
PENGANTIN BERDARAH
Lastri mengangguk dan mereka menghabiskan sisa siang itu dengan memperbincangkan hidup mereka masing masing.
Gangguan yang dialami Lastri tak kunjung reda, setiap malam ada saja yang mengusik ketenangan hidup Lastri. Dari suara ketukan sampai suara tangisan perempuan dari samping luar kamarnya. Namun dengan komunikasi yang lancar dan sikap Aryo yang sangat peduli serta perhatian padanya mampu menepis semua keraguan Lastri dan membuat ia memantapkan diri untuk menikah dengan Aryo.
Lastri sadar diusia yang sudah kepala tiga seperti sekarang akan sulit rasanya mendapatkan jodoh lelaki yang mapan dan sebaik Aryo.
" Mbak Lastri enak banget ya, sekalinya dapat jodoh orang kaya. Biar pak Aryo itu duda tapi belum punya anak. Duh, mantaplah ! " sindir Dewi saat keluarga Lastri sedang menyantap makan malam.
" Makanya siapa suruh hamil duluan dan dapat suami pengangguran. Udah enak mbak mu dulu biayain sekolah, masih aja kamu sia siain ! " sentak bu Marni pada anak keduanya itu.
__ADS_1
" Alhamdulillah kalau udah jodoh ga kemana, Wi. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas doa doa mba selama ini, " jawab Lastri dengan senyum yang merekah.
" Hmm, sudah yakin bener ya mbak. Emang mbak ga denger gosip tentang pak Aryo. Katanya mantan istrinya mati karena dijadikan tumbal usahanya. Kalau mbak Lastri jadi korban berikutnya gimana. Lagian kalau dia mau nikah lagi kenapa ga milih yang masih muda. Iya ga ? " kata Dewi yang ingin membuat Lastri kesal.
Braaakk..
Pak Saiful menggebrak meja dengan keras sampai semua orang terkejut dibuatnya.
" Dewi, sekarang juga kamu pergi dari rumah ini dan kembali ke suami mu. Sudah cukup kamu bikin keluarga ini menanggung malu akibat perbuatan mu dulu. Tapi bisa bisanya kamu ngomong seperti itu pada mbak mu sendiri. Dasar anak kurang diuntung ! " hardik pak Saiful dengan emosi yang berapi api.
Muka bu Marni merah padam, dia berdiri dan hendak menjambak rambut Dewi sampai akhirnya Lastri keburu memegang tangan ibunya itu dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1
" Sudah cukup. Sudah terlalu banyak masalah dikeluarga ini dan jangan kalian tambah lagi. Dewi, sekarang kamu disini hanya sekedar seorang tamu, maka bersikaplah lebih sopan pada kedua orang tua mu. Kalau kamu masih bersikap kurang ajar lebih baik kamu pulang kerumah suami mu karena kamu sudah bukan tanggung jawab kami lagi. Dan perlu kamu ingat, aku menerima pinangan mas Aryo atas pilihan ku sendiri. Jangan kamu limpahkan masalah itu pada ibu dan bapak. Dan satu hal lagi, berbakti pada orang tua itu bukan pilihan tapi sebuah kewajiban. Aku ikhlas jadi ladang duit bagi ibu dan bapak asal mereka bisa hidup lebih layak ! " hardik Lastri yang mulai kesal atas kekurang ajaran Dewi.
Seketika semua terdiam. Dewi melotot pada Lastri dan langsung pergi masuk kekamar Lastri. Pak Saiful tertunduk dan menahan tangis. Bu Marni yang masih berdiri dipapah lastri untuk duduk kembali. Mereka melanjutkan makan malam tanpa ada suara.
Malam itu Lastri tidak tidur dikamarnya dan memilih tidur disofa. Dia biarkan Dewi sendiri dikamar untuk merenungkan kesalahannya. Meskipun dia tau kalau anak itu tak kan pernah menyesalinya.
Hawa dingin mulai menusuk tubuh Lastri, dia lantas menarik selimut untuk seluruh tubuhnya. Susah, selimut itu seperti ditahan oleh sesuatu. Dia lantas bangun namun tidak ada apa apa yang menghalangi selimutnya. Selimutnya tak tersangkut apa pun.
Lastri kembali tidur dan mencoba menarik lagi selimutnya, namun lagi lagi masih sulit. Dia kembali bangun dan masih tak menemukan penyebabnya, sampai dia kembali merebahkan tubuhnya.
Namun betapa kagetnya dia saat ada sosok tepat diatas tubuhnya. Wajahnya hancur dengan darah yang bercucuran membuat Lastri tak kuasa menahan tangisnya.
__ADS_1
Dia berusaha untuk berteriak namun suaranya tak kunjung keluar. Makhluk itu menatap Lastri tajam. Sekuat tenaga Lastri mencoba memejamkan matanya namun upaya itu pun sia sia.
Seakan Lastri dipaksa untuk terus melihat sosok itu tepat didepan wajahnya.