
PENGANTIN BERDARAH
Lastri terkejut dan berlari sekencang kencangnya. Sampai akhirnya dia terbangun dari tidur dengan keringat yang mengucur deras. Dia melihat disampingnya masih ada Dewi juga Arif keponakannya.
" Astaghfirulloh, " ucap Lastri saat dia menyadari bahwa semua itu hanyalah mimpi belaka.
Lastri beranjak kedapur untuk mengambil air minum. Langkahnya terhenti saat dia melihat ada seseorang didapur yang berada disebelah kamar mandi. Sesosok wanita yang membelakangi Lastri dan tengah menghadap pintu belaakang.
" Dewi masih tidur, apa itu ibu ? " batin Lastri didalam hati.
" Bu, lagi ngapain ? " tanya Lastri.
Tak ada jawaban dan perlahan Lastri menghampiri wanita itu. Sesaat wanita itu hendak menoleh tapi tiba tiba bahu Lastri ditepuk dari belakang.
" Lagi ngapain kamu ? "
Lastri kaget saat yang ia lihat orang yang menepuknya tadi adalah ibunya sendiri.
" Ibu ! " seru Lastri kaget.
__ADS_1
" Kamu kenapa kaget gitu, kayak habis lihat setan saja ? " tanya bu Marni.
Bu Marni pun segera masuk kedapur dan sosok wanita yang Lastri lihat tadi telah hilang.
Gangguan demi gangguan yang Lastri alami tak pernah sekalipun dia bicarakan pada keluarganya. Dia merasa takut jika apa yang telah dialaminya itu hanya halusinasinya saja.
Hari itu Lastri dan Aryo berjanji untuk ketemuan diluar setelah sebelumnya Lastri meminta untuk tidak membicarakan kepentingannya dirumah.
" Kenapa, dik ? " tanya Aryo yang melihat Lastri yang duduk dengan tatapan kosong.
Keduanya tampak masih begitu canggung karena mungkin ini adalah pertemuan ketiga mereka setelah Aryo datang kerumah untuk melamarnya.
" Terlebih, mas Aryo tentu sudah tau apa yang digunjingkan orang orang tentang kita. Jujur, aku ga peduli semua itu tapi jika itu sudah ganggu aku sedemikian rupa, rasanya aku ga sanggup mas, " kata Lastri.
" Ganggu kamu, ganggu bagaimana maksud mu dik ? " tanya Aryo bingung.
" Sulit untuk dijelaskan mas, namun aku ingin tau alasan yang sebenarnya kenapa mas Aryo mau menikahi aku. Dan tentang pernikahan mas Aryo sebelumnya. Aku ingin tau semuanya, mas ! " ucap Lastri.
Dia tak tau harus mulai dari mana karena hal hal yang dia alami belakangan ini diluar nalar manusia. Namun Lastri yakin semua itu ada hubungannya dengan kehidupan Aryo sebelumnya. Dan alasan dia memilih Lastri diantara sekian banyak wanita diluaran sana.
__ADS_1
Aryo menghela nafas mencoba memilah kata agar apa yang akan dia katakan nantinya tak disalah artikan oleh Lastri.
" Istri mas meninggal tiga tahun yang lalu karena sakit. Mas juga ga tau dia sakit apa karena setiap kali berobat jawaban dokter selalu sama. Tak ada penyakit yang serius. Sudah dicoba pengobatan apa pun tapi tak sembuh juga, sampai akhirnya dia meninggal dunia, " cerita Aryo panjang lebar.
" Lalu setelah istri mas Aryo meninggal apa mas tak menikah lagi selama tiga tahun itu ? " tanya Lastri menyelidik.
" Nggak dik, mas ga nikah lagi dan milih fokus kebisnis mas dikota. Sampai akhirnya mas dapat kabar kalau ibu mas lagi sakit dan mas putusin untuk pindah kesini lagi, " lanjut Aryo.
" Dan setelah mas tau kalau kamu belum menikah, mas nekat buat langsung melamar mu. Jujur, semenjak SMA mas sudah suka sama kamu. Tapi karena waktu itu mas sudah mau lulus dan kamu baru masuk kelas satu jadi kita jarang ketemu. Ditambah mas juga nerusin kuliah ke kota, " kata Aryo lagi.
Lastri menatap Aryo bingung.
" Sejak SMA ? " batin Lastri.
" Waktu mas selesai kuliah mas pernah pulang kampung loh, tapi mas tau kalau kamu sudah punya pacar. Ya mas ga berani deketin kamu, Tri , " sambung Aryo.
" Istri mas Aryo dari kota juga ? " tanya Lastri.
" Bukan, dia dari kampung dipulau sebrang. Dia anak perantauan juga sama kayak mas, kita satu kampus. Lebih baik kita ga usah bahas ini lagi dik, mas sudah berusaha untuk lupain itu semua, " Aryo tersenyum getir.
__ADS_1
Namun mimik muka Aryo berubah, dia terliha