Penghangat Ranjang Tuan Tampan

Penghangat Ranjang Tuan Tampan
Awal Dari Semuanya


__ADS_3

"Tidak, jangan bawa putraku!" Jeritan seseorang terdengar saat beberapa pria bertubuh kekar dan berwajah garang siap membawa paksa seorang pria bernama Evans–putranya.


"Pa, tolong! Hentikan mereka! Jangan biarkan mereka membawa putraku!" pinta wanita paruh baya itu menghampiri suaminya yang terdiam lemah tak lagi dapat menahan pria-pria itu untuk membawa putra mereka.


Tak mendapat bantuan dari suaminya, sang istri kembali menghampiri para pria yang siap membawa Evans dan kembali memohon pada pria itu, membuat siapapun yang melihat akan merasa terenyuh hatinya termasuk seorang wanita cantik yang diam-diam memperhatikan semua itu sejak tadi, kecuali para pria yang tak mempunyai hati nurani itu.


"Tunggu!" ucap seorang wanita yang sedari tadi mengintip semua itu dari dalam rumah.


Wanita itu adalah Sunny Angelita. Kedua orang tua dan saudaranya–Evans sudah meminta Sunny untuk tetap berada di dalam rumah sebab mereka tidak ingin mata jahat pria-pria itu beralih pada Sunny, gadis dengan paras yang bisa dikatakan sangat cantik tersebut.


"Sunny. Masuk!" perintah Evans saat menatap adiknya keluar dari rumah.


Sunny sama sekali tak menghentikan langkahnya, dia justru semakin mendekat pada beberapa pria yang mulai melepaskan tangan mereka dari Evans dan beralih menatap gadis cantik yang menghampiri mereka.


"Jangan berani menatap adikku dengan mata jahat kalian!" bentak Evans dengan cepat menyembunyikan Sunny di balik punggungnya.


"Kalian menyimpan berlian. Berikan dia padaku jika ingin aku menganggap selesai kasus ini," sahut seorang pria yang sedari tadi diam memperhatikan dari dalam mobil, mendekat menghampiri semua orang.


Beberapa pria bertubuh kekar itu memberi jalan untuk pria yang kemungkinan besar adalah atasan mereka. "Tidak Tuan. Jangan berani mendekat!" ancam Evans melihat mantan atasannya menatap penuh minat pada Sunny–adiknya.

__ADS_1


"Kamu ingin semua ini selesai dengan mudah?" tanya pria itu mulai mencoba membuat kesepakatan yang jelas dapat dimengerti oleh Evans


"Penjarakan saja aku. Kalian salah besar jika berpikir aku akan menuruti kemauan kalian." tantang Evans menatap nyalang pada pria tersebut.


"Aku akan menganggap semua ini impas dan memberikan kalian uang yang banyak. Namun, berikan gadis cantik ini padaku," tawar pria itu masih saja mencoba membuat kesepakatan.


"Tutup mulutmu!" sahut ayah dari Sunny dan Evans yang terpancing emosinya saat merasa harga dirinya sebagai seorang ayah di injak. Bagaimana bisa dia diam saja saat seseorang dengan mudahnya menawar putrinya bak seorang ******. Jelas saja siapapun yang berada di posiainya akan murka.


"Kalian berperan seperti keluarga yang saling mencintai. Menjijikkan!" dengus pria itu meludah.


"Baiklah, kalian akan menyesal menolak tawaranku. Sekarang juga bayar hutang-hutangmu!" pintanya kembali membentak menatap Evans.


"Bagaimana jika dalam seminggu kamu tidak bisa mengganti kerugianku?" tanya pria itu menyeringai menatap Sunny yang dia anggap akan masuk ke dalam perangkapnya.


"Maka kalian bisa melakukan apapun padaku," jawab Sunny membuat keluarganya amat terkejut mendengar ucapannya.


"Sunny!" Bentak Ayahnya berteriak menghampiri putrinya yang sudah berdiri di samping Evans.


"Tolong percaya padaku," ucap Sunny berusaha meyakinkan keluarganya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku setuju. Jika dalam satu minggu kamu tidak dapat membuktikan ucapanmu, maka bersiaplah menjadi penghangat ranjangku," ucap pria itu membuat Evans murka dan ingin menghajarnya, tapi lebih dulu ditahan oleh para pengawal pria itu.


"Ingat! Satu minggu," ucap pria buncit itu mengedipkan sebelah matanya menatap Sunny, sebelum akhirnya mengajak semua pengawalnya untuk pergi dari sana.


"Sunny. Apa yang kamu katakan?" bentak Evana pada Sunny setelah semua orang pergi. "Kakak lebih baik mendekam di penjara daripada melihat hidupmu hancur," sambungnya memegang kedua bahu Sunny dengan tatapan yang diselimuti ketakutan.


"Dan aku juga tidak akan bisa melihat Kakak mendekam di penjara. Percaya padaku. Beberapa hari yang lalu aku baru saja akan mengatakan berita bahagia jika aku diterima di perusahaan terbesar yang ada di Jakarta, salah satu cabang perusahaan dari tempat magang ku saat di luar negeri. Aku kenal baik dengan mereka dan mereka akan meminjamkan uang untukku. Percaya padaku semua masalah ini akan selesai. Biarkan kali ini aku yang berusaha untuk kalian," terang Sunny mengatakan semua kebohongannya.


"Benarkah? Kamu tidak berbohong?" tanya Evans dengan penuh selidik. "Uang yang dibutuhkan tidaklah sedikit, Sun. Tidak akan ada orang yang bersedia meminjamkan uang dalam jumlah besar," sambungnya.


"Apa aku pernah berbohong? Percaya padaku! Dia sebenarnya temanku saat di London, dan perusahaan itu milik keluarganya. Dia akan membantu kita," jawab Sunny membuat semua terdiam pasalnya Sunny memang tidak pernah berbohong.


"Tolong percaya padaku," ucap Sunny lagi menatap kedua orang tuanya yang justru menangis mendengar ucapannya.


"Maafkan Papa, maafkan Papa yang tidak bisa melindungi kalian. Maafkan Papa yang tak berdaya ini," ucap Arya jatuh terduduk lemas di lantai.


"Pa, jangan berkata seperti itu. Kalian keluarga terbaik untukku, Papa, Mama dan Kakak adalah yang terbaik," ucap Sunny turut duduk memeluk Arya–Papanya.


"Aku putri kalian. Tidak ada salahnya aku membantu jika aku bisa. Tolong berikan aku kesempatan untuk membuktikan jika aku bisa," ucap Sunny lagi menatap semua keluarganya yang perlahan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Aku sangat menyayangi kalian. Apapun akan aku lakukan demi kalian.


__ADS_2