Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 7


__ADS_3

Malam hari saat makan malam di keluarga Johan.


"Nurma,!" panggil Johan pelan.


Nurma berhenti makan untuk menjawab panggilan pamannya, "Iya paman."


"Kau mau tidak bekerja di tempat paman?." kata pamannya menawarkan dan istrinya Ratih menyimak pembicaraan mereka.


"Mau paman, kerja apa?." Nurma sangat antusias mendengarnya.


"Kerja sebagai pembantu rumah tangga, kebetulan pembantu di tempat kerja paman ada yang meninggal dan majikan paman membutuhkan penggantinya. Kau mau Nur?." jelas pamannya menawarkan pekerjaan pada Nurma.


"Mau paman, mau sekali." jawab Nurma senang sekali sudah mendapatkan tawaran pekerjaan.


"Tidak apa-apa sebagai pembantu." ujar Johan takut jika Nurma keberatan.


"Tidak apa-apa paman pembantu atau pelayan atau apa lah itu yang penting halal." jawab Nurma tersenyum.


"Tapi bukankah kau mau kuliah juga di sini." ujar Ratih ikut menimpali.


"Iya bi, tapi aku belum ada biaya aku mau kerja dulu dan mengumpulkan uang setelah itu aku akan kuliah." jawab Nurma, karena memang tujuannya datang ke kota bukan hanya untuk bekerja saja namun juga untuk belajar.


"Kalau kau ingin kuliah, paman bisa membiayai mu." tukas Johan ingin membantu.


"Tidak usah paman, paman sudah mau menerima ku di sini saja aku sudah senang, aku tidak mau merepotkan paman." jawab Nurma, sungguh dia tidak ingin membebani keluarga baik ini.


"Tapi Nurma, sepertinya kau tidak akan tinggal disini." ucap Johan membuat Nurma dan Ratih langsung menatapnya bingung.


"Kenapa paman?."


"Ya karena sudah pasti kau akan tinggal di sana." jawab Johan.


"Hah.. aku kira kau tidak mengijinkan keponakan ku untuk tinggal disini." ucap Ratih sedikit was-was.


"Aku tidak seperti yang kau pikirkan Bu,." ucap Johan menatap Ratih.


"Kau tidak apa tinggal di sana." tanya Johan kembali menatap Nurma.


"Iya tidak masalah paman, aku orangnya santai kok malah aku senang dengan suasana baru." jawab Nurma tersenyum manis.


"Baguslah kalau begitu besok paman akan bicara dengan majikan paman dan akan langsung mengabari mu." ujar Johan balas tersenyum.


"Sekarang lanjutkan makannya." titah Johan kemudian mereka pun lalu melanjutkan makan yang tertunda.


*****


Di pagi hari di kediaman rumah Anggara yang bak istana sangat besar dan mewah dan banyak juga yang tinggal di sana selain sang pemilik juga para pekerja dan para pengawal tuan Anggara.


Johan bekerja sebagai supir pribadinya istri dari tuan Anggara nyonya Gina dia bekerja tidak sampai larut malam dan bisa pulang pergi.


Dan hari ini Johan pergi mengantar Gina ke kantor nya, Gina memiliki usaha sendiri yang di modal kan oleh Anggara, Gina bergerak di bidang kecantikan dia mempunyai tempat usaha kecantikan, menjual berbagai macam produk kecantikan dan juga make up.


Usahanya ini terbilang sukses dan terkenal karena yang memakai pun para artis terkenal papan atas serta para pejabat tinggi dia pun mempunyai beberapa cabang baik di kota maupun di luar kota.


Saat di dalam mobil Johan berinisiatif berbicara duluan, karena majikannya ini meski diam sangat menakutkan jika tidak hati-hati.


"Maaf nyonya boleh saya bicara?." tanya Johan hati-hati.


Gina menoleh pada Johan, "Ya katakan saja."


"Tawaran untuk pekerjaan yang kemarin, apa masih ada nyonya?."


"Yah ada, kenapa?."

