Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 12


__ADS_3

Meski jenuh menunggu namun Niko tetap berada di tempat berdiam diri tanpa sepatah katapun bahkan tersenyum pun tidak, tetapi balik lagi meski dia begitu jika parasnya tampan maka akan terlihat sangat cool dan berkharisma.


"Ini minumnya pria tampan, silahkan di minum!." ucap Ratih meletakkan minuman sambil cengengesan di depan Niko.


"Terimakasih, saya tidak haus." jawab Niko singkat.


Mendengar suara Niko yang begitu berat dan seksi semakin menambah Ratih kegirangan.


"Namamu siapa tampan?." tapi Niko tidak menjawab.


"Perkenalkan aku bibi nya Nurma panggil saja bibi Ratih dan bibi setuju sekali jika kau menjadi suami dari keponakan ku." lanjut Ratih meski tak di respon tapi dia tetap berceloteh.


Mendengar itu Niko hanya tersenyum kecil sangat kecil hingga tak terlihat oleh Ratih saat itu juga Nurma datang dengan membawa tas besarnya.


"Bibi bicara apa sih?" Nurma menyela karena tak suka dengan celotehan bibi nya yang asal.


"Hey, siapa tau kan kalian berdua ini berjodoh." lanjutnya dengan senyum simpul.


"Jangan dengarkan bibi ku, dia memang suka asal bicara." kata Nurma tersenyum keki merasa tak enak hati pada Niko.


"Ya sudah ayo kita kembali aku sudah selesai." Nurma memilih menyudahi dan menghindari bibinya dari pada bibi nya bicaranya semakin ngawur.


"Eh, cepat sekali bibi kan belum selesai ngobrol."


"Tahun depan saja yah bi ngobrol nya." kata Nurma sambil menarik tangan Niko.


Sedang Niko hanya diam saja tak menanggapi ataupun mengiyakan.


"Eh,, tunggu!." sambil mengikuti mereka berdua ke depan.


"Hati-hati, nak Niko jaga calon istrimu yah!" teriak Ratih membuat Nurma sangat malu.


'Ihh apa an si bibi ini membuatku malu saja.' ucap Nurma dalam hati sambil menunduk.

__ADS_1


Lagi-lagi Niko diam tanpa ekspresi membuat Nurma sangat kesal candaan itu tidak mempan untuknya.


'Ini laki-laki apa sih! dingin sekali, kaku serem pula huh..,' celoteh Nurma dalam hati.


"Kau mau kembali atau disini saja." ucap Niko melihat Nurma yang diam saja.


Nurma terkesiap, "Iya, aku kembali. Ya sudah bibi aku pamit yah!."


"Iya hati-hati yah!."


Setelah berpamitan dengan bibi Ratih, Nurma dan Niko pun kembali ke rumah besar tuan Anggara. Dalam perjalanan tak ada sepatah pun kata yang keluar dari mulut mereka berdua namun sebenarnya Nurma gatal ingin bicara hanya saja lawan bicaranya sangat kaku dan cuek jadilah dia hanya bersungut-sungut sendiri.


Hingga sampailah mereka di rumah besar itu melalui pintu samping, satpam sudah membukakan pintu untuk mereka. Niko memarkirkan kendaraan Johan pada tempatnya, memberikan kunci pada Nurma dan langsung melenggang pergi begitu saja membuat Nurma melongo melihat pria tampan yang sangat cuek dan dingin.


"Hey..., terimakasih sudah mengantar." meski begitu Nurma tetap berterimakasih pada Niko meski Niko tidak menjawab hanya melirik sekilas lalu melanjutkan langkahnya.


"Benar-benar pria itu dingin sekali, cuek juga awas saja yah nanti ku buat kau klepek-klepek denganku." kata Nurma tanpa sadar kemudian berbalik arah menuju tempatnya.


*****


"Aku tadi sedang ada urusan nona." jawab Niko datar.


