
Devan menatap Lara dengan pandangan kecewa. Ia telah menunggu cukup lama hingga bisa kembali lagi ke Belanda. Namun sepertinya perjuangannya sia-sia saja.
Gadis yang telah ia Cintai cukup lama kini tengah mengandung bayi lelaki lain.
Menyesal! Jika boleh jujur ia menyesal meninggalkan Belanda. Jika waktu bisa terulang kembali maka ia akan memilih tetap berkuliah di Belanda. Meski harus menentang keinginan ke dua orang tuanya. Devan akan melakukannya.
Dulu ia tau jika hati gadis itu hanya untuknya. Ia terlalu naif jika berpikir Lara akan tetap mencintainya. Hanya akan melihat ia sebagai lelaki satu-satunya. Ia lupa jika seorang gadis akan lebih memilih lelaki yang selalu bersamanya dan selalu di sampingnya dari pada lelaki yang ia cintai tapi tak pernah ada untuknya.
"Maafkan aku, Kak!" sesal Lara yang sudah cukup diam selama ke duanya di tinggalkan di ruangan Inap Lara oleh Yunita.
"Tidak Lara, kau tak salah aku lah yang salah," ucap Devan dengan wajah letih.
"Tidak Kak. Aku salah karena mengkhianati kepercayaanmu. Namun aku tak bisa mengontrol perasaanku yang tumbuh untuknya," aku Lara dengan jujur.
Orang-orang berkata lebih baik mendengar sebuah ke jujuran yang pahit dari pada kebohongan yang manis. Namun tidak bagi Devan, ia lebih baik mendengar kebohongan dari bibir Lara dari pada sebuah ke jujuran. Karena kejujuran yang keluar dari bibir Lara sangat menyakitkan untuk hatinya terima.
"Apa dia mau tangung jawab. Jika dia tak ingin tangung jawab aku akan menikahimu saat ini juga." Tutur Devan menggenggam ke dua tangan Lara dengan erat.
Belum sempat Lara menjawab perkataan Devan. Lelaki Jung itu lebih dulu memotong perkataan Lara.
"Jangan pikirkan Keluargaku, mereka akan menyetujuinya Lara. Karena dari awal mereka telah memilihmu menjadi pendamping hidupku. Apa lagi keluarga kita sudah lama saling mengenal," lanjut Devan dengan wajah meyakinkan.
Lara tersenyum tipis dan membalas genggam tangan Devan.
"Bukan itu yang ingin aku katakan Kak. Yang ingin aku katakan adalah Ayah dari bayiku ingin bertanggung jawab, hanya saja aku yang sedang menghindarinya. Karena aku masih ingin memikirkan apa aku pantas untuknya atau tidak. Terimakasih atas saran dari Kak, aku tau di luar sana begitu banyak gadis yang akan mencintai Kakak dengan tulus dan lebih baik dari pada aku pastinya," ucap Lara dengan mata penuh sesal.
Lara tak ingin menyakitinya Devan yang menjadi Cinta pertamanya. Apa lagi Keluarga Devan begitu baik padanya. Hingga tak ada alasan bagi Lara untuk tidak nyaman dengan keluarga Devan.
Namun hati tak bisa di paksakan bukan? Dulu sudah berlalu. Dan sekarang adalah masa yang akan menentukan masa depannya. Lara tak bisa melibatkan Devan maupun Yunita di kehidupan Lara kedepannya.
Mengingat Posesifnya Aiden padanya. Lelaki itu telah mengakui perasaanya. Ia memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Lalu permasalahan apa yang Lara pikirkan saat ini? Yang membuat Lara ingin menjauh dari Aiden saat ini adalah Venus Brown.
Anak dari lelaki yang ia cintai, ia tak tau kenapa hatinya terasa sakit menerima kehadiran Venus. Seakan Lara menerima ke hadiran wanita lain di hidup Lara. Bukankah Venus menyukainya. Namun Lara terlalu takut menerima Aiden jika ada Venus di antara mereka.
Ia takut suatu saat nanti Venus tak menyukainya. Karena ia adalah wanita yang pernah memasukan Papanya ke Penjara. Atau fakta keluarganya yang menghancurkan sang Ayah saat masih muda. Bisa saja Venus membencinya karena Fakta itu bukan? Dan Lara takut akan itu.
"Lara!" seru Devan untuk ke tiga kalinya.
Lara terkejut dan menatap Devan dengan senyum tak enak.
"Maaf Kak sepertinya tadi aku melamun," ucap Lara pelan.
"Ya, apa yang kau pikirkan hingga sampai terlihat murung begitu?" tanya Devan curiga.
