
"Niko...,!" sebelum Niko datang mendekat, Alesya dari kejauhan sudah memanggil.
Kesempatan itu di buat Nurma berlari menjauhi Niko yang menengok ke asal suara, saat Niko berbalik ternyata Nurma sudah tidak ada dia hanya bisa mengatur nafasnya untuk tidak emosi di depan umum.
"Ada apa Niko? kenapa kau jadi basah begini?." tanya Alesya saat sudah dekat, Alesya jauh-jauh menghampiri Niko karena khawatir lebih tepatnya cari perhatian.
"Tidak ada apa-apa nona! tidak perlu nona kesini kembalilah ke tempat nona." tukas Niko tanpa menatap Alesya yang cantik.
"Tapi kau bagaimana?."
"Tidak perlu memikirkan ku nona, aku bisa mengurus diriku sendiri." jawab Niko berusaha lembut.
"Baiklah, tapi siapa yang membuatmu begini? bicara saja aku akan laporkan pada ayah." ucap Alesya masih memaksakan diri.
Niko merasa jengah karenanya tetapi dia masih berusaha menahan diri, "Tidak perlu itu tidak penting. Sebaiknya nona kembali aku juga ingin mengganti pakaianku sebentar."
Setelah berkata seperti itu Niko langsung berbalik pergi meninggalkan Alesya tanpa menunggu jawaban nya dan hal itu membuat Alesya sedikit kecewa. Tapi ya sudahlah dia pun berbalik kembali ke tempat syutingnya.
*****
"Hah... hah... hah... hampir saja." Nurma, gadis itu berhasil lolos dari tatapan tajam Niko, kemudian dia beristirahat setelah berlari.
"Dia tidak akan mengejar, kan." sambil menengok ke kanan dan kiri.
"Hah... Alhamdulillah sepertinya tidak, ini sudah jauh kan." katanya pada dirinya sendiri.
"Lebih baik sekarang aku pulang dan bawa barang-barang ku dari rumah paman." ucapnya lagi dan berjalan menuju ke halaman depan.
Akan tetapi sebelum dia mencapai gerbang samping yang berukuran kecil sebuah suara pria memanggilnya. Nurma terkesiap sesaat dia mengira pria itu mengikuti nya sampai kesini tapi dari suaranya merasa tidak asing jadi tidak mungkin jika dia pria itu. Nurma pun berbalik ternyata dia..
"Paman." ucap Nurma lega. Ternyata pamannya.
Johan berlari kecil menghampiri Nurma, "Nurma, mau kemana kau?." tanyanya saat sudah dekat.
"Paman, aku mau pulang." jawab Nurma singkat.
"Pulang. Apa kau tidak di terima di sini?". kata Johan merasa sedih.
"Tidak paman, aku di terima aku akan bekerja besok dan sekarang mau ke rumah paman mau mengambil barang-barang ku karena aku di suruh tinggal di sini." jawab Nurma panjang lebar.
"Oh... baiklah tapi siapa yang mengantarmu?."
"Aku bisa pulang sendiri kok paman." jawab Nurma bermaksud tidak merepotkan pamannya.
"Jangan, kau baru sekali kesini biar paman carikan seseorang untuk mengantar mu karena paman tidak bisa. Tunggu sebentar disini jangan kemana-mana." tutur Johan sambil berlalu.
Karena tidak enak menolak Nurma pun membiarkan pamannya berbuat seperti itu karena memang dia tidak tau daerah sini.
*****
__ADS_1
"Siapa yah yang bisa aku mintai tolong?." tanya Johan saat sudah di dalam, dia mencari-cari seseorang yang kiranya tidak sibuk.
Lalu tertuju lah matanya pada seorang pria tampan yang memakai kaos biasa dengan celana jeans meski hanya begitu pria itu tetap tampan walau di lihat dari mana saja.
Melihat pria itu yang sepertinya sedang santai Johan pun berinisiatif menghampiri nya.
"Niko bukan." kata Johan ternyata dia mengetahui namanya.
Niko melirik sesaat, "Ya, ada apa?." jawabnya datar.
"Em... begini paman ingin meminta tolong, bisakah kau mengantarkan keponakan paman." katanya dengan nada pelan.
"Kau sedang tidak sibuk kan." lanjutnya melirik pakaian Niko yang biasa saja karena menurut Johan biasanya jika bekerja Niko selalu memakai jas tapi ini tidak.
"Iya, aku bisa paman." jawab Niko, padahal dia sedang bekerja tapi demi untuk menghormati orang tua dia pun mau membantunya.
