PENGANTIN BERDARAH

PENGANTIN BERDARAH
TAMAT


__ADS_3

PENGANTIN BERDARAH


Setelah 15 menit berjalan Lastri menemukan pangkalan ojek dan dia tunjukkan secarik kertas pada salah satu pengojek disana.


" Ini lumayan jauh dari sini mbak, sekitar setengah jam an dari sini, " kata tukang ojek itu.


" Tapi bapak bisa kan antar saya kesana ? " tanya Lastri.


" Bisa sih tapi agak mahal mbak, " katanya.


Setelah mereka deal masalah sewa mereka pun berangkat ke alamat yang dituju. 40 menit akhirnya mereka sampai disebuah rumah yang sangat megah. Perlahan Lastri mendekat kepintu gerbang dan menekan bel sampai muncul seorang satpam dari dalam gerbang itu.


" Cari siapa mbak ? " tanyanya.


" Sâya ada perlu sama mbak Maya, " kata Lastri menjelaskan.


" Tunggu sebentar ya mbak saya tanyakan dulu, " katanya sembari masuk kedalam rumah.


Tak berselang lama satpam itu kembali bersama Maya.


" Mbak Lastri, ayo masuk mbak ! " ajak Maya.


" Ada apa mbak, tumben datang kerumah ga ngasih kabar dulu ? " tanya Maya sembari mempersilakan Lastri duduk diruang tamu.


" Apa saya boleh minta tolong ? " tanya Lastri.


" Tentu boleh mbak, ada apa ya ? " balas Maya.


" Saya mau minta antar ke orang pintar yang dulu menangani Wulan, " pinta Lastri.


Maya mengerutkan dahi tak mengerti.


" Untuk apa mbak ? " tanya Maya penasaran.


" Saya belum yakin, tapi kalau kita pergi kesana mungkin kita bisa mengungkap kebenaran dibalik kematian Wulan, " jawab Lastri agak ragu.


Tanpa pikir panjang Maya langsung mengambil kunci mobilnya dan mereka bergegas menuju rumah dukun itu.


Jam baru pukul 7 malam namun jalanan sudah mulai sepi. Jarang kendaraan yang berlalu lalang bersamaan dengan mobil Maya, atau pun dari arah sebaliknya.


" Braaaakkk "


Sesuatu yang besar jatuh menimpa atap mobil Maya.


" Astaghfirullah, apa itu mbak ? " tanya Maya panik.


" Sudah acuhkan saja mbak, kita jalan terus ! " ujar Lastri.


Maya mengangguk tanda mengerti namun gangguan itu terus berlanjut. Atap mobil seakan di injak injak oleh seseorang hingga menyebabkan mobil sedikit oleng. Maya melirik Lastri dan tangannya gemetaran. Lastri tetap meminta Maya untuk terus jalan.

__ADS_1


" Mbak Maya, berdoa sebisanya. Kita minta perlindungan dari Allah dan terus baca ayat Al Quran yang mbak hapal ! " seru Lastri mencoba menenangkan Maya.


Namun bukannya berhenti, gangguan itu malah menjadi jadi. Kini sosok wanita bergaun merah dengan darah disekujur tubuhnya berdiri ditengah jalan tengah menghadang mobil yang mereka naiki.


" Terobos saja mbak, disaat kita lewati terus baca doa ! " perintah Lastri.


Maya sekuat tenaga menahan tangisnya sampai dia terobos sosok wanita itu dan sosok itu pun menghilang entah kemana. Perjalanan terasa begitu panjang hingga Maya meminta untuk beristirahat sejenak.


" Mbak, dia itu yang selalu datang dimimpi saya, " kata Maya.


" Iya mbak, saya tau. Ayo kita lanjutkan perjalanan ! " ucap Lastri.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam mereka sampai disebuah rumah yang gelap dan suram. Maya tampaknya masih ragu untuk turun namun ia beranikan diri karena ada Lastri bersamanya.