"Tidak terlalu penting Kak. Kakak bisakah kau meninggalkan aku sendiri saat ini, aku ingin istirahat." Pinta Lara sambil melepaskan genggaman tangan Devan.
Devan memaksakan senyum di wajahnya. Ia menarik selimut Lara hingga batas dada lalu melangkah keluar dari ruangan Lara. Lara memejamkan ke dua matanya. Belum sampai sepuluh menit ke dua mata itu tertutup suara berat yang ia kenal membuat ke dua matanya terbuka paksa.
"Apa ini yang kau katakan Apartemen Lara Smith?"
Lara langsung terduduk dari posisi tidur nya. Ternyata lelaki itu telah duduk di samping ranjang dengan bersedekap.
__ADS_1
"Aiden? Kenapa kau bisa di sini?" tanya Lara dengan wajah panik.
Aiden tersenyum sinis melihat keterkejutan Lara. Ia menatap Lara seperti Predator yang siap menerkam mangsanya. Lara terdiam dengan wajah takutnya. Ke dua bola mata hitam tajam itu begitu mengintimidasi dirinya.
"Jangankan Rumah Sakit, jika kau bersembunyi di lubang semut saja dengan sangat mudah akan aku temukan," jawab Aiden angkuh.
"Aku tidak bersembunyi Aiden. Aku..."
"Sudahlah," potong Aiden cepat.
Aiden berdiri dari duduknya dan mendekati ranjang. Ia duduk di pinggir ranjang Lara. Tangan kanannya bergerak ke arah perut rata Lara. Ia mengelusnya dengan pergerakan pelan membuat Lara tertegun.
Nyaman! Itulah yang Lara rasakan saat ini. Ia bersandar di dasbor ranjang. Ke dua matanya terpejam merasakan pergerakan tangan Aiden yang tengah mengelus kandungannya.
"Apa dia baik-baik saja?" Tanya Aiden pelan.
Tak ada lagi suara berat yang mengintimidasi. Yang ada hanya suara lembut penuh ke khawatiran.
"Ya, kata Dokter dia baik-baik saja. Dan Dokter juga bilang dia adalah janin yang kuat," jawab Lara masih memejamkan ke dua matanya.
"Syukurlah, aku begitu panik saat mendengar kabar kau masuk rumah sakit. Namun Kenapa tak mengabari ku jika kau masuk rumah sakit,Hem? Bukankah kau berjanji akan memberikan aku kabar tentangmu!" Ucap Aiden dengan wajah kecewa.
"Maafkan aku." Jawab Lara dengan membuka ke dua matanya.
Saat itu ke dua mata berbeda itu saling memberikan kata-kata yang tak bisa di ucapkan oleh bibir. Aiden mendekat dan menarik Lara masuk ke dalam pelukannya. Lara hanya diam menerima perlakuan Aiden.
Aiden membelai puncak kepala Lara dengan pelan. Ia sangat ingin marah pada Lara karena wanita yang tengah ia peluk saat ini melanggar dua janjinya. Yang pertama ia berjanji tak akan dekat lagi dengan Devan. Dan ke dua jika terjadi sesuatu padanya ia akan menelpon.
"Ayo pulang ke rumah, Venus tadi pagi mencari mu," ucap Aiden membuat Lara melepaskan pelukan Aiden.
"Ada apa? Kau tak menyukai kehadiran Venus di antara kita?" tanya Aiden menatap ke dua manik mata Lara dengan intens.
Kepala Lara mengeleng dengan kuat.
"Bukan itu! Bagaimana jika Venus tau jika aku adalah orang yang menghancurkan mu di saat muda? Dia akan membenciku, Aiden!" papar Lara menatap Aiden dengan pandangan takut.
Aiden tersenyum lebar mendengar ketakutan Lara. Ia menarik Lara kembali dalam pelukannya.
"Jangan takut, Venus bukan anak yang Seperti itu. Dia adalah anak yang penuh pengertian meski ia sedikit keras kepala seperti aku." Ucap Aiden membelai punggung Lara dengan pelan.
🌸 🌸 🌸
Benar saja perkataan Aiden terbukti. Satu bulan Lara bermain bersama Venus. Anak itu begitu hangat dan manja. Meski keras kepala seperti Aiden. Lara tak di izinkan berkerja oleh Aiden, mengingat ke hamilan Lara begitu masih muda. Dan ia hanya di peroleh bermain dengan Venus dan memasak saja, itu pun hanya memerintahkan Maid lainnya untuk memotong dan mencampurkan bahannya saja.
Karena Aiden tak ingin Lara letih dan akan berakibat fatal bagi sang bayi dan Ibu. Jujur saja, kondisi Lara tak cukup baik dalam hamil. Ia begitu lemah dan kurang gizi. Dan itu membuat Venus dan Aiden khawatir.
