Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti
20


__ADS_3

😈


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.

__ADS_1


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.

__ADS_1


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


Tak lama kemudian Leon memundurkan badannya, menyipitkan mata dan melihat sekilas bibir merah Khansa yang ada di balik cadar, jakunnya bergerak, lalu berkata dengan sedikit menahan napasnya.


“Maaf, gimana kalau … kamu cium balik, supaya kita impas?”


Leon mengangkat sudut bibirnya yang tipis, suara tawa yang memikat bercampur dengan rasa senang muncul dari tenggorokannya, ini seperti baru saja mendapatkan mainan baru pikir Leon.


"Sungguh menyenangkan hati," gumam pelan Leon yang hanya dapat di dengar olehnya sendiri.

__ADS_1


Khansa tidak berpikir banyak, dia hanya menjawab “Uhm”, sekarang ini dia tidak peduli dengan namanya, yang ingin dia lakukan hanya menemui kakeknya, puluhan tahu terpisah.


__ADS_2