
Akhirnya, Nurma berhasil menyelesaikan tesnya dengan mudah karena isi soalnya menyangkut kehidupan sehari-hari dan juga logika, serta karena dia cukup pintar dalam hal itu. Nita tidak menyangka bahwa Nurma bisa menyelesaikannya dengan cepat dan tepat, sehingga dia tinggal menyelesaikan ujian tak tertulisnya.
"Baiklah, kau lulus dalam tes ini. Selamat!" kata Nita dengan suara yang menenangkan hati Nurma yang mendadak was-was sejak tadi.
"Benarkah...?" senyum manis langsung terkembang di wajah Nurma.
"Jangan senang dulu, kau masih harus menjalankan tes tak tertulis, baru kau bisa menjadi pelayan pribadi untuk nona Alesya," tutur Nita datar.
Senyum Nurma langsung sirna dan dia melenguh tanpa sadar mendengar hal itu. Padahal hanya dia yang melamar, kenapa tidak langsung diterima saja sih, pikirnya kalau begini kan repot.
"Kau siap Nurma?" tanya Nita dengan senyum sinis untuk pertama kalinya karena merasa lucu dengan ekspresi Nurma yang terlihat pasrah.
Nita berfikir, baru kali ini dia menemukan orang yang yang apa adanya bahkan terkesan memperlihatkan sifatnya pada saat menurutnya penting. Padahal, untuk diterima, dia bisa melakukan berbagai cara sikap yang terlihat dia mampu melakukannya, istilah lainnya adalah cari muka.
"Kenapa aku tidak langsung diterima saja, Bu Nita? Kan hanya ada aku di sini, tanpa melakukan tes pun aku pasti diterima," ucapan dalam hatinya kini ia ungkapkan juga.
Nita terhenyak mendengarnya dengan secara terang-terangan Nurma berkata seperti itu. Tapi tidak apa, malah itu menarik baginya.
"Justru karena hanya satu, nona Alesya dan Nyonya Gina menginginkan yang terbaik dan tidak salah orang kalau tidak maka..." Nita sengaja menjeda membuat Nurma penasaran.
"Kau harus siap-siap pulang tinggal nama saja." lanjutnya dengan senyum sinis.
Nurma menelan ludah yang terasa kelu di tenggorokan mendengar kata "pulang tinggal nama saja."
"E...e... baik aku yakin aku bisa lolos," jawabnya takut-takut.
"Baiklah, ayo ikut aku!" ajak Nita.
__ADS_1
Nurma berjalan mengikuti Nita entah membawanya kemana, yang pasti dia membawanya ke tempat tes selanjutnya. Ternyata, Nita membawa Nurma ke tempat pelatihan, dan itu adalah tempat pelatihan para pengawal Tuan Anggara.
Saat sedang berjalan, mata Nurma tiba-tiba berhenti melihat sekumpulan para pria gagah dan tampan sedang bersiap-siap dengan pakaian kerjanya yang sangat rapih dan keren. Bahkan Nurma sangat terpesona dengan apa yang dilihatnya. Matanya berbinar melihat para pria itu sambil berjalan, hingga dia tidak sadar bahwa di depannya ada sebuah pot besar berdiam diri di sana yang akhirnya jadi oleng karena tak sengaja Nurma menabraknya, dan akhirnya pot itu berhasil jatuh.
"Hah...!" mata Nurma terkejut seketika sambil menutup mulutnya yang ternganga dengan dua tangannya, begitu juga Nita yang ekspresinya berubah cemas melihat pot kesayangan Nyonya Gina akan...
"Berhati-hatilah," sebuah suara berat yang mampu membuat Nurma terbungkam antara terkejut dan terpesona.
Setelah berkata seperti itu, suara itu melenggang pergi begitu saja tanpa melihat lawan bicaranya.
Rupanya, pot itu telah berhasil diselamatkan oleh pria itu yang tak lain adalah Niko yang kebetulan lewat dan secara reflek memegangi pot yang hampir jatuh itu, dan Nurma kini terselamatkan dari pemecatan sebelum di terima bekerja.
"Hampir saja," sambil mengelus dada, Nurma merasa sangat lega.
"Hey, terima kasih, pria tampan," kata Nurma berteriak karena Niko sudah berjalan jauh dan Nurma tidak tahu namanya, jadilah dia panggil tampan, tapi memang tampan.