Jika di tanya Soal Gea, ia sudah tidak lagi di Belanda. Ia ke Jepang entah apa yang tengah ia rencana. Yang pasti ia tak akan tinggal diam atas apa yang terjadi. Setelah pertengkarannya terakhir dengan Aiden ia tak pernah lagi muncul di hadapan Aiden dan Lara.
"Apa Mama tidak lapar?" tanya Venus untuk ke sekian kalinya.
"Tidak sayang Mama tidak lapar," jawab Lara untuk ke sekian kalinya pula.
__ADS_1
Terdengar jelas desahan Venus. Anak itu begitu gigih menanyakan ke adaan Lara. Baik Lara ingin makan atau tidak. Atau apa Lara merasa sakit apa tidak. Ia terlihat seperti suami siaga dari pada anak kecil.
Kehamilan Lara membuat Venus begitu antusias. Karena ia sudah sangat lama ingin punya adik seperti teman-temannya yang lain. Tapi karena ia tak menyukai Gea yang entah kenapa Venus rasa tak tulus padanya. Membuat Venus tak menyukai Gea.
"Papa pulang !" Teriak Aiden ketika masuk ke dalam rumah besar itu.
Venus yang duduk di sofa ruangan tamu bersama Lara langsung saja meloncat dari atas tempat tidur menghampiri Aiden.
"Papa!" Seru Venus berlari dan menghampiri Aiden.
Aiden langsung saja mengendong Venus dengan mencium ke dua pipi sang anak. Lara tersenyum melihat interaksi Ayah dan anak berumur lima tahun itu.
"Papa! Mama tak mau makan lagi seperti satu minggu kemarin," adu Venus pada Aiden.
Sontak saja Aiden menatap Lara dengan pandangan mengintimidasi. Lara berdecak pelan, jika sudah begini Lara akan kerepotan sendiri karena Aiden pasti akan memaksanya memakan semua makan yang di buat kokinya.
"Benar itu Nyonya Brown?" tegur Aiden. dengan suara berat.
"Maaf tuan Brown! Saya masih memakai marga keluarga saya, yaitu Smith. Bukan marga Brown!" Cibir Lara langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Aiden menurunkan Venus dari gendongannya.
"Venus minta Koki memaksakan banyak makanan. Kita akan membuat Mamamu memakan semuanya seperti minggu lalu," titah Aiden dengan wajah Evilnya.
"Siap Pa," jawab Venus dengan wajah polosnya.
Venus langsung berlari ke arah dapur. Sedangkan Aiden melangkah masuk ke dalam kamar Lara. Ia masuk dengan wajah tenang. Lara tau jika Aiden masuk ke dalam kamar khusus yang Aiden peruntukan untuk Lara.
Ia pura-pura tidur di atas tempat tidur. Lara merasakan tempat tidurnya bergerak pelan. Ia tau siapa pelakunya tampa membuka ke dua matanya.
"Bangun dan makan! Atau aku yang memakanmu di atas tempat tidur Lara brown!" ancam Aiden di telingga Lara dengan suara berat.
Tak butuh waktu lama. Lara membuka ke dua matanya dengan pandangan kesal. Namun belum sempat ia bangkit dari posisi tidur nya.
Aiden lebih dulu memeluk tubuhnya.
Dengan senyum menyerigai membuat Lara ngeri sendiri.
"Terlambat! Aku terlalu lapar saat ini sayang. Dan siapa bilang kau masih nyonya muda Brown, karena aku sudah mendaftarkan pernikahan Kita. Dan Kita hanya tinggal merayakan pesta pernikahan saja sayang," ucap Aiden dengan suara semakin berat
"A——aku lapar Aiden," tutur Lara manja.
Di dalam hati Lara telah merasa terbakar hanya menatap mata berkabut Aiden
"Tapi sudah tak ada kesempatan lagi sayang," bantah Aiden.
Aiden dengan cepat mengecup ke dua psisi Lara berganti-gantian tampa ampun, membuat Lara diam membeku hanya karena perlakuan Aiden padanya.
Sedangkan di tempat lain di kota terkenal dengan Tren Fesion Mendunia dengan menara tinggi menjulangnya tersenyum menatap informasi yang ia dapatkan.
"Akhirnya sayang, kita akan bertemu setelah sekian lama terpisah. Kali ini kita tak akan terpisah lagi. Dan aku jamin lelaki ******** itu akan membayar mahal atas apa yang telah ia lakukan padaku dan dirmu sayang," ucapnya dengan menatap sendu foto yang terlihat usang itu.
__ADS_1
"Lara! Tunggulah sebentar lagi kita kan bertemu," ucapnya lirih.