Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti
Amplop Seminar, tapi isinya...


__ADS_3

hai readers sekalian, terimakasih masih suka dengan jalan cerita pengantin Pengganti, please dong yang suka dengan cerita ini tap lovenya yah, dan tulis koment yg banyak yah, biar aku semangat nulis terus,..dan aku minta votenya..thankyou 😘😘


**


Anandita masih shock dengan ucapan Syahrini. Tapi, setelah beberapa hari berlalu, tidak ada pertanda Daniel akan mengatakan sesuatu kepadanya, seperti yang dikatakan Syahrini.


Menghadapi situasi yang tak terbaca, Anandita hanya dapat menunggu dan mereka-reka kemungkinan terburuk yang bakal dihadapinya.


Apa benar Daniel pernah menyatakan pada Syahrini bahwa kehamilanku adalah kesalahan? Lalu mengapa Daniel begitu menggebu-gebu mengisi kamar bayi mereka?


Setiap ada waktu luang, lelaki itu menggunakannya untuk merakit dan memasang perabotan bayi. Bahkan ketika mood Anandita sedang galau, Daniel tetap tidak berhenti mengoprek di kamar bayi.


Kemungkinan yang paling masuk akal adalah Daniel sengaja menunda mengungkapkan hubungannya dengan Syahrini. Bagaimanapun bayi yang Anandita kandung adalah darah daging Daniel. Tidak mungkin Daniel yang selalu mengutamakan nyawa setiap pasiennya, menganggap bayinya sebagai kesalahan. Apalagi sampai tega menggugurkannya.


Seperti biasanya, Anandita memakan sarapannya dan juga susu hamil yang sudah di siapkan Bik Siti pagi itu. Daniel berangkat agak siang karena langsung ke tempat hotel tempat seminar di adakan.


Sambil memegangi gelas, Anandita melirik Daniel yang sedang mengancingkan kemejanya di kamar dengan pintu terbuka. Setelah yakin penampilannya rapi, Daniel bergabung bersama istrinya, lalu meneguk kopinya. Tangan Daniel yang bebas melingkar mesra di pinggul Anandita. Dengan sigap Anandita berpaling ketika Daniel ingin mencium bibirnya.


"Kamu sekarang kok pintar menghindar?" tanya Daniel, geli. Bibirnya mendarat di pipi Anandita, lalu Daniel terkekeh dan semakin mengetatkan tangannya di pinggul Anandita.


"Aku tidak akan pergi sebelum bibirku mendarat di titik yang benar," bisik Daniel sambil mendekatkan wajahnya.


Anandita menggeliat, berusaha melepaskan diri. "Nanti susunya tumpah lho."


"Nanti aku minta Bik Siti bikinkan lagi," balas Daniel santai. Wajahnya masih mengusap-usap manja di pipi Anandita.


Mau tidak mau Anandita menyerah dan menoleh ke Daniel, menatap lekat-lekat matanya. Sebaiknya Daniel berhenti bertingkah seperti ini. Aku sudah cukup sabar menunggu, batin Anandita jengkel.


Begitu tahu istrinya diam saja, Daniel malah tersenyum geli.


"Menyerah lebih mudah daripada melawanku, kan?" Lalu Daniel menciumnya dalam-dalam, dengan penuh gairah.

__ADS_1


Rentetan latah yang terlontar dari mulut Bik Siti yang membawakan sarapan menghentikan aksi Daniel.


Anandita tersipu malu,lalu buru-buru Nico mengalihkannya dengan menghabiskan susunya. Daniel hanya terkekeh, lalu duduk di kursi makan, dan meminum kopinya.


"Sayang, malam ini jangan tunggu aku ya. Mungkin aku pulang dini hari." Daniel meletakkan gelas kopi di samping piringnya. Tangannya melambai ke arah Anandita yang berdiri memandanginya, "Sini dong."


Anandita meletakkan gelas yang sudah kosong di meja, lalu berjalan menghampiri suaminya. Bik Siti dengan sigap mengambil gelas kosong itu dan mengikik sambil berlalu. "Duh, mesra-mesraan terus, bikin bibi jadi pengen, ih ..., " goda Bik Siti sebelum menghilang ke dapur.


Dengan senyum lebar, Daniel merengkuh tubuh Anandita agar bersandar padanya. "Bik Siti cemburu." Daniel berbisik sambil mengelus-elus perut Anandita lalu mengecupnya. "Ingat, jangan kecapekan. Kamu sudah mengajak Seila dan Clarisa menginap di sini selama aku nggak di rumah kan?"


Anandita melihat wajah suaminya dengan ekspresi datar. "Sudah," jawabnya singkat. "Apa Syahrini juga ikut seminar di hotel bareng kamu?"


Kening Daniel langsung mengerut. Pelukannya melonggar. la berpaling pada sarapan yang tertata menggoda di meja. Diamnya Daniel membuat hati kecil Anandita tahu bahwa Syahrini pasti ada di sana.


