
So Young POV
" Baiklah aku sudah selesai makan, terimakasih atas makanan dan tumpangan tidurnya seonsaengnim. Permisi " Aku membungkuk seraya tersenyum.
Aku berjalan menuju pintu keluar dan meninggalkan nya sendirian." Ah " tiba-tiba lenganku ditarik olehnya. Ekspresi ku berubah seketika menjadi heran.
" we? " (Kenapa) Tanyaku heran.
" Tinggal lah disini " Ucapnya dengan ekspresi datar
Omo! dasar bicik gila! kenapa aku harus tinggal satu atap dengannya?, Batinku bingung. " Apa?, tinggal satu atap denganmu? Wah haha, wah jinjah yang benar saja. Tapi kenapa? " Dia memalingkan pandangannya lalu menekuk kedua tangannya di dada.
" Kalau kau ingin ku pecat silahkan saja " Ucapnya meninggalkan ku. " Apa? " Sontak aku melotot karena ucapannya. " Tu...tunggu seonsaengnim " teriakku seraya mengejarnya.
" Baiklah mulai sekarang saya akan tinggal dengan anda. Tapi dengan sebuah syarat " Seketika ia melirikku heran. Melihat ekspresi wajahnya, muncul pikiran licik di kepalaku. " Ah jinjah, Baiklah. Apa? Cepat katakan " Sahutnya cepat.
" Hmm, berikan aku satu kamar tidur khusus dan kendaraan sendiri, lalu...
__ADS_1
" Permintaan ditolak " selesai berbicara seperti itu, ia langsung pergi meninggalkanku sendirian. " Apa! Ya! kau tak boleh seperti itu, aku tak mau satu kamar denganmu! " Teriakku kencang.
BRAKK!!!
" Suara apa itu? " Gumamku pelan.
Ah, sa...sakit sekali, kenapa dadaku sa... sakit. Apa ini? ke...kenapa, batinnya kesakitan.
" Arghhh seonsaengnim, kau tak apa? Omo mukamu pucat sekali. Apa kau sakit? Ayo aku bantu berdiri Ahhh " Ucapku seraya membantu.
" To...tolong ambilkan suntikan di..di laci itu " tunjuk nya pada sebuah laci.
" Ini seonsaengnim, seonsaengnim!! bicaralah! buka matamu! seonsaengnim!!! Ah hiks....ottoke? su..suntikan nya, aku harus menyuntikkan nya. Bertahanlah seonsaengnim! Hufft " teriakku histeris
DAM!!
" Ah " Tiba-tiba ia membuka mata, lalu ia memandangi wajahku. Di..dia bisa menyuntikkan nya? apa dia adalah takdir yang hilang? apa dia seseorang yang dikirim oleh dewa? tapi apakah benar? jika memang benar, apa aku akan menghilang jika mencintainya? apa ini hanya tipuan saja? Entahlah, apapun itu terimakasih dewa (batin Kim Woo Bin)
__ADS_1
" Ahh seonsaengnim, kau sudah sadar. Hiks.... syukurlah aku sangat takut hiks... " Ia hanya menatap tanpa berkata, lalu memegang pipiku seraya meneteskan air mata. " Seonsaengnim, apa ada yang sakit? " Tanyaku sedikit khawatir. Ia menggeleng cepat lalu mengatakan " Tetaplah di sisiku, jangan pernah meninggalkanku sendiri "
Deg!
Flashback On
" Ibu jangan tinggalkan aku sendirian hikss....Hiksss... aku takut, tetaplah di sisiku. Ii...Ibuuuu huuh aku tak punya siapapun lagi, jangan pergi Hiksss aaaa "
(10 tahun yang lalu, ayahku adalah seorang yang gila akan judi. Kerjaannya hanya berjudi sepanjang hari tanpa henti. Suatu hari, ia berjudi dengan seorang pria tua kaya, lalu ayahku kalah judi dan tak bisa membayarnya. Dengan teganya, ia mengorbankan ku sebagai bayaran nya. Ia menyuruhku melayani pria tua itu, sebagai bayaran agar ayahku terbebas dari hutang. Tentu saja Ibuku tak setuju akan ide gila ayahku. Ketika ayahku memaksa agar aku melakukan hal keji itu, Ibuku menolak keras dan menghalaunya agar tak membawaku pergi ke pria tua itu. Terjadi cekcok yang cukup panjang, sampai akhirnya ibuku memukul kepala ayahku dengan pot keramik hingga berdarah. Ibuku menyuruhku lari sejauh mungkin dari hadapan ayahku, tapi aku tak mau meninggalkan nya sendirian. Jadi aku memutuskan untuk bersembunyi di lemari baju. Dan BRAKK!!! Arghhh!!, dadaku sesak, ku tahan Isak ku dengan menutup mulut. Pikiranku melayang entah kemana ketika mendengar suara teriakan sakit ibuku. Aku tak berdaya dan tak tau harus apa selain bersembunyi, aku ketakutan sekali. Beberapa jam kemudian aku tak mendengar suaranya lagi, lalu aku memutuskan untuk keluar dari persembunyian dan hari itu aku kehilangan sosok seorang ibu. Saat itu, aku membenci diriku dan ayahku! Mulai hari itu juga, aku memutuskan hubungan dengan ayahku dan tak pernah menganggap nya sebagai ayah kandungku)
Ucapannya sontak membuatku melotot, dan kaget. Aku mematung, mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya. Kenapa aku jadi teringat ibu?, Batinku sesak. Setelah cukup lama mematung aku hanya mengangguk pelan seraya membantunya berdiri.
Tak terasa air mata jatuh cepat ke pipiku. Entah karena sakit akan masa lalu, atau sakit melihatnya lemah hari itu.
bersambung.....
🍁🍁🍁🍁🍁
__ADS_1
Hayoo dipantau terus next episode nya 💋 tapi jangan lupa like komen and vote nya ya reader. Dukung author terus iyaaaa.
G. Night and stay safe in home ya 🤗😊