Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 19


__ADS_3


"Saat kau Jatuh Cinta kau tak akan peduli baik atau salah yang telah kau lakukan. Karena yang terpenting dari semuanya adalah kau memiliki orang yang kau Cintai."


~Louis Baron~


.


.


.


.


.


Lelaki bermata kelam itu melebarkan senyumannya saat melihat dari jauh gadis yang rindukan kembali padanya. Ia duduk santai sambil menunggu gadis ia sampai ke tempatnya berada.


Brak !!!


Gadis manis berambut sebahu itu menjatuhkan dua puluh lembaran foto di atas meja. Mata kelam Revo terbelalak melihat siapa yang berada di dalam foto yang di bawa oleh Gea.


"Tidak mungkin ! Bagaimana bisa?" Tutur Revo dengan tangan bergetar.


Gea duduk di depan Revo dengan mata penuh kemurkaan. Ia terbang dari Belanda ke Jepang dua hari setelah mengikuti kegiatan Aiden dan Laura. Dan yang paling membuat ia murka adalah wajah itu. Yang di yakini sebagai Lara! Gadis yang di anggap ****** oleh Gea menikah dengan Aiden untuk ke dua kalinya.


"Kenapa dia masih hidup?!" seru Gea dengan wajah masam.


Tak ada jawaban dari bibir tebal seksi milik Revo. Ia masih menatap foto Laura di Cafe dan juga di atas altar. Revo sadar itu bukan Lara, saat ke dua mata kelamnya menangkap bayangan Sara dari jauh.


Revo memberikan kode pada anak buahnya untuk meninggalkan dia berdua dengan Gea. Sekaligus memberikan kode agar anak buahnya segera melaporkan ke datangan Gea pada Louis.


"Itu bukan dia." Ucap Revo menyandarkan punggung belakangnya ke kursi terbuat dari rotan buatan negara Indonesia itu.


"Bagaimana bisa kau menyangkal itu bukan gadis itu, huh? Apa kau buta? Atau jangan-jangan kau menyelamatkannya saat aku pingsan saat itu, hah?!" pekik Gea delapan Oktaf.


Revo mendesah letih. Ia berdiri dari duduknya dan mengitari meja agar bisa duduk di samping Gea.


"Aku tak mungkin mengkhianati kepercayaan mu, sayang. Dan apa kau lupa jika kau sendiri yang mengeluarkan bayinya di dalam kandungannya. Sangat sulit bertahan saat dia kehilangan banyak darah. Bahkan setelah memastikannya mati kita langsung membuang tubuhnya di kandang buaya," tutur Revo mencoba membuat amarah Gea surut.


"Bagaimana jika kita pastikan dulu siapa dia. Baru setelah itu kita tentukan siapa yang salah dan siapa yang benar." Lanjut Revo menggenggam tangan Gea.


Gea hanya mendesah letih. Emosinya begitu terkuras karena kehadiran Lara. Wanita yang ia pikir telah mati di makan Buaya dan tiba-tiba saja satu tahun kemudian dia telah bersama lelaki yang ia cintai.


Tapi setelah Gea pikir-pikir lagi. Ada yang aneh, Revo tak akan mungkin mengkhianati dirinya. Mengingat bagaimana dia mencintainya bukan? Lalu jika itu bukan Lara siapa gadis itu sesungguhnya?


Pertanyaan itu menjadi tanda tanya besar bagi Gea dan juga Revo pastinya. Di lain tempat Louis membawa Sara keluar dari rumah Revo dengan mobilnya.


"Kakak kita mau kemana?" tanya Sara pelan.


Ia tak tau kenapa tampa mengucapkan sepatah kata pun Louis menariknya menuju garasi mobil. Bahkan ia membawa dirinya tanpa mengatakan apa-apa. Seketika Sara ingat! Gea. Setiap gadis itu datang kerumahnya maka Louis akan membawanya pergi berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.


Entah itu ke perdesaan atau luar negeri. Dan itu membuat Sara selalu bertanya-tanya. Apakah gadis itu sangat berbahaya hinga ia harus menjauh dari rumah bahkan negara kelahirannya.


