
"Aku kembali bukan karena cinta namun karena luka. Dimana hatiku yang tercabik dan hancur hanya Karena terlalu percaya pada cinta palsu mu."
~Lara Smith~
.
.
.
.
.
Hembusan angin malam membelai rahang tegas lelaki berkulit pucat itu. Entah apa yang tengah ia lihat di bawah sana. Mata coklat kelamnya begitu tajam dan menakutkan. Helaan napas beratnya mengalun di dalam ruangan penggab itu.
Wanita cantik, seksi dengan bibir merah merona itu hanya melirik wajah lelaki yang sudah satu jam menatap sepatu kulit mahal di bawah sana.
"Bisakah anda membebaskan saya. Saya sudah mengatakan semuanya. Jadi tak ada alasan lagi saya di tahan di sini," pinta Lara dengan nada suara lembut namun dingin mengalun memecahkan suara senyap ruangan bawah tanah itu.
Wajah Aiden yang awalnya menunduk pun seketika terangkat dan menatap wanita cantik itu dengan pandangan tak terbaca.
"Kau hanya boleh pergi setelah tes DNA mu keluar," balas Aiden dengan suara kelam, sekelam ke dua matanya saat ini.
Desahan tak suka terdengar jelas di ke dua telinga Aiden. Wanita itu berdecis dan berdiri dari duduknya.
"Aku tak peduli apa yang sebenarnya kau inginkan dariku. Tapi satu hal yang ingin aku katakan. Aku tak ingin kekasihku mengkhawatirkan diriku saat ini," tutur bibir seksi berisi itu.
Aiden ikut berdiri dan melangkah setengah berlari ketika wanita itu akan membuka pintu besi. Tangan kekar Aiden menahan pergelangan tangan Wanita cantik itu.
"Lepaskan tanganmu dari diriku." Tuturnya menatap tak suka ke arah tangannya yang di cekal oleh Aiden.
"Aku bilang tunggu! Maka tunggu!" bentak Aiden dengan suara keras.
"Kau tak.."
CUP !!
Ke dua mata bulat terang itu terbelalak saat merasakan material lembut menyapa sudut bibirnya. Tubuh Lara membeku mendapatkan kecupan ringan. Hingga beberapa kali mengedipkan ke dua matanya pelan. Mendorong cepat tubuh Aiden. Hingga mudur beberapa langkah. Sontak saja wajah Aiden memerah entah apa merasuki Aiden saat ini. Ia begitu terlihat marah setidaknya itu lah yang wanita itu rasaakan.
Aiden mengendong tubuh Lara Smith dan membaringkannya di atas sofa di sudut ruangan. Lara meronta kala pergerakan mengunci ke dua tangannya di atas kepala.
"Lepaskan aku!" Titah Lara memberontak. Sayangnya Aiden seakan mennulikan pendengaran nya. Mata hitam tajam itu menangkap raut wajah Lara dengan pandangan tak terbaca. Menarik keras gaun Lara ke atas tanpa sadar tarikan keras membuat gaun milik wanita satu ini hingga robek. Ke dua mata Lara terbelalak melihat bagaimana gilanya pria ini merobek gaun selutut.
Beruntung ia memakai celana pendek di luar celana dalam. Dan memakai T-shirt.
"Jangan!!!!" Teriak Lara keras kala tangan Aiden dengan kurang ajarnya menarik T-shirt nya hingga bawah dada. Memperlihatkan bagaimana kondisi perut nya.
"Jangan!" Teriak Lara engan suara bergetar.
Kesadaran Aiden kembali ketika ia merasakan bekas sayatan yang masih terasa agak kasar meski tersamarkan karena kulit Lara yang putih. Telapak tangan nya membelai bekas operasi yang mampu menghantam hati kecilnya. Aiden ingin berteriak marah saat ini. Kepalanya menunduk melihat apa yang masih di belai oleh tangan kanannya. Ke dua mata Aiden terasa perih.
Tak dapat di ragukan lagi. Bekas itu adalah bekas jahitan dari operasi besar. Seketika tubuh Aiden terasa begitu lemah. Lara menhentakan cekalan tangan Aiden dan mendorong tubuh Aiden hingga jatuh kelantai.
__ADS_1
"Brengsek!!" maki Lara dengan sorotan mata marah.
Telingga Aiden seakan tuli dengan makian Lara padanya. Ia hanya fokus pada perut rata putih dengan satu garis lurus yang begitu menganggu. Aiden berdiri dari posisi tidurnya dan melangkah ke arah meja menarik alas meja untuk menutupi tubuhnya yang hampir polos.
"Lara," seru Aiden dengan suara lemah.
Lara mendengus tak suka dengan Panggilan Aiden pada namanya.
