Penyesalan Dalam Cinta

Penyesalan Dalam Cinta
Chapter 23


__ADS_3


"Aku tercabik oleh Cinta yang begitu dalam. Pengkhianatan yang tak bisa aku terima dari dirinya. Aku membencinya melebihi apa yang orang-orang tau ."


~Lara Smith~


.


.


.


.


.


.


Gea menatap Revo dan Louis berganti-gantian. Ia mendesah pelan, saat tau jika gadis yang tengah bersama Aiden saat ini adalah kembaran Lara.


"Bukankah aku sudah bilang jika gadis itu sudah mati." Seru Revo menatap Gea dengan pandangan merajuk.


Gea menatap Revo dengan pandangan tak enak hati. Ia meraih tangan Revo dan menggenggam nya dengan erat.


"Maafkan aku sayang, huh !" Bujuk Gea dengan wajah seimut mungkin.


Louis Baron hanya tersenyum miring melihat ke duanya. Terutama Gea! Ia menatap Gea dengan pandangan tak terbaca. Jujur saja ia benci dengan gadis serigala itu. Revo tak pantas bersama gadis busuk itu. Meski mereka adalah pembunuh berdarah dingin. Namun bukan berati mereka tak punya hati untuk mencintai.


Louis tau dengan pasti Gea hanya memanfaatkan Cinta Revo saja. Dan melihat ketidak ketulusan Gea membuat Louis muak. Ia memberikan kode pada anak buahnya tampa ke dua orang yang tengah bertengkar kecil itu ketahui.


Anak buah Louis mengangguk mengerti. Louis berdiri dari duduknya hinga membuat Revo dan Gea menatap ke arahnya.


"Aku tak ingin menggangu kalian. Jadi silahkan atur rencananya dan selamat bersenang-senang." Ucap Louis lalu melangkah meninggalkan rumah yang mereka sewa.


Revo tau jika Sahabatnya itu pergi kembali kepada Lara. Hingga dia diam saja melihat kepergian Louis. Louis melaju dengan mobilnya meninggalkan perumahan mewah itu.


Senyum Psikopat terbit di wajah Louis saat melihat anak buah Aiden bersilisih dengan mobilnya.


"Han Gea! Game Over !" Tutur Louis dengan gerakan menembak dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya lagi mengontrol kemudi.


Louis memang cerdik. Ia diam-diam memberikan Informasi keberadaan Gea pada Mafia dengan bantuan anak buahnya. Sudah saatnya melenyapkan gadis itu. Karena jika sampai Gea melenyapkan Laura maka Lara pasti akan kembali pada Aiden.


Namun bagi Louis gadisnya hanya miliknya. Tak satu orang lelaki pun yang boleh merebut Lara dari sisinya. Tak satu orang pun!!!


Rumah mewah itu di gepung oleh anak buah Sehun. Pertarungan tak terilakan. Terjadi baku tembak di ke diaman Gea. Revo kewalahan melindungi Gea. Gadis itu ketakutan berdiri di belakang tubuh Revo.


Revo kalah telak oleh ke adaan. Jika ia berada di Jepang mungkin ia akan menang. Namun ia berada di Belanda bukan daerah kekuasaannya. Anak buah yang ia bawa tergelak tak bernyawa.


"Mundur kalian." Teriak Revo menodongkan Pistolnya ke arah orang-orang berpakaian serba hitam itu.


"Kami tak akan mundur sebelum melenyapkan Gea Miller! Dia harus mati saat ini juga !" Teriak Jimi yang berdiri dengan angkuh di depan Revo.


Peluru tinggal satu di Pistol yang Revo sodorkan. Jimi menatap Gea dengan pandangan penuh amarah. Karena wanita licik itu Aiden harus hidup menderita. Dan Lara harus meregang nyawa.


Gea harus mati di tangannya. Dan di perlakuan sama seperti ia memperlakukan Lara. Ia akan mengumpan tubuh Gea pada Buaya. Tapi sebelum itu ia akan membawa tubuh Gea pada Aiden. Dengan begitu Aiden akan tenang dan juga Lara tak akan menghantui Aiden di mimpi lelaki itu lagi.


Jimi merasa Lara meminta Aiden membalaskan dendamnya pada Gea. Atas kematian dirinya dan juga anak Aiden.


"Lari Gea!" Titah Revo dengan lantang saat Revo menembak Jimi.


DOR !


DOR !

__ADS_1


Dua tembakan berlainan arah terdengar memekakkan telinga. Jimi berteriak nyeri saat bahu kirinya tertembak. Revo tak konsentrasi hinga pergerakan nya dapat di tebak oleh Jimi. Namun Jimi tersenyum evil di tengah ringisannya itu.