"Kita akan ke Belanda. Bukankah kau ingin melihat negara Belanda?" Tutur Louis dengan senyum.

__ADS_1


"Tapi aku tidak membawa Paspor Kak. Dan aku juga tidak membawa baju," jawab Sara heran.


"Tenang saja itu sudah di bereskan. Kita hanya perlu ke Bandara di sana sudah ada anak buah Kakak. Dan untuk baju, ayolah Sara! Kau seperti Kakakmu ini tak punya uang saja sampai tak bisa membelikanmu baju nanti di sana." Ucap Louis sedikit menyombong.


Yang di katakan Louis memang benar bukan? Ia bahkan bisa membelikan Mall sekaligus untuk Sara jika gadisnya menginginkannya. Dan lagi pula ke duanya ke Belanda dengan pesawat Pribadi Louis.


Jadi kapan pun dan di mana pun Louis bisa berangkat kemana saja. Baik itu dengan pesawat atau dengan kapal Pesiar milik nya. Sebagai Ketua Dark ia punya kekayaan yang tak bisa di bayangkan oleh siapa pun.


Ke kuasaannya di Jepang jangan di tanya lagi. Louis bahkan mampu memonopoli pemerintahan Jepang. Menginggat pejabat di Jepang sering bekerja sama denganya. Dimana mereka selalu memakai jasa organisasinya untuk menghabisi orang yang tidak mereka inginkan.


"Iya aku tau itu Kak." Balas Sara dengan kekehan kecil.


Mendengar kekehan Sara, Louis mengembangkan senyum hangatnya. Bahagianya karena kehadiran Sara. Gadis itu membuat hidupnya berwana. Tak hanya ada hitam dan abu-abu saja. Tapi kini sudah banyak warna di hidupnya.


"Kau hanya milikku, Sara Williem."


Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan. Ia tak akan melepaskan Sara


bagaimana pun dan apa pun yang terjadi. Bahkan ia akan membunuh gadis gila itu jika perlu. Ia akan menentang Revo jika lelaki itu juga mengikuti ke inginan Gea.


Revo tampa Louis bukanlah apa-apa dan juga bukan siapa-siapa. Louis lah yang membuat Revo memiliki ke kuasaan dan juga ke kayaan. Hidup Revo adalah milik Louis. Karena ia yang menyelamatkan Revo dari kematian. Hingga tak satu pun kata Louis yang bisa di bantah oleh Revo.


Flashback On


Revo masuk bersama Louis ke ruangan Operasi. Ke duanya menatap santai bagaimana Gea membelah perut gadis yang tak berdaya di ikat di atas ranjang. Tak berselang lama bayi merah itu keluar secara paksa.


Namun Gea pingsan saat bayi itu telah berhasil di keluarkan. Entah karena lelah atau takut hinga Gea pingsan. Ke duanya yang awalnya hanya menyaksikan dari sudut menjadi mendekat.


"Gea! Sadarlah." Tutur Revo memangku Gea namun gadis itu tak kunjung membuka ke dua matanya.


Revo mengangguk dan mengendong Gea keluar dari ruangan. Bayi merah yang tersengal-sengal itu terlihat tak berdaya.


"Bawa bayi ini pergi. Tanyakan pada Revo akan di apakan bayi itu," titah Louis pada anak buahnya.


"Baik Boss," seru mereka serempak.


Kini tinggalah Louis dan Lara yang masih menutup mata. Louis mengamati Lara diam-diam. Aneh! Jantungnya berdebar, hatinya merasa sakit melihat wajah lemah itu.


Louis mengambil alat medisnya dan memerintahkan anak buahnya yang memang lulusan ke Dokteran.


"Kita akan mulai menjahit perutnya. Dan kontrol detak jantung berserta darahnya," titah Louis dengan berwibawa.


Anak buahnya hanya mengangguk saja. Mereka tidak mengerti kenapa sang Bos menyelamatkan gadis yang harusnya ia bunuh. Tapi tak satu pun dari mereka yang bertanya.


Tiga jam berselang, keadaan Lara stabil dan di pindahkan ke salah satu Rumah Sakit di Jepang.


"Ada apa yang terjadi padanya?" Tanya Dokter yang menangani Lara.


