Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti
Kesal


__ADS_3

“Tentu saja keberatan!”


Anandita dan Riki sama-sama menoleh. Wajah Anandita langsung pucat pasi melihat Daniel berdiri tegap di samping Rini. Ia tidak menyadari Daniel yang gusar memandangi tangannya yang masih menggamit siku Riki.


“Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Daniek kasar.


Spontan, Anandita menunjuk Riki meski kedua matanya masih menatap Daniel dan Rini yang terang-terangan memandanginya. Ia bisa melihat dengan jelas tatapan Rini keperut besarnya.


“Aku tiak sengaja bertemu dengan Riki disini.”


Loh….kenapa jadi aku yang gugup yah, aku kan gak harus menjelaskan ngapain aku kesini, sesal Anandita sejurus kemudian. Bukankah Daniel yang harus menjelaskan keberadaannya di sini, padahal kan, tadi dia yang bilang kalau dia lagi sibuk di rumah sakit.


“kamu sendiri lagi apa di sini?” balas Anandita tak mau kalah. Dagunya terangkat tinggi, tangannya yang masih menggandeng Riki terasa gemetar, namun ia tidak menyadari Riki merasakan hal tersebut.


Daniel tampak salah tingkah. Dengan cepat ia mengangkat tas belanjaan di tangan. “Aku tadi mampir untuk membeli beberapa perlengkapan bayi.”


Tatapan menusuk Anandita kepaa Rini yang hanya mematung di hadapannya, mengejutkan Daniel. “Dia temanku, kerja di rumah sakit Medika tempat kamu periksa hamil sebelumnya. Dia juga memilihkan beberapa perlengkapan bayi untuk kita.”


CIH! Teman! Hanya sebatas itu kemampuan Daniel membohongiku.


Napas Anandita memburu, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.


“Terima kasih banyak. Aku sudah mempunyai banyak perlengkapan bayi. Kamu tidak perlu repot,” ucap Anandita ketus. “Oh ya, aku dan Riki berencana makan siang di sini. Apakah kalian akan Kembali ke rumah sakit?”


“Kamu makan siang bersamaku saja,” sahut Daniel cepat. “Setelahnya kita pulang.”


Syahrini akhirnya membuka suara. “Tapi kamu kesini bersamaku.”


Dengan amarah memuncak, Anandita tidak lagi memedulikan siapapu. Ia melangkah masuk ke dalam restoran yang tadi sudah ingin ia masuki. Ia memilih duduk di meja belakang, tanpa menghiraukan Daniel dan lainnya. Hatinya begitu perih, melihat suaminya pergi berbelanja perlengkapan bayi untuk bayi Anandita. Tidak pernah terbayangkan akan seperti ini jadinya. Hampir saja Anandita melupakan Riki yang ia tinggal saat masuk ke restoran, kini ia menghampiri Anandita yang sudah duduk.


“Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Riki dengan suara rendah, sementara tangannya menyentuh tangan Anandita dengan lembut.


Sentuhan itu menyadarkan Anandita akan kehadiran Riki. Kepalanya menoleh dan dengan senyum terpaksa, ia mengangguk pelan. “Semua baik-baik saja, Riki. Tadi suamiku dan temannya. Ayo, sekarang biarkan aku mengisi perutku yang dari tadi sudah memberontak,” ucap Anandita, kemudian mengelus perut besarnya. Jika ia menangis, tentu saja ia sudah menumpahkan seluruh air matanya di hadapan Riki. Namun ia tidak perlu membuat semua orang mengetahui sakitnya perasaannya, bukan?


**


“Siapa laki-laki tadi?”


Tanpa basa-basi Danil langsung mencecar pertanyaan kepada Anandita. Sore Daniel sudah pulang, biasanya menjelang malam dia baru pulang dari rumah sakit, Daniel langsung mencari istrinya.


Anandita yang duduk di meja makan, mendongak dan menatap marah pada Daniel. “Siapa perempuan tadi?”


Raut wajah Daniel mendadak berubah selama seperkian detik. Setelahnya Kembali tenang. Ia menarik kursi di samping Anandita, lalu duduk.