Revo membalikan tubuhnya menghadap ke arah belakang. Ke dua mata gelap itu membulat sempurna saat melihat tubuh sintal Gea terhempas ke tanah. Timah panas milik salah satu anak buah Jimi menembus jantung Gea.


"Kerja bagus Mark!" puji Jimi pada lelaki imut namun menakutkan itu.


Mark termasuk anak yang berbakat dalam menembak. Penembak jitu yang di miliki oleh group Aiden. Mark tersenyum menyeringai dan mendekati Jimi.


"TIDAK !!"


Teriak Revo lalu berlari dengan kencang. Belum sempat Revo menyentuh tubuh gadis yang ia cintai. Timah panas itu menembus otaknya hingga terkapar dengan mata membulat terbuka.


"Guru tidak apa-apa?" tanya Mark khawatir.


"Tenang saja. Ini hanya lah luka kecil saja. Lebih baik angkat jasad ke duanya dan hubungi Aiden. Katakan kita sudah berhasil menghabisi buruan kita," titah Jimi pada Mark.


Lelaki dengan senyum Angel itu mengganguk patuh. Namun ia masih tak beranjak dari posisinya.


"Pergilah." Titah Jimi lagi dengan ringisan ringan.


Mark memapah Jimi dengan wajah lucu. Membuat Jimi hanya mendesah letih. Mark adalah anak muridnya yang hebat dan juga setia. Bagi Mark menghubungi Aiden itu adalah urusan gampang. Yang penting saat ini bagi Mark adalah membuat luka tembak Jimi berhenti mengalirkan darah.


Di lain tempat Lara mondar mandir tak jelas. Deru mesin mobil terdengar jelas di telinganya. Ia melangkah keluar dari kamarnya dan menuruni tangga menuju ruang tamu.


"Apa kau menungguku sayang?" Tanya Louis  dengan senyum lebar saat sampai di ruangan tamu.


Lara tak menjawab. Ia hanya menatap Louis dengan pandanggan tak terbaca. Louis mendekat ke sofa dan duduk melepaskan rasa penatnya berkendara jauh. Dari Amsterdam ke dasar hutan.


"Biarkan aku bertemu Aiden," tutur Lara membuat rahang Louis mengeras.


Namun sebisa mungkin Louis tetap melemparkan senyum pada Lara. Ia tak ingin Lara takut padanya jika ia berubah menjadi mengerikan.


"Tunggulah dulu sayang. Ini belum saatnya kau bertemu Aiden." Ucap Louis mengelap peluh yang menetes di dahinya.


"Satu minggu lagi. Aku janji kau akan bertemu dengan Aiden. Aku yang akan mengantarkanmu padanya," janji Louis dengan suara pelan.


Lara terdiam mendengar perkataan Louis. Ia tau Louis tak bohong padanya. Lara memilih membalikan tubuhnya untuk kembali ke kamarnya.


"Aku punya berita bagus untukmu," tutur Louis membuat langkah kaki Lara terhenti.


"Gea Miller." Seru Louis merebahkan tubuhnya ke soffa.


Lara memasang ke dua telinganya. Jantung nya terpompa kencang saat mendengar nama gadis yang sangat ingin Lara bunuh dengan ke dua tangannya sendiri.


"Dia sudah mati lima belas menit yang lalu. Dan aku sudah memberikan dia pelajaran karena pernah menyakitimu." Tutur Louis dengan ke dua mata terpejam.


Senyum sinis tercetak jelas di wajah tirus Lara. Dia senang! Tidak lebih tepatnya sangat senang. Ia menyesal Kenapa tak melihatnya dengan ke dua matanya sendiri bagaimana Gea meregang nyawa seperti putranya.


"Baguslah," seru Lara pelan dengan puas.


Namun masih bisa di tangkap oleh indra pendengaran Louis. Lelaki itu tersenyum mendengar perkataan Lara.


"Aku sudah menepati janji membunuh Gea jadi kau harus menepati perjanjianmu dengan ku," tutur Louis.


"Tentu." Jawab Lara langsung melangkah menaiki tangga.


"Namun kau kalah sebelum berperang Lara Smith. Maaf ini akan sedikit menyakitkan untumu," tutur Louis dengan suara berat.


🔮🔮🔮


Satu minggu berlalu kini Louis menepati kesepakatannya dengan Lara. Ke duanya masuk dalam Rumah megah Aiden dengan menyelinap. Mungkin lebih tepatnya Louis dan anak buahnya membius satu persatu penjagaan ketat Rumah Aiden.


Jangan tanyakan kenapa Louis harus bersusah-susah membius bukan membunuh. Itu di karenakan permintaan Lara. Gadis itu tak ingin menginjak darah saat kepulanganya. Meski sesungguhnya hatinya lah yang akan berdarah dalam hitung Jam, menit dan detik ke depan.

