
Tangan wanita itu bergetar saat menempelkan ponsel ke telinga.la merasakan dadanya sesak ketika dering pertama terdengar.
Apa yang aku lakukan?!
"Halo... ?"
"Saya Anandita," ucap Anandita terbata. Lalu ia berusaha berbicara lancar."Tentu kamu masih ingat siapa aku."
"Tentu saja aku ingat." Cara Syahrini menjawab tidak terdengar terkejut, malah seperti sudah menunggu Anandita menghubunginya.
Jika saja Syahrini terdengar terkejut atau salah tingkah, mungkin Anandita akan merasa bersalah. Namun, setelah mendengar tingkat kepercayaan diri Syahrini yang cukup tinggi, Anandita menjadi berani.
"Maaf, aku menghubungimu. Aku ingin bertemu denganmu jika kamu punya waktu luang," ucap Anandita.
Untuk beberapa saat Syahrini terdiam. Mungkin sedang memprediksi apa yang diinginkan Anandita. Anandita sendiri bahkan tidak tahu apa yang akan ia lakukan ketika mereka berjumpa.
"Jam kerjaku selesai satu jam lagi. Mungkin kita bisa bertemu di coffeeshop?"
"Oke. Terimakasih." Anandita berusaha tersenyum agar lebih relaks. "Share loc saja di mana tempatnya."
"Akan ku kabari," jawab Syahrini tegas.
"Terima kasih." Entah kenapa Anandita mengucapkannya.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Anandita untuk menemukan Syahrini. Wanita itu duduk di kursi paling belakang. Sudut dekat jendela.
Rasa gelisah membuat perut Anandita menegang. Ia sudah membayangkan beberapa skenario pertemuan perdana antara dirinya dan Syahrini.
Bagaimana jika wanita itu mendadak menjambak dan memakinya karena ia sudah merebut Daniel? Atau wanita itu malah memberitahunya bahwa selama ini ia dan Daniel asyik merajut kasih? Atau jangan-jangan Daniel akan merasa lega setelah kedua wanitanya bicara dari hati ke hati sehingga Anandita mudah diceraikan dalam waktu cepat? Daniel tidak perlu lagi berpura-pura bahagia bersamanya.
Skenario terakhir itu membuat Anandita takut. la tidak siap apabila Daniel meninggalkannya. la tahu, sampai kapan pun ia tidak akan pernah siap.
Tatapan kedua perempuan muda itu saling bertemu dan seketika itu juga Anandita mengangguk singkat.
Dengan berat hati, Anandita melangkah menghampirinya. Kakinya lemas, bahkan sebelum ia berhadapan langsung dengan wanita itu.
"Maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Anandita begitu sampai di depan meja.
Dokter itu hanya mengangguk sekilas. Tangannya menunjuk kursi yang memang sudah ditarik Anandita. "Tidak apa-apa."
Gaun pendek yang dikenakannya terasa sedikit sesak namun Anandita berusaha hanya fokus pada Syahrini yang tengah menyesap kopi. Suasana canggung langsung menyebar di antara mereka, terlebih ketika Anandita menyadari arah mata Syahrini ke perutnya.
"Mungkin sebaiknya kamu pesan sesuatu terlebih dahulu." Anandita menyodorkan buku menu, lalu melambaikan tangan untuk memanggil waiter.
Anandita membuka buku menu setelah tersenyum salah tingkah pada Syahrini. Ia memilih minuman yang baik untuk kandungannya. "Aku pesan jus stroberi saja." la berpaling dari buku menu ke Syahrini. "Apakah kamu sudah memesan makan siang?"
__ADS_1
"Belum." Syahrini menggeleng. "Aku menunggumu. Jadi hanya memesan kopi."
Anandita mengangguk dan kembali berbicara pada waiter. "Sementara itu dulu, nanti kami memesan yang lainnya." Waiter tersebut mengangguk cepat dan berlalu.
Anandita kembali menatap Syahrini. "Mungkin kita bisa memesan makan siang setelah selesai berbicara."