Karena berpikir Daniel tidak akan menjawab, Anandita berpura-pura focus ke makanan yang tadi sempat tertunda masuk kemulutnya. Jika suaminya tidak berniat membuka mulut, dia juga tidak perlu susah payah menjelaskan siapa Riki. Toh, Riki bukan cinta lamanya yang hilang. Seharusnya Daniel yang mejelaskan semuanya siapa Rini saat mereka bertemu tadi, bahkan dia tidak menyebutkan namanya. Dan menjelaskan apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan, apakah ini saatnya Daniel Kembali pada mantan tunangannya itu.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”


Kalimat dingin itu mengejutkan Anandita yang menyuap hingga sendoknya terjatuh ke lantai.


“Riki, temanku saat kuliah dulu. Kami bersahabat sangat dekat, keluarga ku pun tahu mengenai tentang Riki. Aku tidak sengaja bertemu dengannya siang tadi. Apa kamu puas? Sekarang apa penjelasanmu?”


“Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu,” jawab Daniel datar.


Amarah yang sudah di ubun-ubun membuat Anandita mendengus kesal. Air matanya langsung tumpah deras. Anandita kesal mendengar ucapan Daniel, ia bangkit dan meninggalkan makan malamnya yang belum selesai.


“Tidak ada yang perlu di jelaskan karena memang tidak ada apa-apa antara aku dan Rini.” Daniel sedikit berteriak sementara Anandita berlari kecil naik ke tangga. “Jangan lari! Kamu bisa jatuh.”


Anandita tidak menghiraukan teriakan Daniel, sehingga tidak sedikit pun mengurangi kecepatan larinya. Sambil tersedu-sedu ia menerobos ke kamar. Setelah menutup pintu, Anandita tersadar bahwa Daniel menyusulnya. Namun untuk berganti pakaian dan siap praktek.

__ADS_1


Mereka bertukar pandang sekilas setelah Daniel muncul dari balik pintu, dan Anandita bergegas melewati suaminya itu. Ia malu akan air mata yang memenuhi wajahnya, hidung dan matanya yang sudah memerah.


Anandita berlari ke kamar yang pernah ditinggali adiknya. Ia membanting pintu, dan menguncinya.


“Kamu belum selesai makan, kenapa nggak di habiskan?” tanya Daniel dari balik pintu.


Anandita menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur, dan menangis. Ia merasa bodoh, selalu berharap Daniel akan membuka hati untuk dirinya.


“Buka pintunya, Dita.” Kali ini suara Daniel melembut.


“Jangan ganggu aku!” teriak Anandita di antara tangisnya. Ia menarik selimut dan meraih remote AC. Ia diam selama beberapa saat. Menunggu kalimat apa lagi yang akan di lontarkan suaminya. Namun sepertinya Daniel sudah tidak di depan kamar, karena ia mendengar suara pintu kamar utama terbuka pelan.


Sesuai kontrak perjanjian, pernikahan ini akan selesai dalam waktu setahun. Seharusnya Anandita mengendalikan perasaannya, bukan terlena dan membiarkan hatinya mengharapkan cinta Daniel.


Sambil bersandar pada kepala Kasur, Anandita memegangi perut dan berpikir:


Masih empat bulan lagi, dan sebentar lagi anak ini akan lahir. Aku harus bertahan demi anak ini atau harus mengakhirinya sekarang?


Rupanya Anandita tertidur setelah Lelah menangis. Ketika terjaga pun matanya terasa berat karena masih mengantuk. Tapi lampu lupa ia matikan, membuatnya terganggu. Ia melihat jam dinding.


Jam satu pagi. Seharusnya Daniel sudah dari tadi selesai praktek, batin Anandita sambil bangkit perlahan. Ia terbangun karena ingin ke kamar mandi. Ia harus keluar kamar, karena kamar ini tidak ada kamar mandi.


Ia membuak pintu perlahan, karena tidak ingin membangunkan Daniel dan membuat laki-laki itumendatanginya dan memulai pertengkaran.


Anandita menjulurkan kepala. Tampak gelap dan sepi. Setelah memastikan segalanya aman, ia berlari kecil. Ia bahkan tidak menuttup pintu kamar mandi supaya tidak menimbulkan suara yang dapatmembangunkan Daniel. dengan Gerakan cepat, ia melampiaskan kebutuhan alamnya, lalu Kembali berjinjit menuju kamar.


