Penistaan

Penistaan
Prolog


__ADS_3

Gereja Oedi yang terletak di kaki Pegunungan Salju Alaska adalah salah satu dari 19 gereja besar di daratan yang menyembah Sang Pencipta. Gereja dibangun dari marmer putih gading. Di depan gereja ada 24 tiang marmer berbentuk dua orang berpelukan. Tiang-tiang penuh dengan ukiran berupa pujian terhadap Sang Pencipta dan para pengikut-Nya.


Patung malaikat berdiri di atas gereja, sayap di punggungnya memancarkan cahaya putih susu yang lembut dan menyelimuti seluruh gereja.


Pembangunan Gereja Oedi memakan waktu 16 tahun. Pada hari pembangunan selesai, ribuan terompet tanduk berbunyi di langit, kelopak bunga jatuh bak hujan, cahaya putih mendarat. Seorang malaikat bersayap menjulang di tengah cahaya suci dan memberkati gereja dengan ‘ucapan selamat malaikat’. Sejak saat itu, Gereja Oedi selalu diselimuti cahaya suci dan menjadi gereja satu-satunya di antara 19 gereja yang Tuhan tunjukkan keajaibannya, selain Gereja Cahaya Agung di mana Paus berada.


Brunn, kardinal yang berusia 55 tahun, menutup buku ‘Doa Suci’ dan mengakhiri doa malam. Paduan suara berpakaian putih melangkah mundur, tetapi hymne bernada tinggi dan khusyuk masih bergema. Menatap api di atas altar, Brunn merasa kesal dan gelisah tanpa sebab.


Ketika bulan berubah sabit, Brunn akhirnya menemukan sumber kekesalannya, yaitu biarawati Wella yang baru datang ke gereja hari ini. Dengan wajah cantik klasik, hidung kecil yang mancung, dan bibir bak pahatan, wanita itu memancarkan aura suci. Gerak-geriknya memperlihatkan lekuk samar di balik pakaian putihnya yang seolah ada di depan mata Brunn.


“Malaikat,” gumam Brunn. Dia merasa mulutnya kering tapi tidak dapat menemukan air. Dia mengumpat dengan suara rendah, lalu berdiri dan keluar dari gereja.


Biarawati Wella beranjak dewasa di sisi Paus dan tidak ada yang mengetahui asal usulnya. Ini adalah pertama kalinya dia keluar dari Gereja Cahaya Agung dalam 17 tahun terakhir.


Di bawah leher putih Wella, jubah putih pun tidak dapat menyembunyikan gerakan sekecil apa pun dari dadanya. Naik turunnya dada Wella membekas di benak Brunn dan membakar sarafnya. Untuk pertama kalinya, Brunn berharap dia adalah seorang pencuri sehingga bisa …. Brunn tersenyum masam. Pencuri apa pun tidak dapat melawan biarawati Cahaya Agung level 16. Brunn telah membina di gereja selama lebih dari 40 tahun, tetapi dia hanya seorang biarawan Cahaya Agung level 13. Tuhan sungguh pilih kasih.


Dia mendongak untuk memandang bulan dan menemukan bahwa bulan malam ini berwarna merah. Brunn merasa heran dan penglihatannya tiba-tiba menggelap. Cahaya suci gereja hilang.


Kegelapan merupakan salah satu hal yang paling dibenci Brunn. Dia menekan kepanikannya dan berdoa dengan suara rendah, tangannya bergerak membuat simbol rumit dan hendak melemparkan ‘Teknik Cahaya Suci’ level tiga. Selain untuk menyingkirkan iblis, teknik ini juga berfungsi sebagai penerangan sementara.


Sebuah tangan, lebih tepatnya, skeleton berwarna hitam dengan simbol-simbol sihir menyentuh tenggorokan Brunn tanpa suara dari belakang. Jari telunjuk skeleton itu mencakar, kemudian Brunn tidak punya kesempatan lagi untuk melemparkan Teknik Cahaya Sucinya.


Seorang prajurit dengan baju besi lengkap berdiri di sebelah mayat Brunn. Baju besinya berwarna hitam, skeleton tangannya memegang pedang panjang yang menyala api hitam. Setelah dia mengayunkan pedang, prajurit-prajurit skeleton keluar dari kegelapan dan menyerbu Gereja Cahaya Agung. Seorang kesatria mayat hidup yang menunggang kuda skeleton berapi keluar dari kegelapan dan memasuki kamp kesatria di kedua sisi gereja.


“Apa ini?! Penjaga! Para penjaga! Cepat bangun!”


Kebisingan membangunkan para kesatria gereja. Ada 400 kesatria di Gereja Oedi. Para kesatria terlatih segera mengenakan baju besi mereka, lalu sebagian berjaga di depan kamp untuk menahan prajurit-prajurit skeleton, sisanya menyiapkan senjata. Pastor telah mulai membaca doa.

