
Anandita membeku menatap kertas detail booking hotel di tangannya. Bukankah Daniel bilang dia tidak akan menginap, kenapa sampai booking kamar segala, pikir Anandita. Dengan sekejap ia berdiri, membiarkan selimut yang menutupi tubuhnya jatuh di lantai. Tanpa menghiraukan kedua adiknya, Anandita bergegas menuju lantai dua.
"Kenapa, kak?" tanya Seila memperhatikan Anandita yang terpaku ke kertas di tangannya.
"Nggak apa-apa," jawab Anandita sekenanya. Kakinya menaiki tangga tanpa melihat lagi adiknya. "Kalian nonton tv saja. Aku teringat sesuatu."
Anandita mendadak teringat Daniel yang berkali-kali mengatakan dia tidak akan menginap. Dengan jantung berdegup kencang, Anandita bergegas masuk ke kamar. Setengah berlari la menuju ponselnya di nakas. Jari-jarinya gemetar menekan nomor yang ia hafal.
"Yah ... " ucap Anandita begitu panggilannya tersambung. "Bukankah Ayah mengenal pemilik Padma Hotel Bandung? Itu Hotelnya Om Ronald kan, Yah? Aku harus mengecek sesuatu sesuatu di hotel itu."
"Apa maksudmu?" Suara ayah terdengar agak serak. Sepertinya ayah sudah mau tidur.
Anandita mondar-mandir. Pengaruh hormon membuat dirinya cepat panik dan mudah terisak. la sudah cukup banyak menghamburkan air mata akhir-akhir ini.
"Dita mau ke Padma Hotel. Daniel sedang menghadiri seminar di sana. Bisakah ayah menghubungi Om Ronald atau siapa saja agar dapat membantuku?"
Setelah mendengar putrinya terisak seperti itu, Ayah langsung kebingungan. "Apa yang akan kamu lakukan? Bantuan apa?"
Anandita terdiam. Bantuan apa yang ingin kudapatkan! Sanggupkah ia memergoki dengan mata kepalanya sendiri bahwa Daniel dan Rini sedang bersama di kamar?
"Aku hanya butuh bantuan untuk mengakses kamar yang sudah di-booking Daniel."
"Daniel booking kamar?!" pekik Ayah. Rupanya Anandita memberikan gambaran kasar ke ayahnya secara otomatis. "Kamu tidak usah ke sana. Biar Ayah yang akan urus! Ayah akan .... "
Anandita menggeleng keras, semakin panik, lalu memotong, "Dita yang akan berangkat ke sana. Nanti Dita akan menghubungi Ayah, kalau Dita sudah sampai." la memutuskan panggilan telepon, lalu melemparkan telepon itu begitu saja ke nakas. Tanpa menghiraukan penampilannya, ia bergegas membuka lemari pakaian, menarik tas tangan yang berisi keperluannya.
Begitu keluar dari kamar, perempuan itu menengok ke lantai bawah, melihat kedua adiknya yang masih serius menonton televisi. Kakinya menendang ke udara agar sandal rumahnya terlepas.
Jika kedua adiknya mengetahui rencana Anandita, mereka pasti akan memaksa ikut. Tadi saja pasti Ayah menerka-nerka apa yang terjadi antara dirinya dan Daniel. la tidak tahu apakah ia sudah melakukan hal yang benar.
__ADS_1
Dengan berjinjit, Anandita menuruni tangga. la berusaha tidak mengeluarkan suara sekecil apa pun. la tahu kedua adiknya akan mendengar ketika ia membuka pintu depan, namun saat itu mereka tidak akan sempat menghentikannya ataupun memaksa ikut.
Begitu telapak kakinya menyentuh lantai bawah, dengan cepat ia berjalan menuju ruang depan. Menyambar kunci mobil dan membuka pintu depan.
"Kak Dita?"
Bertepatan dengan terdengarnya suara Clarisa, Anandita mengempaskan pintu dan setengah berlari menuju mobil. Tangannya yang bergetar berusaha keras memasukkan kunci mobil dan menyalakannya. la sempat bersyukur saat menengok ke belakang dan melihat pagar setengah terbuka. Pengurus taman yang menjaga parkiran praktik Daniel selalu meninggalkan pintu pagar dalam keadaan setengah terbuka sampai jam praktik selesai.
Pada saat Anandita memundurkan mobil, kedua adiknya sudah berada di depan pintu. Berteriak kebingungan memanggil-manggilnya. Anandita tidak memedulikan mereka. Yang berputar di kepalanya hanya Daniel, Syahrini, dan kamar hotel yang Daniel pesan.
**
SEBELUM mobilnya masuk untuk diperiksa sekuriti, Anandita sempat melihat berbagai umbul-umbul yang dipasang di bagian depan hotel.
Selewat pemeriksaan, Anandita melaju ke lobi. la meraih tas tangan sambil membuka pintu dengan tergesa. Tanpa menengok, ia menerima kartu valet parking yang diberikan petugas kepadanya. Setengah berlari, Anandita menuju meja resepsionis.
"Tolong nomor kamar atas nama Daniel Wirawan," ucap Anandita agak tersengal. la meletakkan tas tangan di meja resepsionis, lalu mengelus perutnya.