“Daniel!”


Kaki Anandita terasa lemas. Daniel sudah berbaring nyaman di dalam selimut yang tadi ia pakai. “Apa yang kamu lakukan di sini!?” tanya Anandita marah dan mendekatinya.


Daniel yang tidur miring membelakangi Anandita sebenarnya sedang pura-pura tidur, ia masuk saat Anandita di kamar mandi tadi.


“Aku yang tidur di sini,” timpal Anandita tidak sabar.


Malam ini kita tidur di sini.”


“Aku nggak mau tidur denganmu.”


“Aku sudah menunggumu sepanjang malam. Bagaimanapun kamu pasti akan buka pintu kamar ini. Kalau kamu tidur di sini, aku juga akan tidur di sini. Kalau kamu tidur di kamar kita, aku juga akan Kembali kesana.”


Anandita menghela napas, kesal melihat Daniel menautkan jari-jarinya di atas perutnya dengan posisi nyaman. Merasa ia tidak akan dapat mengusir laki-laki itu, Anandita melangkah keluar kamar menuju kamar utama.


Anandita mendengar Langkah cepat Daniel yang mengikutinya. Dengan cepat pula Anandita menutup pintu kamar mereka dan bersiap menguncinya. Namun, tangannya tak menemukan kuncinya. Kemana kunci itu, pikir Anandita.


Saat mendongak Anandita sudah melihat wajah Daniel yang tenang jalan kearahnya.


“Mana kuncinya?”


Dua kunci tergantung di antara jari Daniel. “Di aku. Mulai sekarang, tidak ada lagi acara kunci mengunci kamar.”


Karena mengantuk dan capek, Anandita hanya mendesah, tanda kalah. Ia berbalik dan buru-buru ke ranjang. Tanpa banyak bicara ia merebahkan diri dan menarik selimut sampai leher.


Daniel menutu pintu, dan menyusul Anandita berbaring di Kasur.


Anandita menutup mata, mencoba tidur Kembali. Daniel tidak menciba merayunya lagi, seperti sebelum-sebelumnya.


Anandita hanya mendengarDaniel mendesah Panjang, lalu berbalik membelakangi Anandita.


**

__ADS_1


“Bik Siti, tolong semua ini di buang saja.”


Tangan Anandita yang penuh dengan tas belanja perlengkapan bayi yang kemarin dibeli Daniel. ia tidak sudi menerima barang tersebut. Entah memang benar Syahrini yang membelikan barang-barang itu atau Daniel yang berbohong, yang pasti Anandita tidak ingin perlengkapan bayi itu ada di depan matanya.


“Kenapa kamu buang?” Daniel langsung bangkit dari kursi. Ia meninggalkan sarapannya, lalu cepat-cepat menarik belanjaan itu dari tangan Anandita.


“Aku tidak mau melihat barang ini.”


“Aku membelinya kemarin.”


Bik Siti yang melihat sedari tadi berdiri di dekat dapur hanya melongo.


“Jadi begitu…”’ Anandita mengangguk-angguk seperti memahami penjelasan Daniel. pasangan itu pergi membeli perlengkapan bayi. Setelah bayi ini lahir, mereka akan mengambil bayiku. Setelah perjanjian mereka usai, Daniel akan menikai Syahrini yang sudah bersedia menerima kehadiran bayi yang tidak di rencanakan ini. Batin Anandita, melamun.


“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tidak baik untuk bayi kita.”


Seolah-olah Daniel bisa mengetahui isi hati Anandita.


“Gak usah sok tahu!” sentak Anandita. bisa-bisanya dia bawa-bawa bayi ini. Bayi ini milikku seorang.


“Ada apa ini?”


Anandita dan Daniel terkejut mendengar mama mertuanya sudah ada di ujung ruang keluarga. Ia berjalan mendekat dengan dahi mengerut.


Bik Siti yang sedari tadi hanya berdiri di dekat dapur beranjak ke sisi Anandita, seakan siap mendukung Anandita, apa pun yang akan terjadi. Mertuanya yang datang mendadak terlanjur melihatnya membentak Daniel. Tapi ini bukan salahnya, Anandita mencoba menenangkan diri.


