Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 8


__ADS_3

"Alesya, dia sudah tiba sebelum waktu yang di tentukan, nanti malam kau temui dia di tempat ini, kau pasti tidak akan menyesal jika sudah bertemu dengannya." ucap Gina di sela waktu istirahat Alesya sambil menunjukkan sebuah kartu.


Gina sengaja mendatangi putrinya di lokasi syuting hanya untuk memberi kabar kedatangan Leon.


"Apa mah? secepat ini." Alesya terkejut pasalnya anak teman mamahnya ini sangat cepat sekali datang padahal dia tidak ingin bertemu.


"Iya dia sengaja mempercepat waktu nya datang kesini. Emm.. mungkin juga dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak mamah yang cantik ini." Gina menggoda dengan mencolek dagu Alesya.


"Ah mamah apaan sih!" Alesya menepis tangan mamah nya karena malu di sekitarnya banyak orang.


"Tapi aku males mah! bisa tidak di tunda dulu." kata Alesya dengan memelas.


"Hey.. tidak bisa dia itu orang sibuk, ini kesempatan untukmu jika media tau kau dekat dengannya maka popularitas mu akan meningkat drastis." kata ibu nya dengan berbisik.


"Tapi mah...!"


"Sudah tidak ada tapi-tapian sekarang juga kau harus ke salon berdandan yang cantik sebelum bertemu dengannya." Gina menarik tangan putrinya yang terlihat malas.


"Tapi mah pekerjaan ku gimana?"


"Kau handle dulu, ini lebih penting dari apapun mamah sengaja kesini untuk menjemputmu." ucap Gina kekeh.


Dengan terpaksa Alesya menuruti kemauan ibunya yang harus menemui Leon.


*****


Di malam hari di keluarga Johan, mereka sedang makan malam bersama, lalu Johan mengawali pembicaraan.


"Nurma, besok kau ikut paman yah! kau akan mengikuti tes." ucap Johan menatap Nurma.


"Di tes paman, menjadi seorang pembantu pun harus di tes." tanya Nurma heran.


"Hm.. ini bukan sembarang menjadi pembantu kau tau kau akan di tes menjadi pelayan pribadi seorang artis terkenal." kata pamannya dengan bangga.


"Seorang artis." Nurma terkejut begitu mengetahui kalo dia akan bekerja di rumah seorang artis.


"Iya artis, kau tau artis Alesya putri." tanya Johan.


Nurma mengangguk antusias, "Aku tau paman, asal paman tau dia adalah artis idolaku, kenapa paman tidak bilang dari kemarin-kemarin kalo aku akan bekerja dengannya." Nurma heboh sekali dia berteriak-teriak sampai membuat Johan, Ratih dan si kembar melongo di buatnya.


"Mana paman tau jika kau mengidolakannya." ucap pamannya ngeri melihat kelakuan keponakan nya.


"Iya kau juga tidak bilang jika dia idolamu." tambah Ratih dengan wajah pias.


Nurma memanyunkan bibirnya tapi sedetik kemudian dia tersenyum senang, "Tapi tidak apa, ini sungguh sebuah anugerah tanpa di duga aku akan bertemu dengannya secara langsung."


"Ayo, kita lanjut makan lagi." kata Nurma kemudian membuat keluarga itu manggut-manggut dan melanjutkan makan malamnya yang sederhana.


*****


Leon sudah menunggu Alesya di sebuah restoran paling mewah di kota metropolitan ini dia juga sudah memesan makanan dan minuman yang sudah tersaji.


Karena Leon tipe orang yang tidak ingin menawari dan memberi pilihan pada lawannya dia lebih senang jika dirinya sendiri yang menentukan.

__ADS_1


Tak lama kemudian Alesya datang dengan penampilan yang sangat cantik dan anggun, dia memberikan kartu pada penjaga di sana.


"Di sana nona, dia sudah menunggu anda." kata penjaga itu ramah.


"Terimakasih." jawab Alesya tersenyum manis.


Lalu dia melihat seorang pria yang sedang duduk sendiri membelakanginya, dia sudah menduga itu pasti orang nya karena dia sudah di beri tahu bahwa Leon memakai jas berwarna biru cerah.


Alesya berjalan mendekati lalu menyapanya, "Hai aku Alesya, apa kau yang bernama Leon." ucap Alesya dengan mengulurkan tangan dan masih berdiri.


Leon mendongak saat ada suara wanita nya menyapanya.


Seketika Alesya terpesona matanya tak berhenti berkedip, jantungnya tiba-tiba berdetak.


'Ya ampun tampan sekali, aku tidak menyangka ternyata asli nya sangat tampan berbeda dengan fotonya. Aah.. aku jadi di lema mana Niko juga tampan pula.' batinnya gemas karena pria yang akan di jodohkan nya tak kalah tampan dari Niko.


