PENGANTIN BERDARAH

PENGANTIN BERDARAH
PENGANTIN BERDARAH


__ADS_3

PENGANTIN BERDARAH


Lastri mengerutkan keningnya karena dia belum bisa mencerna apa yang baru saja ia dengar.


" Dia hamil delapan bulan saat aku menikahinya. Berulangkali dia mencoba bunuh diri karena malu tapi upaya itu bisa digagalkan oleh orang tuanya. Ayahnya adalah dosen dikampus ku dan dia memohon agar aku mau menikahi putrinya demi status bayi yang tengah dikandungnya. Awalnya aku tolak tapi lama kelamaan aku merasa kasihan dan ditambah ayah dari jabang bayinya kabur entah kemana, " lanjut Andi.


" Tunggu tunggu, jadi maksud kamu.. " sela Lastri.


" Aku minta maaf karena baru kasih tau kamu sekarang. Aku berniat pulang kekampung saat itu tapi aku ga bisa karena bayi itu. Aku sudah menyayangi bayi itu seperti anak ku sendiri dan sampai saat ini aku juga ibu ku masih tinggal dirumah mertua ku. Aku juga sudah ceritakan tentang kamu pada mereka semua, " kata Andi.


" Jadi maksud kamu apa dan untuk apa kamu ceritakan itu semua. Lagi pula kenapa baru sekarang kamu ceritakan ? " tanya Lastri tak mengerti.


" Kemarin ada seseorang yang datang kerumah. Dia ceritakan semua tentang kamu, tentang bagaimana hidup kamu selama ini dan dia berharap kamu bisa bahagia kedepannya. Makanya dia minta aku datang untuk temuin dan minta maaf sama kamu, " kata Andi.


" Siapa orang itu ? " tanya Lastri.

__ADS_1


" Mmm namanya.. Aryo ! " ucap Andi agak ragu menyebut nama itu.


" Aryo ? " tanya Lastri terkejut.


" Iya, dia calon suami kamu kan ? " jawab Andi.


" Kamu tau masalah itu ? " tanya Lastri lagi.


" Aku ga kenal dekat dengannya. Tapi jujur, dia adalah orang yang paling baik yang sudah aku kenal dan dia adalah senior ku dikampus. Dia dulu adalah mahasiswa yang paling dekat dengan mertua ku. Kemarin dia datang kerumah kami, sepertinya dia juga tau tentang kita. Makanya dia minta aku untuk menjelaskan apa yang telah terjadi dan minta maaf dengan tulus sama kamu. Mungkin kalau kamu belum banyak tau tentang dia, kamu bisa tanyakan itu pada ayah mertua ku. Aryo sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Dan aku harap kamu ga kemakan dengan gosip murahan dari warga kampung sana, " lanjut Andi.


" Itu bukan gosip, aku sudah melihatnya dengan mata ku sendiri. Aryo tidaklah sebaik yang kalian pikir ! " seru Lastri.


Tak berselang lama Andi pun pamit dan sebelum dia pergi ia selipkan secarik kertas dalam genggaman tangan Lastri. Lastri melihat kertas itu, kertas yang bertuliskan alamat rumah Andi dan dia simpan kedalam tasnya.


Lastri mencoba memejamkan matanya sampai tiba tiba mimpi itu datang lagi. Mimpi tentang seorang wanita yang tengah bersimpuh dikaki suaminya. Kini wajah si suami terlihat jelas oleh Lastri. Ya, dia adalah Aryo. Sebelum sang suami itu menoleh kearah Lastri, sosok wanita itu terbang menghampiri Lastri yang sedang berdiri melihat keduanya.

__ADS_1


" Jauhi suami ku, dasar jalang. Ini semua gara gara kamu ! " pekik sosok wanita itu sembari menyemburkan darah dari mulutnya.


Mata sang suami beradu tatap dengan mata Lastri, dia menatap Aryo dengan air mata yang berlinang dipipinya. Sebelum Lastri dapat berkata, badannya diguncang guncang oleh seseorang.


" Mbak, sadar mbak ! " seru Dewi dengan wajah panik berusaha membangunkan kakaknya.


" Wi, kenapa ? " tanya Lastri bingung.


" Mbak yang kenapa, teriak teriak panggil nama pak Aryo, " kata Dewi tak kalah bingung.


" Mbak mimpi tapi terasa nyata, Wi. Bagaimana pun juga mbak harus cari tau hal yang sebenarnya, " lanjut Lastri.


" Mbak, maafin aku. Harusnya aku ga bahas wanita yang datang kerumah kita itu. Pasti hal ini ga jadi ribet kayak gini ! " pinta Dewi yang merasa menyesal.


" Kamu ga salah, Wi. Mbak emang harus tau semuanya ! Sekarang mbak sudah mendingan. Oh iya, kamu lihat Andi ? " tanya Lastri.

__ADS_1


" Dia sudah pulang dari tadi siang, " jawab Dewi.


" Jika mbak sudah boleh pulang mbak mau kerumahnya. Kamu bisa anter mbak ? " tanya Lastri yang dibalas anggukan oleh Dewi.


__ADS_2