Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 4


__ADS_3

"Pak, bisa tolong antarkan saya ke alamat ini!". ucap seorang gadis pada tukang ojek.


Tukang ojek melihat alamat itu dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh, alamat ini tidak jauh." kata tukang ojek sambil mengembalikkan kertas itu.


Gadis itu tampak sumringah, "Wah benarkah! baiklah antar saya kalau begitu."


Dengan sigap gadis itu langsung menaiki motor tukang ojek itu dan menaruh tas besarnya ditengah-tengah.


"Siap mbak."


"Siap.."


Motorpun melaju ditengah keramaian kota menuju tempat yang dituju dialamat itu.


Tak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai ditujuan.


"Sudah sampai pak!" sambil turun dari motor.


"Sudah, tuh gapuranya tinggal masuk dan tanya dimana rumah pak Johan." saran tukang ojek karena melihat ada nama Johan disitu.


"Baiklah, terimakasih! ini ongkosnya." gadis itu memberikan uang secukupnya untuk membayar ojek itu.


Setelah menerima ojek itu pun pergi dengan senang karena sudah mendapat pelanggan.


Gadis itu menyusuri jalanan kecil itu dan melihat-lihat sekelilingnya, saat masuk gapura ternyata disana ramai banyak orang yang sedang diluar rumah melakukan aktifitas masing-masing, karena gadis itu sampainya sore jadi para warga banyak yang berada diluar sekedar untuk bersenggama dengan tetangga lain.


Saat kedatangan seorang gadis yang asing ke wilayah mereka, gadis itu menjadi pusat perhatian karena wajahnya yang cantik dan kulitnya yang putih meski penampilannya terlihat biasa saja bahkan terkesan kampungan.


Gadis itu pun menjadi salah tingkah dan memberikan senyum kepada mereka sambil melewati padahal ingin bertanya tapi sudah malu duluan.


Tiba diujung dia melihat seorang kakek yang sedang berjalan sendirian, ini dia saatnya untuk bertanya.


"Maaf kek, permisi numpang tanya tau rumahnya bapak Johan dan istrinya Ratih." ucap gadis itu menghentikan sang kakek.


Kakek itu melihat keatas sedang mengingat nama yang disebutkan oleh gadis cantik ini.


"Oh... tau dan kebetulan rumah saya dekat dengan rumah nya dan sekarang saya mau pulang. Ayo ikut kakek saja." kata kakek itu sambil menatap lama sang gadis.

__ADS_1


Sang gadis merasa risih ditatap seperti itu dan ragu juga dengan ucapannya, namun cobalah dulu jika kakek ini berbohong kan dia bisa teriak.


"Ayu kek, kakek jalan duluan kalau begitu." sambil senyum risih sang gadis menyuruh kakek jalan duluan.


"Tidak apa-apa kita jalan bersama kakek ini masih sendiri jadi tidak ada yang cemburu." ucapan ngawur kakek membuat gelak tawa pada dirinya sendiri sedang sang gadis hanya nyengir.


Didalam benaknya benar tidak yah dia meminta tolong pada kakek ini.


Sepanjang jalan kakek itu terus mengoceh yang tidak jelas membuat gadis itu jengah dan ingin segera sampai tapi tidak sampai-sampai katanya sudah dekat.


Tiba-tiba


"Kakek." ada yang memanggil sang kakek.


"Kakek kemana saja kami serumah mencari kakek. Kakek kalau sudah sore jangan suka keluyuran begini kan akibatnya lupa jalan pulang." itu sang cucuk yang mengkhawatirkan kakeknya yang ternyata pikun.


Gadis itu hanya terbengong saat mengetahui ternyata dia salah orang untuk bertanya.


"Cu, ini nenekmu cantik kan." kata kake itu sambil menunjuk gadis itu.


Gadis itu terkesiap karena dirinya ditunjuk menjadi nenek.


"Maaf ya mbak ini kakek saya, kakek saya ini pikun padahal nenekku masih ada." kata sang cucu merasa tidak enak.


"Iya tidak apa-apa." kata gadis berusaha baik-baik saja padahal dihatinya sudah dongkol.


"Tapi ngomong-ngomong mbak ini siapa dan mau kemana? sepertinya saya belum pernah lihat." kata cucu itu menelisik wajah dan penampilan sang gadis.


"Aku dari desa sedang mencari paman dan bibiku yang tinggal disini namanya Johan dan Ratih." ungkap nya berharap kali ini benar.


"Johan dan Ratih yang punya bayi kembar laki-laki."


"Iya betul."


"Wah itu sih kelewat mbak, rumahnya itu disana yang pagarnya cat hitam." kata cucu itu menjelaskan.


"Hahh jadi aku dari tadi kebablasan." kata sang gadis badannya merosot ke bawah karena lelah.


"Sekali lagi maaf yah mbak, kami pergi dulu.!" cucu itu langsung pergi sambil membawa kakek nya dan merasa tidak enak pada gadis itu.

__ADS_1


"Hah sabar... sabar..."


Sepuluh menit kemudian


"Nurma....!" teriak seorang wanita dewasa berlari memeluk gadis yang dipanggil Nurma itu.


"Akhirnya kamu sampai juga, ayo masuk."


"Bude Ratih aku kangen bude." balas gadis yang ternyata bernama Nurma itu sambil memeluk.


"Kenapa kamu lama sekali nyampenya?" tanya bude Ratih melepas pelukan.


Nurma masuk dengan lunglai dan duduk di sofa ruang tamu sambil menyandarkan punggungnya lelah.


"Hah... bude asal bude tau tadi itu aku ketemu kakek pikun dan dibawa jalan-jalan, untung saja ketemu sama cucunya kalau tidak mungkin tidak akan sampai kesini." cerita Nurma panjang lebar.


Ratih malah tertawa mendengar cerita keponakannya.


"Bude kok malah tertawa."


"Habisnya lucu, baru kesini sudah ada cerita gimana nanti."


"Ah bude tidak seru." Nurma cemberut sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


"Tidak apa-apa, kakek itu baik kok cuma pikun saja."


"Dari tadi ngobrol terus, tenggorokan aku kering nih." Nurma memberi isyarat memegangi lehernya.


"Ya ampun bude lupa, ya udah bude ambil minuman dulu yah!"


"Sekalian sama makannya yah laper nih!" karena sudah merasa dekat jadi Nurma tidak sungkan dengan bude Ratih.


"Tenang." jawab Ratih sambil mengacungkan jempol.


Karena sebelum bude nya merantau, bude nya lah yang merawat Nurma dari kecil semenjak bayi hingga kehilangan ibunya dan ketika sudah menikah dan Nurma sudah besar budenya diboyong ke Jakarta oleh suaminya dan mempunyai anak kembar laki-laki yang sekarang berusia 5 tahun.


"Bude, paman Aldo sama Aldi mana?" tanya Nurma saat budenya belum jauh.


"Pamanmu sebentar lagi pulang, Aldo Aldi sedang dirumah neneknya, paling sebentar lagi pulang dijemput ayahnya karena tau mbaknya datang." jawabnya sambil menenteng minuman dan cemilan.

__ADS_1


"Pasti mereka gemoy deh tidak sabar mau cubit." kata Nurma sudah membayangkan dua adik sepupu kembarnya.


__ADS_2