
"Bik Siti semua perlengkapan bayi yang beberapa hari lalu aku suruh buang itu sekarang ada di mana?" Suara Anandita refleks menjadi setengah berbisik. Tiba-tiba ia teringat benda-benda yang menjadi bahan pertengkaran antara dirinya dan Daniel tempo hari.
Bik Siti yang sedang membantu memegangi kardus besar untuk dibuka Anandita, langsung mendongak. Agar terkesan tidak peduli, Anandita sengaja tidak menatap wajah Bik Siti dan berpura-pura menunggu jawaban sambil membuka bungkus kardus dengan gunting besar.
"Setelah itu sama Pak Dokter dibawa ke gudang belakang." Bik Siti menunjuk ke arah pintu dapur yang menembus ke area kamar pembantu dan juga gudang kecil yang nyaris belum pernah dilihat Anandita.
Anandita terdiam dan melihat ke arah dapur dari ruang keluarga, dikelilingi berbagai kardus besar berisi perlengkapan bayi.
Bagaimana pun Daniel tidak dapat membuang begitu saja hal-hal yang masih berhubungan dengan Rini. Anandita memusatkan pikirannya ke berbagai barang untuk calon bayinya. Yang pasti Daniel masih menghormati perasaannya dengan mendapatkan kecemburuannya di belakang rumah.
Eh! Tapi tunggu dulu!
Anandita tiba-tiba menegang. Pundaknya tegak. Pandangannya mengitari rumah yang sudah ia huni delapan bulan itu. Hampir seluruh isi rumah itu berisi kenangan Daniel dan Syahrini. Tidak ada yang benar-benar miliknya.
"Ada apa, Non?" Bik Siti yang rupanya memperhatikan gelagat Anandita mengalihkan lamunannya. Ia tampak khawatir. Anandita berusaha tersenyum.
"Ah ... tidak. Pegangi kuat-kuat, Bik. Jangan sampai jatuh menimpa perutku."
Bik Siti ikut tersenyum dan menuruti perintah Anandita dengan gurauan-gurauan dari mulutnya. Sementara pikiran Anandita terbang melayang, kembali memikirkan hal yang mengganjal di hatinya meski Daniel sudah mengatakan bahwa ia tidak perlu khawatir akan hubungannya dengan Syahrini.
"Semua pesanan kita baru datang?"
Suara besar Daniel mengagetkan Anandita dan Bik Siti.
Kata-kata latah Bik Siti membuat majikan lelakinya tersenyum. la meletakkan tas kerja dan jas dokternya di sofa yang ia lewati lalu menghampiri mereka.
"Kenapa kamu bongkar semua? nada tidak suka mendapati Anandita bersusah payah.
Ia mengecup bibir Anandita sekilas-kebiasaan yang mulai ditanamkan Daniel semenjak mereka berdamai beberapa hari lalu, mencium dan memeluknya setiap mereka berpisah dan berjumpa.
"Kamu bilang mau merakitnya sendiri. Kalau bukan aku yang bongkar, lalu siapa?"
"Aku," balas Daniel cepat. Anandita memandang wajah serius Daniel. "Aku akan merakit sendiri semua ini," lanjut Daniel menunjuk ke kardus-kardus berisi keperluan untuk kamar bayi.
"Kamu bisa merakit semuanya dalam satu hari?" Anandita tidak yakin Daniel mampu menyelesaikannya meski ini weekend.
Sambil mengelus pinggul Anandita dan meneliti kardus-kardus berantakan di ruang keluarga, Daniel berkata yakin, "Aku bisa mengerjakannya setiap hari selesai praktek.
"Aku akan mengerjakan yang kecil-kecil mengingat mulai Senin aku tidak perlu ngantor lagi. Rupanya keluargaku masih sama protektifnya seperti ketika aku belum menjadi istrimu."
"Aku juga menyarankan agar kamu tidak bekerja dulu. Papa dan mamaku juga menyarankan hal sama kepada keluargamu," kata Daniel sambil mengambil alih kardus besar berisi papan yang dipegang Bik Siti.
"Orangtuamu ternyata sama protektifnya dengan orangtuaku." Sahut Anandita senang.