" Permisi mbah Sugeng, ini saya Maya anak pak Sumitro, " panggil Maya sembari mengetuk pintu.


Lastri mengamati keadaan sekitar, sungguh sepi.


" Kita langsung masuk saja mbak ! " ajak Lastri.


" Jangan Mbak, kita tunggu disini saja, " jawab Maya yang sedikit ketakutan.


Namun Lastri menarik tangan Maya dan masuk kedalam rumah itu. Ruangan tengah dipenuhi dengan ukiran kuno dan lukisan lukisan disekitar dinding. Sampai mata Lastri tertuju pada sebuah lukisan seorang perempuan dipojok kiri atas. Dia pun menarik tangan Maya.


" Mbak Maya, lihat lukisan itu ! " tunjuk Lastri.


Maya begitu kaget saat melihat lukisan itu yang tak lain dan tak bukan adalah sosok yang selama ini menghantui dirinya.


Suara tawa itu menggelegar memenuhi seisi ruangan.


" dasar bodoh, beraninya kalian datang kesini cuma berdua. Kalian cari mati ! " kata sosok tua yang keluar dari balik pintu.


Dia menyeringai melihat kedatangan Lastri dan Maya.


" Mbah Sugeng, ada apa ini. Jadi yang bikin Wulan sakit adalah mbah sendiri ? " tanya Maya tak percaya.


" Adik mu pantas mati, dia tak berhak hidup bahagia dengan Aryo sialan itu. Disaat anak ku harus mati dengan mengenaskan ! " teriaknya.


" Dan kau, kamu selanjutnya ! " serunya sembari menunjuk kearah Lastri dengan penuh emosi.


" Anak mu mati karena ulah mu sendiri dan kau hancurkan hidupnya karena ambisi mu sendiri ! " ucap Lastri tak kalah berapi api.


" Apa kamu bilang, ambisi ? Anakku hampir mati karena tergila gila pada Aryo kunyuk itu. Dia korbankan tubuhnya untuk jadi sarang setan, susuk itu aku sendiri yang pasang. Aku tau risikonya tapi aku tak bisa menolak permintaan gadis yang malang itu, " kata kakek tua itu.


" Jika kamu tau risikonya kenapa kamu tetap lakukan, Sukma mati karena ulah mu sendiri ! " jawab Lastri tak mau kalah.


Tiba tiba perabotan rumah bergetar dengan sendirinya. Lukisan berjatuhan membuat Maya semakin ketakutan. Dia memegang tangan Lastri dengan eratnya.


Sosok itu muncul dari belakang mbah Sugeng. Sosok Sukma dalam wujud yang menyeramkan melayang diatas kepala ayahnya. Seakan mereka siap menyerang Lastri dan Maya saat itu juga.

__ADS_1


" Anak ku rela menjadi pendosa seumur hidupnya hanya karena dia tak mau kehilangan suaminya. Setelah tubuhnya dipenuhi susuk, dia rela jiwanya diserahkan pada iblis karena dia ingin memberikan keturunan pada kunyuk itu. Kalian tak pernah tau rasanya kehilangan darah daging mu sendiri, " kata mbah Sugeng.


" Aryo sudah tau tentang susuk itu jauh sebelum dia menikahi putri mu. Dia rela menerima kenyataan itu dan tetap memilih putri mu sebagai istrinya. Kalianlah yang dihantui rasa ketakutan dan kegelisahan itu, hingga membuat keputusan bodoh. Kalian yang memilih jalan sesat itu ! " teriak Lastri.


" Apa maksud mu ? " tanya mbah Sugeng melotot.


" Aryo, dia tau ini ulah kalian semua tapi dia tetap diam. Kamu sendiri yang menghancurkan masa depan putri mu, " jawab Lastri.


Sosok wanita itu berubah menjadi sosok Sukma yang dulu, jauh sebelum ia memakai susuk susuk ditubuhnya. Dia menyentuh tangan ayahnya dan mbah Sugeng melirik kearahnya.