__ADS_1


Ke duanya menyamar memakai pakain serba hitam. Lara pun sama, karna itu permintaan Loius. Ke duanya saling mengabulkan permintaan masing-masing. Lara juga memakai cadar. Ke duanya menaiki balkon kamar Aiden dengan penuh kehati-hatian.


"Ingat Lara. Kesempatan kita tak boleh di langar." Bisik Louis di telinga Lara dengan pelan.


"Ya. Aku mengerti." Jawab Lara pelan.


Saat ke dua sudah berada di balkon kamar Aiden. Ke duanya di sambut dengan desahan erotis. Louis tertawa pelan dalam masker wajahnya. Jantung Lara mulai berpacu dengan sangat kencang.


Pintu kaca di buka perlahan hinga tak menimbulkan suara. Desahan dan erangan itu semakin terdengar jelas. Lara menyibak sedikit gorden berwarna Pink lembut itu dengan tangan bergetar.


DEG !!!!!!!!!!!!!!!!


SAKIT !!!!!!!!!!!!!!!!


Mata bulat Lara semakin membesar dengan rahang mengeras. Di atas rajang yang pernah ia tiduri bersama Aiden pertama kalianya. Ia melihat bagaimana penyatuan dua insan beda jenis itu.


Lara terperejat saat melihat wajah sang wanita yang mirib denganya. Lara hilang kata hanya untuk mengatakan seberapa patah dan hancur nya hati nya saat ini.


"Dia kembaramu. Namanya Laura Taylor, saat ini hanya itu yang harus kau ketahui. Jika ingin tau detailnya setelah pulang dari sini akan aku Ceritakan semuanya." Bisik Louis tepat ditelinga Lara.


Erang sang wanita itu terdengar keras.


Tangan Lara bergetar hebat. Hampir saja gadis itu terjatuh di lantai jika Louis tak menyambutnya. Louis mengendong tubuh Lara menuju tanga. Ia tak ingin ambil resiko jika mereka ketahuan.


Lara hanya diam. Tanpa suara, Louis mengendong Lara di belakang tubuhnya. Ke dua nya turun dengan selamat. Louis langsung meninggalkan Rumah Aiden berserta anak buahnya bersama Lara masih di posisi yang sama.


Saat ke duanya berada di dalam mobil. Louis menangkup ke dua pipi Lara dengan lembut.


"Maafkan aku kau harus melihat adegan menakutkan itu." Tutur Louis lembut.


Isak Lara langsung mengalun keras. Louis memeluk tubuh Lara. Lara memukul dada Louis dengan kuat sangat kuat. Louis tak melepaskan pelukannya dari Lara.


Lara menggila dengan tangisannya. Hatinya tak berbentuk lagi. Dia membenci Aiden! Sungguh sangat membenci.


Di lain tempat Aiden menarik selimut hinga batas dada Laura. Ia mengecup kening Lautan depan perlahan.


"Terimakasih sayang." Ucap Aiden dengan pelan.


"Sama-sama sayang." Balas Laura pelan.


Tangan kekar Aiden mengusap perut rata Aiden. Dengan harapan benihnya akan tumbuh di rahim Istrinya itu.


"Bos!!" Teriak Mark dengan ketukan kencang.


Aidenn memunguti pakainya dan memakainya lalu keluar dari kamarnya. Ia menatap Mark dengan pandangan kesal.


"Ada apa?" Tanya Aiden ketus.


"Apa Bos tidak apa-apa?" Tanya Mark dengan suara Khawatir.


Kening Aiden berlipat pertanda tak mengerti.


"Saat aku sampai di sini semua anak buah kita terakapar pingsan. Sepertinya sengaja di bius." Tutur Mark dengan wajah panik.


Aiden mendengar perkataan Mark. Dengan cepat ia menuruni tangga di ikuti oleh Mark dari belakang. Ia membuka kamar Venus dengan terburu-buru.


Helaan napas lega terdengar jelas. Aiden dan Mark keluar melihat anak buahnya yang terkapar pingsan. Aiden menyapu seluruh area rumahnya tampa terlewatkan seinci pun.


"Aneh!" Seru Mark pelan. "Jika mereka ada Dark atau maling pasti ada yang di bunuh atau ada yang di curi. Tapi tak ada satu pun yang hilang dan mati. Lalu apa tujuan mereka ke sini." Tutur Mark tak percaya dengan apa yang terjadi.


Aiden mengangguki perkataan Mark. Namun anehnya hatinya merasa tak tenang. Ada rasa nyeri di hatinya tiba-tiba saja.


"Ada apa Bos?" Tanya Mark panik saat melihat wajah Aiden pucat mengerang sakit meremas dadanya.

__ADS_1


"Sakit."Seru Aiden lirih dengan wajah kesakitan.


__ADS_2