
Cukup lama untuk Sunny dapat meredakan tangisnya. Sunny sengaja melepaskan semua tangisnya dengan tujuan jika malam ini akan menjadi malam terakhir Sunny menangis, sebab setelah hari ini Sunny tidak ingin menangis lagi sebab semua yang terjadi adalah keputusannya sendiri. Tidak ada yang memaksanya untuk memilih jalan ini karena semua murni pilihannya.
Sunny mencuci wajahnya setelah itu mencoba menyamarkan bekas tangis yang ada di wajahnya dengan menggunakan make up. Setelah memastikan wajahnya tidak lagi terlihat sembab, Sunny memutuskan untuk kembali ke hotel, mengambil barang-barangnya.
Sama seperti sebelumnya saat Sunnt tiba di sana, saat ini hampir semua mata juga tengah menatapnya, terlebih mata-mata dari pria hidung belang yang tidak bisa mengabaikan kecantikan yang dimiliku Sunny.
"Hei, mau ke mana?" tanya Noah sedikit berteriak pada Sunny ditengah kebisingan suara musik.
"Aku akan mengambil barang-barangku di hotel," jawab Sunny.
"Sunny, kamu tidak ingin merubah keputusanmu? Apapun masalahmu aku akan coba membantu," ucap Noah kembali berusaha merubah keputusan Sunny.
Sunny yang mendengar itu kembali merasa terharu, tetapi Sunny sadar jika saat ini tidak akan ada yang dapat membantunya selain dirinya sendiri. Untuk itu Sunny hanya bisa tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Aku pergi dulu," ucapnya melambaikan tangan pada Noah yang hanya bisa menatap senduh padanya.
__ADS_1
Terbiasa di pandang oleh banyak orang selama ini tidak pernah membuat Sunny merasa sedih, tetapi yang terjadi sekarang sangat berbeda. Tatapan semua pria yang menatapnya seakan tengah menelanjanginya dan itu membuat Sunny merasa begitu tidak nyaman. Sunny dengan cepat melangkah keluar dari sana.
Berjalan kaki tanpa tahu arah menjadi pilihan Sunny sekarang, Sunny terus saja melangkah tanpa tujuan saat pikirannya mulai membayangkan hari-hari buruk yang akan dia lalui kedepannya.
Suara klakson mobil yang terdengar begity kencang menyadarkan Sunny yang berjalan sambil melamun, Sunny menatap ke sekitarnya dan baru menyadari jika dia tengah berada di tengah jalanan yang ramai.
"Nona, apa kau sudah gila?" teriak pengendara mobil yang nyaris saja menabrak Sunny.
Ucapan orang itu jelas menusuk untuk Sunny dengar, tetapi Sunny berusaha untuk tak menghiraukannya guna menjaga hatinya agar tidak semakin sakit menghadapi kesulitan dunia. "Maaf, Pak." Setelah mengatakan dua kata tersebut, Sunny dengan cepat menepi.
Tak jauh dari sana, Sunny melihat sebuah taman kecil. Taman yang brada di tengah kota, Sunny melangkah ke sana dan mencari tempat duduk yang ada di sana.
Tidak ada wanita yang berani duduk sendirian di taman yang sepi saat malam hari, tetapi tidak untuk Sunny yang sudah kehilangan rasa takutnya setelah hal terburuk dalam hidup sudah menjadi pilihannya.
Sunny terdiam mengingat kembali hari-hari bahagia yang telah dilewatinya bersama keluarganya. Teringat jelas di benak Sunny apa yang Sunny dan keluarganya bicarakan saat makan malam.
__ADS_1
"Sayang, apa rencanamu setelah ini?" tanya Maya pada Sunny–putrinya.
"Untuk sekarang aku masih ingin menjadi pengangguran, Ma." Tertawa setelah menjawab pertanyaan mamanya, itulah tanggapan Sunny.
Kedua orang tua Sunny dan Evans ikut tertawa mendengar ucapan Sunny. "Selama ada aku, kamu bisa menjadi pengangguran selamanya," sahut Evans, pria yang sangat menyayangi Sunny.
"Ya, Evans benar. Selagi ada kami, princess Sunny dilarang untuk bekerja," ucap sang ayah menimpali ucapan Evans.
"Wah... Aku sangat beruntung terlahir di keluarga ini," jawab Sunny kembali tertawa.
Sunny tersentak dari lamunananya saat merasakan setetes air menyentuh kulitnya. Sunny menatap langit yang kelam dan baru menyadari jika akan turun hujan. Sunny dengan cepat bergegas mencari taksi agar bisa segera tiba di hotel tempat Sunny meninggalkan barang-barangnya.
Di tempat yang sama, Sunny sama sekali tidak menyadari jika ada seseorang pria yang tengah menatapnya dari kejauhan, pria misterius yang tengah duduk di dalam mobil.
"Cari tahu tentang wanita itu!" perintahnya pada seseorang.
__ADS_1