Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti
Mesra Lagi


__ADS_3

Setelah kejadian kemarin ia memergoki Daniel di Mall, Anandita sudah tidak ingin memata-matai suaminya lagi. Ia sekarang fokus dengan mewaraskan dirinya saja, mengingat kandungannya bisa saja ikutan stress dengan tingkahnya.


Siang itu Anandita tetap pergi ke kantor, untuk menyibukkan dirinya, agar pikirannya tidak terpaut oleh Daniel saja. Ia juga tidak menghubungi Daniel sejak ia di kantor. Kini ia sedang menunggu pesanan makan siangnya. Terdengar suara ketukan pintu, ah.. mungkin itu office girl yang tadi ia suruh beli makan siang. Akhirnya datang juga makan siang ku


“Masuk!”


“Kamu tidak menghubungiku seharian ini.”


Suara Daniel yang berat mengagetkan Anandita. Suaminya itu menutup pintu perlahan. dengan pakaian Casual, laki-laki itu memasukkan tangannya ke saku jeansnya, seakan kesal Anandita tidak menghubunginya sama sekali.


“Kenapa kamu kesini?”tanya Anandita tidak percaya pada penglihatannya.


“Aku mau mengajak kamu makan siang Bersama,” jawab Daniel tersenyum.


“Hmmm… kantormu bagus banget, aku baru ingat, kalau ini pertama kalinya aku masuk ke kantormu.”


“Memang kamu belum pernah kesini, kamu an selalu sibuk setiap hari, mana sempat mampir ke sini.” Sambil berdiri di dekat mejanya Anandita merasa bingung, kenapa Daniel repot-repot harus ke sini?


Suaminya menghampirinya, meraih tangannya. “Ruangan ini bagus sekali, nyaman banget.


“Iya, biar aku betah seharian di sini.” Jawab Anandita datar.


“Kamu tumben nyamperin aku ke sini? Biasanya sibuk banget.”


“Aku kangen saja kamu, aku dari tadi tunggu kabar dari kamu, tapi tidak kunjung kasih kabar ke aku, sekalian saja aku ke sini, mau makan siang bareng kamu.” Daniel masih memegang tangan Anandita, Ketika duduk di tepi meja. Ia mengajak Anandita duduk di kursi kebesarannya. Daniel duduk di tepi meja. Kedua kakinya yang pajang menjepit tubuh Anandita.


“Melihat tingkah Daniel siang ini di kantornya, membuat Anandita bingung, ia mengerutkan keningnya. Pada saat bersamaan, perutnya seperti ada yang menendang. Spontan Anandita menarik salah satu tangannya, dan meraba perutnya.


“Dia menendang?” Daniel ikut meraba perut Anandita.


Ketika tangan Daniel menyentuhnya, saat itu juga si janin lebih kencang menendang, dan membuat Anandita meringis. “Selalu seperti ini saat mamanya sedang merasa Bahagia dan di dekat papanya.” Jawab Anandita sumringah.


Daniel langsung menunduk dan mencium perut Anandita.


“Makanya ma, jangan marah-marah terus. Kalau kamu senang, bayi kita juga ikut senang.”


Anandita langsung memasang wajah kesal. “Aku kan….”


Daniel tidak membiarkan Anandita menyelesaikan kalimatnya. B***rnya sudah menempel dengan Anandita. Kedua tangannya sudah menangkup wajah istrinya. Menikmati c****n Daniel, Anandita pasrah dan memeluk Daniel, bayinya ingin merasakan kehangatan tubuh papa nya, dengan Anandita menempel pada tubuh Daniel.


“Bu, ini pesanan makan siangnya.”


Keduanya terlonjak kaget mendengar suara office girl yang langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Office girl itu sama terkejutnya melihat bos nya sedang asik berc***n, masih dengan tentengan kresek di tangannya dan memegang gagang pintu.


“Maaf bu,..”’ lanjut office girl itu tersipu malu.