Tapi bibirnya mengerut, kecewa."Tapi apa yang akan kulakukan setelah aku menganggur seperti ini! Setiap weekend saja aku sudah cukup bosan karena kamu biasanya sibuk setengah hari dengan pekerjaanmu.
Sekarang aku harus menghadapi hari-hari tanpa kerjaan."
"Nanti habis melahirkan, Pak Dokter kan bilang bakal lebih banyak di rumah, Non." Bik Siti langsung membela Daniel. Daniel mengacungkan jempol kepada Bik Siti, merasa senang karena setelah sekian lama, akhirnya Bik Siti berada di pihaknya.
"Bik Siti saja masih ingat dengan janjiku. Aku juga tidak terlalu sibuk akhir-akhir ini."
Daniel membungkuk untuk meletakkan kardus yang ia pegang. "Aku mungkin hanya akan sibuk seminar minggu depan."
Kening Anandita berkerut. "Sama seperti seminar-seminar yang biasanya kamu ikuti?"
Daniel duduk di lantai dan dengan cekatan membuka kemasan. Bik Siti sibuk membantu membuang satu per satu plastik yang masih menempel. Anandita membayangkan Daniel juga terampil seperti ini ketika di ruang operasi.
"Ya, sama. Hanya saja berlangsung setahun sekali, dua hari. Kebetulan tahun ini diadakan di Bandung. Di Padma Hotel Bandung."
"Oh, hotel itu! Aku kenal pemiliknya. Lebih tepatnya Ayah kenal dekat dengan mereka. Tapi kamu tidak perlu menginap di sana,kan?"
Daniel menjawab tanpa berpaling dari kesibukannya membongkar kardus-kardus itu. "Tidak. Mungkin aku pulang lewat tengah malam, karena acara seperti itu biasanya menjadi ajang berkumpulnya dokter-dokter spesialis dan dokter bedah se-Indonesia."
__ADS_1
Anandita memperhatikan Daniel yang membaca buku panduan. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya apakah Syahrini juga akan ikut acara itu. Namun, setelah melihat keseriusan Daniel mempelajari buku panduan tersebut,pertanyaan itu hanya terpendam di hatinya.
"Aku akan mendatangimu setiap jam makan siang di rumah sakit, mulai Senin besok."
Entah apa yang sedang Anandita pikirkan, tiba-tiba ia memungkiri janjinya untuk memercayai Daniel dan ingin mengetesnya. Hati kecilnya berkata, Syahrini masih tetap bersama Daniel.
"Ya, aku tunggu. Semenjak kamu sibuk beberapa minggu ini, kamu tidak pernah lagi menggangguku untuk makan siang bersama.'"
Anandita tertegun. Tentu saja aku sibuk. Sibuk memata-mataimu yang rajin menjumpai Syahrini.
"Ini ternyata tempat tidur bayi yang kamu inginkan. Apakah mereka juga sudah mengirim tempat tidur yang aku pesan?"
Daniel mengamati kardus besar yang memenuhi ruang keluarga. Tangan Anandita terulur untuk menoyor ubun-ubun Daniel. Reaksi kaget Daniel membuat Anandita tersenyum puas. Bik Siti tertawa melihat ulah Anandita.
"Yang ada di pikiranmu hanya barang yang tidak mungkin digunakan anak kita empat tahun ke depan. Mereka sudah mengirimkan seluruh pesanan kita, tapi aku ingin tempat tidur bayi, stroller, carseat, kursi goyang, lemari bayi, dan lainnya selesai tepat waktu."
"Mungkin selama kamu tidak dapat melanjutkan merakit barang-barang ini, aku akan meminta Sheila dan Clarisa membantuku."
"Tidak." Daniel berdiri, meraih papan yang sudah dibongkar dari tangan Bik Siti. "Aku akan mengerjakan sendiri. Dan sebaiknya aku memindahkan barang-barang ini ke kamar atas dan memasangnya di sana."
Anandita berdecak. "Ego kebapakannya sudah mulai muncul rupanya."
