Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 26


__ADS_3


"Aku tak pernah menyalahkan keterlambatan mu hadir kembali untukku. Namun yang ada di dalam hatiku adalah dimana aku harus berada di antara dirimu dan dirinya. Hinga aku tak mampu untuk memilih."


~Aiden Brown~


.


.


.


.


Wajah Louis tampak berbinar-binar melihat sebongkah darah yang berada di dalam rahim seorang wanita cantik yang tengah dalam posisi terlentang. Ke duanya dapat melihat dengan jelas bagaimana bentuk daging yang sebentar lagi akan berkembang. Bongkahan daging yang akan berubah bentuk dan berbunyi nyaring mengeluarkan bunyi degupan keras.


Dan untuk degupan keras itu Louis sangat tak sabar. Ia ingin mendengarkan detak jantung dari anaknya. Dokter cantik berambut hitam legam itu tersenyum dan membantu Lara menutupi perut yang masih tampak rata itu.


"Sepertinya Tuan Baron sangat tak sabar melihat wujud anaknya." Tutur sang Dokter sambil tersenyum.


Louis membalas senyum sang Dokter dengan begitu lebar. Lara menatap wajah Louis dengan wajah sedih. Ia tak pernah sebelumnya melihat senyum selebar itu dari Louis sejak ia mengingat semua masa lalunya.


"Tentu saja Dokter. Aku sangat tak sabar melihat anakku." Balas Louis dengan wajah berseri.


Lara bangkit dari posisi tidurnya dan melangkah bersama Louis menuju meja di sudut ruangan. Ke duanya menghadap sang Dokter yang memasukan beberapa foto USG Lara.


"Bagaimana dengan janinnya Dokter? Tidak ada masalah bukan? Apa rahim saya baik-baik saja?" tanya Lara dengan wajah sedikit takut.


Bagaimana tidak? Ia pernah mengalami Operasi paksa. Dimana janin yang baru berusia tujuh bulan harus di keluarkan dengan paksa. Dan ia tak tau apakah rahimnya robek atau bermasalah.


"Tidak ada masalah sepertinya Nyonya, apakah Nyonya sebelumnya pernah melakukan Operasi saat melahirkan?" tanya Dokter bernama tag Bianca.


"Ya Dokter. Saat itu saya harus di operasi karena janjinya mengalami masalah," bohong Lara dengan suara lirih.


Louis menatap Lara dengan wajah sedih. Wajah berseri itu seketika hilang saat melihat wajah terluka Lara. Louis juga penasaran dan takut. Karena bagaimana pun ia tak ingin Lara dan anaknya dalam bahaya.


"Oh, begitu ternyata. Tapi tenang saja Nyonya, janin Anda baik-baik saja. Kita akan sering memantau nya," tutur Bianca menenangkan Lara.


Lara dan Louis tersenyum mendengar perkataan Dokter Bianca. Lara mengelus perut ratanya dengan senyum lega.


"Kau harus tumbuh dengan sehat di sana sayang. Papa akan menjagamu." Tutur hati kecil Louis ikut meletakan tangan nya di perut datar Lara.


"Tolong jadilah anak yang kuat. Karena saat ini Mama akan membalaskan dendam Mama pada Papamu. Saat itu terjadi Mama mohon jangan pernah meninggalkan Mama."  Tutur hati kecil Lara.


Di lain tempat terlihat sebuah ruangan berantakan. Hembusan napas yang tersengal-sengal terdengar jelas. Mata bulat itu menatap lelaki yang menjadi suaminya itu dengan pandangan marah.


"Jadi kau akan kembali padanya, hah? Apa kau tak mencintaiku?" Tutur Laura dengan wajah merah.


"Aku tak tau Laura. Kau dan dia sama-sama Istriku. Dan kau tau dengan jelas aku tak pernah menceraikan dia. Karena aku pikir dia telah mati," balas Aiden dengan wajah frustasi.

__ADS_1


Laura tertawa sumbang mendengar perkataan Aiden. Hati wanita mana yang mau dimadu. Meski di sini dialah yang menjadi madunya. Namun siapa sangka wanita yang mati hidup kembali dengan selamat. Hingga mempora-porandakan hati sang suami.


"Lalu kau ingin aku hidup denganmu dan juga dia,hah? Aku tak bisa Aiden Brown! Jika kau memilih dia maka aku yang akan pergi," tutur Laura dengan wajah dingin.