Sambil meletakkan makan siang Anandita di atas meja dan bergegas keluar.

__ADS_1


Anandita melepaskan tangan dari Daniel, lalu berusaha menjauh. Senyum geli merambah wajahnya. “Apa yang di katakan oleh bawahan ku nanti, pasti mereka akan bergosip ria setelah ini.” Ya ampun,…malunya.” Tangannya menutup wajah dengan tangannya, setelah itu meraih kantong kresek isi makan siangnya.


“Biar saja. Wajar kan suami istri melakukan itu,” ucap Daniel santai. Kepalanya menunduk sambil meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh istrinya, melihat apa yang di keluarkan Anandita dari kantong plastik.


“Tempe mendoan?”


Anandita tahu Daniel pasti kegirangan melihat tempe mendoan kesukaannya. Benar saja. Daniel langsung mencomotnya. Anandita menepuk tangan suaminya, tidak ingin minyak tempe itu menodai pakaiannya.


“Kan, aku sudah sering bilang ke kamu, kamu itu selalu mengidam apapun yang aku suka, sahut Daniel senang. Ia mengembalikan Tempe mendoan itu ke kantong plastic, dan menunggu Anandita membungkusnya dengan tisu dan menyuapinya.


“Yah syukurlah, aku hanya kebagian Ngidam kesukaanmu, tapi kamu yang dapat mual-mual.” Kekeh Anandita.


Memang selama ini saat hamil muda, Anandita tidak merasakan morning darkness, tapi Daniel lah yang merasakan lelahnya mual mual seperti ibu-ibu yang sedang hamil. Anandita bersyukur bayinya sangat pengertian terhadap mamanya.


Sambil membuka makan siang terbungkus Styrofoam. Air liur Anandita hampir saja menetes, gado-gado dengan bumbu kacang yang melimpah. “Kita makan berdua ya, kan kamu nggak kabarin aku kalau mau ke sini tadi, makanannya Cuma ada satu bungkus.” Jawab Anandita. Ia tidak menghiraukan kalau sekarang Daniel melarangnya makan makanan sembarangan, punya suami agak cerewet soal makanan membuat Anandita jadi bingung kalau pilih-pilih makanan. Kali ini sepertinya Daniel tidak menghiraukan kebersihannya. Ia justru nambah makan tempe mendoan lagi.


‘‘Ya, kita makan berdua saja, biar romantis, ucap Daniel sambil mengerlingkan matanya pada Anandita.


Anandita memicingkan matanya menatap Daniel. Ada apa dengan suaminya kali ini.


“Sudah jangan berpikir yang aneh-aneh, aku mau menghabiskan waktu denganmu hari ini. Karna kamu kan tahu sendiri, akhir-akhir ini aku sangat sibuk, tidak pernah ada waktu buat kamu.” Sambil mengelus kepala Anandita.


Setelah selesai makan, Daniel mengajak Anandita bersantai di sofabed. Anandita menyediakan sofa bed di ruangan kantornya, jika sewaktu-waktu ia Lelah, ia bisa beristirahat. Ada gunanya juga saat sekarang Ketika suaminya berkunjung di kantornya.


Sebelumnya Anandita sudah memberi peringatan kepada sekretarisnya, agar tidak mengganggu dia dengan suaminya, semua pekerjaan yang seharusnya di kerjakan Anandita, di kerjakan sekretarisnya. Daniel yang duduk di samping Anandita, Daniel membawa tangannya ke Pundak Anandita, masih ingin bermanja-manja dengan istrinya, ternyata memang dia berencana menghabiskan waktu di kantor dengan Anandita.


**


Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang kerumah. Selesai mereka menghabiskan kencan di kantor Anandita, Daniel mengajak Anandita pulang kerumah. Ia menatap Daniel yang tampak tenang menyetir. “Kamu yakin gak mau balik ke rumah sakit?”


