
Kesatria Rubah Salju melewati barisan jaring laba-laba dengan terampil, melampaui infanteri, dan mulai mengejar dengan sekuat tenaga.
Roger dan lainnya berlari sejauh dua puluh mil. Ketika mereka menoleh ke belakang, Rubah Salju sudah mendekat. Para bajingan bangsawan ketakutan hingga mereka membalikkan kuda dan melarikan diri ke Hutan Iblis sejauh sepuluh mil.
Hart mengejarnya tanpa tergesa-gesa. Dengan keterampilan berkuda angkatan bersenjata Rubah Salju, mereka bisa menyusul mereka dengan cepat. Dia, yang telah tertekan selama hampir satu tahun, tidak menganggap pasukan kecil itu dengan serius. Dia dikenal sebagai ‘Pembantai Hart’.
Setiap sepuluh mil, seorang kesatria Rubah Salju akan berbalik untuk memandu tim infanteri. Sekitar dua mil di depan, sekelompok kesatria yang sangat terampil menggantung Roger dan lainnya.
Hart sangat menyukai rasanya angin kencang meniup wajah saat dia berlari kencang. Darahnya perlahan memanas seiring berlari, membakar sarafnya. Melihat ke arah yang jauh di mana sudah berwarna merah, Hart seolah melihat badut-badut yang lari di depan sana sudah menembus ujung tombaknya. Darah mereka mengalir di tombak dan menetes ke mulutnya.
“Sial, aku benar-benar haus,” umpat Hart.
Roger dan lainnya melarikan diri ke pinggir Hutan Iblis dan melambat, lalu tiba-tiba berbalik karena perintah Kate.
Lima kesatria Rubah Salju dengan fleksibel menarik kepala kuda mereka setengah mil di belakang Roger dan lainnya. Lima kuda perang berdiri bersamaan, mereka juga berbalik dan mengambil jarak. Dalam hal keterampilan berkuda, mereka jauh lebih kuat dari Roger dan lainnya.
Dalam sekejap mata, Hart telah menyusul dan memperlambat kecepatannya. Kavaleri Rubah Salju lainnya bergegas kembali dan bersiap untuk menghubungi tim infanteri.
Sebuah anak panah tiba-tiba melesat menembus dada komandan dan berdarah, kemudian terbang sejauh puluhan meter sebelum menancap di tanah.
Tembakan panah mendadak itu mengejutkan semua orang. Kemudian, dengan suara berdentang, ratusan pasukan kavaleri keluar dari Hutan Iblis dan mengepung jalan belakang Hart.
Di dalam hutan, Faith memukul Lance yang seperti babi mati dengan tongkat dan meraung, “Kenapa kamu tidak menyimpan anak panah ini untuk menembak penyihir? Bodoh ya, kamu? Kalau aku tidak bisa mengalahkan penyihir itu, aku akan menggunakanmu sebagai tameng!”
Tembakan panah itu adalah hasil latihan keras Lance selama berbulan-bulan. Hanya satu tembakan sudah menghabiskan semua energinya. Saat ini Lance benar-benar lebih buruk dari orang tak berguna.
Hart dengan dingin memandang para kesatria yang mengepungnya. Pupil matanya mengecil ketika dia melihat Ed dan lima puluh lancer di belakangnya. Untuk para kesatria berkapak tombak, dia bahkan tidak melihat mereka. Hart kembali menatap Roger yang ada di depannya. Semua orang yang ditatap oleh Hart tanpa sadar menundukkan kepala untuk menghindari tatapannya.
Hart mendongak dan tertawa keras. Dia mengangkat tombaknya dan menunjuk Ed. Seratus pasukan kavaleri Rubah Salju berbalik, suara kaki kuda terdengar. Mereka membentuk formasi saat berbaris. Saat kecepatan meningkat, tombak yang terangkat perlahan diletakkan rata, kemudian menunjuk tentara bayaran ‘Naga dan Wanita Cantik’ di depan seperti hutan yang ditebang.
Roger seolah disiram dengan seember air dingin, dia merasa dingin. Awalnya dia berpikir bahwa Hart dan lainnya akan menyerang sisi yang lebih lemah, jadi mereka bisa memanfaatkan kesempatan untuk memancing kavaleri Rubah Salju ke penyergapan di Hutan Iblis. Tanpa disangka, Hart menghadapi Ed yang memiliki kekuatan setara.
