
"Yang menakutkan di dunia ini bukanlah Kegelapan! Tapi hati manusia. Dimana tak seorang Pun yang tau apa isinya di dalam sana. Dan seberapa gelap
sebuah hati."
~Author~
.
.
.
.
.
Louis mengetuk jari telunjuknya di atas meja. Ia terlihat berpikir keras, terlihat jelas dengan lipatan kulit dahinya. Ia sudah mencari tau siapa gadis yang kini berada di samping Aiden. Dan betapa mengejutkannya Informasi yang ia dapatkan.
Ia mendengar jika gadis itu mengaku menjadi Lara. Di bantu oleh tangan Kanan Aiden sendiri. Bukan hanya itu informasi yang membuat ia terkejut. Melainkan Informasi jika ke duanya kembar. Dan tak satu pun yang tau jika ke duanya kembar.
Ke dua sudut bibir Louis terangkat membentuk lengkungan senyuman. Kini ia tak perlu khawatir lagi jika Sara atau yang bernama asli Lara itu mengingat semuanya. Karena ia tau pasti Suaranya akan kembali saat tau lelaki itu telah menikah dengan kembarannya sendiri.
Tampa campur tangannya, Aiden telah menggali kuburannya sendiri. Louis begitu puas dengan permainan takdir. Namun senyumnya seketika luntur ketika ingat Gea pasti akan mengacau. Bisa jadi gadis itu akan membunuh kembaran Lara.
Itu tak boleh terjadi, karena bagaimana pun kembaran Lara harus tetap hidup sampai mereka menua. Dengan begitu ia bisa memiliki Lara sampai ia menutup ke dua matanya. Egois memang! Namun begitulah Cinta.
Pintu kamar yang Sara terbuka. Ia keluar dengan wajah kusut bangun tidur. Louis berdiri dan melangkah mendekati Sara. Ia mengecup kilat bibir Sara membuat Sara membuka ke dua matanya dengan lebar.
"Kakak!" Rengek Sara sedang kan Louis tersenyum lebar.
"Kenapa sayang? Bukankah itu sudah biasa." Tutur Louis dengan senyum evil.
Sara hanya menampilkan senyum di paksakan. Ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia menyalakan air di dalam bathroom. Sambil menunggu air penuh Sara menatap wajahnya di depan cermin. Wajahnya terlihat pucat. Sudah dua minggu ia berada di Belanda bersama Louis.
Selama satu minggu ia selalu bertemu lelaki itu secara kebetulan. Sara hanya menatap sang lelaki dengan sembunyi-sembunyi. Ia tau perbuatanya taklah terpuji. Namun apa boleh buat cinta memang rumit.
"Aku tak tau kenapa aku menyukaimu. Maaf jika aku tak bisa melupakanmu. Aku memang kejam, karena mencintai lelaki yang telah beranak dan beristri," tutur Sara lirih.
Beruntung selama pertemuan dia dan Aiden lelaki itu tak sedang bersama Laura. Jika lelaki itu bersama Laura maka tak ada yang tau apa yang akan terjadi.
Akh !
"Sakit!"
Rintih Sara memegangi kepalanya yang berdenyut kencang. Saat ia meraba-raba mencari pegangan agar tak jatuh. Ia malah tergelincir karena tampa sadar saat tengah melamun air Badroom telah penuh bahkan tumpah keluar.
BUK !!!!
Kepala Sara terbentur ujung kabin kamar mandi lalu di sambut oleh pinggiran Badroom. Darah segar mulai keluar dengan daras dari sudut dahi Sara.
"Kenapa kau membenciku?"
"Aku mencintaimu."
"Mama!"
__ADS_1
"Lara!"
"Lara aku mencintaimu."
"Aiden."
"Kau milikku hanya milikku, Lara Smith."
Suara itu terus mengema di gendang telinga Lara. Gambar tak jelas itu perlahan-lahan mulai terlihat jelas. Wajah dirinya, wajah Sahabat nya, wajah Venus dan terakhir adalah wajah lelaki yang ia Cintai.