“Tenang saja. Sudah ada yang menggantikan aku. Kalau ada pasien yang urgent mereka akan segera mengabari aku. Aku kan sudah bilang tadi sama kamu, kalau hari ini aku mau seharian temani kamu.” Jawab Daniel tanpa berpaling.


Anandita bersandar pada kursinya, sambil memainkan setbeltnya yang terasa mengganjal perutnya. “Aneh banget kamu hari ini. Kamu biasanya sibuk banget, pulang juga sudah menjelang malam, sehabis itu langsung praktek di rumah, kamu hampir tidak punya waktu untuk kita berdua.” Jawab Anandita kesal.


Tiba-tiba saja tangan Daniel sudah meraba p*** Anandita. Mengelusnya mesra.


“Tambah aneh saja,” kata Anandita sambil menunjuk tangan nakal Daniel.


“Kamu yang aneh,” sahut Daniel. “Sebenarnya aku selalu seperti ini. Aku tidak bisa melepaskan tanganku darimu. Kamu saja yang akhir-akhir ini memikirkan yang aneh-aneh.”


Anandita berdecak kesal, tetapi menikmati sikap romantis Daniel.


“Kamu yang mulai mencurigakan akhir-akhir ini,” kata Anandita mengelus perutnya. “Aku memang mikir yang tidak-tidak, maka itu itu aku mencoba untuk menjadi waras, aku memilih bersantai saja dan tidak mau mengganggumu lagi,” lanjut Anandita.


“Aku tidak ingin kamu pergi lagi dengan temanmu, Si Riki itu.”


Daniel mengucapkan kalimat tersebut seakan tidak mendengarkan apa yang baru saja Anandita katakana. Dan karena menyadari Anandita tengah terkejut mendengar ucapannya.

__ADS_1


“Itu wajar, jika suamimu melarang istrinya tiba-tiba pergi dan makan Bersama laki-laki lain.” Imbuh Daniel santai.


“Yang aneh itu kamu, tiba-tiba cemburu.” Kata-kata itu spontan keluar dari mulut Anandita.


“Karena kamu nggak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Kamu nggak pernah pergi dengan laki-laki lain, selama kita menikah,” bantah Daniel, terdengar kesal.


Anandita kesal juga. Ia memandang lurus ke depan. Sambil menyenderkan punggungnya, ia mengungkapkan kekesalannya. “Aku kan sudah bilang, tidak sengaja bertemu Riki. Perasaan udah berkali-kali aku bilang sama kamu.”


Anandita merasa sesak karena Daniel masih saja membahas pertemuan mereka di mall kemarin, seharusnya dia yang kesal, kenapa Daniel tidak mengaku saja selama ini, kalau ia masih ada hubungan dengan mantan tunangannya, giliran Anandita yang tidak sengaja bertemu Riki, Daniel seperti kebakaran jenggot. Emosinya memuncak, serasa sesak dada dan perutnya. “Kamu menuntut penjelasanku berkali-kali, seperti orang kebakaran jenggot. Giliran aku yang tanya ke kamu tentan Wanita itu, kamu nggak kasih penjelasan apapun ke aku. Kamu larang aku, agar aku tidak jalan lagi dengan teman ku. Sedangkan kamu, se enaknya saja pergi dengan Wanita lain. Jangan pergi dengan Wanita itu lagi !” tegas Anandita yang berbicara ngos-ngosan.


Dengan penuh keheningan, ia menyadari sesuatu. Ia sudah memberikan pengakuan pada Daniel. kalau dia sedang merasa cemburu. Daniel jadi tahu isi hatinya.


“Aku nggak akan ketemu wanita itu lagi.”


Pada saat bersamaan, Anandita merasa bayi yang di dalam perutnya menendang dengan sangat kuat. Refleks ia mengelus perutnya. Rupanya Daniel menoleh saat Anandita mengelus perutnya. “Kamu nggak akan ketemu dengan wanita itu lagi?” tanya anandita pelan. Tangan Daniel ikut mengelus perut istrinya, merasakan Gerakan yang sedang bergerak di perut Anandita.