"Berapa kali aku katakan aku tak mengenalmu. Namaku memang Lara tapi perlu kau ketahui aku ini memiliki kekasih yang akan menjadi suamiku. Dan kau hampir saja memperkosaku, lelaki brengsek!!" teriak Lara dengan hadiah makian lagi di akhir katanya yang ia lontarkan.
Aiden berlulang kali mengutuk dirinya. Dan bertanya kenapa Lara harus di temukan saat ini. Kenapa Lara tak mereka temukan sebelum ia menikahi Laura Taylor. Apa yang sebenarnya terjadi. Ia merasa semua nya benar-benar sangat-sangat kacau saat ini. Situasi yang ia alami sangat membuat Aiden Brown merasa benar-benar hampir gila.
Melihat wanita ini di sini. Wanita yang sangat ia cintai. Namun tak lagi terlihat, karena berpikir jika Gea Miller membunuh Lara Smith. Tapi apa ini? Sungguh membuat Aiden merasa sangat sesak saat ini.
"Bos!" panggil Mark dari luar pintu markas.
Aiden berdiri dari duduknya ia melangkah membuka pintu. Ketika pintu terbuka Mark menyodorkan amplop berwana putih dengan lambang rumah sakit di pingirnya.
"Terimakasih Mark." Tutur Aiden dengan suara berat menerima amplop yang di sodorkan oleh lelaki imut itu padanya.
Mark menatap sang Bos Mafia itu dengan pandangan tak mampu di jelaskan dengan kata-kata.
"Tolong belikan satu dress." Titah Aiden lalu menutup pintu tampa harus mendengar jawaban dari Mark.
Aiden menatap Lara yang duduk dengan mata yang menatap awas. Lalu ke dua mata tajam itu membuka Amplop putih itu dengan tangan bergetar. Ia mengeluarkan surat yang akan menjawab rasa keingin tahuan Aiden. Jika wanita di depan nya ini benar-benar Lara Smith. Dan ia berharap begitu.
Bola mata hitam kelam itu bergerak membaca kata demi kata dengan seksama. Tanpa ingin satu kata pun terlewati. Jantung Aiden terasa di remas kencang saat melihat tulisan 99% kecocokan DNA dan sidik jari Lara.
"Lara!" Panggil Aiden mendekat dengan wajah tak terbaca.
"Kenapa kau harus datang sekarang, Hem? Dimana kau selama ini kenapa harus berakhir begini," tanya Aiden membuat hati Lara berdenyut nyeri.
"Ah! Jadi aku benar mantan istrimu." Tutur Lara dengan wajah masam.
Tak ada Jawaban dari bibir Aiden. Lelaki itu terlihat linglung menatap wajah cantik yang ia cintai. Namun pertanyaan saat ini adalah apakah cinta itu masih ada untuk Lara Smith? Apakah Lara masih ada dan tak di gantikan oleh Laura Taylor?
"Kau sudah memiliki istri saat inikan? Jika tebakanku benar jadi kau mengkhianati aku. Well! Kita impas. Kau sudah melupakan aku dan aku memang tak mengingat siapa diriku sendiri dan juga dirimu. Jadi jalani saja hidup kita masing-masing," papar Lara dengan suara terdengar biasa.
Aiden masih merasa lidahnya keluh tak dapat menyahut perkataan dan juga tuduhan yang Lara lemparkan padanya. Lara mendorong tubuh Aiden bersamaan dengan pintu yang terbuka. Di sana Mark hanya berdiri menatap ke arah dirinya dan juga Aiden dengan menenteng peper bag.
Lara melangkah mendekat dan menyambar peper bag yang Mark bawa tampa kata ia melangkah menuju kamar mandi yang tepat berada di samping ruangan kerja Aiden.
Mark masih menatap punggung Aiden yang tak bergerak. Sedangkan di kamar mandi Lara menatap nanar kaca besar yang memperlihatkan dirinya di sana. Meski terlihat ada rasa sakit yang sangat berdenyut di dalam hatinya. Namun ia bisa apa? Semua nya telah terjadi. Permainan di mulai.
"Semua ini kau yang memulai Aiden Brown. Jadi maaf saja jika aku akan membuatmu hancur." Tutur Lara mengeluarkan dress putih polos selutut.
Lara memakai pakai dan keluar dari kamar mandi. Saat itu teryata Mark berdiri di depan pintu.
"Aku ingin pulang." Seru Lara lalu melangkah menuju lorong tempat ia masuk pertama kali.
Mark mengikuti Lara dari belakang. Lara tak tau apa yang di perintahkan oleh Aiden pada Mark. Yang jelas Lara ingin pulang saat ini sebelum sandiwaranya terbongkar di tempat.
Lara mengemudi masih di ikuti oleh Mark dari belakang. Hinga mobil Lara berhenti di besment Arpartemen mewah. Ia melangkah turun dengan wajah terlihat biasa-biasa saja.