"Tidak usah bertanya. Tolong siapkan Dokter psikologi dan juga hipnoterapi. Cuci otaknya hinga tak mengingat apa pun. Berapa pun bayarannya akan aku bayar," tutur Louis menatap wajah pucat Lara.


"Baiklah Tuan Baron," ucap sang Dokter lalu melangkah pergi meninggalkan ke duanya.


"Kau akan menjadi milikku. Ini semua salah dirimu yang membuat aku tertarik. Mulai saat ini namamu adalah Sara sama seperti nama Mama ku. Dan kau akan menjadi kekasihku dan juga adik Revo!" Tutur Louis membelai pipi Lara.


SREK !

__ADS_1


Pintu rawat di geser menampakan tubuh Revo masuk ke dalam ruangan. Revo menutup pintu rawat kembali dengan perlahan. Ia mendekati rajang dan berdiri di samping Louis.


"Kenapa kau menyelamatkannya?" tanya Revo penasaran.


"Aku menyukainya."


"Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"


"Dia akan menjadi kekasihku. Dia mulai saat ini adalah adik angkat mu. Dia bukan lagi bernama Lara. Namun Sara Wiliam itulah namanya," tutur Louis.


"Baiklah aku mengerti. Aku akan mengurus sisanya. Dan tolong berjanji jangan katakan apa pun pada Gea. Dan biarkan dia hidup Louis, kau bisa memiliki Lara dan aku memiliki Gea," tutur  Revo mengajukan kesepakatan.


"Tentu. Tampa Gea membawanya, aku mungkin tak akan bertemu dengan nya bukan? Angab saja kehidupan Gea untuk rasa terima kasihku," ucap Louis menyetujui.


"Terimakasih, Louis."


Mendengar perkataan Revo, Louis hanya mengangguk sekali dan membelai kembali wajah pucat Lara.


Flashback off


"Kita sudah sampai, ayo turun," tutur Louis.


"Ya, Kak," balas Sara.


💊💊💊


Laura terlihat ke susahan membenahi alas kasur tempat tidurnya. Beruntung ia dan Aiden melakukan malam pertama ke duanya dengan cahaya minim. Jika tidak lelaki itu bisa tau jika dirinya bukan Lara.


Laura ingat betul betapa sakitnya saat ia harus melepaskan ke perawanannya. Namun lebih menyakitkan lagi ia tak boleh terlihat kesakitan atau berteriak.


"Sayang." Seru Aiden memeluk Laura dari belakang.


Laura tersenyum dan membalikan tubuhnya tuk membalas pelukan Aiden.


"Apa Venus akan tinggal bersama kita Aiden? Aku begitu merindukan Venus," tanya Laura pelan.


"Tentu sayang. Venus bahkan tak sabar bertemu denganmu," balas Aiden.


"Apa Venus akan menerimaku lagi Kak? Menginggat aku sudah sangat lama tak bertemu dengannya?" tanya Laura sedikit takut.


Dia takut Venus akan menyadari perbedaan dirinya dan Lara. Karena gadis kecil itu lumayan lama bersama Lara. Dan di dengar dari Jimi bahkan Venus tau dengan sangat jelas luar dalam Lara.


Ke dekatan ke duanya membuat Lara dan Venus seperti Ibu dan anak pada umumnya.


"Jangan Khawatir. Venus adalah anak yang baik dan pengertian. Dia hanya memiliki satu sifat buruk saja. Yaitu keras kepala sama sepertiku." Tutur Aiden mengelus pungung Laura.


"Semoga saja," harap Laura.


"Aku menjelaskan hal yang sama untuk ke dua kalinya padamu Lara!" Ucap Aiden tertawa kecil.


"Iya, Aiden. Aku merasa de javu ketika kau menjelaskannya," bohong Laura.


Aiden tersenyum lebar. Dari bawah terdengar jelas teriakan Venus yang manggil Lara dan Aiden.


"Sepertinya Venus sudah datang ayo kebawah." Tutur Aiden melepaskan pelukannya di tubuh Lara.

__ADS_1


Laura menurut saja di gandeng oleh Aiden keluar dari kamarnya menuju lantai dasar.


__ADS_2