
"Perjalan hidup menyambut setiap manusia dengan segala rasa. Dimana rasa manis membuatmu tersenyum, Rasa pahit membuatmu tertohok dan rasa pedas membuat matamu memerah dan berair."
~Lara Smith~
.
.
.
.
Mata bulat itu memandang sayu wajah lucu mengemaskan bayi merah yang baru ia lahir kan dengan selamat.
Kulitnya putih sedikit kemerahanan. Bibir tipis dengan mata bulat itu membuat siapa saja melihatnya akan terpesona.
"Andaikan Bos berada di sini ia pasti akan sangat bahagia melihat putri cantiknya." Seru Yuki membantu Lara berdiri dari posisi duduknya.
"Ya. Kau benar. " Jawab Lara membelai pipi chuby sang Putri yang berada di atas rajang.
"Siapa namanya Nyonya?" Tanya Yuki penasaran.
Lara terdiam sesaat masih membelai pipi sang putri. Bayi mungil itu menggeliat karena mendapatkan rangsangaan dari luar.
"Liliana Baron. Yang akan menjadi bunga tercantik untuk Papanya. Louis Baron," tutur Lara dengan menampilkan senyum tulus.
"Liliana Baron, nama yang bagus." Tutur Yuki.
KLIK!
Pintu kamar Lara terbuka lebar. Dua orang berbeda jenis kelamin masuk ke dalam ruangan dengan senyum hangat.
"Lara! selamat atas kelahiran anak ke dua mu." Seru Yunita memberikan Lara pelukan hangat.
"Terimakasih Yunita." Balas Lara dengan senyum lebar.
"Putrimu Cantik. Seperti ibunya." Timpal Devan membelai pipi chuby anak bayi perempuan yang terlihat mengemaskan itu.
"Liliana memang Cantik. Tapi dia tidak mirip Nyonya, tapi lebih mirip Papanya." Bantah Yuki cepat.
Devan hanya berdecak jengkel dengan perkataan gadis Jepang itu. Lara dan Yunita hanya memberikan Senyum nakal ke arah ke duanya.
Yunita dan Devan mendapatkan informasi tentang Lara. Dari orang suruhan Devan. Ke duanya berangkat ke Jepang tak lama setelah Lara meninggalkan Belanda. Lara jujur mengatakan semuanya, tampa ada yang dia tutup-tutupi.
__ADS_1
Yinita dan Devan merasa sangat marah dengan Aiden. Ingin rasanya Yunita dan Devan membunuh Aiden hari itu juga. Namun ia di halangi oleh Lara. Lara memutuskan untuk melupakan Aiden berserta dendam yang ia miliki. Mengingat Juna adalah anak dari Aiden.
Lara tak ingin saat Juna tau siapa Ayah kandungnya nanti ia akan kecewa pada Lara. Jika sampai Aiden meninggal. Ia akan menahan semua penderitaan ini sendiri. Namun siapa sangka selama masa ke hamilan Lara. Ia sangat di limpahi oleh banyak perhatian. Mulai dari anak buah Louis, Juna, Yunita dan juga Devan tentunya.
Selama masa ngidam dan masa-masa sulit nya Lara tak pernah merasa sulit sedikit pun. Karena mereka semua nya memberikan Lara banyak cinta. Sampai sang putri lahir ke dunia. Jika bertanya tentang Aiden. Lelaki itu berusaha menemuinya dengan bermacam cara.
Namun Lara tak pernah bisa di temui. Penyesalan memang selalu terletak di akhir bukan? Maka itulah yang Sehun rasakan saat ini.
"Kak Louis, terimakasih telah memberikan banyak cinta padaku. Dan terimakasih telah memberikan putri yang sangat cantik untukku. Aku akan menjaganya apa pun yang terjadi." Tutur hati kecil Lara menatap wajah tenang sang Putri.
Sedangkan di lain tempat Sehun meratapi nasibnya. Menatap seungguk tanah yang telah di tumbuhi oleh rerumputan hijau. Dimana di dalam tanah itu terkubur putranya. Anak yang ia coba lindungi sekuat tenaga nya.
"Lama tak bertemu Papa." Seru suara lembut yang berasal dari belakang tubuh lelaki yang berusia semakin matang dan tampan itu.
Aiden membalikan tubuhnya melihat anak perempuan berumur empat belas tahun. Anak yang tak pernah bisa ia temui. Anak yang menolak bertemu dengannya.
Venus meletakan bunga di atas gundukan makam berukuran kecil itu. Helaan napas letih terdengar jelas dari Venus.
"Kenapa kau selalu menolak menemui Papa lagi Venus?" Tanya Aiden dengan mata sendu.
"Aku tak pernah suka dengan Papa yang pengecut. Lihatlah sekarang ! Ke dua putramu pergi meninggalkanmu Papa. Dan dia harus mendekam di rumah sakit jiwa atas kematian putranya bukan?" Tutur Venus menatap nama di ukiran keramik hitam itu.
"Venus!" seru Aiden pelan.
Ia memeluk tubuh Putri yang selalu ia rindukan itu. Venus tak bisa berbuat banyak. Ia juga merindukan sang Ayah. Namun kemarahannya membuat ia harus memberikan Aiden suatu pelajaran. Bahwa ia harus berpikiran matang. Venus bahkan tak bisa bertemu dengan Lara.
Jika bukan karena Lara sudah di pastikan Aiden dan Venus akan mati. Apa lagi Laura sudah pasti juga berada di bawah tanah yang dingin dan gelap. Namun mereka hanya menghabisi Sean putra Aiden dan Laura dengan bantuan Hani tentunya.
