Penghangat Ranjang Tuan Tampan

Penghangat Ranjang Tuan Tampan
Melepas Sunny


__ADS_3

Keesokan harinya, Sunny berpamitan pada keluarganya untuk pergi ke Jakarta memenuhi panggilan kerjanya. Kedua orang tua dan kakak Sunny melepas kepergiaan Sunny dengan begitu berat, tapi juga berharap banyak padanya. Melepas gadis cantik kedayangan keluarga terasa amat berat untuk keluarga Sunny sebab berbagai hal-hal buruk bisa saja terjadi di luar sana, terlebih karena kesempurnaa fisik yang dimuliki Sunny.


Sunny terlahir menjadi gadis yang sangat cantik, berkulit putih mulu, dengan tinggi dsn lekuk tubuh yang bagus. Banyak sekali pria yang mengidolakan Sunny, tetapi tak ada satu pria pun yang berhasil meluluhkan hatinya atau pun mendekati Sunny yang selalu mempunyai dua bodyguard terbaik di hidupnya yaitu Papa dan Kakaknya.


Sekarang, gadis cantik kesayangan mereka harus pergi untuk bekerja, memulai kehidupan yang akan membuat gadis mereka merasakan sulitnya kehidupan. Tangis wanita yang telah melahirkannya tak hentinya terdengar.


"Percaya padaku, tidak akan sampai seminggu aku akan mengirimkan uang untuk mengganti semua kerugian yang dituduhkan pada Kakak. Aku menyayangi Kakak," ucap Sunny menghambur masuk ke dalam pelukan Evans yang matanya sudah berair melepas kepergian adik kesayangan untuk pertama kalinya bukan untuk sekolah melainkan untuk bekerja.


"Maafkan Kakakmu yang tidak berguna ini," ucap Evans memeluk erat Sunny yang berusaha terlihat tegar meskipun hatinya menangis.

__ADS_1


"Kakak adalah saudara terbaik yang aku punya. Jangan pernah berkata seperti itu," ucap Sunny melepaskan pelukan mereka dan menghapus jejak air mata di wajah tampan Evans.


Evans memberikan satu kecupan sayang di dahi Sunny sebelum Sunny beralih pada kedua orang tuanya.


"Pa, Ma. Aku pergi. Doakan aku selalu, ya," ucap Sunny tersenyum menatap kedua orang tuanya yang terlihat begitu berat melepaskan kepergiannya.


"Aku sudah dua puluh satu tahun, aku sudah besar. Percaya padaku," ucapnya terus saja tersenyum, berusaha menyakinkan kedua orang tuanya jika semuanya baik-baik saja.


"Aku menyayangi kalian, aku pergi," ucap Sunny melepaskan pelukan mereka saat suara panggilan untuk jadwal penerbanganya sudah terdengar.

__ADS_1


Sunny berbalik siap melangkah pergi, tapi tangannya ditahan oleh Evans yang kembali memeluknya dengan erat. "Jaga dirimu, setelah semua keadaan disini membaik, Kakak akan segera menjemputmu. Kakak janji," ucap Evans yang dianggukki oleh Sunny tanpa berani menatapnya.


"Tepati janjimu, Kak," ucap Sunny melepas pelukan Evans dan langsung melangkah pergi bersamaan dengan air matanya menerobos keluar dan mengalir dengan derasnya di wajah cantiknya.


Sunny mendengar jelas tangisan histeris Mamanya, tetapi Sunny tidak akan berbalik, karena jika Sunny berbalik dan melihat itu semua, bisa di pastikan Sunny akan merubah keputusannya.


"Papa, putriku! Putri kecilku!" Tangis Ana terdengar begitu memilukan bagi siapapun yang mendengarnya.


"Sayang, biarkan Sunny pergi. Secepatnya setelah semua ini selesai, aku janji akan menjemput putri kita kembali," ucap Arya berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


Evans yang mendengar dan melihat semua itu merasa begitu hancur, bagaimana bisa dia melepaskan adik kecilnya menghadapi kehidupan di luar sana sendirian, tetapi semua harus terjadi karena tidak ada jalan lain untuk menyelamatkannya dan keluarganya. 'Kakak akan menjemputmu, Sun. Ini janji Kakak,' batinnya menatap ke arah Sunny yang sudah mulai menghilang dari pandangan mereka.


'Maafkan aku Pa, Ma. Maafkan aku, semua ini harus aku lakukan untuk kalian. Seperti kalian yang menyayangiku, aku juga sangat menyayangi kalian, aku tidak akan bisa melihat Kakak mendekam di penjara serta melihat kesedihan kalian karenanya. Aku melakukan semua ini untuk kalian, tolong maafkan aku,' ucap Sunny dalam hatinya, dengan air mata yang juga senantiasa mengalir deras membahasi pipinya.


__ADS_2