Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik

Pengawal Tampan Dan Pembantu Cantik
Bab 3


__ADS_3

"Wow ternyata Alesya cantik sekali yah!" kata Anjas masih membayangi wajah Alesya saat tadi turun ke lapangan.


Mereka kini sudah berada dirumah belakang rumah khusus untuk para pekerja tuan Anggara.


Anjas dan Niko kedapatan satu kamar berdua karena mereka yang meminta supaya jika ada sesuatu mereka lebih mudah untuk konfirmasi.


"Hey malah diam, kau tidak mendengarku yah.!" Anjas melempar bantal tepat mengenai wajah Niko yang sedang diam.


"Sialan, aku bukan diam tapi aku sedang memikirkan cara." balas Niko.


"Sudahlah urusan itu nanti saja kita bahas, kita ini baru sampai mendingan kita istirahat dulu dan besok mulai kerja." tukas Anjas karena belum apa-apa Niko sudah memikirkannya.


Saat memasuki rumah itu Niko selalu menatap Anggara supaya dia balas menatapnya namun Anggara sama sekali tidak menatapnya.


Tapi tidak apa itu tidak jadi masalah untuknya justru dia senang jika Anggara tidak mengenalinya jadi rencananya akan berjalan lebih mudah.


*****


"Alesya, kenapa tadi kau turun ke lapangan dengan memakai pakaian mini seperti itu?".


tanya Anggara saat sedang santai duduk bersama Alesya.


"Memangnya tidak boleh pah, bukankah aku memang selalu berpakaian seperti ini." jawab Alesya tidak merasa bersalah.


"Tidak Alesya, pasti kau sedang tertarik dengan seseorang." tebak Anggara dan Alesya malah senyum-senyum sendiri.


"Jadi benar tebakan papah." melihat putrinya yang tersenyum malu membuat dugaannya benar.


"Heem...!" Alesya hanya berdehem namun tersirat dari wajahnya menandakan bahwa dirinya sedang jatuh cinta.


"Secepat itu nak!." kata Anggara merasa Alesya ini begitu cepat menyukai seorang pria.


"Memangnya kenapa pah? sebelumnya aku tidak pernah merasakan ini dan ini pertama kalinya saat aku hanya melihat wajahnya saja jantung ini terasa berdetak." papar Alesya sambil menyentuh dadanya dan membayangkan wajah Niko.


"Tapi siapa pria itu nak?" tanya Anggara.


"Papah tau kok." dan langsung melenggang pergi membiarkan ayahnya dibalut rasa penasaran.


"Nak, kenapa kau pergi begitu saja? kau belum memberi tahu siapa pria itu." ucap Anggara sedikit keras karena Alesya mulai menjauh.

__ADS_1


Tapi Alesya tidak menyahut dirinya langsung naik tangga sambil senyum-senyum sendiri.


Lalu datanglah Gina yang keheranan melihat tingkah ayah dan anak itu.


"Ada apa pah? kenapa papah teriak-teriak?". tanya Gina duduk disamping suaminya.


"Sepertinya putri kita sedang jatuh cinta." ucap Anggara tanpa menatap Gina.


"What jatuh cinta dengan siapa? statusnya apa? siapa orang tuanya? bekerja di perusahaan mana dan apa kelebihannya." cerocos Gina saat tau putrinya jatuh cinta sampai ditanya sedetail itu.


"Gina, kau senang atau sedang mengintrogasi. Banyak sekali bicaramu." Anggara kesal dengan celotehan istrinya sampai mengorek telinganya karena Gina bicara tepat ditelinganya.


"Aku kan hanya bertanya." Gina cemberut karena Anggara mengomelinya.


"Sudahlah karena ini pertama kalinya putri kita jatuh cinta jadi biarkanlah siapapun pria itu dan asal usulnya jangan dipermasalahkan karena jika kau mengungkit sesuatu yang disukai anak kita maka siap-siaplah lah kau akan kehilangan putrimu. Mengerti." ucap Anggara telak lalu pergi meninggalkan Gina sedangkan Gina hanya menganga bingung mau menjawab apa.