"Urusan. Urusan apa dengan siapa? bukannya kau hanya bekerja dengan ku, lalu kenapa kau tidak bilang padaku." tanya Alesya lagi seolah-olah dia harus tau tentang Niko semuanya.


"Maaf nona, aku memang bekerja denganmu akan tetapi urusan itu menyangkut hal pribadi dan hal pribadi tidak boleh orang lain tau". jawab Niko dingin.


Alesya hanya terdiam sambil melipat tangannya di dada mendapatkan jawaban yang sangat tidak di sukainya. Niko sangat berbeda dari pria yang mengenalnya biasanya pria-pria lain akan senang jika di perhatikan oleh nya yang memang sudah di juluki sang primadona.


"Apa ada yang bisa aku bantu nona?". meski begitu Niko masih tetap berusaha meladeni.


"Tentu saja aku butuh bantuan mu. Antarkan aku ke ke tempat Charli aku ada janji dengannya." ucap Alesya. Charli adalah bos dari perusahaan kosmetik yang merekrut Alesya untuk produk terbarunya.


"Baik nona". dengan sigap Niko mengiyakan.

__ADS_1


"Ya sudah ayo". Alesya maju duluan dan Niko mengikuti nya.


*****


"Nurma, ini kamar mu bekerja lah dengan benar dan serius." kata Nita menyerahkan kunci kamar yang akan di tempati Nurma.


"Terimakasih Bu, saya akan bekerja dengan sebaik mungkin bu" Nurma menerima kunci itu dengan menunduk sopan.


Nita hanya mengangguk, "Baiklah beristirahat lah hari ini dan besok mulai bekerja dan ini pelajarilah tugasmu". Nita memberikan sebuah buku agenda tentang keseharian Alesya dari bangun tidur hingga terlelap yang harus di pelajari oleh Nurma.


"Baik Bu". Nurma mengambil buku itu yang tidak tebal dan juga tidak tipis.


"Kalau begitu aku pergi dulu".


"Iya Bu terimakasih".


Nurma menghela nafas pelan lalu dia membuka pintu kamar itu dan terbuka lah, Nurma langsung masuk tak lupa menutup pintu kembali dia menaruh tasnya di kasur yang cukup empuk berukuran satu orang.


Kamarnya lumayan nyaman dan bersih terdapat lemari meja rias beserta kursinya terdapat juga kipas angin yang terletak di dindingnya.


Dibagian samping nya terdapat jendela, Nurma melangkah maju mendekati jendela itu, dia kemudian sedikit membuka jendela nya, di hadapan nya langsung terhampar pemandangan yang menyejukkan mata di mana dia dapat melihat para pria tampan dan gagah yang sedang beristirahat setelah latihan karena memang posisi kamarnya yang paling ujung yang berhadapan dengan tempat pelatihan sekaligus tempat beristirahat para pengawal tuan Anggara.


"Wah... beruntungnya aku bisa melihat pemandangan bagus terus setiap hari". mata Nurma berbinar melihat para pria gagah itu sedang bersantai sambil menikmati kopi nya.


Memang letaknya cukup jauh namun masih tetap terlihat karena tak ada apapun yang menghalangi jarak pandangnya.


"Kenapa aku jadi ngiler yah melihat bodi mereka? jadi pengen punya pacar atau suami kayak gitu". gumam Nurma senyum-senyum sendiri masih memperhatikan para pria itu.


"Hey, Nurma sadar disini niatmu bekerja bukan untuk melihat mereka. Ya ampun...!" Nurma menggeplak pipinya sendiri karena kebiasaan nya yang suka berkyahal.


"Maaf Bu, yah Nurma tidak sengaja tapi kalau jodoh Nurma ada di salah satu di antara mereka asal baik Nurma tidak akan menolak kok hehe". ucapnya cengengesan sendiri.


"Sudah ah, tutup nanti ketauan malu aku". kemudian dia pun menutup kembali jendelanya dan merapikan bajunya ke lemari sebelum akhirnya dia tertidur karena kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2