
PENGANTIN BERDARAH
" JIKA MENCINTAI MU ADALAH DOSA,
MAKA AKU SIAP JADI PENDOSA SELAMA SISA HIDUP KU "
" Mulai sekarang jangan kebanyakan begadang ! " ujar Marni pada anak sulungnya itu.
" Iya, bu. " balasnya dengan senyum getir.
" Ibu ga nyangka loh sebentar lagi kamu akan menikah. Duh, akhirnya perasaan ibu lega, " kata Marni sumringah.
Terlihat wajah sumringah Marni mengingat beberapa bulan lagi anak sulungnya akan dipersunting oleh laki laki mapan dikampungnya.
" Iya, bu. Maaf ya kalau selama ini Lastri sudah buat ibu khawatir, " jawabnya.
__ADS_1
" Sudah sudah, yang lalu ga usah dipikirin. Kamu juga harus lupain si Andi itu, anak ga tau diuntung emang ! " kata Marni sengit.
Marni menuju dapur untuk menyiapkan makan malamnya. Lastri masih ragu, apakah ini keputusan yang sudah benar ? Tapi jika dipaksakan, dia tidak akan bisa hidup dengan bersuamikan Aryo. Seorang duda kaya dikampungnya itu. Namun jika pernikahan dibatalkan hal ini akan menjadi pergunjingan orang sekampung, yang sudah hapal dengan perjalanan hidup Lastri dan sepertinya akan sangat menyakiti hati kedua orang tuanya.
Lastri adalah wanita berusia 33 tahun yang belum menikah. Dia harus menerima stigma negatif dari warga kampungnya hanya karena ia masih belum bersuami dan masih tinggal bersama dengan kedua orang tuanya.
Tak ada yang salah dengan Lastri. Dia cantik juga pintar, namun nasib malang sepertinya sedang berada dipihaknya.
Selepas SMA Lastri memutuskan untuk bekerja guna meringankan beban kedua orang tuanya, yang masih kesulitan menanggung biaya hidup. Ditambah orang tuanya harus mencari biaya sekolah untuk kedua adiknya yang masih duduk dibangku SD dan SMP.
PENGANTIN BERDARAH
Seiring berjalannya waktu, hubungan keduanya semakin erat meski jarak memisahkan. Teknologi yang kian maju memudahkan keduanya untuk tetap berkomunikasi dan saling memberi kabar satu sama lain. Bahkan uang gaji Lastri pun sengaja dia sisihkan sedikit untuk membantu biaya kuliah kekasihnya itu.
Tak ada yang merasa aneh akan hal tersebut, bahkan ibunya Lastri pun tak pernah merasa keberatan.
__ADS_1
" Ga papa kalau mau bantu calon suami yang mau jadi sarjana. Itu demi masa depan mu juga sekalian untuk bantu ibunya "
Itulah jawaban dari Marni jika Lastri berkata ingin mengirimi uang untuk Andi. Seorang pemuda yang dia kenal sejak kecil yang tak lain anak dari sahabatnya itu.
Empat tahun menjalin hubungan dan hanya bertatap muka saat lebaran tiba tak membuat hati Lastri risau. Dai yakin, Andi adalah jodoh yang Tuhan berikan untuknya. Hingga dia terpaksa menolak beberapa pinangan yang datang selama kurun waktu itu.
Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak ibarat kata pepatah. Hubungan keduanya harus kandas di tahun ke enam saat tiba tiba Andi mengirimkan undangan pernikahannya dengan wanita lain.
Rasa sakit hati yang ditinggalkan Andi membuat Lastri tenggelam dalam kesibukan dan memutuskan untuk fokus bekerja sampai bertahun tahun lamanya. Tanpa sekalipun Lastri menghiraukan masalah tentang pernikahan.
Sampai dipenghujung tahun lalu, Lastri harus menerima pil pahit lainnya. Perusahaan tempat dia bekerja mengalami kebangkrutan. Dia di PHK saat usianya sudah menginjak 32 tahun.
Gaji yang selama ini dia berikan kepada orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka telah habis tak tersisa. Ayahnya yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga selama belasan tahun kini sudah tak berdaya dan sepertinya pinangan dari Aryo adalah jalan satu satunya yang dimiliki Lastri untuk bertahan hidup.
Nama Aryo tidaklah asing ditelinga Lastri, seorang duda kaya berusia 36 tahun yang telah ditinggal mati istrinya. Istri Aryo meninggal tiga tahun yang lalu dan kematiannya masih menjadi pergunjingan warga dikampungnya hingga saat ini.
__ADS_1
Next