__ADS_1


"Saya punya keponakan perempuan yang butuh pekerjaan dia baru lulus SMA datang dari desa untuk mencari pekerjaan." terang Johan menatap Gina lewat kaca spion depan.


"Berapa usianya?" tanya Gina datar.


"Usianya kalau tidak salah 19 tahun." jawab Johan dengan terus mengemudi.


"Em.. baiklah besok bawa dia kemari sebelum dia di terima bekerja dia harus menjalankan tes terlebih dahulu.


Bagaimana kau mau?."


"Baik nyonya saya akan memberi tahu keponakan saya."


"Siapa namanya?." tanya Gina.


"Nurma nyonya Nurma Anastasia." jawab Johan senang.


"Baiklah bawa saja." kata Gina dengan ekspresi biasa saja.


"Terimakasih nyonya." ucap Johan senang, dia tidak sabar ingin segera memberi tahu Nurma.


*****


Seorang pria tampan turun dari bandara, dia memakai jas mewah yang membalut sempurna di tubuh tinggi tegapnya.


Dia berjalan ke arah mobil yang terparkir tidak jauh darinya.


Lalu pria itu masuk ke dalam mobil setelah supir nya membukakan pintu.


Dia membuka kaca mata hitamnya yang menutupi mata biru nya yang indah.


"Antar kan aku ke apartemen." ucap nya dengan suara beratnya.


"Baik tuan."


Foto seorang wanita cantik pun terpampang dengan jelas yang dikirim oleh ibunya juga tertulis sebuah kalimat bertuliskan.


'Leon, kau harus bertemu dengannya oke mommy sudah membicarakan hal ini dengan sahabat mommy kau jangan sampai mengecewakan mommy yah! lagi pula anak gadisnya sangat cantik kau pasti tidak akan menyesal.'


Begitulah kalimat yang di utarakan ibu dari pria yang bernama Leon itu.


Leon mendesah pelan tak membalas pesan ibu nya dia langsung mematikan ponselnya dan memasukkan nya kembali ke saku jas nya.


"Aku memang tidak menyesal untuk datang kesini karena aku mempunyai tujuan tersendiri." gumam Leon tersenyum miring.


Karena Leon, pria itu dia datang dari luar negri sedang mengincar seseorang di sini dan kebetulan orang yang di incar nya sangat dia kenali.


Dia juga terpaksa menerima tawaran kencan buta dengan Alesya supaya ibu nya tidak mencurigainya.


Dan sebenarnya dia juga tidak tertarik dengan Alesya yang cantik dan seksi karena yang seperti itu dia sudah mendapatkan di negara nya.


Saat supir sedang fokus mengendarai tiba-tiba saja seorang gadis yang sedang berjalan menyebrang dan hanya melihat di satu sisi tidak melihat di belakangnya sehingga membuat mobil yang di kendarai Leon berhenti mendadak membuat kepala Leon tersungkur.


"Aaaaa...." teriak gadis itu karena tubuhnya terserempet mobil dan membuatnya jatuh.


"Astaga." ucap sopir itu spontan.


"Sialan,," ucap Leon marah karena keningnya terbentur.


"Maaf tuan aku menabrak seorang gadis, aku akan mengeceknya dulu." ucap supir itu meminta ijin.


"Cepatlah." jawab Leon tidak peduli.


"Baik tuan."

__ADS_1


Supir itu pun keluar untuk melihat.


"Nona anda tidak apa-apa?." tanya supir pada gadis di depan nya.


"Mobilmu menyerempet ku, siku ku berdarah. Lihat." gadis itu memperlihatkan sikunya yang terluka.


"Maaf nona saya sedang terburu-buru, eh ini... (sambil mengeluarkan uang dalam dompet) ambilah untuk kerugian nona." supir itu memberikan sejumlah uang pada gadis itu.


"Hey, lama sekali kau." teriak Leon membuka kaca mobil dan melongokkan kepalanya.


"Iya tuan."


