Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 1


__ADS_3

"Ibu... apa yang ibu lakukan?" teriak Niko kecil berusia sekitar 8 tahun.


Dia mendatangi ibunya yang sudah berlumuran darah dan memegang pisau yang juga berlumuran darah.


"Ibu... ada apa? kenapa Bu?" Niko masih bingung dengan apa yang terjadi, pasalnya tadi dia disuruh ibunya untuk membeli makanan untuk makan malam mereka bertiga tapi setelah datang yang dia lihat adalah ibunya menangis dengan memegang yang berlumuran darah dan disampingnya tergeletak adik perempuannya yang juga berlumuran darah.


"Ibu.. kenapa ibu menangis? dan kenapa dengan Nita?." cecar Niko melihat adiknya yang sudah tidak bergerak dengan air mata yang berderai.


Karena ibunya hanya diam saja tidak mau menjawab dan terus menangis anak itu beralih pada adiknya dan menggoyang-goyang tubuh adiknya.


"Dek, bangun dek apa yang terjadi padamu? kenapa disini banyak darah?. Dek .. jawab kakak." Niko terus mengguncang tubuh adiknya sambil memeluk dan membuat tubuhnya ikut berlumuran darah.


"Berhenti Niko...!" ucap ibunya dengan suara keras sehingga membuat Niko menghentikan aksinya dan kembali menatap sang ibu.


"Ibu bilang berhenti." ucapnya lagi sambil menangis.


"Ibu ada apa Bu? apa yang terjadi? siapa yang melakukan ini Bu?" cecar Niko pada ibunya.


"Ibu yang melakukannya." teriak ibunya dengan mata memerah menatap tajam Niko.


Niko membeku ditempat, kaget dengan jawaban ibunya sekaligus tidak percaya.


"Tidak mungkin, ibu tidak mungkin tega melakukannya." ucap Niko tambah histeris.


"Ibu yang membunuhnya Niko, ibu yang membunuhnya." teriak ibunya lagi lebih kencang sambil menangis karena Niko tidak percaya.


Bagai tersambar petir mendengar teriakan ibunya hingga menusuk memorinya diapun jadi terdiam.


"Ta..pi.. kenapa Bu?" tanya Niko terbata.


"Karena ibu tidak ingin hidup didunia ini lagi. Ibu akan membunuhnya dan membunuh ibu sendiri." jawabnya tergugu.


"Bu.. kenapa ibu melakukan ini? apa semua ini karena pria itu?" tanya anak laki-laki itu dingin saat mengingat sesosok lelaki yang membuat hidupnya serta ibu dan adiknya hancur.


Ibunya terdiam dan malah menangis kencang dapat dipastikan bahwa jawaban Niko benar, pria itu mempunyai andil besar atas tragedi ini.


Niko juga merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya walau dia masih kecil dia jadi semakin membenci dengan sosok pria itu yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri.


"Bu, berhentilah menangis hanya karena pria brengsek itu kita masih bisa melanjutkan hidup kita tanpa dia. Aku mohon Bu." kini Niko menangis kembali melihat ibunya masih terus menangis.


Lalu tiba-tiba ibu Niko mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan menusuk perutnya sendiri saat Niko lengah dan...

__ADS_1


jlebb...


ibu Niko berteriak tanpa suara dengan matanya yang melotot.


"Ibu....!" Niko terlambat kini dia mendekati ibunya.


"Ibu.. kenapa ibu benar-benar melakukan ini?"


"Ni ko ma af kan ibu. I bu per gi mem ba wa adik mu. Sua tu sa at kau a kan menge tahui sem unya. Te taplah hidup sam pai ke inginan mu ter capai dan hi dup ba ha gia lah de ngan orang yang ka mu cin tai." itulah pesan terakhir yang disampaikan ibu Niko sebelum akhirnya meninggal.


"Ibu....!"


"Ibu... jangan tinggalkan aku sendiri ibu..!"


"Anggara tunggu kau, aku berjanji akan membalas semua ini kau harus membayarnya." teriak Niko penuh amarah dengan mata yang memerah tersirat penuh dendam.


"Ibu.. ibu.. ibu.....!"


"Nik, Nik sadar Nik sadar." Anjas kawan setianya membangunkan Niko yang mimpi buruk dimalam hari dengan menepuk-nepuk pipinya.