"Suami saya, Daniel wirawan, sudah memesan kamar di sini. Saya harus mengetahui di mana kamar suami saya sekarang," sahut Anandita gusar.
Setelah mengerti situasi yang dihadapinya, petugas itu tetap bersikap sopan. la setengah menunduk dan menjawab Anandita dengan perlahan, seakan tidak ingin mempermalukan Anandita. "Maaf, Bu, kami dilarang memberikan informasi kamar para tamu."
Kepala Anandita serasa ingin meledak. "Saya istrinya. Saya berhak tahu!"
"Maaf, tapi kami benar-benar tidak dapat memberikan informasi kamar," ucap resepsionis itu. Beberapa karyawan mulai berkumpul dibelakang resepsionis tersebut, mencari tahu permasalahan yang terjadi di meja tersebut.
Anandita meraih tas, menarik ponselnya, menghubungi Ayahnya. Dan begitu sambungan itu disambut di seberang sana, Anandita berkata, "Katakan pada mereka bahwa aku membutuhkan nomor kamar Daniel, Yah?"
Anandita memberikan ponselnya kepada resepsionis.la mendengar ucapan maaf, nama ayahnya disebut dengan tak zim. Dan beberapa saat setelahnya, sang manajer hotel sudah membawanya menuju deretan lift yang mengantar mereka ke kamar yang ia minta.
__ADS_1
Daniel tampak masih lengkap dengan kemeja dan celana kainnya. Namun, Rini harus diakui tampak sangat seksi, siap beraksi. Keduanya hanya beberapa meter di depan Anandita yang terpaku menyaksikan bagaimana kedua tangan Rini masih melingkar erat disekeliling tubuh Daniel. Rupanya, mereka tidak sempat melepaskan diri begitu kartu membuka pintu kamar tersebut.
Manajer hotel yang mendampingi Anandita menjadi salah tingkah. Laki-laki itu mundur dan berdiri di belakang Anandita. Kedua tangan Anandita mencengkeram erat sisi pakaian longgarnya. Matanya memanas.
Daniel yang pertama kali bergerak, mendorong Syahrini, yang mengenakan gaun mini hitam, sampai terduduk ditempat tidur. Daniel bergegas menghampiri Anandita.
"Jangan coba-coba sentuh aku!" teriak Anandita.
Kedua tangan Anandita terangkat untuk menghentikan upaya Daniel. Suaminya berhenti seketika. Anandita melangkah memasuki kamar. Manajer hotel di belakangnya cepat-cepat menutup pintu dan ikut masuk, mungkin khawatir tamu di kamar lain mendengar mereka.
"Semua tidak seperti yang kamu lihat. Dengar dulu penjelasanku," ucap Daniel berusaha menenangkan Anandita.
Anandita menggeleng kuat-kuat. Tangisnya pecah seketika. "Aku tidak perlu mendengar penjelasanmu. Kamu yang harus mendengarku. Aku tidak pernah mengalami amnesia. Aku tidak pernah lupa ingatan tentang perjanjian kita."
"Aku tahu. Aku tahu," sahut Daniel berusaha mendekati Anandita. Tangannya terulur untuk menggapai Anandita yang tadinya berjalan perlahan ke arahnya. Namun, Anandita berhenti begitu Daniel mengangguk tenang dan hampir menyentuhnya. Syahrini yang sudah berdiri di belakang Daniel berusaha melihatnya.
"Kamu tahu?"Kalimat tanya itu terdengar serak di antara tangis Anandita.
Daniel masih mengangguk-angguk, mencoba menyentuh Anandita. "Aku tahu sejak awal, sejak kamu siuman dan mengatakan kamu lupa segalanya. Sebagai dokter tentu saja aku mengetahuinya dengan mudah."
Tangis Anandita menjadi lebih keras. la menyentak-nyentakkan kedua tangannya sementara manajer hotel di belakangnya berusaha siaga dengan membuka kedua tangannya, bersiap-siap menangkap Anandita jika ia terjatuh.
"Menjauh dariku!" teriak Anandita sekencang-kencangnya. la sempat mendorong dengan sekuat tenaga tangan Daniel, sampai-sampai laki-laki itu mundur beberapa langkah.
Anandita menangis sekeras mungkin. "Kamu membuatku malu! Selama ini kamu tahu dan diam saja!" Tangannya menuding Daniel dengan amarah yang luar biasa. "Aku sengaja berpura-pura lupa ingatan setelah kecelakaan itu karena aku takut kamu meninggalkanku, seperti kata perempuan itu. Aku takut kamu pergi seperti perjanjian kita atau mungkin jauh lebih cepat daripada itu."
Anandita melirik Syahrini yang langsung merapatkan gaunnya yang sedikit tersingkap. "Namun aku tidak menyangka akan secepat ini." Pandangannya beralih pada Daniel yang masih diam, berdiri di antara dirinya dan Syahrini.
"Aku memang salah. Aku berharap kamu bisa jatuh cinta padaku. Aku berharap bayi ini bisa mengubah segalanya ... "
__ADS_1
"Semuanya tidak seperti yang kamu bayangkan," potong Daniel.