Pendekar Elemen Air

Pendekar Elemen Air
Bab 27 [Taktik Hito dan Ruhee]


__ADS_3

Setelah pertikaian di antara Ibu tiri dan Hito menyisakan beberapa orang terbunuh oleh sihir air Hito, padahal Hito tidak ingin menggunakan sihir airnya, karena bagi Hito itu rahasia yang dimiliki Hito untuk di ungkapkan nantinya. 


Pasalnya Hito tidak ingin mengambil resiko cukup berat di mana kondisinya sudah terjebak, dengan ini. Hito harus terpaksa menggunakan untuk menyelamatkan hidupnya. Itulah penyebab utama Hito menyembunyikan sihir airnya. 


Pada malam hari tepatnya pukul 04.36, Ruhee yang sudah menyelesaikan pekerjaannya sekaligus membantu menggotong Ibu tiri menuju Kamar Kang Shan untuk diberikan kepada tabib yang masih ada di dalam istana. Ruhee memutuskan pergi ke Kamar Hito untuk mendengarkan amanah yang dikatakan Hito, seperti sebuah janji yang amat penting bagi Ruhee. Karena ia ingin juga memiliki tujuan yang sama seperti Hito. 


Walaupun status Ruhee masihlah pelayan semata-mata di Istana Keluarga Alexander, belum tentu Ruhee bisa lepas dari pemantauan dari Ibu tiri. Namun, Ruhee memberanikan dirinya serta tegas untuk nekad mengikuti apa yang dikatakan Hito. 


Ruhee pun berjalan terburu-buru menuju lorong Kamar Hito di saat pelayan istana pada tidur semua, kecuali Ruhee yang sibuk. Kesibukannya Ruhee adalah menjelaskan kejadian yang ditimpa oleh Ibu tiri sampai memperbaiki situasi yang awal genting sekarang sudah terkondusif, berkat penjelasan Ruhee yang begitu bagus dalam kata serta penyampaiannya. Sehingga banyak pelayan mempercayainya dan merasa lega masalahnya dapat diselesaikan. 


Ketika sudah sampai di depan pintu Hito, Ruhee mengetuknya secara pelan. Sebelum mengetuk pintu Ruhee memegang dadanya untuk menghela napasnya. 


Ntuk… ntuk… ntuk… 


Sesudah Ruhee mengetuk pintu Kamar Hito tiga kali, Ruhee terdiam sejenak dengan wajah sudah penuh harapan menunggu respon Hito yang berada di dalam.


Cklek!! 


Pintu kamar pun terbuka sendiri oleh sihir air Hito, Ruhee yang terdiam di depan pintunya memandang Hito yang sudah tersenyum wajahnya menunggu kedatangan Ruhee, dengan Hito berpakaian celana panjang berserta baju yang putih.


Sekejap Ruhee memalingkan wajahnya dengan menutup mulutnya, agar berpura-pura bahwa ia batuk. Di pandangan Hito dari jauh sudah tahu apa reaksinya Ruhee melihat wajahnya. Memang begitulah rupa wajah Hito dikala diam memperhatikan malam harinya, membuat Ruhee tak sesekalipun berkata.


"Ruhee, masuklah. Aku sedari tadi menunggumu datang, apa kau sudah merencanakan apa yang sebelumnya aku katakan?" tanya Hito melipatkan tangannya di dada. 


"Sudah," jawab Ruhee masuk ke kamarnya Hito dengan menundukkan kepalanya agar tatapannya tidak tertuju pada wajah Hito. 


Hito pun menggelengkan kepalanya diikuti memejamkan matanya tahu apa reaksi berlebihan Ruhee sepertinya kambuh ketika melihat wajah Hito yang tampan di saat wajahnya bersih. Hito hanya tertawa kecil menatap Ruhee tersipu malu, sehingga tingkah Ruhee membuat situasi Hito menjadi peka sama keadaan Ruhee. 

__ADS_1


Hito pun mengacak-acak rambutnya di tempat tidur, sampai Ruhee tak satupun menoleh wajahnya ke Hito, seolah Ruhee tahu melihat sesuatu yang membawa gairahnya itu tidak diperbolehkan tampak pada Hito.


Selesai Hito mengacak-acak rambutnya, Hito melampirkan sebuah peta dunia yang Hito beli di saat acara raya dingin tadi. 


"Ini, petanya." 


Ruhee menoleh pada peta yang diberikan oleh Hito, kemudian Ruhee mengambilnya untuk dibukanya. Ketika Ruhee membuka petanya, Ruhee menelengkan kepalanya untuk fokus objeknya pada wilayah Desa Shei. 


Desa Shei memanglah desa yang jauh dari kota-kota besar yang ada di Kerajaan Helium, terletak di luar Pulau Meshia, Kota Cerila, dan harus menyeberangi wilayah. Oleh karena itu, perlu memakan waktu sekitar empat atau enam hari untuk sampai ke sana. 


Sehingga Ruhee memikirkan caranya untuk bisa bepergian secara cepat tanpa memakan waktu yang lama, dengan segala ketelitian dan tekun. Sampai Hito menunggu tanggapan Ruhee di sampingnya terduduk serius memperhatikan peta dunia. 


Tidak lama setelah di amati oleh Ruhee, Ruhee menurunkan peta dunia dan menoleh pada Hito. 


