Penistaan

Penistaan
Bab 5: Memburu


__ADS_3

Memandang prajurit gadis yang mendekat, Roger memaksa dirinya untuk tenang. Dia tidak bisa lari maupun bertarung. Roger tidak jelas akan kekuatan Stephy, tetapi dia tahu bahwa Stephy mungkin level tujuh atau delapan. Sekalipun gadis itu hanya seorang prajurit level tiga, melihat penampilannya yang bersenjata lengkap, dia pasti bisa menghabisi Roger yang hanya memiliki cincin sihir. Oleh karena itu, Roger hanya bisa memancing Stephy ke bangunan kecilnya untuk menggunakan jebakan-jebakan yang dia pasang baru memiliki kesempatan untuk menang.


Setelah mengambil keputusan, Roger mulai melihat sekeliling untuk kabur. Di belakangnya adalah reruntuhan di mana banyak orang miskin membangun gubuk. Melewati gang dan berjalan 500 meter lagi adalah di mana bangunan kecil Roger berada. Sayangnya Stephy sedang menghalangi jalannya.


Roger berdiri diam di gang dan mulai membaca mantra. Stephy menatap Roger sambil tersenyum mengejek dan menyeret pedangnya. Setelah selesai membaca mantra, peluru sihir di tangan Roger melayang ke arah prajurit gadis itu. Kilat biru muncul di baju besi prajurit gadis. Stephy baik-baik saja. Roger membaca lagi mantra Jari Api, lalu menembakkan api, lagi-lagi terhalang oleh cahaya biru baju besi Stephy. Itu jelas baju besi yang ditambahkan sihir. Seburuk apa pun itu, seharusnya tidak masalah untuk melawan sihir Roger.


Roger berkeringat dingin, otot wajahnya bergetar. Dia hendak membaca mantra untuk ketiga kalinya ketika prajurit gadis itu menghilang. Detik selanjutnya, Stephy sudah muncul di hadapan Roger dan ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Roger merasakan pukulan kuat di perutnya. Tubuhnya yang sudah diubah menjadi kuat pun tidak dapat menahannya. Huek, dia memuntahkan makanan yang dia makan hari ini. Stephy menusuk punggung Roger dengan gagang pedang, membuatnya jatuh, kemudian menendangnya beberapa kali. Darah sudah keluar dari hidung dan mulut Roger. Stephy membalikkan badan Roger dengan kakinya, kemudian berkata dengan galak. “Bukankah kalian sangat hebat? Ingin meniduriku? Sini, biar aku lihat sehebat apa kamu dan bisakah kamu membuatku puas.” Sambil berbicara, dia menendang ************ Roger, lalu menginjak-injaknya dengan kuat.


Ekspresi Roger langsung berubah, dia tidak bisa menjerit. Kedua tangannya memegang sepatu bot prajurit gadis, mencoba untuk menyingkirkan kaki itu. Dengan senyum kejam, Stephy menginjaknya beberapa kali lagi sebelum menyingkirkan kakinya. Roger terengah-engah, menyentuh tubuh bagian bawahnya sambil berguling di lantai dan sesekali mengerang. Stephy menatap dengan jijik si gemuk yang wajahnya berlumuran darah, lalu mencibir, “Baru begini saja sudah tidak tahan? Apakah kamu pria? Aku masih memiliki banyak cara yang belum ditunjukkan. Kamu harus menikmatinya hari ini.”


Prajurit gadis meletakkan pedangnya di samping dan tiba-tiba menangkap tatapan gembira muncul di mata Roger ketika melihat gang di belakangnya. Stephy tersenyum mengejek dan berkata dalam hati, ingin menipuku dengan trik seperti itu? Tapi dia tetap berbalik dan berpura-pura tertipu. Dia akan menangkap Roger ketika pria itu menyerangnya atau mencoba untuk kabur. “Para bangsawan bodoh ini tidak memiliki trik baru.”


Dengungan terdengar dari belakangnya, Stephy langsung merasa ada yang salah. Bokongnya tiba-tiba merasa sakit, sebatang anak panah masuk ke dalam kulit putih saljunya. Prajurit gadis mengenakan rok besi yang sangat pendek, Roger menembak dari bawah ke atas, ditambah tubuh Stephy yang tinggi, anak panah mendarat di tempat yang tak tepat.

__ADS_1


Stephy merasa malu sekaligus marah. Dia mengambil pedangnya dan berniat untuk menghancurkan pria gemuk mesum ini. Begitu berbalik, lukanya terasa sakit dan Stephy langsung pusing, kemudian lukanya menjadi perih dan mati rasa. Anak panah ini jelas diolesi obat. Dia mengulurkan tangan untuk menyentuhnya dan menemukan darah, seluruh anak panah pendek telah masuk ke dalam tubuhnya. Stephy menghirup napas dalam-dalam lalu berteriak, cahaya putih tiba-tiba melintas dari tubuhnya kemudian hilang. Roger merasa ngeri. Itu adalah amarah. Sebelum efek obat pada anak panah bereaksi, dia tidak tahu akankah dia selamat.