" Sukma, maafkan bapak nak ! " ucap mbah Sugeng meratapi nasib anaknya.


Sukma tersenyum kearah ayahnya namun sesaat kemudian dia berubah kembali menjadi sosok yang menyeramkan. Dia cekik leher mbah Sugeng dan dia angkat tubuh tua itu lantas dia banting kelantai dengan begitu keras. Lantai itu sampai retak begitu juga dengan tubuh Mbah Sugeng yang remuk berlumuran darah. Dia mati ditangan iblis yang menguasai raga anaknya.


Maya berteriak ngeri melihat kejadian itu, namun Lastri memegang tangannya dengan eratnya. Lastri tak henti hentinya berdoa memohon perlindungan yang Kuasa. Sosok Sukma menoleh kearahnya, dia melayang perlahan mendekati Lastri. Maya tak kuasa menahan tangis sedang Lastri tetap diam dan terus berdoa tanpa henti. Sukma berhenti tepat didepan Lastri dan mengusap rambut Lastri perlahan dengan tangan basahnya.


" Hihihihi "


Dia tertawa nyaring saat melihat Lastri terus berdoa tanpa henti, sampai tiba tiba pintu didobrak dari luar. Terlihat Aryo dan pak Abidin datang, pak Abidin langsung membawa Maya yang hampir pingsan kemobilnya. Sedang Aryo menghampiri Lastri dan menggenggam tangannya kuat.


"Sukma, dunia mu bukan disini. Hubungan kita sudah usai dan biarkan aku menjalani hidup ku sendiri ! " ucap Aryo pada sosok itu.


Sukma tak bergeming.


" Kamu pernah ada sebagai seorang istri yang aku sayangi. Biarkan kenangan indah itu tersimpan dalam memori ku. Biarkan aku mengenang mu sebagai Sukma yang baik hati, bukan Sukma yang seperti ini, " lanjut Aryo.


Sukma terdiam namun perlahan dia kembali menjadi sosok yang dulu Aryo kenal. Lastri yang melihat kejadian ini sebelumnya segera menarik tangan Aryo untuk segera pergi nanun Aryi tahan.


" Biarkan aku hidup bahagia ! " pinta Aryo pada Sukma.


Pak Abidin masuk kedalam rumah itu sembari berteriak.


" Ayo cepat pergi dari sini, tak ada gunanya berunding dengan iblis ! " serunya.


Sosok Sukma kembali berubah menjadi menyeramkan. Kejadian yang sama seperti Mbah Sugeng hampir terulang namun Lastri langsung menarik tangan Aryo dan mereka pun berlari keluar.


Pak Abidin yang membawa korek langsung menyulutkan api ditempat yang sebelumnya telah dia seram dengan bensin. Di iringi doa dan bambu kuning disekelilingnya. Rumah itu habis terbakar dengan segala isinya.


" Mobil Maya biar saya yang bawa pak, " pinta Aryo.


Pak Abidin mengangguk tanda mengerti dan dia pulang sendiri dengan mobilnya. Sementara Aryo pulang bersama Lastri dan Maya. Maya yang sudah tak berdaya dibiarkan tidur dibelakang sementara mereka duduk didepan. Sepanjang perjalanan mereka diam tak bersuara.


Banyak hal yang ingin mereka bicarakan namun mereka memilih untuk diam. Lastri menatap Aryo seraya berkata,


" Aku ingin gaun pengantinnya warna biru, aku ga mau yang putih apalagi merah. "


Aryo melirik pada Lastri, mereka pun tersenyum bersama dan tertawa lega setelahnya.


*****

__ADS_1


Tiga tahun setelahnya , Aryo dan Lastri kini hidup bahagia sebagai pasutri bersama buah hati mereka yang diberi nama Asmirah. Tepat bulan ini Asmirah berusia dua tahun dan Lastri sedang mengandung anak keduanya.


Pengantin berdarah usai sampai disini.


__ADS_2