Penghangat Ranjang Tuan Tampan

Penghangat Ranjang Tuan Tampan
Semua Wanita Sama Saja


__ADS_3

Juna yang sudah berada di Indonesia beberapa jam yang lalu, menatap kesal pada Eric. "Kenapa harus wanita itu? Apa tidak ada wanita lain?" tanya Juna kesal.


"Kau tidak bisa menahannya?" tanya Eric ketus pada Juna saat Eric juga merasa kesal karena Juna terus saja mengoceh sedari tadi.


"Bukan karena tidak bisa menahannya. Aku hanya kesal dibuat menunggu. Tidak pernah sekalipun seseorang membuatku menunggu dan kali ini seorang wanita yang tidak aku kenal telah membuatku menunggu. Harusnya semua ini sudah siap sebelum aku tiba di sini," ucap Juna geram.


"Dia wanita yang cantik. Entah kenapa aku sangat menginginkan dia untukmu," ungkap Eric.


Juna yang mendengar itu menatap bingung pada Eric. Tak biasanta Eric memuji seseorang, tapi kali ini Eric bahkan memuji wanita yang belum mereka temui.


"Cantik?" ucap Juna mengulang apa yang sebelumnya Eric katakan.


"Ya, dia sangat cantik. Dia tidak terlihat seperti wanita-wanita yang pernah bersamamu," jawab Eric berterus terang.


"Kau membuatku menjadi penasaran. Perlihatkan fotonya padaku!" pinta Juna untuk pertama kalinya ingin melihat foto wanita yang akan menjadi teman tidurnya.


Selama ini Juna tidak pernah merasa penasaran seperti sekarang, Juna sepenuhnya mempercayalan semua itu pada Eric sebab wanita yang Eric pilih pastinya sesuai dengan selera Juna. Tidur, setelah itu pergi, itulah yang selalu Juna lakukan pada setiap wanita yang bersamanya.

__ADS_1


"Kau ingin melihatnya?" tanya Eric memastikan.


"Ya, tentu saja. Perlihatkan padaku!"


Eric membuka majalah yang ada di atas meja lalu mengambil selembar foto yang ia selipkan di dalamnya.


"Namanya Sunny," ucapnya.


Juna terdiam menatap foto Sunny yang tersenyum dengan begitu cantik. Apa yang Eric katakan benar adanya, karena Juna juga mengakui jika wanita yang ada di dalam foto begitu cantik. Bahkan lebih cantik dari Rachel ataupun wanita lain yang pernah bersamanya.


Kekaguman Juna pada foto Sunny hanya sesaat setelah Juna mengingat Rachel. Bukan mengingat lantaran rindu, tapi mengingat bagaimana sosok Rachel yang dulu dia kagumi justru mengkhianatinya.


"Dia belum mengabarimu. Bagaimana jika gadis itu tidak seperti yang aku inginkan?" tanya Juna.


"Aku yakin dia masih menjaga mahkotanya. Aku tidak mengenalnya, tapi aku merasa sangat yakin padanya," ucap Eric menjawab.


"Baiklah, aku akan menunggu dua jam lagi, tapi jika belum ada kabar dua jam kedepan, maka cari wanita lain!" titah Juna pada Eric yang hanya bisa mengangguk patuh.

__ADS_1


Ponsel Eric berdering bersamaan dengan Juna yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi. Eric dengan antusias menjawab pangilan telepon yang masuk saat Eric berpikir itu dari orang yang akan memberinya kabar tentang Sunny.


"Halo," ucapnya.


"Saya, Leo. Saya ing...."


"Aku tahu. Dapatkah kamu berbicara menggunakan bahasa Inggris?" tanya Eric memotong ucapan Leo yang tidak akan dapat dimengerti olehnya.


Leo yang berada di seberang telepon menjadi semakin senang saat menyadari jika warga asing yang akan berurusan dengannya. Pundu-pundi uang seakan terlihat jelas di matanya. Leo dan Eric mulai membicarakan tentang Sunny dengan menggunakan bahasa Inggris sepert yang Eric inginkan.


"Baiklah, aku akan tiba di sana dalam satu jam. Minta wanita itu segera bersiap," perintah Eric pada Leo yang dengan cepat menyetujuinya.


Eric bernapas lega setelah berbicara dengan Leo. Pria tampan yang menjadi orang kepercayaan Juna itu dengan cepat menyanbar kunci mobilnya untuk langsung menemui Sunny, mempersiapkan semuanya seperti yang selalu Juna inginkan.


"Kau ingin ke mana?" tanya Juna yang baru keluar dari kamar mandi, saat melihat Eric akan pergi.


"Aku akan menemui wanita itu dan memastikan semuanya. Kau bersiaplah, setelah semua siap di sana maka aku akan mengutus orang untuk menjemputmu," ucap Eric.

__ADS_1


"Dia perawan?" tanya Juna memastikan yang ditanggapi Eric dengan anggukkan kepala setelah itu bergegas pergi dari sana.


"Tetap saja pada akhirnya tidak akan ada wanita yang bisa menjawa mahkota mereka sampai menikah," gumam Juna yang selalu berpikir buruk pada wanita.


__ADS_2