__ADS_1


Di bawah cahaya suci gereja yang redup, Wella tidak menunjukkan ekspresi apa pun ketika memandang necromancer yang ada di depan.


Necromancer mengenakan jubah hitam, api putih menyala di matanya.


“Aku adalah Rodriguez, necromancer yang telah kalian cari selama 300 tahun.” Suara Rodriguez terdengar di benak Wella.


Wella langsung terkejut. Kekuatannya sebagai biarawati Cahaya Agung level 16 sudah mendekati setengahnya Tuhan. Bisa-bisanya necromancer ini menerobos pertahanan spiritualnya dan bertelepati dengannya. Bukankah itu berarti kekuatan spiritual necromancer begitu kuat hingga bisa mengendalikan Wella? Hanya memikirkan nama necromancer terkuat itu, Rodriguez, pikiran pun akan ternodai oleh kejahatannya.


“Mari kita lihat identitas sesungguhnya dari sang biarawati.” Suara Rodriguez terdengar di benak Wella lagi. Mata necromancer berapi, sebuah gelombang spiritual yang dingin menyerbu benak Wella kemudian meledak. Wella mengerang, darah keluar dari sudut bibirnya. Lalu, satu per satu serangan spiritual meledak di benak Wella.


Wella terhuyung-huyung dan terkejut dengan kekuatan Rodriguez. “Mengapa iblis sekuat ini bisa luput dari mata Bapa?” Bersama dengan serangan spiritual lainnya, sebuah kekuatan meledak dari jiwa Wella, lagu pujian rohani terdengar lagi di gereja, cahaya suci keluar dari tubuh Wella dan menghilangkan serangan spiritual dari Rodriguez, sepasang sayap putih bersih keemasan terbuka dari punggung Wella. Di bawah kekuatan suci, Wella melayang ke udara, matanya telah sepenuhnya berubah menjadi putih keperakan.


“Atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, aku akan melenyapkan iblis ini.” Suara Wella masih memanjakan telinga, tetapi tidak ada emosi sedikit pun. Ketika dia membaca doa, ratusan bola cahaya suci mengembun di sekelilingnya.


Rodriguez terkekeh dengan suara rendah. “Aku pikir kamu hanya malaikat biasa, ternyata Malaikat Cahaya Tengah. Tampaknya Tuhanmu tidak memberkatimu.”


Lingkaran besar muncul di lantai belakang Wella, lalu api hitam membumbung. Di tengah kekosongan lingkaran muncul tengkorak naga yang besar. Naga skeleton menatap Malaikat Cahaya, lalu ia keluar dari tengah lingkaran. Dua per tiga aula gereja telah ditempati oleh naga skeleton besar.


Wella, yang telah memulihkan bentuk pertarungan, seharusnya tidak takut pada naga skeleton; makhluk mayat hidup terkuat. Namun, naga skeleton ini berbeda. Naga skeleton biasa tidak sebesar ini, palingan hanya dua per tiga dari naga skeleton di depannya. Lalu, kerangka tulangnya berwarna abu gelap dan tertutup debu dan sarang laba-laba karena tidur sepanjang tahun. Naga skeleton ini berwarna gelap, mantra samar sesekali muncul di tulangnya. Kegelisahan Wella semakin kuat. Sebagai Malaikat Cahaya, dia seharusnya bisa melawan dua ekor naga skeleton. Mengapa dia merasa takut?


“Eh, sepertinya aku tidak pernah mendengar tentang naga skeleton yang dipanggil.”


Wella menyimpan sayap, jubah putihnya beterbangan, nyanyian rohani mencapai nada tertinggi. Dia melepaskan sihir terkuat dari Malaikat Cahaya; Penjaga Malaikat Cahaya, sebuah bola putih susu bulat melindunginya.


“Sudah kubilang bahwa Tuhan tidak memberkatimu.” Suara dingin necromancer lagi-lagi terdengar di benak Wella. Sayap naga skeleton bergerak, melihat ke atas, raungan tanpa suara menyebar dengan cepat. Di luar gereja, para kesatria dan pastor, yang menyerang mayat hidup yang mencoba untuk masuk ke gereja, seperti terluka parah. Sebagian kesatria yang lebih lemah muntah darah dan jatuh ke lantai. Dinding penahan Wella ditabrak hingga mundur beberapa langkah.


“Raungan naga saja tidak tahan, jika napas naga ….” Wella tidak sempat berpikir, berbalik dan ingin kabur. Saat ini, napas naga tiba. Dinding penahan Wella menghilang dan muncul. Sebuah cahaya kuat yang menyilaukan dan angin topan tiba-tiba menyapu segala yang ada di gereja.

__ADS_1


Ketika semuanya tenang, Wella telah tertanam di dinding gereja yang setengah kosong, jubah putihnya robek dan mengekspos kulitnya yang penuh dengan jejak darah. Setelah angin topan berhenti, tubuh Wella jatuh ke lantai dan meninggalkan jejak darah di dinding.