“Mama bisa tanyakan sendiri ke Daniel. Dita permisi ke kamar.” Anandita berpaling ke Bik Siti sambil menunjuk tas belanjaan itu. “Barang-barang ini tidak jadi di buang, mungkin Daniel membutuhkannya. Simpan saja di Gudang.


Anandita tahu seharusnya ia menyapa ramah mertuanya. Namun emosi yang memuncak membuatnya ingin secepatnya menghilang dari hadapan Daniel. sekilas ia melirik suaminya yang hanya menatapnya diam.


“Mama akan menyusul nanti,” ucap mama mertua lembut, mengejutkan Anandita. Dia pikir mertuanya akan judes pada Anandita.


Anandita tersenyum kecil sambil mengangguk. Sedikit rasa bersalah muncul di hatinya. Selama ini kedua mertuanya tulus dan perhatian padanya. Anandita tidak mau tahu apa yang di bicarakan Daniel dan mamahnya, tapi kedatangan mertuanya kesini pasti ada hubungannya dengan kembalinya Syahrini.


Beberapa saat kemudian Mama Sinta masuk ke kamar setelah mengetuk pintu pelan.


“Mama kemari mau jemput dan menemanimu senam hamil.” Mama Sinta berkata sambil melangkah masuk tanpa menutup pintunya Kembali.


Anandita tersenyum, lalu merapikan seprai tempat tidurnya.


“Nggak usah repot, Ma. Biasanya juga Dita pergi sendiri diantar sopir.”


Anandita baru tersadar bahwa selama ini Daniel tidak pernah menemaninya pergi senam kehamilan. Memang tidak hanya dia yang hadir sendirian tanpa di antar suaminya. Tapi entah kenapa sekarang hal sekecil itu malah membuat lukanya semakin perih.


“Kali ini, paling tidak Mama yang menemanimu. Mumpung mama lagi gak ada urusan.” Mertuanya itu mendekati Anandita meraih tangan Anandita sehingga ia tidak lagi dapat berpura-pura sibuk merapikan tempat tidurnya.


Mama menepuk-nepuk tangan Anandita. “Apapun yang terjadi antara kamu dan Daniel, mama yakin pasti karena salah paham. Tadi Daniel bilang, akhir-akhir ini kamu banyak mikir yang aneh-aneh.”


“Dita nggak mikir yang aneh-aneh, mah.” Sanggah Anandita. Ia menarik napas Panjang, lalu menatap wajah mertuanya. “Dita nggak apa-apa ma. Mama jadi repot menemani senam.” Ucap Anandita ramah.


Mendadak mertuanya memeluk Anandita, membuat dirinya kaget, seingat Anandita, Mama mertuanya ini sangat kaku, sekarang terlihat emosional.


“Hanya ibu yang tahu, mana yang terbaik untuk anaknya,” bisik mama mertua di telinga Anandita.


Anandita mencerna apa maksud ucapan mertuanya itu. Ketika Mama sinta mengendurkan pelukannya lalu sedikit memberikan jarak antara mereka. Anandita mendongak, menatap wajah mertuanya yang lebih tinggi darinya.


“Mama melihat keuargamu yang begitu hangat, membuat mama berpikir, Daniel akan berubah menjadi pribadi yang hangat juga, karena menikahi Wanita dari keluarga baik-baik. Dari pertemuan pertama kali kita bertemu, mama yakin sekali, mama tiak salah pilih menantu. Orangtuamu yang begitu supel dan ramah, tidak memandang dari kemewahan di antara kita.


Tatapan mama mertua yang hangat membuat Anandita meremang. Selama ini aku selalu berpikir, kalau mertuaku baik, karena aku anak pengusaha kaya raya, yang membuatku terlihat sempurna di mata mertuaku.

__ADS_1


Bagaimanapun anandita sudah melakukan kesalahan. Sudah mau ikut menyetujui ide gila yang di berikan Daniel, laki-laki gila itu yang membuat ia menjadi seperti ini. Gila karena ia sudah terlanjur cinta dengan Daniel.


__ADS_2