Padahal dia ingin bertanya kesitu tapi suaminya sudah lebih dulu menebak alhasil dia jadi kesal sendiri.


*****


Makan siang tiba Anjas dan Niko beserta para pengawal yang lain sedang menikmati makan siang mereka disebuah saung yang rindang dan disampingnya terdapat kolam ikan yang lumayan besar.


"Hai semuanya." sapa Alesya lembut.


"Haii..!" jawab mereka serentak kecuali Niko yang santai sambil menikmati makan siangnya.


Sepertinya hanya Niko yang tidak tertarik dengan Alesya padahal Alesya termasuk wanita dengan standar kecantikan.


Jelas saja karena Niko tau jika Alesya adalah adik tirinya, jadi tidak mungkin dia menyukai adiknya sendiri.


"Aku bawakan ini untuk kalian semua, ini masih segar cocok sebagai penutup makan." kata Alesya lagi sambil meletakkan keranjang buah itu dimeja dekat Niko.


Lalu Alesya duduk didekat Niko.


"Hai, namamu siapa? kau kah yang akan menjadi pengawal pribadiku." tanya Alesya pada Niko dengan tersenyum.


Anjas yang disampingnya menyikut lengan Niko yang seolah tidak peduli.


Niko mengangakat wajahnya setelah disikut Anjas dan seketika Alesya langsung terpesona dengan jantung yang berdetak kencang serta taburan bunga-bunga disekeliling kepalanya.

__ADS_1


"Kau bertanya padaku nona?" kata Niko biasa saja membuat heran para pengawal yang lain tapi Anjas tidak karena dia tau alasannya.


"Ah.. iya aku bertanya padamu." karena terpesona membuat Alesya menjadi gugup.


"Namamu siapa? apa kau yang akan menjadi pengawal pribadiku?" tanya Alesya lagi.


"Panggil saja aku Niko dan aku yang akan menjadi pengawal pribadimu. Apa kau keberatan?".


"Ah tidak tidak, sama sekali tidak aku justru senang." Alesya langsung bereaksi saat Niko menjawab seperti itu.


'Aduh... kenapa aku jadi gugup begini? didepan ribuan orang aku tidak gugup dan malu tapi kenapa didepan satu orang ini aku merasa gugup dan malu sekali.' batin Alesya sambil meremas jarinya sendiri.


"Ada apa nona? apa ada yang bisa aku bantu?". tanya Niko menatap Alesya membuat Alesya tambah gugup.


"Tidak ada apa-apa, kalau begitu aku pergi dulu silahkan dilanjutkan lagi, permisi." saking gugupnya Alesya jadi salah tingkah dan memilih pergi.


"Nik, wanita cantik gitu dianggurin." kata salah satu teman pengawal yang bernama Erik dengan tatapan tak biasa.


"Iya atau jangan-jangan kau tidak suka wanita." tambah teman Erik yang bernama Tomi dengan wajah sinis.


"Aku suka wanita, tapi dia bukan tipeku." jawab Niko datar tanpa menatap mereka.


Semuanya terkejut dengan jawaban Niko bisa-bisanya Alesya yang sudah sempurna seperti itu bukan tipenya, rabunkah.


"Memangnya seperti apa tipemu?" tanya Erik.


"Mudah, hanya yang mampu membuat jantungku berdetak setiap memikirkannya dan membuatku tidak tahan ingin langsung menikahinya." jawab Niko santai.


"Semudah itu berarti nona itu tidak mampu membuat jantungmu berdetak. Aku jadi penasaran siapa wanita itu." lanjut Erik sambil melipat tangan di dada.


"Sudahlah untuk apa kau menanyai itu, apa urusanmu?" kata Anjas kesal karena sedari tadi Erik dan Tomi dari awal seperti tidak suka dengan Niko.


Erik dan Tomi tidak menjawab mereka hanya mencomot buah masing-masing lalu memilih pergi.


Niko hanya diam tak peduli tatapannya tetap lurus kedepan.


*****


"Benarkah ini alamatnya, aku tidak salahkan." gumam seorang gadis sambil menenteng tas besar dan melihat secarik kertas ditangannya.

__ADS_1


"Sepertinya benar." gumamnya lagi.


__ADS_2