"Ya... Mungkin sebaiknya begitu," ucap Sayhrini santai, sambil menyesap kopinya lagi.
Anandita menegakkan punggung sementara jantungnya berdetak kencang. la sedikit menggigit bibir, lalu berusaha menenangkan diri dengan mengambil napas pelan-pelan.
"Maaf sudah memintamu bertemu." Anandita membuka pembicaraan dengan hati-hati.
Cangkir kopi yang dipegang Syahrini diletakkan perlahan. la menunduk, kemudian tersenyum setengah hati dan kembali mendongak.
"Aku terkejut begitu menerima teleponmu. Tentu Daniel sudah menceritakan hubungan kami sebelum kalian menikah. Apa karena itu kamu menghubungiku?"
Hati Anandita mencelus begitu topik harapannya dibicarakan. la berdoa agar tak perlu mendengar ucapan menyakitkan pada kalimat-kalimat berikutnya. Matanya memandang dokter yang pernah menghiasi hari-hari indah Daniel. Wanita berpenampilan sederhana itu tampak cerdas. Pembawaannya membuat orang bisa mengenali bahwa dirinya dokter. Mungkin itu yang membuat Daniel jatuh hati padanya.
"Dia laki-laki pertama dalam hidupku, begitu juga sebaliknya. Dia jujur, baik, dan sangat cerdas. Kami menjalin hubungan semenjak di universitas. Sempat putus-nyambung karena sibuk kuliah, juga sempat long distance. Setelah sekian lama akhirnya kami memutuskan untuk menikah."
Imajinasi Anandita membawa dirinya ke cerita yang sudah ia dengar dari suaminya. Membayangkan Daniel dan Syahrini merajut cinta, seketika air matanya merembes keluar. la memegangi perutnya, merasakan gejolak bayinya. Sepertinya bayinya juga ikut merasakan kepedihan Anandita.
"Maaf," ucap Anandita. la tahu dirinya tidak dapat bertahan. "Ketika mengetahui kehadiranmu, aku tidak pernah merasa tenang. Aku ingin mengatakan ... "
"Sekarang aku sudah kembali," potong Syahrini cepat.
Sesekali ia masih menatap tajam ke arah kandungan Anandita. Spontan Anandita menutupi perutnya dengan tangan. "Aku kembali. Persis seperti yang Daniel yakini selama ini."
Perkataan itu seakan godam besar. Memang semenjak "amnesia palsu" yang ia alami, Daniel tidak pernah lagi mengungkit hal tersebut. Namun bagaimana Anandita bisa melupakan keyakinan Daniel akan Syahrini yang pasti kembali kepadanya?
"Daniel memberitahuku mengenai kecelakaan yang dulu kamu alami."
Anandita berusaha mendengarkan dan menganalisis ekspresi kaku Syahrini.
"Aku tidak tahu seberapa berat amnesiamu. Namun aku meragukannya."
Anandita tidak mampu menanggapi pernyataan itu sementara Syahrini semakin lancar membuka mulut.
"Aku mengenal Daniel jauh lebih lama daripada kamu. Daniel mengetahui dengan jelas watakku. Begitu juga aku terhadap dirinya. Berulang kali Daniel memintaku agar cepat menikah. Daniel tahu orangtuanya hanya mau menantu dari keluarga yang setara." Syahrini terdiam sesaat.
"Berulang kali pula aku menolak karena ingin menunjukkan bahwa aku wanita independen yang tidak dapat diremehkan. Aku berjuang keras untuk menyelesaikan pendidikanku. Keluargaku tidak berlimpah materi seperti keluargamu.''
Dari cara Syahrini mengangkat bahunya, Anandita yakin wanita itu menganggapnya sebagai wanita beruntung karena lahir dari keluarga kaya meskipun tidak sepintar dirinya.
"Daniel membutuhkan wanita seperti aku. Kami berdua mengetahui hal itu dan aku harap kamu juga menyadarinya."
__ADS_1
Tubuh Anandita bergetar seketika. Apa yang baru saja dikatakan Syahrini?