Menurut Roger dan lainnya, kekuatan tim pada dasarnya sama dengan jumlah orang dalam tim.
Tanpa berpikir banyak, Roger segera melantunkan mantra, dengan cepat menambahkan perisai sihir dan teknik cepat ke dirinya sendiri, juga menggunakan gulungan sihir untuk menambahkan teknik cepat ke Kate dan Franco.
Ed cepat tenang dari keterkejutan. Dengan sedikit pengetahuan militer, dia tahu bahwa melarikan diri saat ini hanya akan mati, menyerang pun belum tentu menang. Dia mengangkat pedangnya, menambahkan teknik cepat untuk dirinya sendiri, meraung lalu meluncurkan serangan bersama para kesatria.
Dua besi tiba-tiba bertabrakan, dalam sekejap, orang-orang berbalik.
Di kerumunan, raungan Hart terdengar seperti guntur. Setiap raungan seperti mengeluarkan aura petarung. Pada saat yang sama seorang kesatria turun dari kudanya.
Ed menebas dua kavaleri Rubah Salju dengan pedangnya. Punggungnya ditebas di tengah kekacauan, tetapi baju besi yang dihasilkan oleh Palu Perang menyebabkan pedang itu rusak. Namun, pedang kuat itu tetap membuat tatapannya menggelap. Dia mengambil napas dan tiba-tiba melihat Hart bergegas ke arahnya. Aura Ed membuat ujung tombak Hart bergetar. Darah muncrat ke segala arah, ujung tombak menembus dadanya. Ketika putus asa, Ed berjuang untuk membangkitkan semangat juangnya. Dia meraung liar lalu mendekat. Pedang melayang di udara dan menebas tombaknya dengan keras.
Mata Hart berubah menjadi merah, geraman pelan terdengar di tenggorokannya. Pedang Ed membuat tombaknya sedikit miring dan menusuk pahanya.
Terdengar suara yang mengilukan, tombak Hart hanya menusuk lebih dari tiga inci.
__ADS_1
Hart tertegun. Tusukannya biasa menembus baju besi kesatria. Tampaknya baju besi anak ini benar-benar tidak buruk, tetapi ini saja tidak dapat membantunya.
Hart berteriak lagi dan auranya meletus. Bagian tubuh Ed yang ditusuk berdarah. Hart mengambil tombaknya lagi, mengangkat Ed dan melemparnya ke belakang.
Dalam sekejap mata, tim Hart berhasil menembus formasi Ed dan melukai Ed. Ketika formasi kavaleri Rubah Salju berbalik, Roger dan lainnya sudah tiba dan bergabung dengan kavaleri lainnya.
Hanya dalam satu serangan, empat puluhan orang dari kelompok tentara bayaran ‘Naga dan Wanita Cantik’ terbunuh dan terluka, sementara Rubah Salju baru tumbang sepuluh orang. Sekarang ‘Naga dan Wanita Cantik’ tidak memiliki keunggulan dalam jumlah.
Hart menjilati darah yang ada di tombak, dan menggigit sepotong daging yang menempel di sana, mengunyah terus menerus. Darah mengalir di sudut mulutnya. Wajah Hart menjadi lebih ganas, tombak itu perlahan terangkat lagi.
Bola api keluar dari hutan dan terbang menuju formasi kavaleri Hart.
Seseorang seperti kavaleri yang ada di dalam barisan juga membaca mantra, membalasnya dengan bola api. Dua bola api bertabrakan di udara, lalu terdengar suara ledakan, radius sepuluh meter berubah menjadi sepotong tanah hangus.
Penyihir Rubah Salju membawa lima kavaleri sebagai pengawal untuk meninggalkan tim dan bergegas menuju hutan. Dalam perjalanan, kedua penyihir itu bertarung dengan dua bola api lagi.
Hart mengabaikan pertempuran antar penyihir. Mengarahkan tombak ke depan, Hart memimpin formasi kavaleri dan menyerang kelompok tentara bayaran ‘Naga dan Wanita Cantik’ lagi.
Kate berteriak, “Masih ada kemungkinan hidup jika menyerang, berbalik hanya akan mati! Semuanya maju bersamaku!”
