Penghangat Ranjang Tuan Tampan

Penghangat Ranjang Tuan Tampan
Kamar Mewah


__ADS_3

Sunny keluar dari ruangan Leo tersenyum menatap Noah yang ternyata masih berada di sana menunggunya.


"Bagaimana?" tanya Noah saat Sunny sudah berdiri di depannya.


"Aku akan bekerja di sini," jawab Sunny.


Noah yang mendengar itu menghela nafas dalam, Noah ingin sekali bertanya alasan Sunny melakukan semua itu, tetapi seperti yang Sunny katakan sebelumnya jika dia tidak ingin Noah bertanya tentang alasannya. Noah hanya bisa menyimpan semua pertanyaannya, sampai waktunya nanti dia bisa mempertanyakan semua itu.


"Mari saya antarkan ke kamar Anda!" ajak salah satu pria yang berjaga di luar ruangan Leo.


Sunny menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti pria bertubuh besar itu bersama dengan Noah yang juga ikut bersamanya.


"Kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" tanya Noah berharap dapat merubah keputusan wanita yang baru dikenalnya itu.


"Aku sangat yakin, terima kasih sudah mencemaskanku. Kamu mengingatkanku pada kakakku," jawab Sunny tersenyum menggenggam sekilas tangan Noah.


Sial. Ada apa dengan jantungku? Jangan katakan aku menyukainya. Kamu hanya kasihan padanya, Noah. Batin Noah saat jantungnya berdetak dua kali lebih kencang saat Sunny menyentuhnya.


"Ini kamar Anda!"


Suara pria yang berjalan di depan Noah dan Sunny mengalihkan perhatian keduanya yang langsung menatap padanya. "Terima kasih," ucapnya pada pria itu yang bergegas pergi dari sana setelah menyelesiakan tugasnya.


Setelah pria itu pergi, tatapan Sunny kembali pada Noah. "Kamu juga mau masuk dan melihat isi kamar ini?" tanya Sunny.


"Tidak-tidak, aku akan kembali bekerja," jawab Noah tergagap dan itu membuat Sunny tertawa.


Sangat cantik. Kenapa kamu harus memilih tempat seperti ini?

__ADS_1


Noah terdiam menatap Sunny yang tengah tertawa, wajah ceria Sunny terlihat bersamaan tatapan kesedihan yang tetap sjaa terlihat dari pancaran matanya dan itu lagi-lagi membuat Noah merasa begitu iba pada Sunny.


"Istirahatlah, tenangkan pikiranmu. Aku berharap kamu merubah keputusanmu," ucap Noah sebelum pergi dari sana.


Sunny hanya tersenyum menatap punggung Noah yang semakin menjauh darinya, setelah memastikan Noah tidak terlihat lagi, Sunny memutar tubuhnya dan masuk ke dalam kamar yang akan menjadi tempat tinggal barunya tersebut.


Kamar yang Sunny tempati tak salah jika dikatakan kamar terbaik yang ada di sana, karena benar kamar yang saat ini tengah di lihatnya adalah kamar yang sangat mewah dengan fasilitas seperti kamar mewah di hotel bintang lima.


"Setidaknya aku menempati tempat yang layak," gumamnya terdengar sedih.


Jika orang lain yang mendapat kamar seperti Sunny biasanya akan berkeliling melihat setiap sudut isi kamar tersebut, tetapi tidak dengan Sunny. Kesedihan selalu menyelimutinya sekalipun Sunny berusaha menutupinya.


Sunny menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di sana, mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menghubungi keluarganya yang pasti sudah menunggu kabar darinya.


"Halo, Sunny. Kamu baik-baik saja?" tanya Evans yang dengan cepat menjawab teleponnya.


"Aku baik-baik saja. Kakak bertanya seakan kita sudah lama tidak bertemu dan berbicara. Kita baru saja berbicara beberapa jam yang lalu," ucap Sunny terkekeh.


"Ubah panggilan video! Papa dan mama ingin melihatmu," pinta Evans sesaat kemudian panggilan telepon berubah menjadi panggilan video.


"Kalian merindukanku?" tanyanya tersenyum lebar menatap ketiga orang yang sangat di cintainya.


Bukannya menjawab pertanyaan Sunny, suara tangis justru terdengar dari Maya saat melihat putrinya yang berada di tempat yang berbeda dengan mereka. Sunny ingin sekali menangis melihat itu, tetapi Sunny berusaha menahan semuanya agar tidak semakin membuat keluarganya bersedih.


"Ma, jangan menangis! Lihat aku mendapat apartemen yang sangat bagus," tunjuk Sunny mengarahkan kamera pada kamar barunya.


"Mama sangat merindukanmu," balas Maya tak memperdulikan apa yang Sunny katakan.

__ADS_1


"Aku juga sangat merindukan kalian. Aku di sini baik-baik saja, aku senang berada di sini. Percayalah semuanya baik-baik saja," ucap Sunny coba meyakinkan keluarganya.


"Oh iya Kak, tadi aku baru saja bertemu dengan temanku. Dia bilang perusahaan akan memberikan uang itu saat aku mulai bekerja," ucap Sunny lagi kembali memulai kebohongannya.


"Maafkan Kakak," ucap Evans lirih.


"Jangan ucapkan maaf dan terima kasih. Kita keluarga, kita harus saling membantu, melindungi dan menyayangi," ucap Sunny selaly memperlihatkan senyumnya.


Pembicaraan terus berlangsung, banyak sekali hal yang dibicarakan seakan mereka sudah lama tidak bertemu.


"Sunny, kenapa kamarmu seperti kamar hotel? Sangat mewah," tanya Evans membuat Sunny gelagapan mendengarnya.


"Sunny," ucap Evans lagi melihat gelagat aneh dari adiknya.


"Kakak lupa aku bekerja di perusahaan besar? Aku menjadi sekretaris pimpinan perusahaan, jelas aku mendapatkan semua fasilitas mewah ini," jawab Sunny berusaha tenang.


"Syukurlah kalau begitu. Kami senang mendengarnya, jaga dirimu baik-baik. Jangan mudah percaya pada siapapun, harus selalu berhati-hati," ucap Murat kembali menasehati putrinya.


"Iya Pa, aku mengerti. Oh iya, aku mau bilang mungkin setelah aku bekerja aku tidak bisa selalu memberi kabar, perusahaan tempatku bekerja sangat ketat, tapi kalian jangan khwatir, aku akan baik-baik saja."


"Bagaimana setelah jam kantor atau malam hari?" tanya Evans.


Malam hari justru waktunya aku bekerja, Kak. Batin Sunny menjawab.


"Kak, Pa, Ma. Sudah dulu ya, ada yang mengetuk pintu kamarku, sepertinya itu temanku," ucap Sunny berbohong, mengalihkan pembicaraan.


Setelah telepon berakhir, Sunny jatuh terduduk lemas di lantai, melepaskan semua tangisnya karena sudah membohongi keluarganya.

__ADS_1


"Tolong maafkan aku...."


__ADS_2