
PENGANTIN BERDARAH
Aryo kembali lagi ke kampung halamannya beberapa bulan yang lalu untuk tinggal dan menetap disana lagi. Dan dalam kurun waktu yang singkat itu pula dia datang ke rumah Lastri dan berniat meminangnya. Tentu saja pinangan itu disambut baik oleh Marni, ibu dari Lastri. Dia abaikan gosip yang beredar dan tetap merestui pinangan Aryo untuk putri sulungnya.
" Alhamdulillah ya jodoh kamu ga tanggung tanggung, langsung pak Aryo ! "
Marni mengambil centong nasi dan memberikannya kepada Saiful, suami sekaligus ayah Lastri.
" Kamu sudah beneran mantap, Tri ? " tanya pak Saiful memastikan anaknya lagi.
" Iya pak, Insyaallah, " jawab Lastri lirih.
" Kamu itu, sudah pasti yakinlah. Dua bulan lagi mereka akan menikah, apa lagi yang harus diragukan. Ditambah calon suami Lastri itu mapan dan punya usaha sendiri, ga kayak bapaknya ! " sindir bu Marni sambil melirik suaminya.
" Maafin bapak ya, Tri ! Gara gara bapak kamu ini kamu harus menanggung semua beban keluarga. Insyaallah semua balasan kebaikan kamu akan kembali lagi ke kamu, " ucap pak Saiful sembari mengusap air matanya.
Lastri hanya diam dengan kepala tertunduk.
" Sudah sudah, ayo sekarang makan dulu ! " seru bu Marni mencoba mengalihkan pembicaraan.
Malam semakin ramai saat Dewi, adik perempuan Lastri datang kerumah dengan membawa tas besar dan menggendong Arif anaknya. Seolah pemandangan ini sudah biasa terjaadi.
__ADS_1
" Berantem lagi ? " tanya bu Marni yang tak dibalas oleh Dewi dan langsung masuk kekamar kakaknya.
" Aku mau numpang tidur disini untuk sementara waktu, mbak ! " ucapnya tanpa basa basi.
Lastri tak menjawab. Dia langsung pergi keluar dan meninggalkan adik juga Arif keponakannya itu didalam kamar. Dia berjalan dan duduk diteras depan rumahnya. Dia mendengar sayup sayup ibunya sedang berbicara di telfon.
" Iya, nanti ibu kirim uangnya. Kan kamu tau sendiri sekarang mbak Lastri sudah ga kerja. Nanti ibu usahakan, kamu kuliah aja yang bener ! " suara lantang bu Marni terdengar dari balik tembok.
" Nanti kalau mbak Lastri sudah menikah maka hidup kita akan menjadi lebih baik. Kamu kalau udah lulus kuliah juga bisa minta pekerjaan diperusahaan kakak ipar mu ! " seru bu Marni lagi.
Lastri tertunduk lesu, semua orang bertumpu padanya dan untuk kesekian kalinya dia harus berkorban perasaan lagi.
Dia melihat didepannya tengah berdiri sosok wanita bergaun merah dengan darah disekujur tubuhnya. Sorot matanya yang tajam seakan ingin menantang perang kepada siapa pun yang ada didepannya.
" Si.. Si.. Siapa kamu ? " tanya Lastri dengan tubuh gemetaran.
Sosok didepannya itu tak menjawab. Dia miringkan kepalanya menoleh pada Lastri yang bersimpuh tak berdaya dicekam kengerian.
" Ahahahaha "
Sosok itu tertawa menyeramkan dan sekejap kemudian sosok itu menghilang, sedang Lastri masih terduduk dengan tubuh menggigil karena ketakutan.
__ADS_1
Perlahan ingatan itu datang lagi. Dia, dia adalah sosok yang sama dengan sosok yang tempo hari ia lihat dirumah Aryo. Lastri kemudian berdiri dan bergegas masuk kedalam rumah dengan hati risau.
Sosok itu terus menerus muncul dan gangguan demi gangguan selalu datang silih berganti disetiap malam malamnya.
" Mas, apakah besok kita bisa ketemuan ? " Lastri mengirim pesan SMS kepada Aryo.
" Iya, dik. Nanti besok mas mampir kerumah ! " balas Aryo.
Malam itu Lastri habiskan untuk dzikir dan sholat malam. Dia panjatkan doa untuk dirinya dan keluarganya. Memohon pada sang Pencipta agar dijauhkan dari hal hal buruk yang akan menimpanya.
☆☆
" Aku sakit, mas. Hiks.. hiks.. Tolong aku ! Hiks.. hiks.. " suara rintihan seorang wanita yang bersimpuh didepan suaminya.
Sang suami tak bergeming sama sekali. Dia seakan memandang jijik pada istrinya itu.
" Kau sudah menipu ku, kau pantas mati ! " seru suaminya dengan tatapan penuh benci.
Wanita itu terus menangis tanpa henti hingga air matanya berubah menjadi darah dan kedua bola matanya berubah menjadi hitam pekat. Dalam sekejap dia menengok kearah Lastri yang sedang mengintip dari balik tirai.
" Kamu selanjutnya, dasar jalang ! " maki wanita itu pada Lastri.
__ADS_1