Tangan itu mulai perlahan bergerak pelan. Membuat Louis yang menggenggam tangannya berteriak memanggil Dokter.
Wanita paruh baya berpakaian jas kebesaran itu memeriksa ke adaan Sara. Gadis itu di temukan jatuh dengan darah segar mengalir deras di kamar mandi. Beruntung Louis masuk kamar mandi karena tiga puluh menit di dalam Sara tak kunjung keluar.
Awalnya ia panik karena mengedor-gedor pintu kamar mandi tapi tak kunjung di buka. Hingga pintu itu harus rusak karena di doprak oleh Louis.
Ke dua mata Sara terbuka perlahan. Suara mendengung dari sang Dokter terdengar sedikit sayup-sayup. Hingga beberapa lama barulah ia bisa mendengar dengan jelas.
"Nona bisa mendengar saya?" Tanya Dokter itu untuk ke sekian kalinya.
"Ya." Jawab Sara serak.
"Syukurlah." Tutur sang Dokter lega.
Setelah memeriksa tubuh Sara sang Dokter keluar dari ruangan Sara. Louis mengembangkan senyum lega untuk Sara. Ia menggenggam tangan Sara namun dengan kasar Sara melepaskan genggaman tangan Louis.
"Ada apa Sara?" Tanya Louis khawatir.
"Siapa yang kau panggil Sara? Namaku Lara Smith. Kau menipuku Loius Baron !" Teriak Lara dengan suara kencang.
Sedangkan di tempat lain, Aiden tengah bermanja-manja dengan Laura yang berada dalam pelukan Aiden.
"Apa ada yang kau ingat selama beberapa minggu ini?" tanya Aiden pelan.
"Itu! Aku ingat saat kau memaksaku menjadi milikku tuan Brown," sindir Laura dengan suara lucu.
Aiden terkekeh mendengar sindiran Laura. Ia mengecup ke dua pipi Laura membuat Laura memerah.
"Tapi kau sendiri waktu itu telah jatuh pada pesonaku Lara Brown," tutur Aiden.
"Ya. Dulu dan sekarang pun begitu," tutur Laura dengan wajah memerah.
"Ya, kau benar sayang." Tutur Aiden dengan senyum nakalnya. "Aku merasa kau lebih manja dari pada dulu." Lanjut Aiden lagi yang membuat tubuh Laura menegang sesaat.
"Itu karena aku tak mau lagi kehilangan dirimu. Aku takut kau pergi dariku." Ucap Laura dengan senyum manja.
"Papa !" Seru Venus masuk ke dalam kamar Ke dua orang tuanya tampa mengetuk pintu.
Laura melepaskan pelukannya dari Aiden. Ke duanya menatap Venus dengan pandangan berbeda-beda.
"Ada apa sayang?" Tutur Aiden berdiri dan melangkah mendekati Venus yang masih berdiri di ambang pintu masuk.
"Ada Kak Mark di luar." Tutur Venus dengan wajah merona.
"Berhenti memanggilnya Kakak sayang. Karena dia hanya muda beberapa tahun dari Papamu ini." Ucap Aiden dengan wajah cemburu.
__ADS_1
Laura terkekeh pelan mendengar nada tak suka dari sang suami. Venus mendesah berat, ia hanya mengangukkan kepalanya mendengar perkataan sang Ayah.
"Jangan begitu Aiden. Kau membuat Venus sedih, biarkan saja ia memanggil Mark dengan Panggilan Kakak. Kau tau kan Mark itu belum tua, dia itu muda sepuluh tahun darimu." Peringgat Laura yang sudah berdiri di samping Aiden.
Aiden menatap wajah Laura sejenak dan mendesah pelan. Ia tak suka Venus putrinya menyukai lelaki selain dirinya. Bisa di bilang dia adalah Ayah yang Posesif.
"Baiklah." Tutur Aiden mengalah.
"Nah begitu donk." Ucap Laura mengandeng tangan kanan Aiden dengan manja.
"Aku akan menemui Mark dulu. " Tutur Aiden pada Laura.