"Mungkin," jawab Daniel singkat.


Anandita hanya mengangguk. Begitu ia berbalik, Daniel langsung menangkap lengannya. "Aku menghadiri seminar itu sampai siang saja. Setelah menyelesaikan pekerjaan di rumah sakit, aku kembali ke acara itu untuk berkumpul dengan dokter-dokter kenalan sampai waktu yang telah di tentukan. Keluarga dan saudara-saudaraku juga akan hadir. Jadi jangan berasumsi yang bukan-bukan." Daniel menjelaskan detail dengan wajah lesu kepada Anandita sehingga wanita itu yakin Daniel bukan lelaki yang tega menyakiti perasaannya.


**


Pinggul Anandita mulai sering pegal-pegal. Dan malam itu ia uring-uringan karena pikirannya juga berputar ke mana-mana. Meski pandangannya tertuju pada siaran televisi di ruang keluarga, ibu hamil itu terus membayangkan hal tidak-tidak yang dilakukan Daniel di acara seminar itu. Bisa jadi kan dia hanya menghadiri acara itu sebentar, tetapi padahal akan bersenang-senang dengan mantan tunangannya itu.


Seila berhenti memijat kaki kakaknya yang bengkak dan berpaling melihatnya. Sementara Clarisa masih sibuk memijat jari-jari tangan Anandita.


"Kamu kok nggak bisa diam sih?Makin pegal?" tanya Seila.


"Mau bantal lagi?" sambung Clarisa, lalu sigap menjejalkan bantal kursi ke belakang punggung Anandita. Bertumpukan dengan dua bantal lainnya yang sudah ada disana.


Yang ditanya hanya memandangi jam dinding diatas televisi. "Aku memikirkan jam berapa Daniel akan pulang Memang pinggulku juga semakin pegal."


"Baru jam delapan. Paling Daniel pulang tengah malam seperti yang kamu bilang kak." Seila berdiri lalu duduk di sisi Anandita.

__ADS_1


Dan Clarisa membantu membetulkan letak selimut yang menyelimuti tubuh Anandita. "Apa kita pindah saja ke kamarmu, kak?"


Anandita masih berpikir apakah ia sudah mengantuk ketika terdengar seseorang mengetuk pintu sambung ke ruang praktik di sudut ruang keluarga.


Mereka bertiga langsung menatap pintu tersebut. Ada dokter muda yang menggantikan Daniel malam itu, dan tidak biasanya suster atau dokter pengganti Daniel mengetuk pintu itu, membuat Anandita heran.


Pintu tersebut terbuka sedikit sebelum Anandita memutuskan untuk membukakannya. Dokter pengganti menjulurkan kepalanya dari balik pintu. Anandita menyapa dokter itu, kemudian menepuk pundak Seila agar menghampirinya. "Ada perlu apa, Dok?"


Seila dengan sigap menghampiri dokter muda itu, yang menggenggam surat dan tersenyum ramah kepada ketiga wanita di hadapannya.


"Maaf, saya sudah diberitahu untuk tidak mengganggu. Tapi saya menemukan amplop ini. Saya khawatir Dokter Daniel ketinggalan ini di ruang praktik."


Seila menerima amplop itu, berbalik, dan menyerahkan kepada kakaknya dengan pandangan penasaran pada amplop tersebut.


"Tidak biasanya Daniel meninggalkan sesuatu." Anandita bergumam sambil menerima amplop dengan kop Asosiasi Dokter Bedah dan Spesialis jantung di bagian depannya.


Saya tahu Dokter Daniel sedang menghadiri acar seminar itu, jadi saya pikir ini amplop yang penting, mungkin Dokter Daniel lupa membawanya," jelas dokter muda itu. "Maaf jika saya mengganggu, Bu."


"Oh, tidak apa-apa. Tidak perlu minta maaf, dok. Apa ada yang diperlukan lagi?" tanya Anandita menggenggam amplop putih tersebut.


"Tidak ada. saya permisi."


Seila membantu menutup pintu itu setelah dokter tersebut kembali ke ruang praktik. Anandita membuka amplop dan membiarkan Clarisa mengganti tayangan televisi yang tengah mereka tonton.


Seila melompati sofa dan duduk santai menyaksikan program pilihan Clarisa. Anandita menarik kertas yang ternyata berbeda dengan kop amplopnya. Matanya yang tadinya sudah mulai mengantuk langsung membulat. Hatinya mencelus.


salah satu alamat website terkenal tercetak di bagian kop surat. Anandita biasa memesan kamar hotel lewat website itu, jika ia bepergian ke luar kota atau luar negeri. Matanya langsung bergerak cepat mencari tanggal dan nama pemesan.


**


dikit lagi yah bakalan seru ❗

__ADS_1


__ADS_2