Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 9


__ADS_3

Keesokan harinya Nurma datang dengan pamannya menggunakan motor kendaraan paman Johan. Johan masuk melalui pintu samping rumah mewah tuan Anggara dari depan memang tidak terlihat bagaimana bentuk rumahnya karena terhalang pagar besi yang menjulang tinggi jadi Nurma masih biasa saja.


Namun dirinya begitu terpana saat sudah memasuki kawasan rumah bahkan bisa di bilang sebuah mansion karena sangat luas dan megah, gadis itu bahkan masih ternganga sepanjang jalan hingga motor paman Johan memasuki area belakang mansion yang dikhususkan untuk para pekerja.


Johan lalu memarkirkan motornya di halaman gedung yang terbanyak banyak kendaraan dia lalu turun dan menyuruh Nurma untuk mengikutinya.


"Nurma, ayo! ikut paman." panggil Johan dengan isyarat dagunya.


Nurma yang masih terpana bahkan seperti orang linglung pun menyahut sang paman.


"Oh iya paman." Nurma pun mengikuti langkah paman nya.


"Paman, aku benar-benar tidak menyangka rumah ini besar juga yah. Kalau aku lupa jalan, sudah pasti aku akan nyasar." lanjut Nurma namun pandangan nya tetap pada di sekeliling nya.


"Ya namanya juga rumah orang kaya apalagi ayah dari artis ini seorang jenderal besar." sahut Johan bangga.


"Apa? jendral." Nurma terkesiap karena idolanya tudak hanya multitalenta tetapi juga seorang anak jenderal.


"Wah... aku jadi makin kagum." lanjut Nurma.


"Sudah kagumnya nanti saja, sekarang ayo kita ketemu nyonya besar." lanjut Johan mengakhiri perbincangannya dan menuju ke tempat dimana nyonya Gina berada.


"Paman kenapa tidak sampai-sampai? perasaan jalan terus." ucap Nurma di sela-sela menuju ke tempat majikan baru nya, dia bukan lelah tetapi hanya kesal saja.


"Nyonya Gina berada di ruangan utama dan kita dari arah belakang, jadi harus jalan terlebih dahulu untuk sampai kesana." jawab Johan.


Nurma mengernyitkan alisnya kalau ternyata nyonya nya ada di depan ngapain harus jalan ke belakang dulu.


"Paman ini bagaimana sih! kenapa tadi kita tidak lewat depan saja biar cepat sampai." kata Nurma bersungut.


"Kau ini tidak mengerti yah! ini sudah peraturan jadi harus di taati jangan membantah apalagi mengeluh. Mengerti!." cetus Paman memberi pengertian pada ponakannya.


"Hem.. begitu yah! peraturan yang sangat merepotkan." gumam Nurma tersenyum tipis.


"Apa kau bilang?." tanya Johan karena tidak mendengar gumaman Nurma.


"Eh... ti tidak aku tidak mengatakan apa-apa. Ayo Paman lanjut lagi." kata Nurma memamerkan giginya dan tangannya merentang ke depan menyuruh pamannya jalan kembali karena reflek berhenti.


Pamannya pun lanjut berjalan lagi dan Nurma hanya menyungging kan senyumnya.


*****


"Permisi nyonya, selamat pagi." sapa Johan ramah sedikit membungkuk pada Gina yang berdiri di depannya.


Gina yang mendengar suara Johan segera mendongak dan menghentikan aktivitas nya membaca majalah. Dia menatap Johan dan Nurma secara bergantian.

__ADS_1


Nurma hanya bisa tersenyum saat Gina menatap nya tanpa berkedip.


"Selamat pagi nyonya!". sapa Nurma mengikuti cara pamannya.


"Pagi." jawab Gina datar.


"Nyonya ini Nurma keponakan saya yang saya ceritakan tempo hari." ucap Johan ramah.


"Oh ini keponakan mu." Gina menelisik Nurma dari atas sampai bawah membuat Nurma merasa risih.


"Em... keponakan mu cantik juga tapi... tidak lebih cantik dari anakku." ucap Gina kemudian tetap anaknya yang menjadi kebanggaan nya.


"Terimakasih nyonya, memang nona Alesya sangat cantik juga pintar dan saya sangat mengidolakan nya." ucap Nurma kelepasan.