"Ya, temui saja dia dulu. Aku akan bermain dengan Venus dulu." Ucap Laura dengan tenang.
Aiden mengecup dahi Laura lalu membelai puncak kepala Venus dan turun ke bawah. Kini tinggal lah Venus dan Laura.
"Apa Venus mau jalan-jalan dengan Mama ke Mall malam ini?" Tanya Laura dengan senyum mengembang membelai pipi Chubby Venus.
"Ya, Mama." Jawab Venus tersenyum tipis.
Laura tersenyum dan menarik tangan Venus masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Venus melepaskan pegangan tangan Laura, membuat Laura menatap Venus dengan pandangan aneh.
"Ada apa Sayang?" Tanya Laura menyamakan tingginya dan Venus.
"Kenapa kau berpura-pura menjadi Mama Lara dan menipu Papaku?" Tanya Venus dengan pandangan Intens.
DEG !!!!
Mata Laura semakin membulatkan mendengar pertanyaan ke luar dari bibir Venus. Ia bahkan terjengkang ke belakang karena ke dua kakinya bergetar.
"Bagaimana.."
"Tentu aku tau. Mama Lara bukanlah orang yang suka berbelanja. Dia tidak manja, bahkan Mama selalu memaksaku untuk belajar bukan bermain. Dan yang terpenting dari semua itu. Aku tak merasakan ke hangat saat kau memelukku." Jelas Venus dengan mata sendu.
"Venus." Seru Laura bergetar.
"Aku tak akan mengatakannya pada Papaku. Karena aku tak ingin melihat Papa hancur lagi karena kau menipunya. Aku tak tau siapa yang kau ajak bekerja sama denganmu. Namun kau harus ingat, kau bisa membuat Papaku bahagia dan aku akan tutup mulut dan mata. Yah! Selama Papa bahagia." Tutur Venus dengan mata memerah.
Jika boleh jujur Venusmengamati semuanya. Ayolah ! Oh Venus adalah keturunan Mafia hebat. Kakeknya adalah Mafia yang berpengaruh dan almarhum sang Ibu adalah wanita Pintar dan Bijak.
Dan jangan lupa siapa Ayahnya. Lelaki yang jenius hinga kepintaran dan kepekaan Venus tak perlu di ragukan lagi.
"Maafkan Aku, Venus.." Ucap Laura dengan wajah cemas.
"Tidak perlu meminta maaf. Cukup bersandiwara lebih keras lagi menjadi Mama Lara. Agar Papaku tak curiga denganmu. Jangan sampai ketahuan, aku hanya akan membantu sebisaku saja." Ucap Venus lirih.
Venus menghapus kasar air mata yang meleleh dari ke dua matanya. Ia keluar dari kamar Aiden dan masuk kemarnya. Venus melangkah menuju kotak yang berisi foto Lara dengannya.
"Mama! Maafkan aku. Aku tak bisa menghentikan sandiwara wanita itu. Bukan karna aku menyukainya dan melupakan Mama. Tapi karena aku tak ingin Papa terluka mengetahui fakta itu bukan Mama. Maafkan Sekyung Mama." Tutur Venus membelai foto Lara yang tersenyum memeluk nya.
Venus menangis tersedu-sedu. Ia begitu merindukan Lara, hanya Lara. Wanita yang tak melahirkan kannya namun mampu memberikan ke hangat sebagai seorang Ibu. Wanita yang selalu memaksanya belajar. Wanita yang memaksanya untuk mandiri dan tangguh.
"Tuhan! Bisakah kau membangkitkan orang mati? Aku mohon biarkan Mama Lara kembali padaku." Tutur Venus dengan mata membengkak.
Satu jam menagis Venus tertidur dengan memeluk foto Lara dan dirinya. Pintu terbuka perlahan, pengasuh Venus masuk dan melangkah mendekati ranjang Venus. Ia menyelimuti tubuh kecil itu dengan pelan.
__ADS_1
"Semoga doa nona di dengar oleh Tuhan. Terkadang aku Khawatir dengan nona yang terlalu cerdas dan peka." Tutur wanita paruh baya itu.