Aiden menarik tangan Larua, hingga wanita yang melahirkan putra tampannya itu masuk ke dalam pelukannya. Aiden tak bisa kehilangan Laura dan juga tak bisa melepaskan Lara. Lara adalah Cinta pertamanya. Sedangkan Laura adalah wanita yang menjadi Ibu dari anak-anaknya.


"Aku mohon Laura. Dia adalah kakakmu aku yakin kau pasti bisa hidup dengannya. Aku tak bisa kehilangan dirimu dan Sean," tutur Aiden dengan suara lirih.


"Tapi aku tak bisa berbagi dengan wanita mana pun termasuk saudara kembar aku sendiri." Jawab Laura dengan isak yang mulai terdengar jelas.


Runtuh sudah bertahan Laura Taylor yang sudah menjadi Laura Brown. Ia mencintai Aiden Sangat dalam. Melihat Aiden rapuh seperti ini membawa Laura ikut hancur. Ia pikir Aiden sudah tak lagi menyimpan bayang Lara. Namun ia salah ia dan Lara memiliki tempat yang sama di hati Aiden.


Aiden sudah berpikir selama dua minggu lebih setelah pertemuannya dengan Lara. Dan Jawaban yang ia terima adalah Lara dan Laura memiliki tempat yang sama. Karena ke duanya berwajah sama. Selain itu ke duanya sama-sama mampu membuatnya jatuh cinta.


Di kamar berdinding berwana pink itu Venus hanya menatap wajahnya di cermin besar. Ia mendengar pertengkaran sang Ayah dan sang Ibu. Venus tak menampik ada rasa bahagia di relung hatinya. Namun ia juga tak bisa merasa bahagia sepenuhnya karena mengingat status Laura dan Lara juga sama.


Dimana Lara dan Laura adalah Istri Aiden. Tak satu pun yang bisa membantah fakta tersebut bukan?


Venus melangkah mendekati ransel sekolahnya. Jari lentik panjang miliknya itu bergerak lihai menekan tombol panggil.


"Hallo, Kak. Ini aku, Venus."  Seru Venus saat orang di seberang sana menjawab.


".   .    .    "


"Bisakah Kakak memberikan aku alamat dimana Mama Lara tinggal sekarang?" Tutur Venus berterus terang.


".   .   .    ."


". . . . "


"Terimakasih Kak. Aku tak akan melupakan kebaikan Kak." Tutur Venus lalu mematikan ponselnya saat setelah mendapatkan alamat Lara.


"Mama ! Aku akan membuat Mama kembali lagi ke sisiku. Tunggu aku akan datang." Tutur Venus dengan senyum lebar.


Dia tak peduli masalah Lara dan Aiden. Karena itu masalah orang dewasa. Karena yang ia inginkan saat ini adalah ia bertemu Lara dan memeluknya dengan erat. Apa pun keputusan Lara nantinya ia akan tetap menerimanya. Karena bagi Venus, Lara Smith selama-lamanya akan tetap menjadi Ibunya apa pun yang terjadi.


🔮🔮🔮


Desahan jengkel mengalun indah di bibir Lara. Lara menatap Aiden dan Wanita yang sangat mirip dengannya itu dengan wajah dingin. Namun meski begitu ia tetap terlihat tenang. Beda halnya dengan Laura yang terlihat begitu gelisah dan menatap Lara tak suka.


"Lalu?" Tanya Lara sambil melipat ke dua tangannya di depan dada dan menyadarkan punggung belakangnya ke kursi restoran mewah bintang lima itu.


"Kembalilah padaku, lara. Karena Laura telah setuju agar kau hidup bersama aku dan Laura. Kau masih istriku sah secara agama dan hukum. Dan Laura juga begitu," papar Aiden menatap Lara dengan pandangan lekat.


"Kau mau berbagi suami denganku?" bukannya menjawab Lara malah bertanya balik pada Laura.


"Tentu tidak," jawab Laura tak suka.


Aiden menatap Laura dengan pandangan marah. Ia dan Lara awalnya sudah bersepakat akan membawa Lara kembali ke rumah. Namun sekarang malah menjadi kacau.

__ADS_1


"Lihat! Dia saja tak setuju." Balas Lara dengan kekehan sinis.


