Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 5


__ADS_3

"Mbak...!" teriak dua orang anak kecil laki-laki.


Gadis manis itu menoleh, "Eh... Al Al sini sini." sambil merentangkan tangan.


anak kembar itu memeluk Nurma dengan erat


"Mbak, Al kangen."


"Iya mbak juga kangen."


"Mbak kapan nyampe?"


"Barusan."


"Nurma." panggil pa'de Johan.


"Pa'de. Pa'de bagaimana kabarnya?".


"Pa'de baik, kamu sendiri?".


"Baik juga pa'de."


"Kenapa tidak minta jemput pa'de? jadinya kan tidak diantar kakek." kata Johan terkikik, karena tadi sudah diceritakan istrinya melalui pesan ponsel.


"Ah bude cerita yah!" Nurma merajuk.


"Ya habis lucu, jadi bude ceritain deh." ucap bude nya yang muncul membawakan minum untuk suaminya.


"Apa mah?, mbak Nurma kenapa?" tanya Aldo


"Mbakmu ini tadi kesini diantar sama kakek pikun, dibawa muter-muter jadi baru nyampe sekarang." jelas Ratih pada kedua anaknya.


Anaknya langsung tertawa mendengarnya membuat Nurma semakin cemberut.


"Ya sudah, mendingan kamu istirahat bude sudah siapin kamar buat kamu diruang tengah itu." tunjuk Ratih didalam ruangan.


"Ya udah mending aku istirahat. Awas loh yah Aldo Aldi kita belum selesai." ucap Nurma dengan dua jari menunjuk matanya dan diarahkan pada adik kembarnya.


Sedangkan adik kembarnya hanya cengengesan.


*****


"Tidak... mama...!!!". teriak Alesya dipagi hari mengagetkan seluruh penghuni rumah besar itu karena suaranya sangat nyaring.


"Eh itu nona Alesya kenapa teriak-teriak?" tanya salah satu pelayan yang heran.

__ADS_1


"Mana ku tau." jawab temannya menggedikkan bahu.


"Nik, ternyata Alesya nyaring juga yah suaranya teriakannya sampai terdengar kesini." kata Anjas yang ikut mendengar.


"Kau lupa dia kan seorang penyanyi." balas Niko datar sambil merapihkan seragamnya karena hari ini mulai bekerja.


"Oh iya benar juga. Hey tapi kau sudah rapih sekali aku saja baru bangun." tutur Anjas melihat Niko.


"Itu urusanmu, aku keluar dulu". jawabnya cuek lalu pergi.


"Hah, punya temen satu cueknya minta ampun." Anjas menghela nafas karena sifat Niko tapi itu tidak masalah baginya karena sudah terbiasa.


Anjaspun bergegas bersiap-siap memulai pekerjaannya.


Mendengar teriakan Alesya tuan Anggara dan istrinya Gina berlari menghampiri kamar putrinya beserta pelayan-pelayan pribadinya.


"Ada apa sayang? pagi-pagi sudah teriak." tanya Gina menghampiri putrinya.


"Iya, kau membuat ayah kaget saja." tambah Anggara.


"Ayah, mamah lihat!". Alesya menunjukkan gaunnya yang sudah rusak sobek pada bagian samping.


Hal itu tentu saja membuat semua yang ada di situ terkejut bukan main pasalnya baju itu yang akan dikenakan hari ini untuk acara penobatan.


Dan gaun itu sudah dirancang jauh-jauh hari oleh desainer nya namun mendadak hari H gaun itu malah rusak.


"Iya mah, tapi gaunnya malah begini." Alesya menangis tak tau harus berbuat apa.


Tuan Anggara mengepalkan tangan dan merebut gaun itu dari Gina lalu menatap tajam pada pelayang dibelakangnya yang menunduk takut.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Anggara dengan intonasi rendah namun penuh penekanan.


Pelayan tidak ada yang menjawab masih menunduk takut disertai gemetaran.


"Saya ulangi sekali lagi, jika tidak ada yang mau mengaku maka keluarga kalian yang akan kena imbasnya. Jadi cepat siapa yang melakukan ini? saya berjanji hanya akan memecat saja." tanya Anggara lagi dengan memancing.


Akhirnya setelah berkata seperti itu, salah satu pelayan mengangkat tangannya.


Anggara tersenyum smirk.


"Jadi.. kenapa kau melakukannya?".


"A.. ku a..ku hanya disuruh." jawab pelayan itu dengan terbata tangannya sudah berkeringat dingin.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Anggara tangannya seperti sudah gatal ingin melakukan sesuatu.

__ADS_1


"Em...!" pelayan itu tidak mampu menjawab.


"Baiklah tidak apa-apa, satu pertanyaanku apakah dia menyuruhmu lagi?" Anggara mengerti lalu bertanya lagi dengan nada datar


"I..ya."


"Apa kau sudah melakukannya?"


"Be..lum."


"Hem.. bagus tidak apa aku maafkan dan kau hanya aku pecat saja sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran."


Mendengar itu membuat pelayan itu merasa lega dia mendongakkan wajahnya dan tersenyum.


"Terimakasih tuan, anda sangat baik." tuan Anggara hanya tersenyum menanggapinya.


"Yah...!" Alesya ingin menyela tidak terima keputusan ayahnya namun di tahan oleh Gina istrinya itu seperti sudah tau apa yang akan terjadi.


lalu tiba-tiba...


Dorr


Sebuah peluru menancap dipunggung pelayan itu saat berbalik hingga langsung menewaskan sontak saja hal itu membuat kaget semuanya tapi tidak dengan Gina dia nampak biasa saja.


Alesya menutup mulutnya tak percaya bahwa ayahnya akan menembak mati pelayan itu dengan begitu entengnya. Sedang pelayan yang lain mendadak gemetar seluruh tubuhnya melihat penembakan didepan matanya langsung.


"Kalian lihat, ini akibatnya jika bermain-main denganku dan menyakiti putriku. Apa kalian ingin seperti ini?" tanya Anggara seperti mengintimidasi pelayan lain.


"Tidak tuan." jawab mereka serempak.


"Bagus. Dan sekarang tugas kalian tutup mata dan telinga kalian atas apa yang terjadi sekarang jika kalian membuka suara maka bukan hanya kalian yang mati tapi keluarga kalian juga akan terkena akibatnya, kalian mengerti!" ancam Anggara dengan bengis.


"Baik tuan."


"Pergi." usir Anggara pada para pelayan itu.


Setelah itu Anggara menelfon seseorang.


"Halo. datang ke kamar Alesya dan bersihkan ruangan kamarnya." perintahnya langsung menutup telfon.


"Ayah, ayah membunuhnya." tanya Alesya yang masih terkejut karena selama ini belum pernah melihat ayahnya yang seperti ini.


"Tidak apa-apa ini hanya hukuman. supaya yang lain tidak melakukan hal serupa.". jawab Anggara sesantai mungkin.


"Tapi yah dia.." ucapan Alesya dipotong oleh Gina.

__ADS_1


"Sudah tidak apa-apa, lebih baik kita cari gaun yang lebih indah." kata Gina memberi saran.


Dan ternyata dibalik itu semua ada seseorang yang tengah menikmati pertunjukkan itu dengan tersenyum miring.


__ADS_2