"Terimakasih nak! ayo ikut aku."
Mereka pun berjalan beriringan tak ada obrolan hanya saling diam karena memang Niko sangat irit berbicara hingga akhirnya mereka sampai di gerbang samping dimana Nurma masih setia menunggu namun terlihat kesal.
"Nurma." panggil paman Johan.
"Ya paman."
"Pergilah dengan nya, dia yang akan mengantar mu." ucap Johan menunjuk Niko.
"Paman, kena.. pa dia yang paman bawa?." tanya Nurma gugup pasalnya dia sudah menghindar tadi tetapi pamannya malah membawa nya ke hadapannya.
"Karena kebetulan hanya dia yang tidak sibuk dan kami tadi berpapasan." jawab Johan, padahal bukan berpapasan tetapi Johan yang melihatnya duluan.
"Ta- pi paman." lidahnya tiba-tiba kelu melihat wajah Niko yang dingin.
"Sudah tidak apa-apa ambilah barang mu." kata Johan menyela.
Mau tak mau Nurma tidak bisa menolaknya, lalu Johan mengambil motor nya dan di berikan pada Niko.
"Ayo cepat pergi dengan nak Niko!." kata Johan.
"Baik paman." Nurma hanya tersenyum kuda dengan hati-hati Nurma menaiki motor yang sudah di duduki Niko di depannya.
"Aku pergi dulu paman."
"Yah hati-hati!"
Johan sambil membuka pintu pagar mempersilahkan mereka pergi.
*****
Dalam perjalanan tak ada obrolan, karena sebenarnya Nurma merasa was-was, bahkan tubuhnya terus menegang saking tidak tenangnya. Niko sudah pasti menyadarinya dia malah mempercepat laju kendaraan nya.
__ADS_1
Sontak saja membuat Nurma terkejut sehingga tangannya yang tidak memegang apapun jadi reflek memegang pinggang Niko.
"Hey, jangan cepat-cepat bawanya kau sengaja yah!." teriak Nurma di telinga Niko.
"Aku tidak suka lambat." jawabnya datar dan tetap melaju dengan kencang.
"Hey.. memangnya kau pikir jalanan ini punya nenek moyang mu, pelan-pelan saja." oceh Nurma kini dia malah reflek memukul punggung Niko.
"Sudah kau diam saja!."
"Eh, memangnya kau tau dimana rumah pamanku?, asal jalan saja." Nurma masih tidak mau kalah.
"Aku bilang kau diam saja." gertak Niko langsung membuat Nurma terdiam.
'Galak sekali, untung tampan.' batinnya kesal.
Tak lama kemudian sampailah di rumah Johan.
"Sudah sampai." ucap Niko datar.
"Hah sampai cepat sekali. Kau tidak nyasar kan." tutur Nurma mendadak pusing.
"Lihat saja!."
"Nurma, kau sudah pulang." tanya Ratih mendekati Nurma yang memang ada di depan rumah.
"Eh bibi, iya aku pulang hanya untuk mengambil barang-barang ku karena aku di terima dan harus tinggal di sana." jawab Nurma menormalkan keadaan nya.
"Jadi kau di terima, selamat Nurma tapi.. kenapa harus sekarang beres-beres nya." kata Ratih sedikit kecewa karena Nurma akan langsung pergi.
"Iya bibi, aturannya memang seperti itu dan besok aku sudah mulai bekerja." jawab Nurma tersenyum.
"Hm.. padahal bibi dan si kembar masih rindu denganmu"
"Ya sudah tidak apa-apa ayo masuk bibi akan membantumu." lanjutnya menggandeng lengan Nurma.
"Eh tunggu! bi, ayo masuk aku masih harus membereskan baju-baju ku dulu." ucap Nurma menunjuk Niko dengan matanya.
"Tidak perlu aku disini saja." jawab Niko datar.
"Wah... tampan nya dia siapa Nurma bibi kok baru engeh ada pria tampan di depan bibi." ucap Ratih sampai terpana dengan ketampanan Niko.
"Dia pekerja di rumah itu juga bibi". jawab Nurma pelan.
"Ayo tampan masuk tidak baik menunggu di luar." kata bibi mengabaikan Nurma dan menggandeng lengan Niko.
"Ah bibi liat yang bening-bening saja sudah kalap." sungut Nurma kesal.
Mereka pun masuk dan Nurma segera membereskan barang-barang nya.
__ADS_1