Anandita hendak mengatakan sesuatu, namun terputus ketika waiter yang tadi melayani pesanannya datang dan meletakkan minuman. Anandita tidak mampu lagi menjaga kesopanan di tempat umum.
"Jadi maksudnya kamu tidak akan merelakan Daniel?" Hatinya bergemuruh hebat, sementara kandungannya sudah sangat menegang.
Tatapannya terkunci pada rivalnya. Wanita itu dengan tegas menjawab sambil menunjuk perut besar Anandita. "Tentu kamu menyadari bayi itu adalah kesalahan, kan?"
Air mata Anandita mengalir tidak terkontrol. la menggeleng lemah. Kedua tangannya menutupi perutnya seakan melindungi bayi yang tengah ia kandung. Bagaimana pun bayi ini bukan kesalahan. Bayiku adalah hadiah terindah yang pernah Daniel berikan.
"Jadi apa rencanamu dengan bayi itu?"
Mendengar pertanyaan yang tak disangka-sangka tersebut, Anandita terkejut setengah mati. Seakan Syahrini dan Daniel sudah memiliki rencana untuk mendepak dirinya begitu saja.
"Jika aku dalam posisimu, tentu aku akan menuntut tanggung jawab Daniel sampai ... paling tidak anak itu berumur tujuh belas tahun. Apakah kamu akan menuntut hal sama?"
Wajah merendahkan Syahrini dan pertanyaan menyakitkan itu menghantam Anandita. la berpikir, bagaimana bisa wanita ini mengucapkan hal sekeji itu padanya.
Tangan Syahrini terulur untuk memegang tangan Anandita. "Berapa umurmu?"
"Dua puluh empat," bisik Anandita seakan sedang mendengarkan nasihat Syahrini.
Syahrini menepuk tangan Anandita sekilas. "Dua puluh empat ... kamu masih sangat muda." la mendekat dan menekankan perkataannya dengan nada lebih sopan daripada sebelumnya.
"Jalan hidupmu masih membentang panjang. Saranku, sebaiknya kembali ke orangtuamu, gugurkan kandunganmu, dan lanjutkan hidupmu, pergi dari kehidupan Daniel, karena kami akan kembali bersama."
GUGURKAN?! Dasar wanita gila!
Anandita mendengus sinis sambil menarik tangannya. Sulit memercayai ucapan Syahrini barusan. Bagaimana bisa orang yang menyandang titel dokter ini menyarankan dirinya untuk melakukan aborsi?! Terlebih lagi ia dokter wanita.
"Aku tidak akan melakukan itu," ucap Anandita tegas.
Tatapan Syahrini kembali mengarah tajam ke perut Anandita. "Kamu tak bisa mengelak untuk mengakui bahwa bayi ini merupakan kesalahan."
Apakah itu yang Daniel katakan kepada Syahrini?
"Orangtuamu pasti bersedia menerimamu kembali." Syahrini mengulang perkataan itu sehingga terkesan ada konspirasi matang di antara mereka.
"Ku ulangi ya, aku tidak akan pernah menggugurkan kandunganku!" Tangis Anandita tumpah. Lalu tanpa memedulikan sekelilingnya, ia bergegas berdiri dan melanjutkan dengan galak, "Jika kamu mau mempertahankan hubunganmu dengan Daniel, aku tidak akan memaksa. Aku tidak butuh tanggung jawab Daniel. Aku bisa membesarkan bayiku sendirian. Daniel bisa mengatakannya langsung kepadaku. Tidak perlu kamu yang mengompori aku sekarang!"
Sambil melepaskan napas panjang, Anandita berdiri. Tubuhnya sama tinggi dengan Syahrini. "Tunggu saja dalam beberapa hari ini. Daniel pasti akan mengatakan sesuatu."
" Iya, kita lihat saja nanti." Kesal Anandita.
Mendengar kalimat terakhir ancaman Syahrini, Anandita tidak tahan lagi untuk pergi. Ia tidak Sudi lagi berhadapan dengan wanita yang mulutnya tidak bisa di saring itu.
__ADS_1