PENGANTIN BERDARAH

PENGANTIN BERDARAH
PENGANTIN BERDARAH


__ADS_3

PENGANTIN BERDARAH


" Udah, mbak ga mau denger apa apa lagi. Kamu cuma denger kata orang dan mbak sudah tau semua kata mas Aryo. Kita ga boleh su'udzon sama orang nanti kalau ga terbukti jatuhnya malah jadi fitnah, " jelas Lastri.


" Tapi mbak.. " kata Dewi yang masih hendak membantah.


Namun sebelum Dewi melanjutkan kata katanya, Lastri menunjuk Arif dan meminta Dewi untuk diam serta menyuruhnya untuk segera tidur.


Lastri tentu sudah tau apa yang akan dikatakan Dewi. Gosip itu sudah menyebar keseluruh kampung, gosip tentang istri Aryo yang mati secara mengenaskan. Seluruh tubuhnya dipenuhi nanah dan berbau busuk membuat tak satu pun orang yang tahan untuk berada didekatnya. Bahkan tak ada pelayat yang tahan didalam rumah duka lebih dari satu jam karena bau busuk yang kian menyengat.


Awalnya Lastri juga curiga namun dia berusaha untuk tidak menggubris gosip itu dan mencoba meyakinkan diri untuk tetap percaya pada Aryo.


***


" Bu, besok malam mas Aryo mau main kerumah, " kata Lastri saat ibunya itu sedang melipat baju.


" Wah oke. Nanti ibu siapkan masakan yang paling istimewa. Pokoknya kamu katakan saja kapan Aryo datang jam berapa, " jawab bu Marni dengan penuh semangat.

__ADS_1


Dewi yang melihat gelagat ibunya itu cuma bisa menggelengkan kepala.


Malam itu pun tiba Aryo datang dengan mengendarai motor vespanya. Dia disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarga Lastri.


" Makan yang banyak pak, " kata bu Marni.


" Panggil saja Aryo, bu. "


Aryo mencoba mengakrabkan diri yang dibalas senyum oleh bu Marni.


" Panggil mas saja biar lebih enak, " balas bu Marni.


Aryo sesekali melirik Lastri yang tertunduk. Dewi menatap ibunya dengan ekspresi tak percaya sedang pak Saiful hanya diam seribu bahasa.


" Kalau bukan karena anak kurang ajar itu tentu Lastri sudah jadi kembang desa dikampung sini. Tapi... "


Belum sempat bu Marni melanjutkan kata katanya, Aryo langsung memotong ucapan bu Marni.

__ADS_1


" Ayam gorengnya enak bu, mantep banget. Hehehe.. "


Aryo yang duduk tepat disamping Lastri meraih tangan Lastri dan digenggamnya dengan erat dan dia letakkan dipahanya yang terhalang meja, mencoba menguatkan hati calon istrinya itu.


" Insyaallah kalau Lastri udah jadi istri saya pekerjaan itu akan kami tanggung berdua. Ga ada namanya pekerjaan seorang istri atau pekerjaan suami. Saya ingin mempersunting Lastri sebagai teman atau pendamping hidup, bukan sebagai pelayan. Jadi ibu dan bapak ga usah khawatir, saya akan perlakukan Lastri sebaik mungkin, " kata Aryo sembari menatap Lastri.


Pak Saiful tersenyum simpul. Dewi yang mendengar itu tak kuasa menahan tawa saat melihat ekspresi ibunya yang tampak terkejut dengan jawaban Aryo.


Bu Marni seharusnya senang namun apa yang Aryo katakan justru seakan memukul jantungnya. Seakan Aryo dengan tanpa sengaja telah mengetahui jika Lastri selama ini hanya diperlakukan seperti sapi perah dikeluarga ini.


Tak berselang lama Aryo pun pamit pulang dan Lastri mengantarnya sampai pintu depan.


" Capek ya jadi anak sulung, " kata Aryo.


Lastri hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


" Kamu hebat dik, bisa kuat dan tegar jadi pondasi keluarga kamu. Kalau mas mungkin sudah menyerah duluan dan kabur dari rumah. Hahaha.. Setelah kita menikah nanti giliran mas yang bahagiain kamu ya ! " kata Aryo tersenyum lantas pamit.

__ADS_1


Lastri tetap berdiri sampai motor vespa yang dikendarai Aryo mulai menjauh dari halaman rumahnya. Sebelum dia sempat berbalik Lastri melihat motor Aryo lagi. Dia melihat ada seseorang yang duduk dibelakangnya.


Ya, sosok wanita itu. Sosok itu menatap Lastri dengan penuh kebencian.


__ADS_2