“Huh, kamu tak diragukan memang Malaikat Cahaya, hanya kulit yang terluka setelah menerima napas Artestegra si naga iblis. Tapi kekuatan ilahimu sudah terkuras habis, kan?”


Wella memuntahkan seteguk darah, dengan susah payah menarik jubah robeknya untuk menutupi *********** yang terekspos, lalu berkata, “Kamu harus tahu bahwa semua perbuatanmu hari ini tidak luput dari mata Bapa. Walau kamu lebih kuat dari aku, kamu belum tentu bisa melawan raja dari para dewa. Uhuk, uhuk … apalagi cahaya penghakiman akan segera turun. Kamu bersembunyi pun tidak dapat terlepas dari nasib penyucian.”


“Tampaknya kamu belum tahu apa yang aku inginkan. Sebagai necromancer, kekuatanku sudah mencapai batasnya dunia ini. Cahaya penghakiman apa pun tidak akan mendarat padaku. Tuhan tidak akan mengizinkan kekuatan yang mengancamnya muncul. Aku sudah bersembunyi selama 300 tahun dan tiga ingin melakukannya lagi. Malaikat Cahayaku yang imut, berikanlah jiwamu padaku sekarang.”


“Apa?! Tidak! Tidak!!!” Wella tiba-tiba menjerit, tak lagi suci layaknya Malaikat Cahaya. Necromancer membaca mantra dan tulang lengan kirinya berubah menjadi abu lagi. Selesai mantra dibacakan, Kardinal Brunn masuk dari luar gereja. Wajahnya yang biasa terawat dengan baik kini berwarna keunguan. Luka di tenggorokan membuatnya kehabisan darah, daging yang terlihat berwarna pucat. Brunn melihat Wella, tatapannya fokus pada paha putih ramping Wella yang penuh dengan darah dan memar. Di bawah pengaruh necromancer, birahi Brunn semasa hidup menjadi ribuan kali lebih kuat. Kardinal itu meraung layaknya binatang buas, lalu bergegas menuju Malaikat Cahaya.


Di beberapa istana misterius yang ada di daratan, beberapa orang terbangun dari tidur nyenyak dan memandang ke arah gereja. Semua orang di Pelabuhan Puth terbangun dari mimpi buruk. Beberapa orang keluar dari rumah dan tercengang menemukan bahwa langit malam telah berubah menjadi warna merah darah gelap. Gereja yang biasanya terlihat meski dari jauh menghilang. Bumi seperti bergetar pelan.


Napas berat kardinal yang seperti binatang buas bergema di gereja. Altar emas berderit seolah tidak kuat menahan beban di atasnya. Di luar gereja, awan putih dengan cepat naik dan melayang ke arah gereja. Awan darah yang menyelimuti gereja terkompresi ke langit di atas gereja, tetapi masih bertahan. Suara marah terdengar dari gumpalan awan putih, lalu cahaya suci jatuh melalui awan. Mayat hidup di depan gereja mulai terbakar di bawah cahaya suci. Jeritan menderita terdengar di mana-mana.


Necromancer terus membaca mantra, tulang-tulangnya retak, api di matanya semakin membara ketika menatap tubuh yang bergerak di atas altar. Bersama dengan raungan keras, benih bertebaran di tubuh Wella.


Mental Wella akhirnya hancur saat itu juga. Mata necromancer, yang tubuhnya tersisa setengah, berbinar. Tengkoraknya meledak. Orang kecil, yang transparan namun terjerat oleh aura hitam, keluar. Necromancer membuka mulut dan memuntahkan sebuah mutiara. Lapisan sihir yang rumit mengambang di sekitar mutiara.


“Akan kulihat ke mana kamu bisa lari di bawah Mutiara Jiwa Artefak ini! Hahaha!”


Malaikat Cahaya transparan terhisap oleh mutiara. Necromancer melihat jiwa yang terkurung di dalam mutiara, lalu tertawa. Kemudian, tulang-tulangnya yang tersisa juga meledak, aura hitam menembus ke dalam mutiara.


Langit putih di langit menembakkan api hijau tosca, awan darah telah terbakar habis, Pelabuhan Puth disinari hingga seperti siang hari. Penduduk kota berdiri di jalan dan menyaksikan fenomena aneh dalam ketakutan.


Nyanyian rohani lagi-lagi terdengar di awan, cahaya putih jatuh dari langit. Gereja yang diselimuti cahaya mulai terbakar. Aura hitam menghilang dalam api.


Pada tahun 682 kalender suci, Gereja Oedi dinistakan oleh mayat hidup. Necromancer terkuat, Rodriguez, dijatuhkan cahaya penghakiman, dimusnahkan oleh Tuhan yang marah. Gereja Oedi, yang dikenal sebagai gereja cemerlang, dibakar hingga hancur oleh api penyucian.

__ADS_1


__ADS_2