Dengan begitu mereka bisa menyiksa dua orang hanya dengan satu nyawa. Terbukti bukan? Laura seketika kehilangan akal sehatnya. Hinga mendekam di RSJ. Aiden terlihat begitu kusut dan tak terurus.
"Papa mohon pulanglah ke rumah. Papa janji akan membawa Mama Lara pulang bersama kita." Tutur Aiden memeluk erat tubuh Venus.
"Mama tak akan pernah mau tinggal bersama Papa lagi." Balas Venus dengan suara lirih.
Aiden melepaskan pelukannya di tubuh sang putri. Menatap intens ke dua mata Venus. Mencoba mencari kebohongan di mata sang Putri.
"Mama! Sudah tidak mencintai Papa lagi." Lanjut Venus dengan wajah serius.
Aiden mengeleng kan kepalanya berulang-ulang kali. Ia membantah apa yang di katakan oleh Venus. Bagaimana mungkin Lara tak mencintainya lagi. Lara hanya akan selalu mencintai. Ia tak akan pernah bisa melupakan dirinya.
"Apa yang kau katakan sayang. Mamamu hanya akan mencintai Papa." Bantah Aiden.
"Mama akan menikah dengan Paman Devan. Itulah yang di katakan Kakek padaku. Aku tak bisa berkata apa lagi karena Mama sudah memutuskan nya. Jangan salahkan Mama! Papa. Karena Papa lah yang dahulu meninggalkan Mama." Tutur Venus lalu melangkah meninggalkan kuburan adik ke duanya itu.
Ke dua kaki Aiden terasa tak bertulang. Ia jatuh terduduk di rerumputan. Cuaca seakan mengerti perasaan Aiden. Terbukti dengan gumpalan awan hitam mulai menyelimuti area pemakaman.
__ADS_1
Hujan deras turun menghujani seluruh tubuh Aiden. Aiden menangis meraung-raung di tengah hujan deras. Tangan kanannya meninju rerumputan meluapkan semua emosi yang ia rasakan.
Rasa sakit, derita dan luka telah ia resapi dengan sangat dalam. Ia telah terjatuh terlalu dalam pada yang namanya luka. Permainan takdir yang terasa tidak adil bagi dirinya.
Dari kecil ia telah tumbuh dengan banyak luka. Hingga ia merasakan sedikit ke bahagia di saat gadis yang ia cintai menyatakan cinta pada dirinya. Kemudian ia di hempas dengan ketidak mampuannya. Lalu ia di seret dalam sebuah pengorbanan.
Dimana ia kehilangan satu-satunya sandarannya. Hinga sebuah tangan terulur padanya. Melatihnya dengan keras sekeras ke hidup. Aiden merasa hidup kembali ketika Lara datang dalam hidupnya. Tak lama ia kembali kehilangan Lara hingga dunianya hancur.
Ke datangan Laura membuat ia harus menutup mata dan rasanya. Membiarkan gadis mirip dengan wanita yang ia cintai itu masuk ke dalam hatinya. Siapa sangka Lara yang di kira mati hidup kembali. Hingga membuat dirinya dilema.
Lagi! Lagi! Dan lagi. Tuhan membuat Aiden merasakan luka dimana ia kehilangan ke duanya. Hinga kehilangan putri satu-satunya. Seminggu kemudian ia kehilangan putra satu-satunya. Bukankah hidup itu begitu tidak adil pada lelaki malang itu.
Ia hanya ingin merasakan sedikit kebahagian. Hanya sedikit saja! Tak lebih dari itu. Lalu kenapa Tuhan begitu tega mempermainkan dirinya dan takdirnya.
"Apa kesalahanku hinga harus terasa sesakit ini Tuhan?" Tutur Aiden ketika kepalanya menghantam rerumputan.
Tubuhnya tak lagi mampu bertahan. Aiden Brown telah benar-benar hancur tak terbentur lagi.
🔪🔪🔪
6 Tahun kemudian
Wajah imut itu tak pernah luput dari pandangan ke dua mata bulat itu. Ia melangkah mendekati sang adik yang kini tengah menunggu dirinya di kursi taman bermain.
"Liliana!" Serunya dengan suara lantang.
"Abang!." Balas sang adik dengan melambaikan tangan ke arah Juna.
"Ini." Ucap Juna memberikan Es cream coklat ke tangan Liliana
Tangan mungil itu menerima Es Cream yang di berikan oleh Juna. Ke dua mata bening namun teduh itu berbinar-binar melihat Es cream ke sukaannya itu.
"Terimakasih Abang." Serunya sebelum menjilat Es coklat nya.
Juna tersenyum dan membelai rambut hitam legam sang adik. Ia menatap sendu ke arah Liliana. Ia merasa bersalah dan sekaligus akan merindukan adik kecilnya itu.
"Kenapa Abang melihat Liliana seperti itu?" Tanya gadis berumur enam tahun itu.
"Abang hanya merasa adik Abang satu ini begitu cantik dan lucu." Tutur Juna sambil mengelap sudut bibir sang adik yang terkena lelehan ES.
Tak jauh dari tempat ke duanya bercengkrama seorang berbaju serba hitam menyeringai. Ia melihat interaksi ke duanya dengan senyum miring.
"Liliana Baron. Anak yang manis, tapi sayang. Kau harus menyusul Papamu yang keparat itu." Tutur lelaki bermata tajam itu.
Ia mengeluarkan pistol hitam dari saku jaketnya. Mengarahkan ke kepala Liliana. Ia adalah seorang penebak jitu. Sejauh apa pun jaraknya ia pasti akan mengenai sasaranya. Itu pun jika sasaranya tidak bergerak terlalu banyak.
__ADS_1
"Mati kau Liliana Baron!" Tuturnya dengan menarik pelatuk.
Dooor !