
PENGANTIN BERDARAH
Sosok itu perlahan turun dihadapan Lastri. Dia tertawa dengan keras lantas mencekik leher Lastri dengan kuat sampai sulit untuk bernafas sampai Lastri jatuh tak sadarkan diri. Warga yang melihat itu pun segera menolong dan membawa Lastri kerumah sakit.
* * *
" Mbak gimana, udah mendingan ? " tanya Dewi khawatir.
" Alhamdulillah Wi, sudah ga terlalu sakit, " jawab Lastri sembari memegang lehernya yang masih tampak memar.
" Lagian kenapa sih mbak bisa melamun dipinggir jalan raya bahkan orang orang yang menolong mbak bilang kalau mbak tiba tiba berhenti ditengah jalan terus mbak cekik leher mbak sendiri terus mbak pingsan, kan aneh. Mereka anggap mbak kesurupan tau ! " kata Dewi menjelaskan namun Lastri hanya terdiam.
" Oh iya, tadi mas Aryo datang saat mbak belum sadar dan dia juga yang urus administrasi terus dia pamit pulang, " lanjut Dewi.
Dewi nampak merasa bersalah karena dia merasa turut andil dalam kegagalan rencana pernikahan mbaknya itu.
" Mbak, aku minta ma.. "
Belum sempat Dewi menyelesaikan ucapannya itu, Lastri langsung memotong ucapan adiknya itu.
" Ibu mana ? " tanya Lastri.
" Ibu sama bapak sedang menunggu kedatangan Dimas diluar mbak, " jawab Dewi.
__ADS_1
" Kamu kasih tau Dimas ? " tanya Lastri lagi.
" Dimas emang udah rencana pulang karena sedang libur smester, terus ibu juga yang kasih tau mbak kecelakaan jadi dia langsung datang kerumah sakit, " terang Dewi.
" Mbak Lastri ! " teriak Dimas saat dia lihat kakak sulungnya itu.
" Duh adik mbak sudah gede aja, udah lama kita ga ketemu, " kata Lastri.
Dimas langsung mencium tangan Lastri dan memeluknya dengan erat. Dimas memang adik yang paling dekat dengan Lastri. Bahkan bisa dibilang kalau Lastri lah yang merawat Dimas sejak dia masih bayi.
Lastri tak melihat ibu dan bapaknya sampai ia tanyakan pada Dimas adiknya itu.
" bapak sama ibu mana ? " tanya Lastri.
" Sudah siuman mbak mu, Wi ? " tanya bu Marni yang masuk kedalam kamar itu.
Ibu dan bapaknya masuk bersama seseorang yang sudah sangat Lastri kenal. Ya, mereka datang bersama Andi mantan pacar Lastri dahulu
" Untuk apa dia kesini ! " seru Dewi yang tak kuasa menahan amarahnya saat melihat kehadiran Andi.
Lastri terpaku seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Ini adalah kali pertama ia bertemu lagi dengan Andi setelah peristiwa undangan pernikahan Andi yang dikirim via pos.
" Mbak, " kata Dimas menarik lengan baju Dewi dan mengisyaratkan Dewi untuk tak ikut campur.
__ADS_1
" Kamu udah siuman, Tri ? " tanya pak Saiful.
Pak Saiful tersenyum saat dia melihat keadaan anak sulungnya itu mulai membaik, sedang bu Marni tak berucap sepatah kata pun. Tak selang beberapa lama mereka pun keluar dan membiarkan Andi tetap diruangan itu.
" Mau pada kemana kalian ? " tanya Dewi saat dia melihat kedua orang tuanya malah pergi dari situ.
" Mbak, ayo kita keluar dulu ! " ucap Dimas sembari menarik tangan Dewi sekuat tenaga agar mau keluar dari ruangan itu.
Lastri mengangguk pada Dewi seakan kedatangan Andi bukan lagi masalah bagi dirinya. Mungkin Lastri sudah benar benar melupakan tentang perasaannya pada Andi.
" Awas kalau kamu berani macem mecem ! " seru Dewi ketus pada Andi sebelum dia melangkah keluar bersama Dimas.
" Sudah lama kita ga ketemu, Tri " kata Andi membuka obrolan.
Lastri tetap diam dan hanya mengangguk.
" Mungkin permintaan maaf seribu kali pun tak akan cukup untuk menebus kesalahan yang telah aku lakukan sama kamu. Aku ga berharap banyak kamu mau maafin aku karena aku pun sulit untuk memaafkan diri ku sendiri. Tapi ijinkan aku bercerita sedikit tentang alasan aku memutuskan itu semua. Mungkin bagi mu ini terdengar hanya sebagai pembelaan diri, namun aku harap dengan cerita ini dapat sedikit meringankan luka yang pernah aku lakukan sama kamu, " ungkap Andi.
" Kamu boleh ceritakan semuanya dan aku siap mendengarkan hanya sebatas sebagai teman lama mu, " jawab Lastri.
Andi tersenyum seolah dia melihat Lastri yang dulu telah kembali.
" Istri ku meninggal sebulan setelah kami menikah, dia meninggal setelah melahirkan bayinya, " kata Andi mengawali ceritanya.
__ADS_1