Meskipun Stephy menekan pengaruh obat dengan amarahnya, dia tidak bisa mencabut anak panah itu karena si gemuk ada di depannya. Lebih baik dia menyelesaikan pria gemuk ini dulu. Roger yang sudah berdiri saat ini mulai membaca mantra lagi. Api kecil melesat. Stephy tidak menghindar tapi menambah kecepatannya. Ketika api sudah mendekat, mata Roger berkilat. Baju besi Stephy dan baju di baliknya tiba-tiba terangkat, lalu api membakar payudara montok putihnya.


Sensasi terbakar mendadak pada bagian sensitifnya membuat Stephy tidak tahan, menjerit dan berjongkok. Setelah sedikit pulih, Stephy segera menekan baju besi ke dadanya. Rasa malu membuatnya kehilangan akal sehat. Saat ini Roger tiba-tiba mendekat dan menghajarnya. Gerakannya tidak beragam, tetapi lincah dan kuat. Mana seperti penyihir yang terluka? Stephy terkejut. Setelah menahan hujanan serangan, dia menyerang balik. Roger kabur dari sisinya.


Stephy hampir pingsan karena marah. Dia mengabaikan rasa sakit di dada dan bokong dan mengejar Roger. Roger berbelok-belok di depan, kemudian tiba di depan sebuah bangunan kecil. Dia membuka pintu dan masuk. “Bagus, setelah aku mengetahui tempat tinggalmu, akan kulihat ke mana kamu bisa kabur?!” Prajurit gadis tiba di depan dan menendang pintu hingga terbuka. Dia merasa pusing dan lukanya juga semakin sakit. Stephy menghirup napas, angin malam yang sejuk membuatnya pikirannya lebih jernih. Saat ini terdengar suara meja dan kursi berderit dari lantai dua. Emosi prajurit gadis tersulut lagi. Dia bergegas ke lantai dua.


Prajurit gadis naik, ketika baru saja menaiki tangga, terdengar suara patah lalu anak tangga runtuh. Stephy tidak panik, dia menendang kaki kiri ke udara lalu melayang. Dia takut ada penyergapan lain sehingga dia mengulurkan pedang ke depan dan terus naik. Dua anak panah ditembakkan, prajurit gadis mengayunkan pedang untuk menjatuhkannya tetapi garis tipis muncul di pedangnya. Lampu berkedip. Jebakan petir di sebelah dinding telah diaktifkan. Stephy tidak dapat menghindar di udara sehingga dia tersengat listrik dan jatuh ke lantai. Untungnya jebakan ini tidak terlalu kuat dan dia mengenakan pertahanan sihir sehingga dia hanya merasa pusing.


Prajurit gadis menopang pada pedangnya untuk berdiri dan menuruni tangga. Entah ada apa lagi di bangunan kecil ini. Aku hanya bisa melepaskan bajingan itu, besok baru membakar rumah ini, pikir prajurit gadis kesal.


Kabut hitam melayang, lalu skeleton Temptress Moon muncul di depan prajurit gadis.

__ADS_1


Roger juga tak baik-baik saja. Kekuatan sihir terkuras habis dan lukanya tidak ringan. Memanggil Temptress Moon adalah kemampuan terakhirnya. Dia duduk di lantai dua dan memperhatikan keadaan di lantai bawah. Tempat ini aman. Jika ingin naik ke sini, Stephy harus melewati tiga jebakan lagi. Temptress Moon berbeda dari sebelumnya, kini dia memiliki pisau berkarat dan tulang rusuknya sudah lengkap.


Stephy mengayunkan pedang ke arah leher Temptress Moon, Temptress Moon mengangkat pisau berkarat untuk menghalanginya. Prajurit gadis membuat bentuk lingkaran dengan pedang, memotong leher Temptress Moon lagi. Skeleton itu mengangkat lengan kirinya namun tidak tahan melawan pedang. Tulang lengannya dipotong. Temptress Moon terhuyung dan jatuh, lalu tak bergerak lagi.


Stephy mendengus. Ternyata bajingan ini bisa mengerti sihir mayat hidup, sayangnya tidak berhasil, skeleton hanya bisa dipanggil satu. Stephy melangkahi skeleton dan berjalan menuju pintu.


Angin tiba-tiba terdengar dari belakang. Stephy tahu ada yang tidak beres, jadi dia berjongkok dan meletakkan pedang di punggungnya. Tang! Pisau berkarat mengenai pedang. Sebelum prajurit gadis bereaksi, lukanya di bagian pinggul ditendang. Stephy berbalik, ternyata Temptress Moon si skeleton. Dia terkesiap. Skeleton juga bisa berpura-pura mati?


Untuk pertama kalinya Stephy merasa kalau bangunan kecil ini menakutkan.


Roger juga tercengang.


Prajurit gadis dan skeleton bertarung lagi. Bagaimanapun perbandingan kekuatannya terlalu jauh sehingga Stephy menang. Tepat ketika dia hendak sepenuhnya menghancurkan skeleton ini, kabut hitam muncul lagi. Ternyata Roger menarik Temptress Moon kembali karena melihat prajurit gadis akan menghancurkannya.

__ADS_1


Mendapatkan pukulan tiba-tiba, membuat Stephy merasa pusing untuk kesekian kalinya. Sebelum kesadarannya hilang, Stephy samar-samar melihat si gemuk itu memegang sebatang tongkat besi dan menyeringai padanya.


__ADS_2