**
"Sebenarnya tadi Dokter Daniel sudah menunggu. Tapi baru saja ada panggilan darurat. Pasien Dokter Daniel mengalami serangan jantung sehingga perlu penanganan segera. Dokter Daniel terburu-buru ke ruang operasi dan meminta saya untuk menyampaikannya kepada Ibu."
Suster kepala yang biasa mendampingi Daniel di rumah sakit itu tersenyum lebar dan membiarkan Anandita duduk di kursi kerja Daniel. Mata Anandita mengelilingi ruangan, memeriksa apakah ada perubahan.
"Akhir-akhir ini Ibu jarang datang ke sini. Biasanya selalu datang untuk makan siang bersama," ucap suster yang sudah berumur itu.
Anandita membalas senyum ramah suster itu. "Sekarang sudah full time istirahat di rumah. Saya tunggu saja disini kalau begitu. Apakah Dokter Daniel akan lama?"
Suster kepala itu menyajikan air putih untuk Anandita.
Anandita mengangguk setuju. Sekejap kemudian suster tersebut beranjak keluar, meninggalkan Anandita sendirian.
Anandita meraba laci teratas meja kerja. Apakah foto keramat itu masih ada?
Jantungnya berdegup kencang. la berharap janji Daniel memang serius. Perlahan ia menarik laci. Senyum lega membuncah di wajahnya. Tumpukanfilememenuhilaciitu. Tidak ada lagi foto kenangan lama Daniel.
Dengan bersemangat Anandita menarik satu per satu file di dalam laci. Memastikan dengan teliti untuk melegakan hatinya. Dan memang betul, tidak ada foto atau apa pun yang berhubungan dengan Syahrini.
Anandita membuka laci-laci yang lain. Hasilnya sama. la memandangi meja kerja Daniel.
Setelah bayi ini lahir, aku akan memasang foto kami bertiga di meja ini, batin Anandita girang, dengan tangan terbuka lebar-lebar di meja kerja yang rapi itu.
Kriet ...
"Dok, ini ada pesan dari Dokter Syahrini untuk menghubungi kembali di nomor ini."
Anandita maupun suster yang membuka pintu ruang kerja itu sama-sama terperanjat. Itu suster yang dilihat Anandita ketika Syahrini muncul di rumah sakit dulu. Anandita langsung memperhatikan kertas di genggaman suster yang menatapnya salah tingkah.la melihat dengan jelas bagaimana si suster langsung meremas kertas itu.
Perut Anandita mendadak mengencang. Spontan ia memeganginya.Sambil menarik napas panjang dan berusaha tenang, ia menegakkan tubuh.
"Maaf, saya kira Dokter Daniel ada di sini." Suster itu secepat kilat berbalik untuk keluar, namun Anandita menghentikannya.
"Tunggu! Berikan pesan itu kepada saya. Saya akan sampaikan sendiri ke suami saya."
Suara Anandita terdengar tegas namun bergetar. la ingin menyodorkan bukti nyata bahwa Syahrini tetap ada di dalam kehidupan Daniel.
Dengan kikuk suster tersebut memutar tubuhnya. Senyum salah tingkahnya membuat Anandita tidak menyukainya, seakan ia bersekutu dengan Syahrini dan berharap Anandita tidak mengalangi Syahrini kembali kepada Daniel.
Anandita mengangkat tangan dan membuka telapaknya sebagai isyarat agar suster itu menyerahkan kertas yang sudah menjadi bola.
__ADS_1
"Bukan hal penting kok, Bu. Hanya pesan dari kolega," tolak suster tersebut kikuk.
Anandita tidak dapat menahan kesabarannya. la mendelik.
kepada suster di hadapannya. "Saya bilang serahkan pada saya!" sentak Anandita.
Suster itu terperanjat untuk kedua kalinya. Dengan gemetar, ia menghampiri Anandita dan perlahan meletakkan kertas itu di tangan Anandita.
"Akan saya sampaikan," ucap Anandita lebih tenang.
Suster itu tersenyum getir, lalu cepat-cepat melangkah keluar.
Anandita membuka gumpalan kertas kecil itu. Membaca dengan mata memanas.