Paman Johan hanya menggeleng kan kepalanya.


"Jadi kau penggemar anakku?."


"Iya nyonya. Dan saya sangat senang saat mendapat tawaran ini tanpa berpikir lagi aku menerima nya." seru Nurma sangat antusias.


"Bagus lah jika begitu saya juga senang mendengarnya."


"Jadi... kapan saya bisa bekerja?". tanya Nurma tidak sabar.


Berbeda dengan Nurma yang begitu semangat, " Baik nyonya saya pasti berhasil."


"Bagus. Ketua Li..!" panggil nya pada orang kepercayaan nya.


"Saya Nyonya." yang di panggil langsung hormat menghadap nyonya Gina.


"Li, aku serahkan dia padamu dan urus semuanya." perintah nya pada Li.


"Baik nyonya." lelaki berusia sekitar 50 tahunan itu mengangguk hormat.


"Mari.. ikut saya!." kata Li pada Nurma.


Nurma yang bengong karena melihat lelaki di depannya yang sangat gagah dan berkharisma tapi sudah tua.


"Eh.. iya!." dia sempat melirik pamannya untuk memastikan dan pamannya mengangguk mengiyakan.


"Dan kau Johan antarkan aku."


"Baik nyonya."


Mereka pun berpisah di tempat dan tujuan yang berbeda.

__ADS_1


*****


Saat Nurma mengikuti ketua Li, dia melewati dimana tempat berkumpulnya para pengawal tuan Anggara bersemayam, tak ayal dari mereka ada yang keluar dan tentu saja itu membuat Nurma terkejut sekaligus terpana.


'Wah tampan sekali, badannya bagus pula dan tempat itu seperti markas, apa di sana banyak yang tinggal yah karena kan pemilik rumah ini seorang jenderal. Mungkin saja itu berarti akan ada banyak pria tampan di sini ah... senang nya aku jadi makin cantik sendiri disini. Eh aku lupa anaknya jendral kan juga cantik ah Nurma kau ini jangan banyak berkhayal.'


"Kau. Nurma." Nurma langsung tersentak namanya di panggil dengan lumayan keras.


"I iya ketua Li saya Nurma." jawab Nurma gugup.


"Fokuslah jika ingin bekerja disini." kata nya dengan nada datar.


"Iya ketua maaf." ucap Nurma merasa bersalah karena tadi sempat terpedaya.


"Sekarang masuk ke ruangan ini di sana sudah ada orang yang menunggumu." katanya kemudian menunjuk ruangan di depannya.


"Iya."


Nurma pun memasuki ruangan itu dimana di sana sudah ada seorang wanita yang duduk dengan ekspresi sama datar seperti ketua Li sungguh apakah disini semua orang terlihat serius semua tak ada sifat ramah apalagi senyum.


"Permisi selamat pagi!" sapa Nurma hati-hati.


Wanita itu mendongak, "Kau yang bernama Nurma Anastasia."


"Iya itu nama saya."


"Duduklah, aku akan memberikan tes padamu dan kau harus mempelajari nya dan harus lulus jika ingin bekerja disini dan patuhilah semua perintah." ucap wanita itu dengan tegas.


"Baik Bu.."


"Panggil saya Bu Nita." tukas wanita itu yang menyebutkan namanya sendiri.


"Baik Bu Nita."


"Waktumu satu jam untuk menyelesaikan tes ini dan memulai tes selanjutnya." tutur Nita dengan memberikan selembaran kertas pada Nurma.


"Satu jam." ulang Nurma, rasanya waktu yang diberi sedikit sekali apakah dirinya bisa menyelesaikan nya.


"Iya hanya satu jam dan ini hanya soal mudah jadi cepat kerjakan." kata Nita dengan tegas.


Nurma menelan ludah, saat melihat jumlah soal yang di berikan begitu banyak dan soalnya pun di luar logika bukan tentang pelajaran yang Nurma tau saat di tes bekerja.


'Aku pasti bisa ini soal mudah yah sangat mudah.' ucap Nurma dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


Nurma pun dengan hikmat menelisik setiap soal dan menjawabnya dengan yang di anggap benar dan Bu Nita hanya duduk diam sambil mengamati.

__ADS_1


__ADS_2