Karena tepukan itu begitu keras sehingga membuat Niko terbangun dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya juga nafasnya yang tersengal-sengal.


"Nik, nih minum dulu!" Anjas menyodorkan minuman itu dan diteguk langsung oleh Niko hingga kandas.


Niko hanya mengangguk dengan keringat yang masih basah.


"Ya udah yang sabar suatu saat trauma ini akan segera berakhir hanya tinggal menunggu waktu saja." kata Anjas karena sudah dilakukan berbagai cara trauma dan mimpi buruk itu tetap saja tidak bisa hilang.


"Aku akan menemanimu sampai kau tertidur lagi." sambungnya lagi karena sudah menjadi kebiasaan mereka jika sudah malam dan jika Niko kambuh.


Niko mengusap wajahnya kasar, sungguh trauma yang sampai terbawa mimpi itu membuatnya sesak dan beban berat.


Kini Niko sudah beranjak dewasa dengan usia matang 28 tahun setelah tragedi masa lalunya yang membuatnya truma berat jika terus mengingatnya.


Setelah kejadian tragis itu Niko kecil memakamkan ibu dan adik tirinya dirumah gubuknya sendiri karena dia tidak mempunyai tetangga untuk membantunya jadi dia melakukan itu sendiri dan sebisanya, itupun memerlukan waktu seharian.


Karena Niko kecil tinggal didaerah paling pinggir antar hutan dan pemukiman warga yang sangat jauh.


Untunglah Niko anak pemberani dan mandiri jadi dia bisa melakukannya sendiri.


Setelah selesai Niko pun meninggalkan gubuk reyot itu yang meninggalkan banyak luka dan beralih kekota.

__ADS_1


Hingga suatu saat, saat dia sedang mengorek-ngorek tong sampah untuk mencari makanan Anjas yang juga masih kecil melihatnya kasihan diapun berinisiatif untuk membagi makanannya.


"Hai, ini untukmu." kata Anjas pada Niko.


Niko berhenti mengorek dan beralih pada yang berbicara dengannya.


"Aku punya roti, ini untukmu!"


Tanpa menjawab Niko langsung menyambarnya dan memakan habis roti itu karena saking laparnya.


"Pelan-pelan kau bisa tersedak." kata Anjas.


Setelah habis rupanya Niko masih kurang karena dia masih lapar diapun melihat roti yang sepotongnya belum dimakan Anjas dia pun memperhatikannya terus.


Anjas peka dia pun langsung memberikannya, "Kau mau lagi, ini!" diambil lah lagi roti itu dan dimakan habis.


"Ini airnya." Niko juga mengambil airnya dan meminumnya kandas.


"Terimakasih." barulah Niko bersuara.


"Sama-sama." balas Anjas tersenyum.


"Siapa namamu?" tanya Anjas.


"Aku Niko."


"Kenalkan aku Anjas." sambil mengulurkan tangan.


Dengan ragu-ragu Niko menjabat tangannya.


"Kau mau menjadi temanku." Niko mengangguk tanpa berfikir karena sudah yakin bahwa anak seusianya itu baik.


"Baiklah mulai hari ini kita berteman."


Pada saat itulah akhirnya Niko dan Anjas berteman hingga saat ini, karena setelah itu Niko dibawa kerumah Anjas dan tinggal bersamanya.


Niko menceritakan pada Anjas dan orang tuanya bahwa dia sebatang kara dan semua keluarganya meninggal dia sengaja tidak menceritakan kebenarannya karena dia tidak sanggup menceritakannya.


Keluarga Anjas memang baik mereka hidup harmonis dan sederhana ayah Anjas bekerja dipabrik dan ibu Anjas seorang penjahit dirumahnya dan Anjas adalah anak tunggal mereka jadi mereka sama sekali tidak keberatan dengan kedatangan Niko.


Anjas juga merasa senang akan kehadiran Niko dia jadi mempunyai teman yang sehati bahkan Niko disekolahkan diisekolah yang sama dengan Anjas.

__ADS_1


Hingga saat mereka SMA Niko merasa bersalah jika tidak menceritakan asal usulnya karena keluarga Anjas yang begitu baik.


Suatu hari Niko memberanikan diri untuk menceritakan semuanya pada keluarga baik itu dan untungnya mereka sangat memahami hal itu dan membuat Niko sedikit lega.


__ADS_2