Setelah itu dia maju diikuti oleh para kesatria milik Duke of Wenington, kemudian para tentara bayaran yang direkrut oleh ‘Naga dan Wanita Cantik’.
Kavaleri yang awalnya setengah hati, akhirnya maju demi hidup.
Pertumpahan darah terjadi lagi.
Hart sangat bersemangat hingga setiap pori-porinya menjerit. Tombak di tangannya meregang dan berkontraksi seperti ular berbisa, terus menghancurkan daging musuh, melucuti nyawa dari tubuh mereka. Tombaknya menembus tenggorokan seorang kesatria berkapak tombak karena kekuatannya yang besar. Leher kesatria malang itu menyemburkan darah, hanya selapis daging tipis yang menempel di kepalanya.
Dia membalikkan kudanya dan menutup formasi, tapi melihat Roger dan lainnya melarikan diri ke Hutan Iblis dengan 60 pasukan yang tersisa. Hart tidak bisa tidak mengagumi keputusan cepat lawannya. Dalam pertarungan ini, Rubah Salju tumbang lagi lebih dari sepuluh orang.
Jika Roger memilih untuk berbalik dan melarikan diri saat itu, dia akan disusul oleh Rubah Salju yang memiliki keterampilan berkuda luar biasa. Selain beberapa kesatria yang terampil, sisanya akan berakhir dimusnahkan.
Hart menatap tentara bayaran ‘Naga dan Wanita Cantik’ yang melarikan diri. Sekalian lama kemudian, dia baru mengayunkan tombaknya dan berteriak, “Kejar!”
Kuda meringkik, kemudian delapan puluh kavaleri yang tersisa dari Rubah Salju mengejar.
Roger telungkup di punggung kuda dan berlari kencang di Hutan Iblis. Pikirannya hampir kosong, cabang-cabang pohon terus menampar kepala dan tubuhnya. Dia seolah mati rasa, secara tidak sadar mengenali tanda-tanda sihir di kejauhan, dan memimpin tentara yang diarahkan di belakangnya untuk melarikan diri ke lokasi penyergapan yang telah ditentukan.
Operasi kali ini berantakan sejak awal.
Pertama, laporan tidak lengkap, lalu taktik pengepungan mereka juga naif dan konyol. Kekuatan bertarung ‘Naga dan Wanita Cantik’ yang dikira hebat, berubah menjadi lelucon di depan Rubah Salju yang berpengalaman dan kuat. Rubah Salju merenggut nyawa hampir seratus orang dalam dua pertempuran. Memancing musuh ke jebakan gagal total.
Kesatria berbaju besi perak itu–Roger dan lainnya tidak mengetahui nama dan informasi Hart yang membunuh seperti iblis. Pemandangan di mana darah menetes dari sudut bibir Hart saat dia mengunyah daging prajurit dan tombak yang menembus tubuh manusia, berputar di benak Roger. Setiap kali pemandangan keji itu melintas bersama petir dan guntur, Roger merasa pusing.
Pemandangan di sekitar seolah berubah menjadi lukisan pemandangan lagi, hanya suara mendengung yang terdengar. Roger berlari ke arah tertentu tanpa sadar, tidak tahu mengapa dan untuk apa dia berlari ke sana.
Di sisi lain dari Hutan Iblis, pertempuran antara Faith dan penyihir Rubah Salju akan segera berakhir. Hutan telah diledakkan hingga menjadi tanah datar oleh sihir mereka. Keduanya telah menghabiskan kekuatan sihir mereka.
__ADS_1
Di belakang penyihir Rubah Salju, beberapa mayat kesatria tergeletak berjajar. Ini adalah mahakarya sihir petir Faith.
Penyihir Rubah Salju menggunakan terlalu banyak kekuatan sihir sehingga dia hanya dapat menggunakan perisai sekarang. Seluruh tubuhnya bergetar. Dia sangat tertekan. Levelnya jelas dua tingkat lebih tinggi dari Faith, tetapi Faith malah setara dengan dirinya karena peralatannya bagus dan membawa lima orang kesatria. Untungnya, kekuatan sihir Faith juga telah habis.
Penyihir Rubah Salju menengadah dan tertawa, kemudian mengeluarkan gulungan bola api dari sakunya. Dia membersihkan debu di tubuhnya, menyegarkan diri, berdiri dengan postur baik, lalu meneriakkan mantra dengan nyaring dan kuat.