Selanjutnya Anandita menatap nanar pada deretan angka yang tertulis rapi di kertas tersebut. Tidak ada pesan atau kata-kata apa pun. Hanya nomor ponsel.
"Dita, ayo kita pergi makan siang sekarang."
Anandita tersekat. Kertas itu langsung diremasnya.
"Kenapa kamu sampai terkejut begitu?" Daniel bertanya sambil beranjak masuk.
"Perutku terasa menegang." Anandita memasukkan tangannya yang masih menggenggam potongan kertas ke tas tangannya yang terbuka.
Daniel menghampiri dan memegangi perut istrinya. "Sakit? Terasa sangat kencang?"
Anandita mengangguk lemas. la bahkan seperti tidak dapat merasakan kedua kakinya.
"Akan kutelepon omku dokter yang biasa kamu kontrol." Daniel mengeluarkan ponsel dari saku jas dokter.
"Tidak perlu. Tunggu aku tenang sebentar. Terus kita pergi makan siang."
"Kamu yakin?"tanya Nico, memandangi Anandita.
Anandita mengangguk lemah. "Tadi katanya ada kasus mendadak. nggak apa-apa kalau kita pergi makan siang sebentar?"
"Bukan kasus berat." Daniel membantu Anandita berdiri. Memapahnya perlahan sambil berjalan keluar ruangan. "Mungkin sebaiknya setelah makan siang kita kembali dan menemui omku untuk memeriksakan kandunganmu."
"Ya ... " jawab Anandita setengah-setengah, mendengarkan usulan Daniel. Pikirannya terpusat pada nomor yang tersimpan aman di tasnya.
**
"Kamu sudah mendengar sendiri bahwa tidak baik jika kamu stres. Kalau omku sudah memperingatkan sedemikian kerasnya, berarti ini serius." Daniel membuka pintu mobil begitu sampai di muka lobi rumah sakit. la menahan pintu itu sambil merengkuh Anandita.
Anandita yang tampak linglung, hanya memikirkan kertas yang mendekam dua jam di dalam tasnya. la membiarkan Daniel mengecupnya singkat.
"Langsung pulang ke rumah, ya?" Anandita mengangguk mantap.
"Sudah, jangan khawatir. Tidak apa-apa kok. Hanya jangan stres. Sebaiknya kamu menelepon kedua adikmu untuk menemanimu beberala malam ini." Daniel menepuk lutut Anandita, lalu menutup pintu mobil.
Anandita sempat memberikan senyum singkat kepada Daniel dari balik kaca sampai mobil itu membawanya menjauh.
Kenapa Syahrini memberikan nomor telepon itu? Apakah ada sesuatu yang penting sehingga Daniel harus secepatnya menghubungi wanita itu?
Anandita meraih tas tangan di sampingnya, mencari dengan terburu-buru kertas kucel yang tadi ia lemparkan begitu saja. Jika Daniel sudah berjanji tidak berhubungan lagi dengan Syahrini, hanya ada satu cara untuk menyibak misterinya.
Tentu saja dengan menghubungi wanita itu langsung. Tangan Anandita bergetar begitu kertas itu berada dalam genggamannya. la membaca sekali lagi angka yang tertera jelas di sana.
Anandita menggigit bibirnya, putus asa. Ia memandang ke luar kaca. Pikirannya terus berkutat pada Syahrini dan Daniel. Syahrini tentu sulit hilang dari hati Daniel.
Satu-satunya alasan Daniel bertahan dengan Anandita meski Syahrini sudah muncul hanyalah bayi dalam kandungannya. Meski Daniel sudah berjanji padanya, kenyataannya suaminya tidak pernah mengatakan cinta.
Anandita mendesah panjang, lalu meraih ponsel dari tas. Apakah ini benar? batin Anandita.
__ADS_1
Setelah menarik napas panjang, Anandita membuka mata. Jarinya bergerak secepat yang ia bisa. Matanya memandang bergantian antara nomor di kertas dan ponsel.Bibirnya mengeja nomor-nomor tersebut, memastikan beberapa kali nomor yang ia sentuh di layar ponsel sudah benar.