"Kau selamat, Nurma. Lain kali hati-hati karena tidak ada toleransi untukmu yang masih baru," peringat Nita dengan datar.
"Sudahlah, ayo teruskan langkahmu," ucapnya kemudian.
Nurma pun mengikuti Nita dengan kepala masih menunduk, namun kemudian dia tersenyum sendiri kala membayangkan wajah Niko yang menyelamatkannya.
"Untung saja pria itu menyelamatkanku. Kalau tidak, entahlah aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku. Siapa ya pria itu? Dia lebih tampan dari yang lainnya," batin Nurma tersenyum sendiri.
"Fokuslah," ucap Nita dengan dingin karena melihat dengan ekor matanya Nurma yang tersenyum sendiri.
Nurma terkesiap, ekspresinya berubah serius karena ketahuan senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
"Dia peka sekali, mengerikan," ucapnya memandangi punggung Nita.
Akhirnya, segala rangkaian tes pun selesai dan Nurma telah berhasil melakukannya. Dia diterima sebagai pembantu atau pelayan pribadi Alesya.
"Akhirnya aku lulus juga, dan mulai besok aku bekerja. Jadi, hari ini aku mau mengambil barang-barangku dari rumah paman," celotehnya senang saat dirinya dinyatakan lulus.
Saat ingin pulang, dia melihat Niko, pria yang menyelamatkannya, sedang duduk diam sambil memperhatikan entah siapa, namun pandangannya lurus ke depan.
"Itu kan... sedang apa dia di sana?" tanya Nurma pada dirinya sendiri.
"Em, aku samperin boleh tidak ya! Sekedar untuk mengucapkan terima kasih," lanjutnya sambil berfikir.
Kemudian, Nurma berjalan perlahan. Dia penasaran mengapa Niko duduk sendirian di situ. Apakah dia sedang melamun atau sedang apa? Ah, kenapa Nurma jadi ingin tahu urusan orang.
Tetapi, saat sudah dekat, ternyata di sana ramai, dan Niko sedang mengawasi. Ternyata, di sana sedang melakukan syuting entah syuting apa, dan Nurma dapat melihat Alesya, meski dari kejauhan, sedang melakukan pekerjaannya sebagai model.
Sesaat, Nurma terpana dengan kecantikan seorang Alesya. Dari jauh saja, sudah terlihat cantik, apalagi dari dekat. Gadis itu tidak bisa berkata-kata karena bisa melihat idolanya secara langsung, bahkan setiap hari tanpa cela.
"Wah, cantiknya dia!" ucap Nurma dengan mata berbinar.
"Pasti hari-hari ku akan senang sekali karena selalu bertemu dengannya setiap saat. Ah, beruntungnya aku," lanjut Nurma, kedua tangannya menangkup kedua pipinya.
"Ah, aku jadi ingin melihat dari dekat," lanjut Nurma yang hendak berlari.
Namun, siapa sangka hal tak terduga terjadi karena kurang hati-hati dan terlalu antusias, Nurma menabrak orang yang sedang membawa ember air. Akibatnya, air tumpah dan mengenai Niko yang berada di sampingnya. Mereka berdua terkejut. Wajah Niko berubah dingin dan tampaknya marah, sehingga menarik perhatian para orang di sekitar mereka. Hanya sebentar, mereka kembali melakukan pekerjaan masing-masing.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja menabrak Anda," kata orang yang ditabrak Nurma sambil menunjuk padanya. Karena takut melihat wajah dingin Niko, orang tersebut buru-buru pergi sambil membawa embernya.
__ADS_1
Sementara itu, Nurma menggigit jari ketakutan dan juga ingin lari, namun seperti ada yang menahan dirinya. "Bagaimana ini, apakah sebaiknya aku lari?" ucapnya dalam hati sambil mondar-mandir. "Baru saja aku mau mengucapkan terima kasih, tetapi malah terjadi seperti ini. Tambah lagi, wajahnya yang tampan terlihat sangat dingin." tambahnya sambil wajahnya tampak cemas.
Niko akhirnya berdiri dan hendak mendekati Nurma dengan wajah dingin. Namun, karena pakaian dan wajahnya yang basah, Niko jadi lebih tampan dan seksi. Lalu, apa yang akan dilakukan Niko pada Nurma?.