Begitu dua suku kata dibacakan, sisanya berhenti. Penyihir Rubah Salju tercengang saat melihat jimat Faith berkedip, cukup untuk melawan bola api dengan perisai penyerap sihir. Kemudian dia mengeluarkan seikat besar gulungan sihir berwarna-warni dari saku dan memilihnya.
“Ah …!” Jeritan penyihir Rubah Salju bergema di hutan, kemudian terdengar suara Faith yang rendah. “Kalau ingin menjadi penyihir di kehidupan berikutnya, belajar menghasilkan uang dulu!”
Roger yang ketakutan hanya tahu berlari dengan kepala menunduk. Tiba-tiba punggungnya dipukul dengan keras, dia merasa pusing dan jatuh dari kudanya. Si gemuk baru sadar saat ini, dia berusaha mendorong benda yang menekannya, tapi menemukan bahwa itu adalah mayat tentara bayaran ‘Naga dan Wanita Cantik’.
Matanya terbuka lebar, dia tidak lagi hidup, ada lubang sebesar mangkuk di dadanya. Darahnya telah membasahi Roger.
Roger buru-buru mendorong mayat itu, mengangkat kepalanya dan tercengang. Seorang kavaleri Rubah Salju yang berwajah ganas tengah menatapnya dengan senyum mengejek.
Pria gemuk itu menegang.
Kavaleri Rubah Salju tertawa, dia mengangkat tombak dan menggambar busur, lalu menikam dada Roger.
Roger membuka mulutnya lebar-lebar dan berusaha untuk berteriak, tapi dia tidak bisa mengeluarkan suara.
Tombak melambat di matanya, dia bisa dengan jelas melihat ujung tombak yang berkilau, terdapat tetesan darah, daging, bahkan sepotong kecil usus.
Roger masih tidak bisa bergerak.
Ketakutan menyerang saraf, setiap saraf terkecilnya menegang, retak, lalu patah.
Wajah ganas kesatria Rubah Salju membesar di depan Roger
Hancur.
“Aku tidak mau mati!” Raungan histeris akhirnya pecah tetapi tidak terdengar.
Kuda kesatria itu tiba-tiba berdiri. Kesatria Rubah Salju seolah dipukul dengan keras, darah menyembur keluar dari lubang mata, hidung, mulut dan telinganya. Dia jatuh dari kuda. Dengan ekspresi heran, dia berdiri terhuyung-huyung, tapi tidak melihat kabut hitam lewat di belakangnya. Sebuah skeleton muncul dalam kabut. Pisau sabit di tangannya terangkat tinggi, lalu kesatria itu terpotong menjadi dua bagian.
Lagi-lagi darah memuncrat.
Roger duduk dengan tatapan kosong di tanah, membiarkan darah yang muncrat ke wajahnya mengalir turun.
Satu demi satu kesatria Rubah Salju muncul dari hutan.
Kate, yang sudah jauh, menoleh dan melihat Roger duduk di tanah. Dia memutar kepala kudanya dan membunuh kavaleri Rubah Salju. Satu demi satu kesatria ‘Naga dan Wanita Cantik’ mengikutinya lagi.
Pertempuran terjadi lagi di hutan.
Roger tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, lalu tawanya berubah menjadi tangisan dalam sekejap. Dia mengambil kapak tombak dan menebas mayat kesatria Rubah Salju dengan gila-gilaan. Tiba-tiba, dia mengangkat kepalanya dan melihat medan perang di depannya. Matanya merah, wajahnya berkedut, seolah melihat binatang buas.
__ADS_1
Roger spontan melompat dan bergegas menuju kesatria Rubah Salju terdekat, kudanya terkejut. Aura hitam lewat, Roger membelah perut kuda dengan kapak, lalu kesatria itu terlempar dari kuda. Temptress Moon mengikuti dalam diam dan menebas orang lagi dengan pisau sabitnya.
Roger yang sekujur tubuhnya diselimuti darah, bergerak seperti hantu. Dengan aura hitam di sekujur tubuhnya, satu per satu kesatria Rubah Salju diturunkan dari kuda mereka. Temptress Moon mengekor di belakangnya dan menebas baik orang maupun kuda.