"Beri saja dia uang, gembel sepertinya memang cari alasan sengaja menabrakan diri. Dasar payah." ucap Leon begitu kasar sehingga menyinggung gadis itu yang tak lain adalah Nurma.


Saat itu Nurma di ajak bibi nya ke pasar namun di perjalanan dia terpisah karena Nurma sedang melihat toko pakaian dari luar, deretan gaun yang di gunakan manekin itu membuatnya tertarik sampai tidak menyadari jika bibinya sudah tidak ada.


Saat itu Ratih juga sedang menerima telfon jadi tidak menyadari jika Nurma ketinggalan.


Saat sadar jika bibinya tidak ada Nurma pun mencari sampai dia hendak menyebrang tapi tidak melihat dibelakang nya alhasil dia jadi terserempet dan terjatuh.


Mendengar hinaan dari Leon, Nurma berdiri hilang sudah rasa sakitnya dia mengambil uang dari supir dan menghampiri Leon.


Dengan menahan emosi dia melemparkan sejumlah uang itu tepat di wajah Leon membuat Leon begitu terkejut bukan main.


"Aku tidak butuh uang darimu, dan gembel sepertiku lebih terhormat dari pada pada orang ber jas sepertimu yang sombong dan arogan." ucap Nurma dengan nada tinggi.


Nurma pun langsung pergi setelah meluapkan kekesalannya.


"Eh..Tuan apa saya harus melakukan sesuatu dengan gadis itu." supir itu menawarkan dengan perasaan cemas karen tuan nya telah dimarahi oleh seorang gadis biasa.


"Tidak perlu, biarkan saja." jawab Leon membuat supir itu kebingungan karena tadi saja marah-marah sekarang kenapa diam saja saat gadis itu melemparkan uang ke mukanya.


"Baiklah." supir pun kembali masuk mobil dan melajukannya.


Supir itu tidak tau saja di balik itu Leon tersenyum miring sangat menakutkan, dia juga sebenarnya tidak menyangka akan ada gadis yang tidak terpesona dengannya saat berjumpa pertama kali tapi malah memarahinya balik sungguh membuat jiwa nya tertarik untuk bermain.


'Jika aku bertemu denganmu lagi, maka kau tidak akan lepas dariku.' ucap Leon dalam hati menandai Nurma.


Di lain sisi Ratih menemukan Nurma sedang marah-marah sendiri di pinggir jalan.


"Nurma...!" panggilnya kemudian.


Nurma menoleh merasa bersyukur bisa bertemu kembali dengan bibi nya.


"Bibi..!"


"Nur, kau dari mana saja bibi mencari mu kemana-mana." tanya Ratih cemas memegang kedua tangan Nurma.


"Siku mu kenapa berdarah gini?." tanya lagi saat melihat siku Nurma berdarah.


"Tadi aku sedang melihat toko pakaian dari luar aku terlalu fokus sampai tidak melihat bibi lalu saat aku sadar dan ingin mencari bibi aku ingin menyeberang tapi aku malah terserempet jadi begini deh.!" Nurma menceritakan kejadian nya dengan detail.


"Tapi kenapa kau marah-marah? apa yang menabrak mu lari begitu saja." tanya Ratih melihat Nurma yang bersungut-sungut.


"Tidak, tapi bibi dia menghinaku dia bilang aku gembel yang sedang mencari alasan menabrakkan diri untuk mencari uang. Kejam tidak tuh!" jelas Nurma masih emosi.


"Ya sudah tidak usah di pikirkan anggap saja kau buang sial. Lebih baik kita minum sop durian yuk! emosimu ini pasti hilang." kata Ratih, sungguh tawaran yang tidak bisa Nurma tolak.


"Wah.. ide bagus itu bi. Ayo bi kita tancap." Nurma kembali semangat saat di ajaki makan sop durian.


"Hah dasar Nurma. Ayo!."


Mereka pun kini pergi ke tempat penjual sop durian langganan Ratih dan Johan.

__ADS_1


__ADS_2