🔮🔮🔮
__ADS_1
Aiden melangkah dengan gontai masuk ke dalam kamar sang Putra. Saat itu ia melihat putranya tidur dengan begitu nyenyak. Aiden melepaskan jas berwarna hitam dan meletakannya di kursi di samping box balita mungil itu.
"Apa yang harus Papa lakukan sayang? Dia kembali namun Papa tak tau bagaimana perasaan Papa saat ini." Tutur Aiden dengan lirih berserta lelehan air mata.
Aiden pov on
Kacau! Satu kata yang menggambarkan hari ini. Dimana pertemuan tak sengaja antara aku dan dia. Dia wanita yang aku cintai, cinta pertamaku dan sekaligus Istri pertamaku. Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Dimana saat aku sudah menetapkan hatiku untuk kembarannya. Dan dia hadir bagaikan semuanya telah di takdirkan.
Masih aku ingat dengan jelas setiap kata yang keluar dari bibirnya. Awalnya aku mengira ia adalah Laura namun saat ia mendorong dan meneriaki aku dengan kata mesum. Saat itulah aku sadar jika yang aku peluk bukanlah Laura.
Pertemuan tak senagaja itu membuat aku menyeretnya masuk ke dalam markas ku. Saat itu aku masih merasa semua yang terjadi adalah hayalah khayalanku saja.
"Namaku memang Lara. Namun maaf tuan aku tak mengenalmu. Aku menderita Amnesia permanen. Jika kau kenal aku beritau aku siapa aku dan siapa dirimu."
Itulah kata yang ia lontarkan saat aku dan dia berada di markas. Saat itu aku langsung saja mengambil semple DNA dan juga sidik jarinya. Satu jam aku tak mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya selama satu jam hati dan otakku bersiteru.
Saling bertentangan hinga membuat aku merasa begitu pusing. Sampai suaranya kembali membawaku ke alam sadarku. Hatiku terasa terbakar saat ia mengatakan ia ingin pulang dan pergi dariku. Hingga aku kehilangan ke warasanku.
Luka itu! Luka yang membuat aku di tampar. Hinga membuat hatiku berdenyut nyeri. Aku tau pasti itu sangat sakit. Hatiku sesak sangat sesak.
Aku masih bingung! Sunguh teramat sangat bingung saat ini. Semua yang terjadi membuat otakku bleng seketika. Hinga aku hanya bisa meminta Mark mengikuti ke mana ia pergi dan di mana ia tinggal.
Aku mengecup sekilas dahi jagoanku dan melangkah menuju kamar putriku. Venus Brown! Aku tau ia masih tak bisa menerima Laura sepenuh hatinya. Putriku teramat mencintai Lara hinga tak satu wanita mana pun lagi masuk dan mengantikan posisi Lara di hatinya. Itu bahkan termasuk saudara kembar Lara sekali pun.
Di banding Venus aku tak ada apa-apanya bukan? Aku hanya lelaki bodoh yang dengan mudah nya berpindah hati dan pasrah dengan ke adaan. Sekarang semuanya akan menyakitinya bagiku.
Ku lihat wajah damai Venus saat tidur membuat aku merasa begitu terluka. Aku melangkah mendekati ranjang Venus dan tidur di sisi kananya. Aku membawa Venus dalam pelukanku.
Aku berharap kebijak sanaan Venus bisa aku miliki. Agar masalah yang kini ada bisa aku atasi.
Aiden POV off
Author POV On
Di lain tempat Lara menatap foto Aiden dengan pandangan benci.
"Bisakah kau menepati janjimu Lara Smith. Kau berjanji akan meninggalkan lelaki itu. Dan melupakan nya," tutur suara berat di samping tubuh Lara.
Lara menoleh dan menatap ke arah wajah marah Louis. Ia meletakan foto Aiden di atas meja. Dan melangkah lebih dekat ke tubuh Louis. Lara memeluk nya dengan erat.
"Aku melihat fotonya karena ingin terus membenci nya. Karena dengan melihat wajahnya kebencianku semakin bertambah," seru Lara tentu dirinya juga masih merasa ragu dengan perkataan nya sendiri.
Louis hanya diam. Itu membuat Lara berdecis jengkel. Lara melepaskan pelukannya dari tubuh Louis. Ia menjinjit kakinya guna mengecup pipi kanan Louis.
"Aku punya kabar bahagia untuk kita," tutur Lara membuat Louis menatap Lara dengan dahi berkerut.
"Aku hamil anak kita." Seru Lara dengan wajah ceria.
Seketika Louis memeluk Lara dengan erat. Gurat wajah marah terganti dengan wajah bahagia. Lara membenamkan wajahnya di dada bidang Louis.
"Terimakasih Lara." Seru Louis bahagia memeluk erat.
"Ya, Kak" jawab Lara dengan senyum lebar.
"Kak maafkan aku," sesal hati kecil Lara. Masih dalam pelukan hangat Louis. Lara tersenyum sinis.
__ADS_1