itu dalam air ini! Dan rumput hati ajaibnya simpankan di samping tubuhku." Helmi yang sudah melihat kedatangan Seri di dekat pintu seperti orang termenung memikirkan sesuatu.

__ADS_1


Helmi memanggilnya, Seri masih memikirkan keanehan ini. Namun ia mau bertanya ia masih segan dan ragu untuk membicarakan ini pada Hito, "Ini Hito, barang yang diminta olehmu. Kalau gitu Seri mau pamit dulu membersihkan dapur Istana,"


"Silahkan. terima kasih sudah membantuku. Biarkan aku sendiri disini dan jangan mengkhawatirkanku," suruh Helmi yang sudah tahu akan kesibukan Seri, setelah Seri balik dari tempat pemandian tersebut. Sisanya yaitu Helmi sendirian di tempat pemandian besar itu di malam yang penuh angin, "Menyendiri adalah separuh kehidupan padaku, dimana pun berada aku selalu sendiri. Karena bagiku pertemanan atau perkumpulan yang ada aku dipinggirkan," keluh Helmi memikirkan nasib ia, sementara yang ia hadapi masih panjang.


Di akhir perkataan keluh kesah Helmi, ia menenangkan pikirnya sambil merendamkan beberapa teh hitam yang sudah di ambil oleh Seri. Helmi menikmati suasana tenang, senyap dan sendirinya dengan menenggelamkan sebagian tubuh agar untuk menyembuhkan luka lebamnya. Di tenangnya yang sekarang ini, Helmi memutuskan akan dipanggil Hito sekarang. Helmi adalah nama samarannya untuk ia melakukan perjalanan atau berkomunikasi dengan pihak manapun, tanpa melibatkan unsur keluarga bercampur tangannya dengan dirinya.


Di sepanjang malam ini, Hito akhirnya tertidur selama 5 jam menyembuhkan lukanya di air teh hitam tersebut, kenikmatan tiada tara Hito diam dan mulai membuka matanya yang selama ini lelah kembali segar seperti dulu. Hito mulai bangun dan berdiri mengambil rumput hati ajaib untuk membersihkan seluruh tubuhnya tanpa terkecuali sedikit pun, memakan waktu yang cukup banyak untuk membersihkan sebagian bekas luka. Namun inilah derita yang harus dihadapi Hito.


Setelah selesai Hito mulai mengelap badannya dengan sihir airnya dan memakai pakaiannya, Hito dengan tubuh kembali segar dan sehat dari luka memar mulai pergi dari tempat pemandian punya dirinya sendiri. Hito pun mulai beranjak dan pergi dari tempat pemandian tersebut, tidak lupa ia menguncinya dengan timbunan barang agar orang tidak mengetahui.


Perjalanan kembali Hito ke kamar tanpa pendamping Seri, Hito menganggap ini sudah biasa tanpa perlu memanggil orang lagi. Perjalanan panjang menuju ke sana ia harus dihadapi di setengah jalan sama orang yang paling menjengkelkan di kehidupan Hito adalah Kai sang pengganggu dirinya, "Cuh, gampang kali anak lemah ini lewat didepanku, tumben sudah bersih dan rapi. Pergi ke tempat kecantikan mana nih!" cela Kai dengan santai di pinggir lorong memandang Hito berjalannya.


"Hei, anak lemah! sombongnya, kau padaku," panggilan dari Kai yang keras, seolah dirinya menganggap Hito seperti semut bagi dirinya.


Padahal Hito malas meladeni ia dan hanya menganggap Kai seperti angin yang lewat saja menghembus di telinga Hito, karena Kai merasa jengkel dan geram sama Hito melaluinya tanpa mendengarkan panggilan keras ia. Kai berinisiatif menghampirinya dan menarik tangannya dengan kuat, "Kau sombong yah Hito, mentang-mentang dirimu sudah mulai berkuasa yah!" pekik Kai berjalan menghampiri Hito, namun Hito tahu perlakuan yang akan di lakukan Kai.

__ADS_1


__ADS_2