"Aku tahu, jalan pintas ke sana. Cuma kita akan berhadapan dengan penjahat Desa Clen!" Ungkap Ruhee menunjukkan tempat  Desa Clen menunjukkan jarinya agar Hito mengetahuinya. 


"Desa Clen, selain melewati desa itu. Apakah ada jalan pintas lainnya?" 


Ruhee pun hanya menggeleng kepala dengan pelan menandakan tidak ada satupun jalan pintas lainnya, cuma Desa Clen saja yang bisa menjadi andalan cepat menuju ke Desa Shei. Hito pun memikirkan kembali tentang Desa Clen. 


Desa Clen merupakan desa yang terbilang tertinggal oleh sebagian desa yang sudah berkembang dengan agrarisnya, desa ini hanya mempunyai suatu pertambangan yang jaya pada masanya. Tetapi, kenapa bisa menjadi terbengkalai pada tahun mendatang. Sumber pertama penyebabnya adalah ulah para penjahat kriminal yang berkuasa kuat atas hak mereka di pertambangan tersebut. 


Padahal pertambangan di sana semata-mata untuk mensejahterakan desa serta kemakmuran penduduknya di sana, sehingga Hito memikirkan Desa Clen. Sampai sekarang Desa Clen menderita hingga dianggap Desa terburuk oleh Kerajaan Helium. 


Hito pun langsung menyilangkan Desa Clen di peta dunia sebagai tempat persinggahannya pertama. 


"Ruhee, seperti biasa kita akan melakukan pergerakan ini di pagi hari." 

__ADS_1


"Aku minta kita bergegas cepat, sebelum Ibu tiri bertindak diluar kekuasaan kita lagi." Ucap Hito menundukkan kepalanya menatap mata Ruhee. 


Ruhee pun terpejam matanya sebentar dan terbuka kembali. 


"Iya, Tuan Hito. Kita harus cepat bertindak," jawab Ruhee sudah mengumpulkan tekadnya untuk keluar dari Istana Keluarga Alexander demi keluarga tercintanya di Desa Shei terjerat akan ancaman Ibu tiri Hito. 


Seusai perencanaan Ruhee dan Hito berlangsung sebentar saja, Ruhee pun berpamitan pada Hito dan bergegas keluar dari Kamar Hito dengan gerak-gerik tenang tanpa membuat sekitar curiga. 


Hito yang mengizinkannya, cuma bertitipkan pesan pada Ruhee. 'Siapkan taktik cerdik mengelabui Ibu tiri Ruhee, agar kita bisa keluar dari Istana ini. Dengan anggapan bahwa kau tidak melayaninya sementara.' pesan Hito pada Ruhee. 


Ruhee pun menyiapkan apa yang di pesan oleh Hito dengan berbuah rencana yang matang dan kehati-hatian dalam taktik. 


Hito ngerasa sudah terselesaikan pembicaraan rencana bersama Ruhee. Setelahnya Hito keluar melalui jendela kamarnya, Hito tidak mau lagi lewat lorong Istana. Lebih baik Hito melompat saja keluar jendela, dengan sihir airnya Hito turun mengendalikan kecepatan lompatan dan udara sekitar menjadi massa yang ringan untuk tubuhnya agar tidak terluka. 


Sehingga ketika sampai di permukaan, Hito dengan pelan menurunkan badannya agar tidak terjatuh secara keras. Dan akhirnya Hito mencapai permukaan batu granit Istana, tanpa satu suara yang membawa sekitar mengetahuinya. Hito berjalan menuju ke tenda pelatihan pasukan atau bisa dibilang tenda Paman Erio diam. 


Ada satu yang ingin Hito sampaikan ke Paman Erio adalah meminta bantuannya untuk meminjamkan sebuah kuda untuk keluar dari Istana ini, tujuan Hito memakai kuda adalah memikirkan biaya dan mengendarai kuda lebih bagus untuk dibawa ke medan dataran rendah serta tinggi yang akan dilalui Hito nantinya. 


Sementara ini hanya keinginan Hito, akan tetapi. Belum tentu apakah Paman Erio, dapat mempersetujuinya atau tidak. Harapan Hito, semoga saja keinginan dapat diterima agar rencana Hito dan Ruhee bisa terlaksanakan. 


Saat Hito sudah berada di dalam tenda Paman Erio dengan wajah penuh kejutan. 


"Apa maksudmu ini Hito?! Kau beneran keluar secara paksa tanpa berunding dengan Ayahmu?!" tampak wajah Paman Erio terlihat ingin marah diselimuti rasa kecewanya terhadap Hito melampirkan surat pengeluaran silsilah Keluarga Alexander kepada Paman Erio. 


Hito hanya mengerutkan alisnya, mengerti apa yang dikatakan oleh Paman Erio. 


"Paman. Hito hanya bisa melakukan ini saja, selain itu Hito tidak bisa lagi berdiam diri saja di tempat yang penuh kekerasan!" balas Hito memukul meja Paman Erio dengan telapak tangannya. 

__ADS_1


Nampak perdebatan Hito dan Paman Erio memanas sehingga tidak menghasilkan suatu keputusan secara sepihak, Hito tetap teguh ingin keluar dari Istana Keluarga Alexander menuai kontra dari Paman Erio. Di sisi lain Paman Erio masih mengkhawatirkan  kepergian Hito yang masih berumur 8 tahun untuk dilepaskan ke keluar karena masih butuh pengawasan oleh orang tua. 


__ADS_2