Daniel mengurangi kecepatan mobilnya. Kemudian menepikan mobilnya di pinggir jalan. “Aku tidak akan berhubungan dengan Wanita itu, ataupun Wanita lain.” Daniel tidak menghiraukan kendaraan lain yang tiba-tiba mengklakson mobilnya, yang tiba-tiba menepikan mobilnya. Tubuhnya berbalik ke arah Anandita. Tangannya sudah menangkup perut Anandita, sambil menatap lekat wajah istrinya.


“Berjanjilah padaku, jangan lagi berpikir yang aneh-aneh, dan percaya sama aku. Au akan selalu ada untu kamu dan bayi kita.”


“A..aku..”


Sebenarnya Anandita takut kalau Daniel curiga padanya, kalau sebenarnya Anandita tidak pernah amnesia. Dan sebenarnya ia tahu akan siapa Syahrini adalah tunangan suaminya dulu. Anandita hanya mau Daniel selalu ada untuknya, karena ada bayi di antara mereka. Juga Anandita merasa Daniel punya perasaan yang sama padanya.


Kedua tangan Daniel menangkup wajah Anandita.” Aku hanya minta sama kamu, tolong percaya aku, jangan banyak pikiran, pikirkan anak kita yang ada di dalam sini.” Suara rendah Daniel menekankan maksudnya.


Anandita balik menatap lekat wajah laki-laki yang koni menjadi suaminya itu. Seakan apa yang di ucapkan Daniel adalah sihir dan ia harus mempercayainya. “Ya aku janji percaya.” Dengan suara pelan Anandita membalasnya.


“Tidak aka nada lagi Riki, atau pria lain?” Daniel tersenyum sambil menunduk perlahan. tanpa menunggu jawaban Anandita, Daniel langsung memburu b**** Anandita yang hampir berbicara.


Aroma parfum Daniel tercium sangat menenangkan. b**** mereka saling bertaut, membuat Anandita terasa melayang sampai ke ubun-ubun, rasanya begitu nikmat. Ia memeluk erat Pundak Daniel. membiarkan suaminya merengkuhnnya erat.


“Jangan bikin aku cemburu lagi,” bisik Daniel setelah menarik kepalanya.


Hampir saja Anandita tertawa keras. Ia memasang wajah Datar. Detik berikutnya ia mencibir sambil menyapukan lipstiknya. “Kamu juga jangan bikin aku cemburu lagi.”


“Aku hari ini sudah jujur banget ke kamu, aku cemburu buta. Kamu seharusnya bisa rasakan kenapa aku hari ini berbeda. Kamu juga tidak perlu khawatir dengan semuanya.” Daniel menjalankan mobilnya Kembali. “Kita bahkan ber****** di pinggir jalan, sampai di klakson orang.”


“Jadi sekarang kamu salahin aku? Kamu yang cium aku duluan kan.” Anandita tidak dapat lagi menyembunyikan senyum bahagianya. Tubuhnya menempel pada lengan Daniel dan mulai bermanja-manja dengan suaminya.


“Gimana kalau kita hari ini belanja keperluan bayi kita? Akhir-akhir ini aku sibuk, kamu nggak pernah aku temani.”


“Ya ampun, aku kan sudah belanja banyak untuk keperluan bayi kita, kamu kan kemarin sudah belanja, biasanya kamu kikir banget, kenapa sekarang mau belanja lagi?” keluh Anandita manja.


“Aku tidak sekikir itu.” Daniel berkilah. Anandita tahu, Daniel tidak mau di bilang pelit padahal memang sebenarnya dia pelit. “Aku tidak bilang kamu kikir, tapi aku bilang kamu hemat,” ucap Anandita geli.


Anandita tahu, Daniel sangat mencintai calon bayinya. Ia sangat protektif pada Anandita sejak keluarganya tahu kalau Anandita hamil pasca kecelakaan waktu lalu.

__ADS_1


__ADS_2