"Ya aku Leon, silahkan duduk." jawab Leon dengan suara bariton nya.


'Unch.. suaranya bikin jantung ini lemes.'


"Oh iya terimakasih."


"Kau Alesya putri."


"Iya aku Alesya." Alesya menjawab dengan malu-malu.


"Apa kau sudah tau? kenapa kita di pertemukan?." tanya Leon.


"Iya aku sudah tau." jawabnya pelan.


"Ah! jawaban apa? apa harus secepat ini." ucap Alesya kalang kabut.


Leon tersenyum samar, "Kau tidak perlu gugup begitu, aku hanya becanda."


"Hah! syukurlah." Alesya bernafas lega sambil tangannya mengelus dadanya.


"Aku akan menetap di sini jadi kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal."


"Ah! benar kita memang perlu mengenal." kata Alesya masih gugup.


'Tapi kenapa di lain hatiku mengatakan secepatnya menikah juga tidak apa-apa. Ah.. Alesya lalu Niko mau kemana kan.' ucapnya dalam hati sambil memukul kepalanya.


"Kau kenapa?." tanya Leon datar.


"Ah! tidak tidak , aku tidak apa-apa." jawab Alesya bingung sendiri dengan tingkahnya.


"Apa benar kau belum memiliki kekasih? rasanya tidak mungkin seorang Alesya yang cantik sempurna ini belum memiliki kekasih." ujar Leon sambil menyesap minuman nya.


"Ah kau ini bisa saja, aku memang belum punya kekasih tetapi lelaki yang mengejar ku entah tak terhitung." jawab Alesya membanggakan diri.


Leon tersenyum tipis, "Jadi kau pemilih kah?."


"Tidak juga, hanya belum menemukan yang tertarik di hatiku."

__ADS_1


"Lalu apakah aku menarik di hatimu?." tanya Leon dengan memajukan wajahnya yang tampan.


Alesya langsung memundurkan tubuhnya karena tak kuat dengan pesona Leon dari dekat sungguh sangat tampan.


"Emm.. aku tidak tau." jawab Alesya gugup padahal dia pun tidak bisa memungkiri bahwa dirinya tertarik dengan Leon.


Leon kembali tersenyum, dia dapat melihat kegugupan Alesya dia juga tau kalau Alesya tidak dapat menolaknya.


"Baiklah, tidak apa-apa! aku akan menunggu.


Jadi sekarang lebih baik santap lah makanan ini." ucap Leon kemudian.


"Iya, terimakasih." kata Alesya masih gugup.


'Sepertinya dia sangat mudah untuk di permainkan.' ucap Leon dalam hati dengan senyum tipis memandang Alesya.


Alesya yang dipandang seperti itu tambah gugup dengan jantung yang bertalu-talu.


*****


Acara makan malam pun selesai kini Leon dan Alesya bergegas pulang.


"Alesya, aku minta maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang, karena aku ada urusan mendadak." ujar Leon saat berada di luar restoran.


"Oh! tidak apa-apa, aku membawa bodyguard ku." kata Alesya tapi tadi bukan Niko yang mengantar.


"Oh baiklah!, aku lega kalau begitu."


"Nona mobil sudah siap." Niko datang di tengah-tengah mereka membuat keduanya menoleh.


'Hah Niko!' Alesya kaget wajahnya seperti orang yang terciduk sedang selingkuh dan ketauan pasangan nya padahal mereka tidak ada hubungan.


"Kau bodyguard nya." tanya Leon memandang Niko.


"Iya tuan, aku Bodyguard nona Alesya." jawab Niko ramah dan tegas.


'Kenapa tidak aku suaminya? ah aku sangat bingung pilih siapa dua-duanya aku suka.' ucap Alesya memandang Niko dan Leon bergantian dengan hati yang dag dig dug.


Sedang Leon menatap Niko dengan datar dan mengintimidasi seolah Niko adalah musuhnya namun Niko malah balas memandangnya tanpa rasa takut.


Karena biasanya jika hanya seorang pengawal tak berani bertatapan dengannya tapi Niko malah tak ada sedikitpun wajah tegang membuat Leon tersenyum samar.


Alesya yang melihat keduanya hanya saling tatap tambah membuatnya terpesona dan berbangga diri.


'Mereka pasti sedang membicarakan ku dalam hatinya. Aaa.. aku tidak menyangka akan di perebutkan dua pangeran tampan.' ucapnya dalam hati sangat percaya diri.


Padahal mereka berdua sedang meneliti satu sama lain.


"Baiklah aku pergi, jaga dia baik-baik." kata Leon kemudian.


"Baik tuan."


"Ayo Nona kita pulang."

__ADS_1


"Ah.. iya ayo pulang."


Akhirnya mereka semua pulang dan Alesya di sini yang paling bahagia karena bertemu dengan dua pria pujaan nya.


__ADS_2