"Laura bukankah kita sudah membicarakan semuanya kemarin. Dan saat ini kita hanya akan membawa Lara kembali." Tutur Aiden menatap Laura dengan pandangan tak suka.


"Itu keputusanmu bukan aku," jawab Laura ketus.


"Tapi.."


"Sudah cukup!" Teriak Lara jengah. Ia berdiri dari duduknya di ikuti oleh Aiden dan juga Laura.


"Aku tak bisa bersamamu. Dan jika kau bilang aku masih istrimu maka aku akan mengirimkan kau surat cerai. Dan satu lagi aku saat ini tengah hamil anak dari calon suamiku. Saat anak ini lahir aku akan menikah dengannya. Jadi jangan ganggu aku," minta Lara dengan nada dingin.


Ketika Lara menyelesaikan perkataanya pintu restoran VVIP itu terbuka lebar memperlihatkan lelaki tampan dengan senyuman bak malaikat.


Aiden dan Laura menatap ke arah Lelaki tampan itu. Lara melangkah dan berdiri di samping sang lelaki. Ia mengandeng tangan Louis di depan Laura dan Aiden.


"Perkenalan kan lelaki tampan ini adalah calon suami sekaligus calon Ayah dari anakku. Namanya Louis Baron, jadi berhenti menganggu aku." Tutur Lara dengan wajah angkuh.


"Hallo! Tuan Brown dan juga Nyonya Brown. Maaf, aku sudah mendengar cerita calon Istriku. Satu saran dariku untukmu, berbahagialah dengan istrimu yang sekarang karena Lara hanya akan menjadi milik ku." Tutur Louis lalu menarik Lara melangkah meninggalkan ruangan mewah itu.


Lara hanya menuruti kemana langkah kaki Louis. Aiden mengeram, ke dua tangannya mengepal di ke dua sisi tubuhnya.


"Mau kemana kau, hah!" teriak Laura saat Aiden melangkah.


"Aku tak akan melepaskan Lara." Jawab Aiden berhenti beberapa langkah di depan Laura.


"Kau tak mau melepaskan aku dan juga tak bisa kehilangan Lara. Dia tak punya anak yang bisa menahanmu bersamanya. Tapi aku punya, Aiden Brown. Kau dan aku punya Sean Brown yang harus kita rawat. Dia juga hamil anak dari lelaki lain. Jadi biarkanlah dia bersama lelaki lain." Tutur Laura dengan isakan perih.


Ia tak bisa melepaskan Aiden meski ia meminta Aiden melepaskannya. Laura hanya ingin mengertak Aiden saja. Namun Aiden tetap lah Aiden yang keras kepala.


Aiden melangkah guna mengejar Lara dan Louis. Laura berteriak marah melihat Aiden mengejar Lara. Ia merogoh tas kulit miliknya mengeluarkan Pistol hitam yang mana sengaja ia bawa. Laura bertekat membunuh Lara. Jika Lara mati maka Aiden hanya akan menjadi miliknya.


Ia berlari mengejar Aiden dan Lara. Dimana di sana terlihat Aiden tengahnya mencekal tangan Lara. Dan mereka terlihat perang mulut begitu juga dengan Louis yang memukul Aiden hingga terjengkang kebelakang.


"Mati saja kau, Lara Smith. Aku tak peduli siapa kau." Ucap Laura dengan wajah merah. Dengan posisi siap membidik target.


Ia menatap Lara dengan fokus yang tinggi. Dari kejauhan ia berkonsentrasi membidik dada Lara. Laura telah terlatih memegang Pistol dan menembak, itu semua agar Laura mampu menjaga dirinya. Mengingat Aiden tak ingin Laura berada di posisi bahaya. Dimana ia di bekali Pistol pribadi dari Aiden


DOOR !!!!!!!!


Satu peluruh panas di lepaskan dari sarangnya. Bunyi nyaring yang memekakan telinga.


Akh !!


"Tidak!!!!"


Bruk !


Brak !

__ADS_1


Pistol hitam itu tergeletak di lantai. Tangan Laura bergetar hebat setelah mengenai sasarannya. Aiden menatap Laura dengan pandangan nanar.


Ke dua mata Lara memanas. Semua orang dari masing-masing ruangan VVIP keluar dari tempatnya karena tembakan yang begitu memekakkan.


__ADS_2