Penghangat Ranjang Tuan Tampan

Penghangat Ranjang Tuan Tampan
Membohongi Keluarga


__ADS_3

Sunny tiba di salah satu hotel yang ada di ibu kota Jakarta. Dengan perasaan yang masih diselimuti oleh kesedihan, Sunny menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, berbaring terlentang menatap langit-langit kamar yang di tempatinya.


Aku tahu kalian akan sangat kecewa padaku jika tahu apa yang akan aku lakukan. Namun, percayalah semua yang aku lakukan semuanya demi kalian. Aku hanya ingin kalian bahagia, terlepas dari setiap beban yang ada. Aku menyayangi kalian.


Sunny teringat kembali pada kejadian satu minggu yang lalu, kejadian yang di anggapnya sama sekali tidak penting, tetapi pada akhirnya membuka jalan untuk Sunny menyelesaikan masalah keluarganya.


"Menjual keperawananku? Apa maksudmu?" ucap seseorang cukup mengejutkan Sunny yang mendengarnya.


Sunny yang saat ini tengah berada di salon dan tengah menikmati pijatan lembut di kepalanya, dibuat terkejut mendengar pembicaraan seseorang yang berada di sampingnya. Pembicaraan dari kedua wanita yang tidak di kenalnya.


Apa mereka tidak sadar jika disini bukan hanya ada mereka? Batin Sunny mencoba menutup telinganya dan kembali memejamkan matanya, menikmati pijatan di kepalanya.


"Aku serius. Bos Leo bahkan sanggup memberikan berapapun harga yang diinginkan untuk gadis perawan," jawab seorang wanita lainnya yang masih jelas terdengar oleh Sunny meskipun keduanya sudah mengecilkan suara mereka.


"Berapapun?"


"Ya, berapapun itu."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Seperti yang kamu tau, aku bekerja di salah satu kelab malam terbesar yang ada di kota. Setiap pelanggan yang datang merupakan orang-orang kelas menengah atas, tak sedikit juga tamu dari negara asing yang sengaja datang saat metera berada di Indonesia. Karena apa? Karena tempatku bekerja terkenal dengan wanita-wanita cantik dan berkelas," jawab sang wanita yang berada tepat di sebelah Sunny.


"Lalu perawan?" tanya wanita itu lagi.


"Tak sedikit tamu yang menginginkan gadis perawan dan siap membayar mahal untuk itu."


Sunny yang semakin merasa tidak nyaman dengan pembicaraan kedua wanita yang ada di sebelahnya, memilih untuk menghidupkan musik dan menutup telinganya dengan headshet, sedikit tersenyum saat pembicaraan kedua wanita itu mulai tersamarkan oleh suara musik dari ponselnya.


Suara dering ponsel Sunny menyadarkan Sunny dari lamunannya, Sunny dengan cepat menyambar ponselnya dan menjawab panggilan yang masuk dari Evans–Kakaknya.


"Halo, iya kak?" ucapnya.


"Kamu sudah sampai? Kenapa tidak mengabari? Kami menunggu kabar darimu," tanya Evans di seberang sana.


"Kakak, jangan berlebihan. Aku baik-baik saja, aku kelelahan. Sekarang aku sudah di hotel," jawab Sunny pelan.


"Kenapa hotel? Bukankah kamu bilang kamu mendapatkan fasilitas apartemen dari kantormu?" tanya Evans terdengar curiga.


Ya ampun, aku lupa.

__ADS_1


"Iya, benar. Aku baru mendapat pesan jika mereka tengah mengosongkan barang-barang pegawai lama yang menunggu apartement itu, jadi mereka menempatkanku di hotel untuk malam ini. Jangan khatlwatir, aku baik-baik sajam Katakan juga pada Papa dan Mama jika aku baik-baik sja," jawab Sunny berusaha untuk tetap tenang menutupi kebohongannya.


Kebohongan yang tidak pernah ia lakukan, tetapi mulai ia lakukan sejak ia berkata mendapat pekerjaan di Jakarta. Membohongi orang-orang tercintanya.


Maafkan Aku Batinnya.


"Kapan kamu mulai bekerja?" tanya Evans lagi.


"Besok lusa. Kakak, aku sangat lelah. Biarkan aku istirshat sebentar! Aku tutup teleponnya. Aku sayang kalian," ucap Sunny menutup telepon tanpa menunggu tanggapan dari Evans yang merutukinya di seberang sana.


"Ada apa? Bagaimana keadaannya?" tanya Ana mendekati Evans.


"Sunny bilang dia baik-baik saja, Ma. Dia akan mulai bekerja besok lusa," jawab Evans.


"Semoga saja dia benar-benar baik-baik saja. Perasaan Mama tidak enak sejak Sunny mengatakan akan pergi," ucap Ana mengusap pelan dadanya yang terasa nyeri memikirkan gadis kesayangan mereka.


"Ini semua hanya sementara Ma, secepatnya aku akan membawa Sunny kembali," ujar Evans yang dianggukki pelan oleh Ana yang berharap banyak padanya.


***

__ADS_1


Sunny menyimpan kembali ponselnya, lalu kembali terdiam melamun memikirkan rencana apa yanh akan ia lakukan selanjutnya. Sunny sama sekali tidak punya pilihan lain. Sunny sadar tidak akan ada yang dapat membantunya terlebih uang yang mereka butuhkan sangatlah banyak. Hanya ada satu jalam yang terpikirkan olehnya yang akhirnya membuatnya harus mengambil jalam pintas untuk menyelesaikan masalah yang menimpa kelurga mereka.


"Aku siap menerima resiko apapun yang akan terjadi pada akhirnya," ucap Sunny lalu bangkit dari tempat tidur dan mulai bersiap untuk melalukan apa yang harus dilakukannya.


__ADS_2