
PENGANTIN BERDARAH
Sampai akhirnya tubuh Lastri diguncang guncang dengan keras oleh seseorang hingga dia tersadar.
" Kamu kenapa, Tri. Kenapa tidur disini ? " kata pak Saiful saat Lastri tersadar kembali setelah tadi ia lihat menggereng seperti kesakitan.
Lastri bangun dengan nafas yang tersengal sengal.
" Kamu mimpi buruk, Tri ? "
Lastri tak menjawab . Pak Saiful yang merasa ada yang ganjil pada sikap anak sulungnya itu mencoba menebak sesuatu.
" Tri, bapak tau kamu menerima pinangan Aryo atas desakan ibu mu. Tapi kalau memang kamu ga suka jangan dipaksakan. Kamu ga denger apa yang digosipkan orang orang ? Menikah itu bukan perkara mudah, bukan sehari dua hari tapi untuk selamanya. Kamu harus yakinkan diri mu dulu kalau kamu benar benar siap menerima dia sebagai imam mu. Dan siap melayani dia sebagai tugas seorang istri, " kata pak Saiful pada Lastri.
Lastri menatap tajam wajah ayahnya seraya berkata,
__ADS_1
" Bapak ga usah khawatir, awalnya aku juga ga suka sama mas Aryo dan menerima pinangannya karena desakan ibu. Namun setelah Lastri kenal lebih jauh ternyata mas Aryo itu orangnya baik juga pengertian. Dia juga mau menerima kekurangan Lastri. Meski rasa cinta itu belum tumbuh tapi insyaallah dengan berjalannya waktu Lastri akan membalas perasaan mas Aryo, " ucap lastri sembari memegang tangan ayahnya.
" Bahkan mas Aryo janji mau belikan kaki palsu untuk bapak biar bapak ga capek jalan pake tongkat terus, " lanjut Lastri dengan senyum merekah.
Pak Saiful hanya mengangguk menahan tangisnya.
" Ya sudah, kamu tidurnya dikamar saja. Sudah jam dua malam ini, bapak tadi niatnya mau ke kamar mandi tapi ga jadi, " kata pak Saiful.
Mereka berdua tertawa. Selepas ayahnya masuk kekamar, Lastri kembali duduk terdiam. Dia yakin apa yang barusan dia alami bukanlah mimpi ataupun halusinasi tapi benar benar nyata.
Lastri beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Disaat dia membuka pintu kamarnya dia melihat Dewi duduk ditepi kasur sambil berkali kali mengusap air matanya.
" Kamu kenapa ? " tanya Lastri.
" Ga papa mbak, " jawab Dewi singkat.
__ADS_1
" Kamu udah kelewatan, Wi. Tidak sepantasnya kamu ngomong gitu sama ibu dan bapak. Kalau kamu marah sama mbak ya ngomong langsung sama mbak, jangan salahin bapak juga ibu ! " ucap Lastri yang masih sedikit kesal pada adiknya itu.
" Maafin aku mbak, aku khilaf ! " kata Dewi yang masih berusaha menahan tangisnya.
" Surya, dia ketahuan selingkuh. Pas aku ngomong sama ibunya malah dia ga percaya. Malah dia bilang kalau aku tak becus ngurus suami. Aku terpaksa pulang kesini karena merasa sudah ga betah tinggal disana. Aku pengen cerita sama ibu tapi ibu malah ga anggep aku, tiap hari selalu nyindir dan bahas pernikahan mbak sama pak Aryo. Aku keceplosan mbak, " kata Dewi yang kini tak bisa menahan tangisnya.
" Aku ga marah sama mbak, aku cemburu. Mbak terlalu baik dan bikin aku ngerasa jadi anak yang ga berguna. Aku juga pengen kerja untuk bantu bapak juga ibu tapi mbak liat aku sekarang, aku sudah kayak produk gagal, " lanjut Dewi.
Lastri memeluk adiknya itu. Dia tak tau kalau Dewi begitu tertekan.
" Harusnya kamu cerita sama mbak ! " ucap Lastri yang ikut menangis.
" Aku tau mbak masih marah sama aku. Bukan karena aku nikah duluan tapi karena aku ga nerusin sekolah dan memilih untuk menikah. Tapi mbak kalau aku ga menikah saat itu bagaimana nasib Arif sekarang. Meski kami belum dewasa tapi setidaknya Arif lahir punya ayah dan ibu yang lengkap. Aku ga rela kalau harus kasih Arif ke orang lain, " lanjut Dewi.
" Sudah sudah, mbak ga marah sama kamu kok. Mbak cuma merasa gagal karena ga bisa jadi kakak yang baik buat kamu. Udah sekarang kamu ga usah sedih lagi, pokoknya besok kamu harus minta maaf sama ibu juga bapak ! " pinta Lastri.
__ADS_1
" Iya mbak. Mmmh tentang pak Aryo itu aku emang beneran curiga tapi sumpah mbak bukan karena aku cemburu atau nggak suka liat mbak akan menikah. Namun aku denger kalau istrinya dulu mati secara ga wajar dan itu karena ulah pak Aryo " kata Dewi yang tampak ragu.